Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Mama Ardan yang Sombong


__ADS_3

Wina terpaksa membatalkan makan siang bareng teman temannya.


Dia pun duduk tenang di kafe depan kantornya. Di depannya Mama Ardan juga sudah duduk dengan anggun.


Padahal si bos mau makan bareng lagi dengan pujaan hatinya yang juga akan bersama teman temannya.


Langkah Wina yang baru saja akan menuju lift ke basemen bersama teman temannya langsung terhenti karena tatapannya seolah ditarik ke satu arah.


Dan wanita cantik yang sudah berumur tapi sangat terawat itu menatapnya sambil tersenyum tipis.


"Itu siapa? cantik banget," cetus Adhi kagum.


"Tante Lo?" tuding Sita juga memperhatikan.


"Ngga mirip," sanggah Dewi yang disambut tawa yang lain.


"Aku duluan," kata Wina sambil meninggalkan teman teman gilanya tanpa menjawab pertanyaan mereka.


Mama Ardan masih menatap Wina. Ini pertemuannya yang kedua setelah di rumahnya.


Beliau terlalu meremehkan gadis di depannya. Ngga nyangka, pada gadis ini Ardan benar benar melabuhkan hatinya.


Akhirnya pesanan mereka datang. Hanya minuman. Selera makan Wina pun sudah hilang begitu melihat wajah Mama Ardan di kantornya tadi.


"Saya mengganggu waktu makan siang kamu, ya?" tanyanya setelah menyesap kopinya.


"Tidak, tante," jawabnya sopan.


"Ada yang mau saya katakan," katanya menatap Wina sebelum mengalihkan tatapannya ke luar. Sepertinya mama Ardan sedang berusaha mengendalikan perasaannya.


Wina diam ngga menjawab. Dia menunggu apa yang akan dikatakan mama kekasihnya.


"Mungkin yang saya katakan akan terdemgar sangat jahat. Tapi saya harap, kamu bisa mengerti."


Mama Ardan menghela nafas panjang.


Wina menyeruput jus alpukatnya pelan pelan. Dia sedang mempersiapkan mentalnya untuk mendengar kata kata Mama Ardan.

__ADS_1


"Saya minta kamu putuakan Ardan. Kami sudah menentukan tanggal pertunangan Ardan dengan Dina."


Hening


Sedetik


Lima detik


Sepi


Walaupun sudah menyiapkan mentalnya, tapi Wina tetap.saja merasa sakit pada hatinya.


"Gimana? Kamu mau,'kan?" tanya mama Ardan ngga sabar.


Wina masih belum menyahut. Terbayang di kepalanya kata kata Ardan kalo mamanya akan memberikannya restu.


Dusta!


"Maksud, tante?" Wina malah balik bertanya dengan bodohnya.


"Putuskan Ardan," katanya tegas.


"Kalo perlu kamu pindah dari sini. Saya akan merekomendasikan perusahaan teman saya di luar kota."


Wina terkejut mendengarnya.


Sombong sekali tante ini, batin Wina benar benar tersinggung.


"Nggak perlu, tante."


"Saya akan menawarkan gaji tiga kali lipat dari yang kamu terima sekarang."


"Ngga usah repot repot, tante."


"Kamu jangan tersinggung. Saya hanya ngga ingin anak saya menemukan kamu," ucapnya berusaha lembut. Tapi artinya sangat dalam. Menusuk jauh ke dalam hati Wina.


Wina menatap hpnya yang brrgetar. Ardan menelponnya.

__ADS_1


Tanpa ragu Wina mengangkat telpon itu di depan mama Ardan.


"Ya, Ardan?" tanya Wina sambil menatap wajah mama Ardan yag kini membeku. Umtung hanya telpon biasa. Bukan video call.


"Nanti malam aku sama orang tuaku mau ke rumah kamu."


"Kamu mau ke rumah?" tanya Wina.sengaja mengulang kalimat Ardan untuk melihat reaksi wanita di depannya ini.


"Apa mama kamu udah setuju?"


"Belum, sih. Tapi papa ku nanti akan membujuknya."


"Oke. Aku tunggu," ucap Wina temang saat melihat aura wajah mama Ardan nampak kesal.


"Love you."


"Me too."


Sengaja Wina ngga mengatakan kata yang sama dengan Ardan. Ardan pernah mengatakan kalo mamanya sakit jantung.


Wina menyimpan hpnya ke dalam tas.


Kemudian dengan tenang dia menghabiskan hingga setengah jus alpukatnya.


"Tante, saya bukannya ngga mau meninggalkan Ardan. Udah pernah saya coba, tapi kami pasti mengulang cerita kami lagi. Saya ngga pernah mengejar Ardan. Seharusnya tante langsung meminta Ardan untuk memutuskan saya. Sekarang saya permisi. Maaf kalo kurang sopan," tutur Wina panjang lebar dengan tenang.


Wina pun langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan mama Ardan yang masih membisu.


Wina melangkah dengan tenang, seakan kata kata mama Ardan sama sekali ngga mengganggunya. Tapi begitu sampai di toilet kantor, air matanya yang sejak tadi ditahannya langsung mengalir.


Untung teman temannya belum kembali. Wina menghapus sisa sisa air mata di pipinya. Dia membasuh mukanya dengan air wastafel sambil terus memperhatikan wajahnya di kaca. Terlihat menyedihkan.


Apa yang akan dikatakannya saat sampai rumah. Haruskah dia meminta mamanya bersiap siap menyambut keluarga Ardan yang katanya akan datang. Tapi apa benar akan datang.


Wina menggelengkan kepalanya. Orang tuanya akan pulang sore hari setelah seharian mengajar. Mungkin lebih baik dia membeli kue kue kering untuk menjamu tamunya yang dia ngga yakin akan datang.


Apa nanti yang akan terjadi. Akankah mama Ardan akan memarahi Ardan? Wina cuma takut sakit jantung mama Ardan kambuh dan berakhir di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2