
POV Firman
Aku terbangun sebelum subuh, seperti biasanya. Namun, ada yang berbeda dengan pagi ini. Aku terbangun dengan posisi memeluk sesuatu.
Kubuka mataku pelahan. Cahaya yang temaram memberitahuku bahwa aku sedang tidak tidur di kamarku.
Dan, ini adalah ... kamar Lintang! Aku berusaha bangun, tapi sesuatu menahanku. Ternyata Lintang tertidur sambil memelukku dengan sebelah tangannya. Sedang dia sendiri tidur dengan berbantalkan lengan kiriku.
Tiba-tiba ingatan akan kejadian semalam kembali menyapaku. Wajahku seketika memanas. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Dan Lintang, dia tidak menolakku sama sekali. Dia bahkan melayaniku dengan sangat baik. Meskipun dengan kondisi hamil tua seperti ini.
Kupandangi wajah cantik yang masih tertidur di pelukanku. Kukecup keningnya lama. Aku benar-benar merasa menjadi seorang suami seutuhnya. Kupandangi wajahnya tanpa bosan. Wajah ini, hidung ini, bibir ini, ah, semuanya begitu sempurna. Ditambah pipi cubby yang selalu merona. Seandainya aku bisa terus memeluknya seperti ini ...
Kuusap wajahnya dengan segenap rasa cinta dalam hatiku. Dia menggeliat, terlihat begitu menggemaskan.
Kutarik tangan kiriku pelahan, menggantinya dengan bantal.
Rasa bahagia membuncah di dada. Membuat senyum ini tak mau lepas dari bibirku. Aku beranjak dari tempat tidur, mencari pakaianku yang tercecer. Segera kukenakan pakaianku dan menyelimuti Lintang yang masih tertidur hingga batas dagunya. Sekali lagi kukecup pelipisnya.
Baru saja hendak melangkah, tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Kupegang kepalaku dengan sebelah tangan, sebelah tangan lagi menahan tubuhku ke dinding.
Sayup-sayup, kudengar tawa dari arah tempat tidur, yang makin lama makin jelas. Di sana tidak ada lagi Lintang, yang ada bedcover yang menggembung. Tawa itu terdengar dari sana. Suara laki-laki dan perempuan.
"Stop! Stop! Aku ngaku kalah! Aku ngaku kalah!" kata si perempuan sambil tertawa terkikik.
"Nggak bisa! Aku nggak akan berenti!" teriak si laki-laki.
"Ampun, Sayang, ampun!" si perempuan tidak bisa berhenti tertawa.
Tiba-tiba bedcover itu tersibak, memperlihatkan dua anak manusia yang ada di bawahnya.
"Lintang!" teriakku.
Ya, perempuan yang terus tertawa itu adalah Lintang, dan laki-laki itu ... aku! Aku melihat diriku sendiri di sana!
"Geli, Man! Cukup!" teriaknya lagi, sambil berusaha menepis tanganku yang menggelitikinya.
"Nggak!" seruku sambil mendekap dan menghujani wajahnya dengan ciuman.
Aku tercenung. Apa ini?
"Kamu mau babynya cewek atau cowok?" Suara Lintang berpindah ke sofa di sudut ruangan.
"Aku mau cewek, biar aku punya miniatur dirimu." Kini suaraku yang terdengar.
Kualihkan pandanganku ke sana. Di atas sofa, duduk diriku sendiri dengan Lintang duduk di pangkuan. Dia bersandar manja di bahuku, jarinya yang lentik bermain di wajahku, sedangkan tanganku mengusap perutnya yang rata.
"Tapi aku mau babynya cowok, biar ganteng kayak papanya," ujar Lintang.
Wajahku rasanya memanas mendengar kata-kata Lintang.
"Aku maunya cewek," seruku yang duduk di sana.
"Cowok!"
"Cewek!"
Tiba-tiba Lintang yang lain berlari melewatiku begitu saja. Dan diriku yang hanya mengenakan celana pendek segera menyambar kimono tidur tanpa mengikatnya, langsung mengejar Lintang.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanyaku di kamar mandi. Kuintip apa yang mereka lakukan di sana.
