Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Kebenaran


__ADS_3

Ada apa dengan malam ini?


Aku melanjutkan langkahku sambil menggandeng Firman.


"Selamat ya, Om atas ulang tahun pernikahannya. Semoga langgeng sampai maut memisahkan," ujarku saat kami sudah berhadapan.


"Makasih banyak ya, Lin. Kamu udah mau datang jauh-jauh ke sini. Semoga kamu juga diberi kelancaran sampai nanti saatnya melahirkan," katanya sambil mengusap bahuku. "Mana Mamamu?"


"Mama nggak bisa dateng, Om. Beliau meminta maaf dan menitipkan ini buat Om dan Tante," kusodorkan dua buah paper bag hadiah dari Mama dan hadiah dariku.


"Wah, jadi ngerepotin. Om ngerti, Papa dan Mamamu pasti sibuk," beliau menerima hadiah yang kubawa dan menyerahkannya pada seorang pria yang sepertinya adalah ajudannya.


"Oh ya, Pak Firman udah kenal sama Pak Hendy? Dia calon pejabat teras bank swasta, lho," Om Reynald memperkenalkan Hendy yang masih berdiri di sampingnya.


"Udah, Pak. Saya udah kenal sama Pak Hendy," ucap Firman.


"Bahkan kami pernah main basket bersama, bukan begitu Pak Firman?" balik Hendy.


"Hai, Sayang. Makasih ya, udah datang," tiba-tiba Tante Saras sudah berdiri di antara kami. "Mana Mama dan Papamu?" lagi-lagi Mama yang ditanyakan.


"Mama nggak bisa datang, Tante. Mama ada kepentingan lain yang tidak bisa ditinggalkan," ujarku sambil mencium pipi kanan dan kiri Tante Saras.


"Mamamu itu kebanyakan acara," kata Tante Saras.


"Iya, sampai jarang ada di rumah," balasku.


"Ya udah, yuk, kita kumpul sama yang lain. Biarin aja bapak-bapak itu ngobrolin perusahaan, kita ngobrolin yang lain," ajak Tante Saras sambil menggandengku.


Firman terlihat keberatan, tapi dia tidak bisa mencegah Tante Saras membawaku.


Tante Saras membawaku pada sekumpulan ibu-ibu dan wanita muda yang menjadi teman-teman Mama arisan. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi mereka langsung melihat ke arahku ketika kami datang.


Mereka semua menyapaku dengan ramah dan heboh. Hampir semua yang ada di situ mengenaliku. Mereka menanyakan banyak hal, tentang Mama, kehamilanku, hingga perhiasan yang kukenakan.


"Cantik banget kalungnya," kata Tante Marry. "Diamond lho, Genk."


"Iyalah, pasti. Suaminya 'kan sayang banget sama dia. Iya, kan Lin?" Tante Nada ikut-ikutan ambil suara.


Aku hanya tersenyum. Sepertinya pergaulan seperti ini tidak cocok untukku.


"Maaf Tante, saya ambil minum dulu, ya," kataku memberi alasan.


"Biar diambilin pelayan, Lin. Nggak usah bangun, kasian perutnya udah gede gitu," kata Tante Saras.


"Nggak apa-apa, Tante. Sambil mau cari udara segar dulu," ujarku sambil tersenyum.


"Ya udah, nanti balik lagi ke sini, ya."


Aku mengangguk dan segera berdiri. Aku berjalan ke arah meja berisi minuman di dekat jendela. Kuhirup udara segar sebanyak-banyaknya. Kuelus perutku pelahan. Pembicaraan seperti tadi tidak baik untuknya.


"Lin," aku tidak menyadari kalau Setiadi sudah ada di sampingku.


"Hai, Di. Minum?" aku menawarkan gelas-gelas di atas meja.

__ADS_1


"Iya, makasih," diambilnya sebuah gelas berisi sirup berwarna hijau.


"Aku seneng banget liat kamu baik-baik aja, Lin. Sepertinya dia tidak punya kesempatan mendekatimu," katanya sambil membimbingku untuk duduk di kursi dekat jendela.


Sudut ini terlihat sepi, jarang ada yang lewat di sekitar kami. Para tamu lain lebih suka meminta tolong kepada pelayan untuk diambilkan minuman. Jadi kami bisa berbicara dengan leluasa.


"Maksudmu siapa sih, Di?" tanyaku penasaran.


"Angela, Lin. Dia bisa melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."


Aku terkejut mendengar kata-kata Adi.


"Bukannya Angela itu pacarmu?" tanyaku keheranan.


"Menurutmu?"


"Ya, aku nggak tau. Aku dengernya sih gitu," ujarku polos.


"Aku masuk ke Main Company untuk melindungimu, Lin."


Aku mengerutkan kening, "Maksudmu?"


Adi menghela napas.


"Aku melakukannya untuk menebus kesalahanku pada kalian, padamu dan pada Firman. Ketika aku berniat ke luar negeri, Angela mendatangiku. Dia menawarkan posisi Firman, dengan syarat aku mau membantunya untuk ...," Adi tidak meneruskan kata-katanya.


"Untuk apa?" desakku penasaran.


"Untuk mendapatkan Firman."


"Dan sebagai bayarannya, aku akan mendapatkanmu."


"Hah?!" teriakku tak percaya.


