
POV Lintang
Di mana aku?
Kebun bunga yang sangat luas terhampar di hadapanku. Sejauh mata memandang, hanya ada bunga warna-warni yang indah.
Aku mulai berjalan. Kusentuh bunga-bunga cantik itu, kunikmati keindahan ini sendiri.
"Ma ...."
Siapa itu?
Aku segera menengok ke belakang. Seorang gadis kecil bergaun putih berdiri di belakangku dengan senyumnya yang sangat manis.
"Kamu ... gadis yang waktu itu, 'kan?" aku mengingat matanya yang indah dan juga senyumannya.
Dia hanya tersenyum. Diulurkannya tangannya untuk memegang tanganku.
"Ayo!" ajaknya.
"Kemana?"
"Ke sini."
Aku hanya mengikutinya. Kami berlari-lari kecil sembari mengagumi apa yang kami lihat. Sesekali bercanda sambil tertawa. Aku tidak mengenalnya, tapi rasanya kami sangat dekat.
Entah berapa lama kami di sini. Kami sudah berlarian dan bermain, juga bercanda, tapi waktu serasa tak bergerak sama sekali. Tak ada pagi, siang ataupun malam. Rasa lelah pun tak pernah menyapa raga kami.
Gadis itu berputar-putar, menari di antara bunga-bunga, bertemankan kupu-kupu yang beterbangan di sekitarnya. Tiba-tiba dia menghentikan gerakannya. Dia hanya berdiri tanpa bergerak sedikit pun.
"Kok berhenti?" tanyaku sambil mendekat ke arahnya.
Dia memandang ke arahku dan tersenyum.
"Sepertinya kita harus sudahi semua ini, Ma," katanya.
"Kenapa?"
"Papa dan adik kecilku lebih membutuhkan Mama daripada aku."
"Kamu ngomong apa, sih? Papa siapa? Adik kecil siapa?" aku mengerutkan kening tidak mengerti.
Dia meletakkan jari di depan bibirnya yang mungil, memintaku untuk tidak bersuara.
"Sayang, cepetan bangun. Aku udah kangen peluk kamu."
Suara siapa itu?
Suara itu terus bercerita dengan riang, sesekali terdengar kekehan kecil.
Sepertinya aku mengenal suara itu.
"Sayang, Elang udah tambah gede, lho. Kamu nggak pengen gendong? Kata dokter, pelukanmu lebih mujarab daripada inkubator. Pelukanmu adalah tempat ternyaman untuk anak kita, juga untukku."
Elang? Siapa Elang?
Anak kita?
Firman?
"Itu ...," rasanya tenggorokanku tersumbat sesuatu.
"Itu Papa," katanya sambil tersenyum. "Dia sangat mencintaimu, Ma. Dan aku tau, dia juga sangat mencintaiku. Katakan padanya kalau aku juga sangat menyayanginya. Terima kasih atas kasih sayangnya. Terima kasih atas semua ciumannya. Terima kasih juga atas semua cerita-ceritanya. Aku sangat menyukai ceritanya. Bila aku diberi kesempatan sekali lagi, dengan senang hati aku mau jadi anak Mama dan Papa."
Aku masih tidak mengerti apa yang dikatakan gadis ini.
"Man, Elang nangis terus, nggak mau berenti."
Itu suara ... Mama!
Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Di mana pemilik suara itu?
"Ma! Mama! Firman!" aku berteriak.
Tidak ada yang menyahut.
"Pergilah, Ma."
"Aku harus pergi ke mana?" tanyaku bingung.
Gadis itu hanya tersenyum kecil.
Semua pemandangan indah di depanku seketika menghilang, termasuk si Gadis Kecil yang cantik itu. Berganti gelap, tanpa secerca cahaya pun. Aku dilanda rasa takut yang amat sangat. Aku berusaha berjalan di kegelapan. Tiba-tiba tubuhku terasa ditarik dan dihempaskan pada suatu tempat. Tubuhku terasa kaku dan tak bisa digerakkan sama sekali. Aku berusaha menggenggam apa pun yang bisa kugenggam.
"Lin?" kudengar Firman bergumam.
"Man!" ingin sekali aku menjawabnya, tapi tak bisa.
Semuanya masih gelap. Aku tidak bisa membuka mataku, terasa sangat berat.
"Ma! Lintang bereaksi!" Firman berteriak lagi.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Lintang tahan tangan saya, Ma!"
Aku bisa mendengar perbincangan mereka yang membicarakanku. Namun aku tak bisa melakukan apa pun.
"Sayang ... Sayang, kamu dengar aku?" aku merasakan tangannya menggenggam tanganku.
"Elang nangis terus, Sayang. Dia membutuhkanmu. Bangunlah!"
"Ma, tolong panggil dokternya, Ma," aku masih mendengar suara Firman.
Tak berapa lama, terdengar banyak suara di sekitarku. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Tiba-tiba terdengar suara seorang bayi menangis.
"Sayang, kamu dengar? Itu suara Elang, anak kita. Bangunlah, Sayang. Kasian dia."