Lintang sedang berdiri di depan wastafel dengan wajah pucat, dan aku berdiri di sampingnya sedang mengusap punggungnya.
Lintang kembali muntah, dan aku terus mengusap punggungnya, berusaha memberi kekuatan.
"Maaf ya, Sayang. Gara-gara aku kamu kayak gini," ujarku sambil mengaitkan rambut panjangnya ke telinga. "Seandainya bisa, aku mau menggantikan posisimu sekarang."
"Nggak apa-apa, Man. Aku bahagia mengandung anakmu. Cukup dengan kamu di sampingku, aku pasti bisa melewati semuanya dengan baik."
Lintang ... Apakah ini semua kenanganku bersamanya?
Ya, aku ingat, ini kenanganku saat Lintang mengandung Elang! Aku mengingatnya!
Arrgghh! Kepalaku sakit sekali! Kakiku terasa lemas dan perutku mual. Tubuhku luruh. Rasanya aku dihempaskan jauh ke sebuah lubang dalam yang tak bertepi.
"Firman! Sayang! Kamu kenapa?" suara Lintang terdengar sangat dekat.
Aku berusaha membuka mata. Lintang bersimpuh di depanku dengan pandangan penuh kekhawatiran.
"Kamu baik-baik aja? Apa yang sakit?"
Aku menggeleng dan berusaha berdiri sendiri.
"Aku nggak apa-apa," ujarku masih dengan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Nggak mungkin kamu nggak apa-apa. Kamu pasti kesakitan. Apa yang sakit? Aku takut kamu kenapa-kenapa. Ayo kita ke dokter." Lintang berusaha membantuku berdiri.
"Lintang, stop it! Jangan banyak ngomong, kepalaku sakit!" Tanpa sadar aku mengibaskan tangannya terlalu keras.
Lintang terpelanting dan jatuh terduduk. Dia meringis menahan sakit. Bukannya segera menolong, aku malah berdiri mematung.
"Man, sakit ...," rintihnya sambil mengusap perut bagian bawah dan pinggulnya bergantian.
"Maaf, Lin. Aku nggak sengaja." Segera kudekati dia. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat ada rembesan darah di kimono tidurnya.
Sekali lagi, aku merasa diangkat dan dilemparkan ke dalam sebuah lubang yang tak bertepi. Aku merasa melayang. Semuanya gelap. Lalu muncullah sebuah gambar dengan Lintang sebagai fokusnya. Lintang dengan dress berwarna hijau pupus terbaring bersimbah darah berada di dalam ambulan. Rasanya jantungku berhenti berdetak. Kemudian gambar itu berganti dengan Lintang yang terbaring di pangkuan seorang wanita, dengan darah membanjiri lantai di bawahnya.
"Tidaaak!" Seketika kesadaranku datang.
Mataku terbuka lebar. Lintang menatapku sambil menahan nyeri. Langsung kurengkuh dia dalam pelukanku.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku." Kuciumi wajahnya dengan rasa sesal menghimpit dada. Segera kuangkat tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Kusambar handphone Lintang dan segera menghubungi Dokter Riana.
"Man," panggilnya.
__ADS_1
"Ya, Sayang." Aku langsung berbalik. "Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud mencelakaimu dan bayi kita."
"Kamu ...."
"Ya, aku ingat semuanya. Maafkan aku. Maafkan aku," lirihku.
Lintang segera merentangkan tangan dan memelukku.
"Aku seneng banget, Man. Nggak ada yang lebih membahagiakan daripada ini."
"Tapi aku salah, Lin. Aku menyakitimu lagi. Aku nggak akan memaafkan diriku sendiri kalau terjadi apa-apa denganmu."
"Selama ada kamu di sampingku, aku akan baik-baik aja, Sayang." Dia masih belum mau melepas pelukannya.
"Aku akan selalu di sampingmu, Lin," janjiku.
Kuurai pelukanku. Aku segera berlari ke kamar Pak Min, memintanya segera menyiapkan mobil untuk ke rumah sakit.
