
"Tante, maaf. Ardan tiba tiba lari mendekati Wina. Tapi saya cepat cepat ngerem. Benturannya ngga gitu keras," bela Berdy saat tantenya menelpon lagi begitu suaminya sudah keluar.
"Gadis miskin itu memang membawa sial. Tapi benar, kan, Ardan ngga pa pa?" tanya Mama Ardan lengkap dengan sumpah serapahnya.
"Ya ngga parah tante. Tan, ini telpon terakhir ya. Saya harus sembunyi. Polisi sedang nyari nyari saya," kata Berdy memberitau dengan perasaan takut dan bersalah.
Dalam hati Berdy berharap Ardan dan kekasihnya ngga apa apa.
Maaf, gue terpaksa. Mama Lo udah bantu bebasin gue. Orang tua gue mana peduli, batin Berdy menyesal.
Gue harus balas budi ke tante. Harusnya Lo biarin aja cewe itu. Gue takut kehilangan Lo, batin Berdy lagi sambil memejamkan mata.
Biar bagaimana pun, Berdy masih merasa kaget dan terguncang juga sudah mencelakai Ardan, sepupunya.
Setelah menabrak Wina dan Ardan, truk yang disopiri oleh dirinya terus kabur. Beberapa puluh meter kemudian, Berdy menghentikan truk dan dengan gesit keluar dari truk dan berlarian menyelamatkan dirinya dalam kerumunan orang orang di dekat salah satu pasar tradisional.
Untung saat meminjam truk, Berdy memakai topi dan masker. Jadi identitasnya dirasanya cukup aman. Berdy pun tadi memakai sarung tangan. Jadi diapun tidak meninggalkan sidik jari.
"Oke, tante transfer kamu. Hati hati, jangan sampai ketangkap," kata Mama Ardan sambil memutuskan sambungan hpnya.
Wajahnya yang tadi pucat karena sudah memikirkan yang terburuk tentang anaknya kini berangsur cerah.
Ngga pa pa, kok. Gitu aja sampai kebingungan, batin Mama Ardan sambil mencibirkan bibirnya, seakan menghina kekhawatiran suaminya yang berlebihan.
Dengan cepat mama Ardan menekan beberapa angka di hpnya dan mengirimkannya pada keponakannya. Bahkan beliau juga memberikan tambahan sebagai bonus.
Karena untuk sementara waktu, keponakannya harus menyembunyikan diri dulu sampai keadaan benar benar tenang.
Lebih baik tidur, batinnya sambil membaringkan tubuhnya.
Dengan tenang mama Ardan memejamkan matanya dan ngga butuh waktu lama beliau jatuh tertidur.
Mama Ardan merasa aneh karena di saat terjaga dari tidurnya sudah berada di suatu padang pasir yang gersang dan sangat panas.
Aku dimana? tanya mama Ardan dalam hati.
Beliau menatap sekeliling dengan perasaan takut campur bingung. Ngga ada orang lain selain drinya.
Panas sekali.
Sengatan terik matahari begitu terasa di kulitnya.
Aku.dimana? Padamg pasir ibi begitu luas.
Panas sekali!
Aaaaarrrgghhhhh!
Kenapa mataharinya begitu menyengat.
Mama Ardan merasa kulitnya sangat sakit akibat sengatan terik matahari.
Pannaasshh!
Pannaasshh! Jerit mama Ardan berulang ulang.
__ADS_1
"Aaarrrrggghhhh!!!" Kali ini suaranya nyata keluar dari tenggorokannya.
"Tante, tante kenapa?" seru Dina panik melihat mama Ardan yang menjerit jerit dalam tidurnya.
"Tante, sadar tante," panggil Dina lagi sambil menepuk nepuk lengan tantenya yang dibasahi keringat Bahkan wajahnya pun juga dibasahi keringat yang bercucuran. Begitu juga Pakaian yang dikenakannya.
Saking kagetnya saat membuka mata, mama Ardan langsung terduduk dengan nafas tersengal sengal.
Dina pun mengambilkan air mineral dan memberikannya pada mama Ardan.
"Dina," kaget mama Ardan masih dengan nafas masih ngga beraturan.
Ngga menyangka Dina ada di dekatnya.
"Minum, Tante," ucap Dina lembut sambil mengulurkan air mineral yang diterima mama Ardan dan dengan cepat menghabiskan air mineral dalam satu gelas yang cukup besar.
