Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Setelah Wina Sadar dari Koma


__ADS_3

Setelah sadar dari koma, Wina langsung menanyakan Ardan pada mamanya yang menunggunya.


Semua anggota keluarganya sangat bahagia. Setengah tahun Wina koma setelah operasi jantungnya.


Mama Wina ngga menjawab. Tapi mengenalkannya pada Opa Hadikusuma dan Opa Megantara sebagai kakeknya.


Wina baru mengerti mengapa sejak dulu dirimya tidak mengenal kedua kakeknya. Bahkan dia punya dua om dan tante. Om Arga seto, abang dari papanya, dan Om Saka, abang dari mamanya.


Wina juga punya empat sepupu, dua dari papanya dan dua lagi dari mamanya.


Semuanya terasa menyenangkan. Tapi tetap saja Wina ingin tau kabar Ardan.


"Dia baik baik saja," kata mama akhirnya.


Senyum lega tersungging di bibir Wina.


Syukurlah.


"Ardan juga di sini, Ma?" tanya Wina ingin tau dan rasa ingin bertemu dengan Ardan begitu menggebu gebu.


"Nggak. Ardan sedang terapi di Jerman, sayang," ucap mamanya lagi. Beliau mengelus puncak kepala putrinya dengan lembut.


Hatinya belum sanggup untuk berterus terang. Melihat pancaran cinta di mata Wina, membuatnya ngga sampai hati untuk mematahkannya.


Lagi pula saat ini Mama Wina benar benar merasa sangat bahagia. Operasi sumsum tulang belakang papa Wina yang didonorkan abangnya Arga Seto sudah berhasil. Suaminya sudah terbebas dari kanker darah. Dua bulan kemudian Wina sadar dari komanya.


"Gadis cerewet. Ternyata kamu cucuku."


Walaupun kalimatnya diucapkan dengan nada kasar, tapi mata Oma Rahayu berkaca kaca.


Wina tau kalo Oma Rahayu mencemaskan keadaannya. Apalagi setelah dia tau, kalo nenek yang dijulukinya nenek gayung ini ternyata masih ada hubungan darah dengannya. Wina merasa sangat bahagia. Karena selama ini sudah mendapatkan perhatian dari Oma Rahayu yang ternyata adalah nenek kandungnya.


"Nek," panggilnya pelan.


Oma Rahayu menggenggam tangannya lembut


"Kamu harus cepat sembuh. Kamu cucu Megantara. Ngga ada satu orang pun yang boleh merendahkanmu."


DEG


Perasaan Wina jadi ngga enak mendengar ucapan Oma Rahayu. Seperti ditujukan pada mama Ardan yang memang tidak menyukainya karena Wina dan keluarganya bukan dari keluarga kaya dan terpandang.


Tapi Wina ngga bisa melupakan Ardan. Apalagi Ardan sudah menyelamatkan nyawanya. Sekarang dia sangat merindukan laki laki tampan itu.


"Setelah sembuh, bantu sepupu sepupumu mengurus perusahaan," titah Oma Rahayu bagai ratu.


"Tapi... "


"Ngga ada tapi tapian. Kamu kira bank kamu masih mau nerima pegawai yang udah ngga kerja setengah tahun lebih?" tuding Oma Rahayu galak.


Setengah tahun? Wina jadi kaget, ternyata udah selama itu. Benar benar ngga bisa dipercaya.


Yang lain ikut senyum senyum mendengar dialog pedas oma terhadap cucunya.


"Kak, Wina baru sadar. Dia masih bingung, jangan diomelin," bela Opa Megantara kemudian tertawa kecil.


Ngga disangka, cucunya sangat disayang kakaknya yang super jutek.


"Betul, Kak. Soal pekerjaan, nanti gampang. Sekarang Wina harus sembuh dulu," tambah Opa Hadikusuma juga ikutan tertawa.


Wina tersenyum senang mendengar pembelaan dua opanya.


"'Iya, iya," sungut Oma Rahayu tetap galak. Tapi kemudian beliau menghapus air matanya yang mulai menetes.


"Kamu harus cepat sembuh, ya," kata Oma Rahayu lembut.

__ADS_1


"Ya nek," kata Wina sambil balas menggenggam tangan Oma Rahayu dengan perasaan haru.


*


*


*


Perusahaan Ardan di Indonesia bangkrut?


Wina terkejut begitu membaca berita online. Sosial media Ardan sudah lama sekali ngga di update. Tapi postingan terakhir ternyata sebelum kecelakaan yang menimpa mereka. Ardan memposting fotonya berdua dengan Ardan di sebuah kafe. Ardan mengambilnya secara candid. Wajahnya pun tidak terlalu jelas karena tertutup untaian rambutnya. Foto itu diambil Ardan dari samping.


Menyesal selama ini tidak pernah melihat sosmed Ardan. Wina memang berteman. Tapi pekerjaannya membuat dia malas berselancar di dunia maya.


Ternyata dulu Ardan cukup rajin memposting tentang hubungan mereka.Tapi Ardan tidak pernah menampakkan wajah Wina seutuhnya. Karena Ardan selalu mencuri curi foto dengannya. Yang lebih sering di upload adalah ganbar punggungnya dengan caption manis the one and only.


Wina bertambah kaget saat membaca kalo mama Ardan mendekam di dalam penjara.


Wina heran, bagaimana bisa? Kejahatan apa yang telah dilakukannya?


Wina yang masih belum bisa bergerak karena tubuhnya masih terlalu lemah mengalihkan pandangannyan ke luar.


Baru beberapa hari dia sadar. Satupun keluarganya belum ada yang mengatakan padanya tentang Ardan.