Seisi rumah terbangun mendengar kegaduhan yang kubuat. Ibu keluar dari kamar dengan tergesa.
"Ada apa ini, Nduk?" tanyanya pada Lintang yang sudah ada dalam gendonganku.
"Lintang pendarahan, Bu. Saya akan bawa Lintang ke rumah sakit. Titip Elang, njeh." Aku berjalan secepat mungkin, tidak menghiraukan wajah ibu yang terlihat begitu terkejut.
Hari masih gelap, dengan mudah Pak Min membelah jalanan kota Bandung tanpa tersentuh kemacetan.
Sepanjang jalan, aku hanya bisa melafalkan doa agar tidak terjadi apa-apa pada Lintang dan bayi kami. Kata maaf pun tak lepas dari bibirku. Rasa sesal di hati lebih terasa menyakitkan dibandingkan rasa sakit di kepala.
Lintang hanya bisa menggigit bibir, menahan sakit. Tak henti kuciumi perut buncitnya, menuangkan rasa rindu dan cinta di sana.
Paramedis segera membantuku membawa Lintang ke UGD. Dokter Riana sudah siap di sana.
"Bu Lintang kenapa, Pak?" tanyanya begitu Lintang sudah dibaringkan di brankar.
"Saya mendorongnya, Dokter. Dia jatuh dan mengalami pendarahan," jawabku jujur.
Raut wajah Dokter Riana langsung berubah, tidak percaya akan apa yang kukatakan.
Lintang kembali merintih, membuat hatiku tersayat. Kupegang tangannya dengan kedua tanganku. Kuciumi tangannya berkali-kali sambil memohon maaf.
"Bu Lintang sudah mengalami pembukaan dua, Pak," lapor Dokter Riana setelah memeriksa Lintang. "Dan sepertinya pendarahan ini karena Bu Lintang mau melahirkan, bukan karena benturan. Air ketubannya juga masih utuh."
Betapa leganya hatiku. Namun, itu hanya bertahan beberapa detik. Detik berikutnya aku bahkan lebih takut daripada sebelumnya.
"Kontraksinya masih jarang-jarang. Jadi Bu Lintang masih bisa berjalan-jalan dulu agar pembukaannya bisa lebih cepat."
Bagaimana mungkin Lintang bisa berjalan-jalan dengan kondisi seperti ini? Aku saja takut setengah mati melihat keadaannya, apalagi harus mengajaknya berjalan-jalan.
Dokter Riana meninggalkan kami dengan senyum. Lintang segera dipindahkan ke ruangan perawatan.
"Ayo, Man. Temani aku jalan-jalan," pintanya.
"Nggak, aku nggak mau. Aku nggak akan izinin kamu jalan-jalan," ucapku sambil menggenggam tangannya erat.
"Aku merindukanmu yang seperti ini." Dielusnya pipiku dengan lembut.
"Jangan menggodaku. Ini udah bukaan dua," ingatnya sambil tertawa renyah. Bisa-bisanya dia tertawa di saat perutku ikut mulas melihat dia yang terus meringis.
"Bayi kita benar-benar ingin lahir ditemenin sama papanya."
"Entah apa yang harus aku bilang, Sayang. Aku benar-benar menyesal."
"Ini bukan salahmu, Man. Memang takdirnya begini, kita bisa apa?" ujarnya menenangkanku.
"Apa yang bisa kulakukan untuk menebusnya?"
"Tetaplah di sampingku. Itu sudah cukup bagiku." Permintaannya membuatku kembali mendatangi bibir merahnya. Menyatakan betapa aku bersyukur memilikinya.
Tiba-tiba Lintang menggigit bibirku, membuatku melepaskan bibirnya.
"Sakit, Man!" teriaknya. Ditekannya perutnya berharap bisa mengurangi rasa sakit.
Aku panik melihat Lintang begini. Segera kupanggil dokter.
"Udah, bukaan tujuh, Bu Lintang. Cepat ternyata. Ditahan sebentar lagi, ya." Dokter Riana segera meminta suster menyiapkan ruang persalinan.