Elang?
Anak kita?
Seketika memoriku kembali. Aku ingat Angela menyiksaku dan aku mengalami pendarahan.
Rasanya dadaku hampir meledak. Ternyata aku selamat, begitu juga dengan bayiku. Ya, bayiku!
Terima kasih ya Allah!
Aku harus bangun! Aku harus bangun!
Kukerahkan semua energi yang aku punya, tapi nyatanya untuk membuka mata pun sulit. Aku berusaha menggerakkan tanganku yang rasanya menjadi puluhan kali lebih berat. Gagal.
Tangis bayi itu semakin kencang.
"Mama di sini, Sayang. Mama di sini!" teriakku dalam hati.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuka kelopak mataku. Aku ingin melihat anakku.
"Iya, Sayang. Buka matamu. Elang ada di sini, di sampingmu. Bangun, Sayang! Bangun!" suara Firman menyuntikkan semangat untukku.
Dengan semua energi yang kupunya, kubuka mataku pelahan.
Kudengar pekik histeris Mama. Juga tangisan Ibu. Firman berucap hamdallah berkali-kali. Langsung dipegangnya wajahku dan didaratkannya banyak ciuman di sana.
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Lin. Aku nggak bisa hidup tanpamu," lirihnya dengan air mata yang berurai.
Firman segera memencet tombol panggilan lagi. Beberapa orang dokter datang. Entah apa yang mereka lakukan terhadapku. Aku hanya bisa pasrah.
Cukup lama mereka memeriksaku hingga akhirnya dokter mengatakan sesuatu pada Firman yang membuat wajahnya berbinar.
Aku ingin berbicara padanya. Namun tenggorokanku terasa sakit, ditambah selang makanan yang masuk dari hidungku menutup kerongkonganku.
"Man ...," suaraku nyaris tak terdengar.
"Iya, Sayang," Firman langsung menggenggam tanganku.
"A-nak ki-ta," ucapku dengan penuh perjuangan.
Suster yang sudah berhasil menenangkannya mendorong inkubator ke samping tempat tidurku.
Kulihat bayi kecil itu. Seketika air mataku mengalir begitu saja. Bayi mungil yang tampan, dengan rambut hitam legam yang tebal. Wajahnya mirip sekali dengan Firman. Namun selang makanan dan ventilator yang menempel di tubuhnya mengiris hatiku.
"Namanya Elang, Sayang. Elang Angkasa Firmansyah. Dia mirip aku, 'kan?" Firman terlihat sangat bahagia.
"Dia lahir dengan berat badan 2,1 kg, tapi dia sehat. Sekarang dia udah sedikit lebih besar. Dia hanya perlu beradaptasi dengan keadaan di luar sini."
Aku ingin sekali menggendongnya. Tapi apa daya, mengangkat tangan saja aku tak bisa. Seperti mengerti akan ketakutanku, Firman mencium keningku untuk menenangkan.
"Aku akan selalu ada di sampingmu, Sayang. Menjagamu, juga anak kita. Jangan khawatir," diusapnya pipiku dengan penuh cinta.
...
Lima tahun kemudian.
"Assalamu 'alaikum," terdengar suara dari arah pintu.
"Papa!" Elang berlari menghambur ke pelukan ayahnya yang baru pulang bekerja.
"Jawab salam Papa dulu, Jagoan," kata Firman sambil mengangkat Elang tinggi-tinggi.
"Wa 'alaikum salam," jawabnya dengan tawa kecil.
Firman menggendong anak semata wayangnya itu dengan satu tangan. Dan aku berdiri di depan mereka dengan dua tangan bersidekap di depan dada.
"Jadi, ada apa ini? Apa yang kamu lakukan sampai Mamamu yang biasanya sebaik ibu peri itu sampai menunjukkan tanduknya?" bisik Firman pada Elang, tapi masih cukup keras untukku dengar.
"Elang cuma ...."
"Cuma merobohkan sebuah rak di perpustakaan," selaku. "Dan untungnya dia sempet lari, nggak ketimpa raknya."
Bukannya marah, Firman malah tertawa terbahak-bahak. Diacaknya rambut putra kami itu. Ya, Elang tumbuh dengan sangat cepat. Dia tumbuh menjadi anak yang sehat, aktif dan cerdas. Bahkan lebih cerdas daripada teman-teman seusianya.
"Kok malah ketawa sih, Pa," protesku. "Dinasehatin kek anaknya."
"Yang penting kamu nggak apa-apa, ya Sayang," diciumnya pipi Elang dengan gemas.
__ADS_1
"Papa bilang gitu, karena bukan rak di ruang kerja Papa yang dirobohin."
Firman kembali tertawa. Diturunkannya Elang dari gendongannya.
"Sepertinya Mama perlu didinginkan," Firman mengedipkan sebelah matanya pada Elang. "Kamu siapin souvenir buat ulang tahunmu besok, ya, Sayang."
Seperti mengerti, Elang langsung lari ke kamarnya. Firman menuntunku untuk masuk ke kamar kami.
