Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Kenangan Tak Terlupakan


__ADS_3

Ardan memarkirkan mobilnya di parkiran depan butik mewah mamanya setelah dari tempat Wina.


Para pegawai mamanya menunduk hormat begitu dia masuk.


"Mama mana?" tanya Ardan ngga sabar karena tidak melihat mamanya di dalam butik.


"Ada di kamar lagi istirahat tuan muda," info dalah satu pegawai wanita.


Tanpa mengucapkan terima kasih Ardan langsung membuka kasar dan membanting keras pintu ruangan mamanya.


Mamanya yang sedang tiduran terkejut melihat kehadirannya yang sangat tidak sopan. Apalagi di jam kerja.


Apa dia ngga ada meeting penting?


"Mama menemui Wina?" tanyanya cepat sebelum mamanya akan membuka mulut memarahinya.


Mamanya mendengus.


Karena gadis itu? cibirnya dalam hati.


"Iya. Kenapa?" tanya mama menantang.


Ardan diam, dia mengamati wajah mamanya yang angkuh.


"Apa yang mama katakan?"


Ardan berusaha menahan gejolak amarah di dadanya. Dia masih ingat penyakit jantung mamanya.


"Kamu mau tau?" tanya mamanya sinis.


"Iya."


"Mama ngga akan merestuinya. Mama minta dia pergi jauh jauh dari kamu. Pindah kerja kalo perlu. Mama tawarkan gaji lebih besar dari yang sekarang."


Ardan tersurut mundur satu langkah. Dia benar benar ngga nyangka mamanya bisa berbuat seperti itu.


Tanpa sadar Ardan tertawa getir. Hatinya semakin hampa.


"Mama ngga perlu melakukan itu lagi. Sudah nggak perlu lagi," katanya pelan.


Ardan berjalan keluar tanpa menunggu kata kata mamanya. Kembali dia membanting pintu ruangan dengan sangat keras.


Para pegawai dan beberapa pelanggan sempat terkejut. Tapi Ardan sudah nggak peduli lagi.


Dia menekan kunci kontak mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kencang lagi.

__ADS_1


Disinilah Ardan akhirnya. Entah sudah berapa banyak minuman beralkohol tinggi yang diteguknya.


Dia mungkin memang ngga bisa menjadi laki laki yang baik untuk Wina. Sekalinya berengsek tetaplah berengsek.


Ardan memijat kepalanya yang terasa berat. Dia menyetel kursi mobilnya agar bisa beristirahat dengan nyaman.


Matanya terpejam. Ingatan tentang Wina kembali berputar di kepalanya.


"Kamu sakit? Kenapa tetap sekolah?" tanya Wina cemas saat melihatnya hampir jatuh waktu akan memasuki kelas.


Ardan tersenyum. Dia senang bisa mendapatkan perhatian Wina.


"Ngga pa pa. Pusing aja tiba tiba tiba," jawab Ardan sambil melangkah pelan sambil memegang meja di sampingnya. Baru ada dirinya dan Wima di dalam kelas.


Wina melihatnya cemas kemudian bergegas keluar kelas. Ardan menatapnya kecewa.


What's? Ditinggal?


Saking sewotnya Ardan langsung menidurkan kepalanya di meja.


Dasar ngga perhatian, omel Ardan dalam hati kecewa. Padahal dia sangat ingin diperhatikan Wina. Karena Ardan sudah lama naksir Wina.


Tak lama kemudian, Ardan mendengar kembali suara Wina yang cemas.


Dia balik lagi?


"Minum teh angat ini dulu ya," ucap Wina lembut.


Ardan mengangkat wajah pucatnya dan menurut. Dia pun meneguk tehnya sampai abis.


Wina tersenyum melihat wajah pucat Ardan sudah mulai memerah.


"Ini ada roti. Makan dulu ya," kata Wina mencubit kecil roti itu dan memberikannya pada Ardan.


Mata Ardan terus menatap lembut Wina yang menyuapinya.


Ardan mengunyah perlahan.


"Kamu ngga mau ijin pulang?" tanya Wina masih dengan mode cemas.


"Enggak," tolak Ardan lemah.


"Tapi kamu pucat."


*Ardan tersenyum sambil membuka mulutnya lagi menerima suapan Wina.

__ADS_1


Tangan Wina terasa sangat lembut di keningnya. Cewe itu memeriksa suhu tubuhnya.


"Hangat," gumamnya pelan.


Ardan menarik tangan Wina di keningnya dan menggenggamnya lembut membuat wajah Wina memerah.


Dia pun grogi saat ini. Jantungnya pun berdebar ngga menentu.


"Aku ngga apa apa," katanya sambil melepaskan genggamannya.


"Habisin rotinya ya," kata Wina sambil menyuapkannya lagi.


Ketika Wina akan mencubit rorinya lagi, Ardan menahan tangannya.


"Aku udah kenyang. Makasih."


"Baru dikit," protes Wina.


"Udah kenyang, bener," ucap Ardan sungguh sungguh.


"Ya udah," kata Wina mengalah. Lalu dia mengambil air putih dalam kemasan botol dan membukanya.


"Minum dulu biar ngga seret," paksa Wina membuat Ardan tersenyum saat menerimanya.


Ardan pun meneguknya beberapa tegukan sambil terus menatap wajah lembut Wina yang terlihat grogi.


Ardan tersenyum. Hatinya benar benar senang. Sakitnya pun dirasanya perlahan sudah berkurang.


Ardan ingin kembali ke masa masa itu. Masa putih abu abunya. Masa ketika Wina sangat lembut dan perhatian padanya.


Ardan benar benar merindukan Wina. Sudah dua kali dia menyia nyiakan kepercayaan Mia. Apa sudah tidak ada lagi kesempatan ketiga?


Ardan benar benar terlelap sampai akhirnya terbangun karena angin malam yang dingin masuk ke.dalam jendela mobilnya yang dibukanya sedikit.


Ternyata sudah larut. Ternyata hampir jam dua belas malam.


Dia meraih hpnya dan hatinya kecewa tidak ada satupun panggilan atau pesan dari Wina.


Ardan sama sekali tidak mempedulikan misscall dan pesan dari mama, papa, sekretarisnya dan beberapa relasi bisnisnya termasuk Tiara.


Dia memasukkan semua botol botol bekas minuman keras dalam kantong plastik hitam. Ardan pun keluar dari mobil dan membuangnya ke tempat sampah.


Ardan saat ini berada di parkiran sehuah club.Sejak siang club itu udah di buka. Kalo siang club disamarkan sebagai kafe. Dan malam hari lah berubah aslinya tanpamg club tersebut.


Setelah itu Ardan kembali melajukan mobil sportnya menuju ke apartemen miliknya yang lain. Apartemen yang dibelinya dengan uang hasil balapannya, baik liar maupun legal. Dia benar benar mau break beberapa hari.

__ADS_1


Ardan ngga akan peduli, seberapa besar marah papanya karena dia melalaikan proyek proyeknya. Dia butuh waktu sendiri dan tidak ingin di ganggu untuk urusan apa pun.


Memang terlihat cengeng, tapi dia sangat merindukan Wina.


__ADS_2