Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Karma


__ADS_3

"Pak Firman, selamat! Putra Anda laki-laki. Meskipun berat badannya kurang karena lahir prematur, putra Anda sehat dan sempurna. Namun, Bu Lintang ...."


"Istri saya kenapa, Dok?" tanyaku dengan jantung berdebar.


"Bu Lintang belum memberikan respon apa pun."


"Maksud Dokter?"


"Kami akan memasukkan Bu Lintang ke ruangan ICU. Semoga beliau segera sadar."


"Maksud Dokter, Lintang koma?" tanyaku nyaris berteriak.


"Kami harus mengobservasinya lebih lanjut," Dokter itu terus saja memberi harapan.


Adi menepuk pundakku.


"Lintang dan anak kalian butuh kamu, Man. Biar Angela aku yang urus. Kupastikan dia masuk penjara dan mendapatkan hukuman yang setimpal," katanya.


"Thanks ya, Di," entah apa lagi yang bisa kukatakan pada sahabatku itu.


Adi langsung pergi dengan cepat.


"Apa saya bisa melihat istri saya, Dok?" tanyaku.


"Ibu Lintang juga sedang dipersiapkan untuk masuk ICU. Pak Firman bisa melihat putra Bapak dulu di NICU," ujar dokter itu lagi.


Aku mengangguk dan segera melangkah ke NICU.


Setelah menggunakan baju steril dan mencuci tangan, seorang suster mengantarku ke sebuah inkubator yang di dalamnya terdapat seorang bayi yang sangat kecil sedang menggeliat. Di tubuhnya dipasangi selang makanan dan ventilator.


"Ini putra Bapak," suster itu menunjukkan papan nama yang di situ tertulis namaku dan nama Lintang.


"Karena lahir prematur, putra Bapak sementara harus dirawat di sini agar suhu tubuh dan oksigennya tercukupi. Ditakutkan paru-parunya belum berfungsi sempurna. Namun Bapak tidak usah khawatir, semua peralatan medis di sini lengkap dan dimonitoring dengan ketat."


Suster itu meninggalkanku agar bisa melihat bayiku dengan leluasa.


"Assalamu 'alaikum, Anak Papa," belum juga kata-kataku keluar, air mataku keluar lebih dulu.


"Aku bahkan belum mengadzanimu, Jagoan. Terima kasih sudah mau bertahan untuk kami, Nak. Terima kasih sudah datang untuk kami. Mamamu pasti sangat bahagia melihatmu sudah lahir ke dunia. Mamamu sangat yakin kalau bayinya laki-laki," tenggorokanku seperti tercekik mengingat Lintang yang koma.

__ADS_1


Bayi kecil itu hanya menggeliat. Tubuhnya yang kecil terlihat ringkih, matanya pun belum terbuka sempurna. Dengan rambut hitam lebat, hidung mancung dan bibir mungil berwarna merah jambu, bayi itu terlihat tampan. Ingin sekali aku mengangkat dan memeluknya. Menciuminya dan mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya. Namun, aku hanya bisa melihatnya dari balik kaca. Rasanya berat sekali melihatnya begini. Memaksanya yang belum cukup umur agar hadir di dunia.


"Papa yakin kamu kuat, Sayang. Kita akan bertemu dengan Mama sesegera mungkin," janjiku sambil berusaha tersenyum.


Ya, aku adalah penopang mereka berdua. Aku tidak boleh lemah apalagi putus asa. Aku yakin kami semua bisa melewati ujian ini dan keluar sebagai pemenang.


Aku hanya bisa menitikkan air mata kembali. Berusaha mengurai sesak di dada.


"Papa nggak kuat lama-lama liat kamu kayak gini, Sayang. Papa akan membawamu segera ke pelukan Mama." Aku segera keluar dari NICU dan langsung menuju ICU.


Di sana kulihat wanita yang amat kucintai terbaring dengan mata tertutup. Di tubuhnya terpasang berbagai jenis selang, mulai dari selang oksigen, infus, selang makan, labu darah, monitor denyut jantung sampai kateter urine.


Kembali air mataku mengalir, tak sanggup melihat Lintang seperti ini.


Ya Allah ...


"Sayang ...," panggilku dengan rasa sakit yang teramat sangat di dadaku.


"Anak kita udah lahir, Sayang. Dan dia laki-laki, seperti inginmu. Maka dari itu, Sayang, bangunlah. Dia sangat membutuhkanmu, begitu juga aku," aku tergugu. Jika Lintang bangun, dia pasti marah. Dia paling tidak suka melihatku menangis, apalagi memperlihatkan kelemahanku.


