Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Dia lagi


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama, Firman langsung melakukan apa yang Adi katakan. Entah mereka memang sehati atau memang sudah saling mengerti, tanpa perlu tambahan penjelasan, dia sudah bisa melakukannya dengan sempurna.


Dalam waktu kurang dari dua minggu, semuanya bisa teratasi dengan baik. Dan kami pun bisa kembali ke Bandung dengan tenang.


"Aku kangen sama kasur ini," ujarku sambil menjatuhkan diri di tempat tidur di kamar kami.


"Emangnya kasur di sana nggak nyaman?" tanya Firman sambil memijat pinggangku yang kukeluhkan pegal.


"Kasurnya nyaman, yang bikin nggak nyaman tuh memori di dalamnya," kataku masih dengan tubuh tengkurap.


"Maaf. Jadi membekas, ya?" sesalnya. Diusapnya rambutku. "Besok kita pindah lagi aja apartemennya."


"Enteng ya, Man? Kamu beli apartemen kayak beli cilok aja," sindirku.


"Daripada kamu nggak nyaman, buat apa?"


"Iya, sih."


"Ya udah, sekali-kali kamu yang pilih. Nanti kalau udah dapet yang cocok, tinggal bilang sama aku. Kalau bisa yang deket sama kantor," katanya.


Aku menggangguk. Walau bagaimana pun juga kami membutuhkan hunian di ibukota, mengingat kami sering memiliki urusan di sana.


"Sayang," panggilnya.


Aku memutar tubuhku, "Ya."


"Ehm, besok aku harus terbang ke Samarinda," katanya bagai bisikan.


"Apa?! Baru juga nyampe rumah, masa kamu harus langsung pergi lagi, Man?" cercaku.


"Reno baru bilang kemarin. Katanya ada proyek raksasa di sana. Dia belum berani pegang sendiri."


"Emang nggak ada orang lain yang bisa nemenin dia? Cuma ngecek aja, 'kan?"


"Iya. Sekalian aku juga meriksa kantor di sana. Memang jarang ada masalah, tapi belajar dari Semesta Perdana, aku juga bakal inspeksi ke Buana Perdana."


"Buana Perdana?"


"Perusahaan tambang kita, Sayang."


Aku tidak ingat punya tambang di Kalimantan.


"Terus bisnis apalagi yang kamu punya?" tanyaku sambil mengusap janggutnya yang tumbuh pendek.


"Travel agent."


"Berarti kemaren kita bulan madu gratisan, dong?" tanyaku penasaran.


Firman tertawa.


"Ya bayar juga, dong. Toh nanti labanya juga masuk dompet kamu."


Aku ikut tertawa.


"Iya, juga ya."


"Jadi gimana? Kamu mau ikut?" tanyanya.


"Nggak, Man. Aku udah lama nggak ngantor. Nggak enak sama yang lain," jawabku.

__ADS_1


"Kamu juga pemegang saham, 'kan? Berarti nggak harus kerja, dong."


"Kan aku udah bilang, pekerjaanku ini bukan semata-mata tentang materi. Kerjaanku ini kebahagiaanku, Man."


"Iya, Sayang. Aku tau."


"Jadi berapa hari kamu di sana?" tanyaku akhirnya.


"Cuma dua hari. Paling lama tiga hari. Aku nggak bisa lama-lama jauh dari kamu," diusapnya bibirku.


Didekatkannya wajahnya padaku. Diberikannya ciuman hangat di kening.


...


Setelah mengantar Firman ke bandara, aku segera berangkat ke kantor arsitek.


"Kak Lintang!" seru Tasya, wanita muda yang menggantikanku sebagai administrator sejak aku kecelakaan.


"Hai, Sya," sapaku.


"Gimana bulan madunya?" tanyanya basa basi.


Aku tertawa, "Ya gitu, deh."


"Dek Lintang," seseorang memanggilku lagi, Bang Dedi.


"Kangen abang sama kamu, Dek," katanya.


"Sama bang, adek juga kangen ngantor," ujarku.


Kami pun berbincang. Ditambah personil lain, banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari desain yang diminta customer sampai pernak-pernik isi bangunan.


"Mertuaku kayaknya tau tempat cari barang-barang kayak gitu. Rumahnya ukiran semua. Nanti aku coba tanyain, ya," kataku memberi solusi.


"Mertua Kakak dimana?" tanyanya.


"Di Semarang."


"Eh, jadi inget. Waktu Kak Lintang sakit, kan ada pameran perumahan di Semarang tuh, aku sama Pak Wildan ke sana mewakili kantor. Ada orang yang nanyain Kakak, lho."