"Sini, Sayang," ditepuknya pahanya agar aku duduk di sana.
Aku pun menurut. Dia memelukku dari belakang. Diciuminya bahuku dengan lembut.
"Masih marah?" tanyanya.
"Nggak, cuma kesel aja. Anakmu itu, ampun ... aktif banget. Tadi siang pulang sekolah, aku bawa ke panti buat ngasiin undangan ulang tahunnya, dan di sana aku sampai nggak bisa ngobrol sama sekali sama Bunda Shinta. Dia nggak bisa diem. Dia diem pas pulangnya aja, tidur di mobil," celotehku panjang lebar.
Firman tersenyum.
Dipegangnya pipiku agar aku menghadap ke arahnya.
"Tapi sayang 'kan sama Elang?" tanyanya.
"Ya sayang dong. Dia anakku, dia nyawaku," jawabku penuh kepastian.
"Mau ngabulin permintaannya?"
"Permintaan apalagi? Kan udah dibeliin semua maunya."
"Dia bilang sama aku, buat kado ulang tahunnya besok, dia nggak mau apa-apa. Dia cuma mau adik bayi," kata Firman sambil mengikis jarak antara kami, hingga hidung kami bersentuhan.
"Terus?"
"Kita bikin, yuk," diciumnya bibirku dengan penuh cinta.
...
"Om Adi!" Elang langsung berlari melintasi halaman, menyongsong Adi yang baru saja turun dari mobilnya.
Adi segera merentangkan tangannya, menangkap tubuh kecil Elang yang melompat ke pelukannya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Kamu udah gede, ya," kata Adi sambil menggendong Elang.
"Iya, dong. Kan hari ini Elang udah lima tahun, jadi udah gede," katanya sambil menunjukkan lima jarinya.
"Iya, hari ini Elang udah lima tahun," seorang wanita keluar dari pintu mobil sambil menggendong seorang bayi mungil yang cantik.
"Halo, Suster Nina. Maaf ya, sampai dede Cantika harus dibawa ke sini," segera kubantu Suster Nina menggendong bayi cantik itu.
Suster Nina adalah suster yang merawat Elang sejak di rumah sakit. Dan kini, dia adalah istri Setiadi. Saking seringnya Adi menengok Elang, mereka jadi semakin dekat. Akhirnya Adi melabuhkan hatinya pada Suster Nina dua tahun lalu. Mereka pun dikaruniai seorang bayi perempuan yang diberi nama Cantika.
"Eh, Pak! Ini istrinya bantuin, malah maen sama anak orang," seruku.
Adi cuma tersenyum sambil menggendong Elang di sebelah tangannya, dan sebelah tangannya lagi menggandeng istrinya.
Suara klakson terdengar dari mobil yang baru masuk gerbang. Mobil itu berhenti tak jauh dari kami.
"Om Hendy!" teriak Elang.
Benar saja, Hendy keluar dari mobil itu disusul oleh dua orang anak lelaki kecil dan seorang wanita.
"Kak Lintang!" wanita itu melambaikan tangannya padaku.
"Hai, Sya!" kubalas lambaiannya.
Elang meminta turun dari gendongan Adi. Dia segera menghampiri dua lelaki kecil yang merupakan anak kembar dari Hendy dan Tasya. Hendy yang dingin berhasil ditaklukan oleh Tasya yang periang. Dan mereka menikah tiga tahun yang lalu. Hendy pun kembali ke Bandung dan sekarang menjadi salah satu pejabat teras di bank tempat dia bekerja.
"Ini bayi siapa?" tanya Tasya ketika melihatku menggendong seorang bayi.
"Bayinya Pak Adi," jawabku.
"Kirain adiknya Elang, kok nggak ketahuan hamilnya," celoteh Tasya lagi.
"Adiknya Elang segera menyusul, Sya," tiba-tiba Firman sudah berada di sampingku dan melingkarkan tangannya di pinggangku.
Kupelototi dia.
"Ayo masuk dulu, kasian Cantika. Panas di luar sini," ajak Firman.
Kami semua masuk ke dalam rumah, kecuali para lelaki kecil yang berlarian di halaman yang sudah disulap menjadi party ground untuk ulang tahun Elang yang kelima.
Aku sangat bahagia. Rasanya tak percaya, kami semua bisa berkumpul di sini, untuk merayakan hari ulang tahun anakku.
Firman, Adi dan Hendy kembali bersahabat sejak kelahiran Elang. Adi menemukan cintanya pada Suster Nina, begitu juga Hendy yang berbahagia dengan Tasya.
Rasanya hidupku begitu sempurna, dikelilingi oleh orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku.
Kupandangi Firman yang sedang berbincang hangat dengan Adi dan Hendy. Dialah sumber kebahagiaanku kini. Ya, dia dan Elang.
Tak sengaja dia melihat ke arahku yang sedang mengobrol dengan Tasya dan Suster Nina. Dia tersenyum lebar, dilemparkannya sebuah ciuman untukku.
"I love you," bibirnya bergerak pelahan.
"I love you too," balasku.
__ADS_1
End