Beliau merasa sangat haus akibat mimpinya tadi.
Aneh, padahal kamar yang dirinya tempati dingin karena ac terus di on kan. Tapi tubuhnya basah oleh keringat. Seakan akan kejadian mimpinya benar benar nyata.
Mimpi? Seperti nyata, batin mama Ardan benar benar resah. Beliau masih merasakan panas di kulitnya yang kini basah karena keringat.
Kenapa dia bisa bermimpi menakutkan seperti itu.
Oh iya, Ardan. Ardan!
"Din, Ardan gimana?" tanya mama ingin tau. Walaupun Berdy sudah mengatakan tabrakannya ngga gitu keras, faktor mimpinya membuat hatinya was was.
Dina terdiam. Setelah lelah menunggu Ardan dioperasi yang belum kunjung selesai, Dina memutuskan menemui mama Ardan.
Apa mama Ardan sudah tau anaknya kecelakaan? Tapi wajahnya terlihat ngga gitu khawatir? Apa Om ngga kasih tau yang sebenarnya? batin Dina bertanya tanya.
"Ardan belum selesai operasinya, Tante," ucapnya jujur.
Mama Ardan memandang jarum jam di dinding kamarnya.
Beliau mengingat, sudah dua jam suaminya pergi dan belum kembali.
Mama Ardan meraih hpnya. Keningnya mengernyit.
Mengapa suaminya belum memberikannya kabar?
Mengapa operasinya belum selesai? Padahal sudah dua jam.
Dadanya mulai terasa sesak dengan detak jantung yang berpacu cepat.
"Tenang, tante. Tenang," kata Dina mulai cemas melihat wajah mama Ardan yamg mulai pias dengan nafas mulai tersengal.
Apa Berdy bohong? Awas aja!
Dina mulai memijat lembut kepala mama Ardan.
Mama Ardan menarik tangan Dina dan balas menggenggamnya lembut.
"Kamu anak yang baik," puji mama Ardan sedikit merasa menyesal karena pernah oleng pada Tiara.
__ADS_1
Dina tersenyum lembut.
"Sekarang tante tidur dulu, ya. Dina akan menjaga tante. Nanti kalo ada kabar tentang operasi Ardan, Dina kasih tau, Tante," ucap Dina lembut sambil membantu mama Ardan membaringkan tubuhnya.
"Kenapa lama sekali operasi Ardan?"
Dina tersenyum lagi berusaha menyembunyikan perasaan kalutnya.
"Dokter dokter terbaik sedang melakukan tugasnya, Tante. Kita berdo'a saja," kata Dina terlihat tenang.
Mama tersenyum dan mulai memejamkan matanya.
Awas kamu Berdy, kalo anak tante kenapa kenapa, rutuk mama Ardan dalam hati.
Dina menatap wajah tenang mamanya yang mulai tertidur.
Ardan, kenapa kamu harus menyelamatkan Wina. Harusnya kamu biarkan saja.
Dina mengusap air matanya yang mulai berjatuhan.
Secinta itu kamu sama Wina. Seandainya kamu bisa melepaskan Wina, kamu pasti akan baik baik saja sekarang.
Air mata Dina berjatuhan tanpa bisa ditahan.
Dina begitu mengkhawatirkan Ardan.
*
*
*
Akhirnya setelah empat jam berlalu, lampu operasi pun padam.
Papa Ardan dan papa Wina bergegas menghampiri dokter dokter yang berjalan keluar dari ruang operasi.
"Berkat do'a kita semua, operasi berjalan lancar," kata dokter Felik, dokter senior yang memimpin jalannya operasi.
Semua yang mendengar tersenyum gembira dan ngga henti hentinya mengucapkan puji syukur.
"Anakku selamat, Endi," kata Papa Ardan bahagia. Beban berat yang ada di pikirannya, hilang secara mrndadak.
"Syukurlah," respon papa Gaga dengan wajah sumringah.
Papa Ardan menghampiri calon besanya dan mengulurkan tangannya yang disambut dengan ramah.
"Maaf, pikiran saya tadi begitu kalut sampai lupa menyapa anda," kata papa Ardan jujur.
Papa Wina balas tersenyum tipis.
"Ngga apa apa. Syukurlah Operasi anak anak kita berjalan lancar."
"Benar. Ini harus kita syukuri."
Keduanya langsung melempar senyum lega
__ADS_1