"Sayang, kamu tau, dia benar-benar mirip aku. Cuma bibirnya aja yang mirip kamu. Dia sangat kecil, Sayang, beratnya cuma 2,1 kg. Cepatlah bangun, Lin, beri dia ASI agar dia cepat besar dan kita bisa segera pulang. Bukankah kamu udah nggak sabar pake kamar yang udah kamu rancang untuk putra kita," aku menelan saliva yang terasa pahit.


"Aku keluar sebentar ya, Sayang. Aku akan memastikan orang yang membuatmu seperti ini, akan mendapatkan ganjaran yang setimpal."


Aku pun melangkah keluar.


...


POV Setiadi


Aku merangsek ke dalam kantor Angela bersama polisi. Angela yang sedang duduk di kursi kebesarannya terlihat terkejut.


"Adi?! Mau apa kamu bawa polisi ke sini?" bentaknya.


"Tentu saja untuk menyeretmu ke kantor polisi!" teriakku.


"Apa maksudmu?" dia pura-pura pilon.


"Lintang sekarang di rumah sakit dalam keadaan koma. Kamu harus mempertanggungjawabkannya!" ujarku penuh emosi.

__ADS_1


Diluar dugaan, Angela malah tertawa terbahak-bahak.


"Koma, ya? Kupikir dia sudah mati. Tapi sepertinya, dia tidak akan lama komanya. Sebentar lagi dia akan menjadi titik," Angela kembali tertawa.


Polisi yang datang bersamaku sepertinya sudah tidak membutuhkan alasan untuk membiarkannya terus bebas. Dua orang polisi langsung maju dan memegang kedua lengannya.


"Lepaskan aku! Aku bisa membungkam kalian semua dengan uangku. Lepaskan!" Angela terus berteriak dan meronta.


"Tidak akan bisa! Jangan kamu pikir, kamu bisa membeli segalanya dengan uang! Terlalu banyak saksi dan bukti yang menunjukkan bahwa kamu berkali-kali merencanakan pembunuhan Lintang!"


"Jangan-jangan, selama ini kamu yang merusak semua rencanaku?" tudingnya.


"Ya, aku yang melakukannya," seruku.


"Ternyata kamu masih mencintai Lintang. Menyedihkan sekali! Mencintai istri orang. Bahkan dia tidak pernah menganggapmu ada!" sarkasnya.


"Bukankah kamu lebih menyedihkan daripada aku? Kamu pun mencintai suami orang, bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Sedangkan lelaki itu bahkan jijik melihatmu. Aku masih lebih baik daripadamu. Lintang masih bersikap manis dan menganggapku sebagai teman," tegasku.


Angela terlihat tidak menyukai kenyataan yang ada di hadapannya.


"Sekarang waktunya kamu membayar semua kejahatanmu," kupersilakan Pak Polisi itu untuk membawa Angela.


"Tidak! Jangan mimpi!" disentakkannya dengan keras kedua tangan polisi yang memeganginya. Angela berlari keluar dari ruangannya langsung menuju lift yang terbuka.


Kami yang masih berada di dalam ruangan langsung mengejarnya lewat tangga. Namun rupanya Angela lebih cepat. Para polisi banyak terhambat oleh para pegawai yang berlalu lalang. Terjadilah aksi kejar mengejar dari dalam gedung sampai jalan raya.


Aku yang melihat Angela berlari menyeberang jalan segera memberitahu polisi agar mereka segera mengejarnya.


Angela yang tahu dirinya terus diburu, dengan nekad menerobos lampu merah. Mobil-mobil yang melaju kencang bergantian mengklaksonnya agar menyingkir dari tengah jalan. Entah apa yang dipikirkannya, Angela terus memaksa menyeberang dengan kondisi lalu lintas yang ramai.


Hingga akhirnya suara ban mobil yang direm mendadak terdengar memekikkan telinga.


Brak!


Tubuh Angela terhempas cukup jauh di atas aspal.


"Angela!" pekikku kaget.


Jalan raya tiba-tiba gaduh dan terjadi kemacetan di sana.

__ADS_1


Aku segera berlari ke arah Angela terhempas. Di sana kulihat dia terbaring di aspal dengan darah di sekujur tubuhnya. Aku kembali teringat Lintang yang ditabrak oleh orang suruhan Angela saat dia mengandung hingga kehilangan bayinya. Sepertinya karma berlaku bagi Angela. Dia merasakan apa yang Lintang rasakan dulu.


__ADS_2