Aku tidak sanggup melihat Lintang yang berurai air mata menahan sakit di perutnya. Aku sudah berusaha menenangkannya, tapi malah aku yang mengangkat bendera putih.
"Sayang, di caesar aja, ya. Aku nggak sanggup liat kamu kayak gini," pintaku begitu kami sampai di ruang persalinan.
"Kamu ngomong apa sih, Man? Ini udah tinggal brojol, malah disuruh caesar," serunya marah.
"Aku udah bilang aku mau melahirkan normal."
"Tapi aku nggak bisa liat kamu kayak gini, Lin."
Lintang sudah tidak peduli apa yang kukatakan. Dia malah mencengkeram tanganku lebih erat. Aku benar-benar panik. Meski aku tahu kalau melahirkan itu bertaruh nyawa, tapi aku tidak tahu bahwa rasa takutku akan sebesar ini. Seandainya bisa, aku ingin menggantikan posisi Lintang sekarang.
"Ketubannya sudah pecah, Dokter." Seorang bidan yang membantu menangani Lintang memberitahu Dokter Riana. Setiap sendi tubuhku rasanya dilepaskan dengan paksa. Ini memang bukan pertama kalinya Lintang melahirkan, tapi ini pertama kali kami melewatinya secara normal.
"Pembukaan delapan, Bu Lintang. Tarik napas dulu, jangan mengejan."
"Sayang ...." Aku tak kuasa melihat peluh sebesar biji jagung yang terus mengalir dari dahinya, meskipun aku mengalami hal yang sama.
Rasa sakit yang kualami karena amnesia terasa bagai debu bila dibandingkan rasa sakit yang Lintang alami saat ini. Bahkan jika dulu aku hanya retak tulang kaki untuk menyelamatkannya, maka kini Lintang harus merasakan sakitnya dua puluh tulang yang dipatahkan secara bersamaan sebagai perumpamaan sakitnya melahirkan, hanya untuk bisa menghadirkan buah cinta kami ke dunia.
Tak ada yang bisa kulakukan selain berdoa untuk keselamatan keduanya. Kugenggam tangannya agar dia tahu bahwa aku selalu ada untuknya.
Rintihan Lintang makin jelas terdengar. Pegangan tangannya pun seakan bisa mematahkan jariku.
"Bukaannya lengkap! Dorong, Bu Lintang!" perintah Dokter Riana.
"Ayo, Sayang. Kamu pasti bisa! Kamu pasti bisa!" Kuberi dia semangat, meski aku sendiri sudah tidak punya kekuatan hanya untuk sekedar tetap berdiri tegak.
Lintang benar-benar berjuang. Tak banyak kata yang keluar dari bibirnya, hanya asma Allah dan namaku yang dia sebut.
__ADS_1
Dan akhirnya, tangis yang kami tunggu pun terdengar nyaring di ruang persalinan. Tangis bayi yang Lintang perjuangkan dengan nyawanya.
Terdengar lafaz hamdallah berkali-kali disebut.
"Selamat Pak Firman, Bu Lintang, bayinya sudah lahir dengan selamat. Bayi perempuan yang sangat cantik," ujar Dokter Riana sambil meletakkan bayi yang masih menangis itu di dada Lintang.
Lintang tersenyum bahagia. Begitu pun aku.
"Sesuai keinginanmu, Man. Bayi perempuan," lirihnya.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih." Air mata membanjiri pipiku.
"Kok malah nangis?" tanyanya.
"Aku bahagia, Sayang. Sangat bahagia." Kuciumi wajahnya yang basah oleh keringat dan air mata.
Rasa terima kasihku takkan pernah cukup untuk semua yang telah dia berikan. Dirinya, cintanya, pengorbanannya, Elang, dan bayi mungil kami, Adinda Citra Kirana.
...
POV Lintang
Anak-anak berlarian di pantai. Kami hanya duduk di atas pasir dengan sesekali meneriakkan kalimat agar mereka berhati-hati. Anak-anak terlihat sangat gembira. Mereka menikmati kebersamaan ini.