"Siapa?" tanyaku mengerutkan kening.


"Orang bank. Kayaknya dia temen Kakak, deh," Tasya tersipu.


"Aku punya banyak temen orang bank," sahutku.


"Ehm, kalau orang itu beneran temen Kak Lintang, bisa nggak kakak deketin aku sama dia?" tanyanya sambil memilin ujung bajunya.


Aku sedikit bingung. Aku belum kenal lama dengan Tasya, tapi dia sudah berani meminta tolong hal yang pribadi seperti ini.


"Kalau memang aku bisa bantu, pasti aku bantu, Sya," ujarku akhirnya.


"Dia orang sini kok, Kak. Cuma lagi dinas di Semarang."


Tiba-tiba aku merasa tidak enak perasaan.


"Dia juga lagi cuti sekarang. Jadi dia sekarang lagi ada di Bandung."


"Kayaknya kamu tau betul jadwalnya," pungkasku.

__ADS_1


"Aku stalking dia, Kak," dia tertawa sambil menutup mulutnya. "Aku suka sama dia sejak pertama ketemu. Dia ganteng banget, ramah lagi."


"Kenapa nggak langsung ngomong aja?"


"Malu dong, Kak. Aku kan perempuan."


"Kamu udah cek belum statusnya? Jangan sampe kamu suka sama suami orang," nasihatku.


"Itu yang pertama kali aku cek, Kak," katanya dengan wajah berbinar. "Dia masih single."


"Syukur deh kalau gitu."


"Kak, nanti kita makan siang bareng, yuk," ajaknya.


"Oke," jawabku meski dengan sedikit keberatan.


Benar saja, Tasya menungguku di depan ruangan Mas Bima saat jam makan siang. Namun ternyata tak hanya Tasya, karyawan lainnya juga mengajak kami untuk makan siang bersama. Mau tidak mau Tasya ikut bergabung dengan karyawan lain untuk makan bersama di rumah makan dekat kantor.


Suara riuh terdengar dari rombongan kami yang terdiri lebih dari sepuluh orang. Ada yang masih membicarakan pekerjaan, ada juga yang sekedar bersenda gurau dengan karyawan lainnya.


"Dek Lintang, kayaknya udah lama deh kita nggak ditraktir sama Dek Lintang. Kelamaan bulan madunya," tiba-tiba Bang Dedi menyeletuk.


Aku tertawa kecil. Sudah tidak aneh dengan kalimatnya itu.


"Iya, iya, Bang. Pesen aja. Adek yang bayar," cetusku.


Semua bersorak gembira dan bertepuk tangan. Aku hanya bisa tertawa melihat kekompakan kami semua.


Tiba-tiba Tasya berdiri.


"Sebentar, ya," katanya sambil berlalu.


Kami semua tidak terlalu menghiraukannya. Kami sibuk dengan pesanan kami masing-masing.


"Maaf, teman-teman. Apa temenku boleh gabung makan siang sama kita?" Tasya kembali dengan menggandeng seorang pria.


Kami serempak menoleh ke arahnya. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Tak ada yang bersuara. Jantungku berdebar sangat cepat. Aku menelan salivaku dengan susah payah. Teman-temanku bergantian melihat ke arah pria itu dan ke arahku.


"Boleh?" tanya Tasya lagi dengan suara riang.


"Boleh, silakan," akhirnya Mas Bima yang memberi keputusan.


"Nggak, makasih. Nggak usah," tolak pria berkulit putih dan bermata sedikit sipit itu.


"Nggak apa-apa, Pak. Temen-temen saya baik, kok," lanjut Tasya.


Aku tidak berani menengok ke arahnya.


"Saya sangat berterima kasih, tapi saya masih ada keperluan lain," katanya.


"Ya udah deh kalau gitu," kata Tasya. "Mudah-mudahan lain kali kita bisa makan siang bareng, ya," lanjutnya.


Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk pada kami semua. Tasya kembali duduk di sampingku. Sekarang semua mata tertuju padanya.


"Ayo makan. Waktu makan siangnya keburu abis, lho," celetukku mengingatkan karyawan yang lainnya untuk tidak memperhatikan kami terus menerus.


"Pada kenapa sih? Perasaan pada ngeliatin aku semua," tanya Tasya kebingungan.


"Nggak apa-apa, perasaan kamu aja kali," ujarku menenangkannya.

__ADS_1


Sebaiknya aku segera menelpon Firman setelah ini.


__ADS_2