Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Pemilik Hati


__ADS_3

"Apa maksud perkataan kamu tadi, Ardan!" Bentak mama benar benar emosi setelah keluarga Dina pamit.


"Ma, Ardan mengatakan yang sebenarnya," kata Ardan berusaha membuat mamanya mengerti.


"Mama ngga akan pernah terima menantu lain selain Dina," tandas mamanya langsung masuk ke dalan kamarnya.


Papa menepuk bahu Ardan sebelum meninggalkannya untuk menyusul istrinya. Beliau harus segera menenangkan istrinya, karena serangan jantung bisa kapan saja menyerangnya.


Ardan kini terduduk di ruang tamu. Tadi setelah acara makan malam, Ardan diminta mamanya untuk menemani Dina di teras.


"Apa gadis itu Wina?" tanya Dina ketika mereka sudah sampai di teras.


Ardan masih menatap bintang di langit dengan berbagai perasaan.


"Ardan," panggil Dina berusaha menahan rada kesalnya karena Ardan masih saja diam dan ngga memandamgnya


"Ya," ucap Ardan sambil menolehkan kepalanya pada Dina yang menatapnya penuh harap.


"Aku akan lebih sabar, Ardan. Aku ngga akan maksa maksa kamu lagi," ucap Dina memohon.


Memang sumber pertengkarannya karena dia yang selalu memaksa Ardan untuk meninggalkan dunia balapnya. Dina benar benar memaksa Ardan mulai menekuni bisnis sesuai keinginan papanya.

__ADS_1


"Aku ngga bisa, Din. Kamu tau kan siapa pemilik hatiku sebenarnya," ucap Ardan yang benar benar menohok perasaan Dina.


"Tapi kamu pernah memilihku, kan," kata Dina.berusaha mempergaruhi Ardan.


"Kita malah udah ngga ada hambatan lagi. Papa udah setuju juga kalo kita bersama," sambungnya lagi. Nadanya mulai memelas.


Ardan diam. Sekarang memang sudah lancar jalannya kalo dia mau tetap berhubungan dengan Dina. Tapi buat apa kalo hatinya masih tetap meginginkan Wina


"Ardan, aku mohon kta mulai lagi pelan pelan ya,"


Dina benar benar sudah melupakan harga dirinya. Demi seorang Ardan, Dina rela memohon, bahkan mengemis kalo perlu.


Melihat apa yang dilakukan Dina, sama seperti yang dia lalukan oada Wina. Dia pun memohon dan mengemis agar Wina tidak meninggalkannya.


"Maaf, aku ngga bisa karena hasilnya pasti sama," ucapnya getir.


Hasil akhirnya pasti hati Ardan akan selalu memilih Wina.


"Ardan," ucap Dina tersendat.


Hancur sudah harga diri Dina. Dibanting sampai hancur ngga berbentuk.

__ADS_1


!Dulu betapa bangganya dia berhasil menjauhkan Wina dari Ardan. Dina pun menjadi jahat karena membiarkan tatapan penuh luka itu ketika melihatnya betdua dengan Ardan.


Tapi dulu Wina ngga melakukan apa apa. Terhadapnya pun masih baik. Dialah sosok jahat seperti di dalam dongeng. Wina adalah yang tertindas.


Dia kalah lagi sama Wina. Telak, bahkan di depan oraang tuanya.


"Tapi tante kan ngga setuju, Ardan. Kamu tega membiarkan tante masuk rumah sakit karena penolakan kamu?" tanya Dina berusaha menekan Ardan. Dia ngga akan menyerah. Restu papa sudah di tangannya. Dia harus berjuang untuk mendapatkan Ardan kembali.


Ardan menghela nafas panjang. Itulah yang dia takutkan. Mamanya akan masuk ke rumah sakit karena serangan jantung.


Sebenarnya untuk apa juga memperjuangkan Wina. Wina pun sudah siap menyerah. Wina sudah sangat jelas mengatakan padanya kalo dia tidak ingin menyakiti hati Mama Ardan.


Tapi buat apa bersama Dina atau gadis yang lainnya, jika hatinya masih selalu memikirkan Wina.


Entah apa yang sudah diperbuat Wina, begitu melihatnya di acara reuni, jantung Ardan benar benar ngga bisa tenang.


Segala kenangan mereka waktu SMA muncul di kepalanya tanpa bisa dicegah.


Ardan pun benar benar sangat merindukan gadis itu.


Bagaimana dia bisa mengikat dirinya dengan Dina atau gadis lainnya, jika dia pasti akan mengkhianati mereka.

__ADS_1


__ADS_2