Elang sedang membantu Azizah membuat istana pasir. Neng Iva dan Virzha berlari-lari mengejar Adinda yang kini berumur tiga tahun di atas pasir yang kering.
"Rasanya udah lama banget aku nggak liat sunset di Kuta," celetukku.
"Kalau aku tiap hari liat sunset di sini," ujar Kak Agung Darmiyanti, sahabatku yang memang tinggal di Kuta.
"Apa daya kita yang memang tinggal di gunung, ya kan, Kak Lin," sahut Teh Lia Hayati, sahabatku dari Malangbong, Garut.
"He eh, tiap hari liatnya pohon pinus lagi, pohon pinus lagi," sambungku.
"Lain kali kita ke Athena bareng-bareng, yuk. Waktu itu kita kan nggak diajak sama Kak Lintang. Kayaknya seru!" usul Kak Agung.
"Waktu itu kan mau bulan madu. Masa orang bulan madu diikutin juga," ujarku geli.
"Nggak usah diikutin juga, kami tau Kak Lintang ngapain aja di sana sama Mas Firman." Teh Lia tertawa kecil, membuat wajahku seketika memerah.
"Iih ... Teteh, malu," ujarku sambil menutup wajah.
Keduanya terkekeh.
"Eh, kita bisa ajakin yang lain juga. Kak Imoet Enra pasti mau," sela Teh Lia.
"Prasta!" seru Kak Agung.
"Jangan, nanti ada yang jealous," sindirku. "Kak Rancy, Kak Rancy."
"Khay!"
"Teh Heni Nurr."
"Kak Dywi."
"Keluarga Gesrek!"
"Si Bungsu Hanhan."
"Ummi Fasihah."
"Wah, kebayang ramenya," seruku antusias.
"Takkan kutemui wanita sepertimu
Takkan kudapatkan rasa cinta ini ...."
Kami semua menengok ke arah sumber suara. Seorang pria dengan gitarnya datang dari arah belakang. Ia mengulurkan tangan pada Kak Agung yang duduk di sebelah kiriku. Kak Agung menyambut tangan sang Aa dengan rona merah di pipi.
"Uwu!" teriakku.
"Eh!" Kali ini Teh Lia yang berteriak tertahan. Seorang pria tiba-tiba mengulurkan sebuket mawar merah padanya. Dan ia pun menerima buket mawar dari sang suami dengan wajah berseri.
"Kak Agung dikasih lagu, Teh Lia dikasih bunga, kalau aku ...," gumamku sedih.
"Kalau kamu, kamu mendapatkan semua rasa cinta dan hidupku," seseorang berbisik dari belakang.
"Firman!" teriakku kaget. Secepat kilat dia mencium pipiku.
"Kamu, ih!" kupukul dadanya, tapi meleset.
Dia tertawa.
Diulurkannya kedua tangannya padaku, berniat untuk membantuku bangun. Namun sebelum aku berdiri sempurna, tubuhku sudah melayang. Firman mengangkatku dan memutar-mutar tubuhku di udara.
"Firman, stop!" teriakku.
Dia masih tertawa dan tidak menghentikan ulahnya ini.
"Firman, aku ngambek!" teriakku lagi.
Firman menurunkan tubuhku dan langsung mendekapku erat. Diciumnya pucuk kepalaku.
"I love you, My Wife. Kamu hidupku, kamu nyawaku, kamu segalanya bagiku," bisiknya.
Kutengadahkan wajahku, langsung menatap ke arah matanya. Kudekatkan bibirku padanya.
"Kak ini masih di pantai, bukan di kamar," seru Kak Agung.
"Dasar bucin!" teriak Teh Lia sambil tertawa.
Betapa malunya aku. Tak bisa kubayangkan seperti apa wajahku kini.
Namun, aku bahagia. Sangat bahagia. Selalu didampingi orang yang kita cintai dan juga mencintai kita, adalah hal yang paling berharga.
__ADS_1
Doaku, semoga Sahabat CML juga bahagia di mana pun kalian berada. I love you, All ...
-Tamat-