Akhirnya Wina membuka sosial media Dewi dan Sita. Kedua temannya juga sudah lama ngga mengupdate beritanya. Dewi terakhir memposting fotonya dua bulan yang lalu..Sita malahan tiga bulan yang lalu.


Ada apa dengan mereka? Padahal mereka paling rajin update status dulu. Sehari bisa sampai lebih dari tiga kali. Kalo minum obat udah overdosis 'kali.


Wina menatap wajah dua sahabatnya dengan tatapan rindu.


Semoga kalian sehat selalu.


Matanya berkaca kaca. Dia merindukan habitatnya dulu. Ada juga bosnya Gaga dan Adhi.


Sekarang dia jauh dari mereka semua. Sangat jauh. Bahkan dia baru tersadar setelah sekian bulan ngga sadarkan diri.


"Kamu kangen teman temanmu?" tanya Mama yang baru datang dari kantin.


"Iya Ma."


Mama Wina tersenyum lembut.


Karena cuma mamanya sendiri, Wina memberanikan diri bertanya tentang Ardan.


"Ma, kabar Ardan gimana?"


Mama menghela nafas panjang. Sudah beberapa hari ini beliau menghindari pertanyaan tentang Ardan.


"Ardan udah sehat, sayang."


"Iya, mama udah cerita. Tapi kenapa dia ngga ke sini?"


No hpnya juga ngga ada. Ardan juga ngga telpon, batin Wina menambahkan.


"Ardan lagi sibuk, sayang," ucap mama Wina sambil menatap ke luar jendela.


Dadanya sesak membayangkan kejahatan wanita itu yang hampir membuat dirinya kehilangan putri satu satunya.


Wina menangkap gestur ngga suka dari mamanya ketika membicarakan mama Ardan.


"Kenapa mama Ardan di penjara, Ma?"


"Mamanya udah buat kejahatan besar."


Wina dan mamanya mengalihkan pandangannya pada suara Opa Hadikusuma yang barusan memasuki kamarnya.

__ADS_1


"Kejahatan apa, Opa?" tanya Wina sambil mengernyitkan keningnya, ngga ngerti.


Setaunya wanita itu memang sombong sekali. Tapi kalo kejahatan? Ngga pernah terpikir di dalam kepalanya.


Opa dan mamanya saling pandang.


Setelah menarik nafas panjang, Opa Hadikusuma menatap cucunya lembut.


"Dia menyuruh ponakannya untuk menabrak kamu, sayang. Truk itu rencananya."


Wina terkejut. Pegangannya pada mangkok pudingnya terlepas. Untung mamanya cepat meraihnya.


Wina menatap Opanya yang baru saja mengatakannya dan mamanya bergantian


"Tapi Ardan?"


Wina masih ingat bagaimana Ardan menyelamatkannya.


Ngga mungkin, kan? hatinya menolak percaya.


"Itu di luar skenarionya. Karena itu truk mengerem," tanbah Opa Hadikusuma terdengar sedikit emosi.


Wina terdiam. Apa karena itu mama Ardan mendekam di penjara?


Apa keluarganya yang melakukan tuntutan hukum?


Wina berusaha menahan gejolak perasaan di dadanya.


Sampai sebenci itu mama Ardan padanya?


Hatinya terasa sangat sakit Kalo Ardan ngga cepat berlari menghampirinya, mungkin dia sudah meninggalkan mama dan papanya slamanya.


Kejam sekali, batinnya sedih.


Jika dia ngga ngambek, rencana itu pasti akan gagal. Setelahnya mama Ardan pasti punya rencana lain lagi untuk mencelakakannya. Wina bergidik ngeri.


"Wina," panggil mama Wina lembut karena melihat wajah putrinya menjadi pucat.


"Ngga usah kamu pikirkan lagi. Sekarang mamanya sudah di penjara," kata mama menenangkan. Seolah tau akan ketakutan Wina.


Mama Wina pun mendekap putrinya dan dapat merasakan jantung putrinya yang berdebar keras.


"Ada Opa yang akan melindungi kamu," kata Opa Hadikusuma lembut.


"Om mu Arga Seto sudah menarik investasinya dari perusahaan papa Ardan. Kasus mama Ardan membuat banyak investor menarik saham mereka. Sekarang Ardan dan Papanya sedang bekerja keras membangun perusahaannya kembali," kata Opa Hadikusuma menjelaskan.


"Beberapa perusahaan mereka di ambang kebangkrutan," tambah Opa Hadikusuma sambil menatap dalam dalam wajah ponakannya yang terlihat shock mendengarnya.


Wina terpaku. Sedemikian besar dampak negatif yang harus ditanggung Ardan.


Apakah Ardan sekarang membencinya?


Hati Wina merasa sangat sedih dan hampa.


"Kamu jangan khawatir, Ardan pasti bisa bangkit dari keterpurukannya dengan cepat. Dia sangat pintar," puji Opa Hadikusuma jujur.


Walau beliau sangat membenci mama Ardan, tapi opa Ardan salut dengan kepiawaian Ardan berbisnis. Tender tender besar selalu berhasil dia menangkan dengan mudah. Kemampuan diplomasinya luar biasa.


Dia memang sangat pintar, batin Wina sangat sedih.


Wina berusaha mengendalikan perasaannya. Dia berusaha menyembunyikan perasaan terpukulnya, walaupun mungkin akan terlihat sebagian. Sulit baginya untuk menyembunyikan perasaannya yang remuk.


Cintanya, apakah ini saatnya berakhir. Ardan pun sudah ngga menghubunginya, apalagi mencarinya.


Sekarang masalah mereka semakin rumit. Menyangkut keluarga besar mereka.

__ADS_1


Wina takut kalo keluarga barunya akan semakin menekan Ardan karena perbuatan mamanya.


__ADS_2