"Dia tau kisah kita sebelumnya. Jadi dia pikir dia menemukan orang yang tepat untuk membantunya menghancurkan hubungan kalian."


Aku menggelengkan kepala tak percaya.


"Dia begitu terobsesi pada suamimu. Prinsip hidupnya, bila dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, maka orang lain juga tidak boleh mendapatkannya."


Aku beristigfar di dalam hati.


"Kenapa dia begitu terobsesi pada Firman?" tanyaku.


"Entahlah, mungkin karena Firman satu-satunya lelaki yang tidak tergoda olehnya. Makanya dia penasaran."


"Jangan-jangan yang merencanakan kecelakaan Firman seminggu sebelum pernikahan kami juga dia?" tanyaku.


Adi mengangguk.


"Dan kecelakaan yang bikin aku keguguran juga dia dalangnya?"


"Ya."

__ADS_1


Sekali lagi aku beristigfar.


"Dia jahat banget. Tapi kan waktu itu pelakunya bilang dia nggak sengaja nabrak aku. Nggak ada sedikit pun tuduhan yang mengarah kepada Angela."


"Dia cerdas, Lin. Dia cari pemain profesional atau orang yang benar-benar terpaksa melakukannya bukan buat dirinya sendiri."


"Aku nggak ngerti," aku mengelus perutku yang mulai kram.


"Waktu kasus rem blong, dia pake jasa profesional. Polisi nggak nemuin bukti apa pun, 'kan? CCTV mati, nggak ada sidik jari, saksi juga nggak ada, bahkan kabelnya pun nggak diputusin di tempat. Dia buat seolah kabelnya aus dan dianggap kecelakaan biasa. Sedangkan ketika kecelakaanmu itu, dia menyuruh seorang ayah yang anaknya menderita leukimia. Dia membayar semua pengobatan anak itu dengan syarat ayahnya mau menghabisimu. Kalau sampai si Ayah ini membocorkan bahwa dia disuruh oleh Angela, maka semua biaya pengobatan akan dihentikan dan dia harus membayar semua yang sudah Angela keluarkan untuk membiayai anaknya sebesar sepuluh kali lipat. Dan ayah anak itu rela dipenjara asalkan anaknya bisa terus diobati."


Aku mengelus dada. Jahat sekali wanita itu. Dia memang pantas disebut Mak Lampir.


"Aku sudah menggagalkan rencananya berkali-kali. Namun aku takut dia merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku. Makanya waktu di bandara aku mengingatkanmu," lanjut Adi.


"Ya, sejak kita bertemu di bandara, Firman tidak pernah melepaskanku sendirian. Kamu tau lah, karena anak ini," kuelus lagi perutku yang menegang.


"Aku senang kamu segera mendapat penggantinya," katanya tulus. "Tapi aku juga takut Angela semakin nekat melihatmu kayak gini."


"Aku nggak tau harus berterima kasih kayak gimana sama kamu, Di," kataku sepenuh hati.


"Kamu waktu itu pernah janji mau jajanin aku, itu aja udah cukup."


Aku tertawa.


"Seharga yogurt dan coklat, ya," candaku.


"Aku benar-benar menyesal. Karena aku, Firman meninggalkanmu ketika kamu benar-benar membutuhkannya. Maafkan aku, Lin."


"Udahlah, Di. Itu semua udah berlalu."


"Ya ampun, Lintang. Tante cari-cari ternyata kamu di sini," Tante Saras berjalan tergesa mendekatiku.


"Kalau kamu sampai ilang, Tante harus bilang apa sama Mamamu."


"Ah, Tante ini. Memangnya aku anak TK," sergahku.


"Yuk, kita balik lagi ke sana," dituntunnya aku kembali ke tempat ibu-ibu sosialita itu berkumpul.


Aku tidak sempat untuk mengucapkan terima kasih lagi pada Setiadi.


Aku dan Tante Sarah kembali ke tempat duduk kami semula. Kebetulan seseorang dari mereka sedang menyemprotkan sample parfum mahal ke pergelangan tangannya dan menggosoknya ke belakang telinga. Dia juga menyemprotkannya kepada para anggota yang lain. Aku yang memang sensitif pada bebauan sontak menutup mulut. Rasa mual langsung terasa di perutku. Aku segera berdiri dan berlari mencari toilet.


Karena terlalu terburu-buru, aku sampai menabrak seorang pria di dekat toilet. Dan tak ayal aku memuntahkan minuman yang belum terlalu lama aku minum.


"Maaf!" seruku sambil menutup mulutku lagi, rasa mual ini masih mengaduk lambungku.


Aku meneruskan langkah cepatku ke arah toilet. Begitu menemukan wastafel, aku segera mengeluarkan semua isi perutku yang ternyata hanya berisi air.


Aku sudah lemas, karena terus-terusan muntah tanpa ada apa pun yang keluar. Cermin di depanku memperlihatkan wajahku yang pucat.


Tiba-tiba aku mendengar suara kaki yang berjalan tergesa ke arahku. Jantungku langsung berdetak kencang. Siapa itu? Pikiranku tentang apa yang Adi katakan membuatku jadi paranoid.


Segera kubuka clutch dan kucari handphoneku, berniat menelpon Firman. Namun betapa terkejutnya aku, ternyata handphone Firman pun ada di dalam clutch itu. Sepertinya dia lupa mengambilnya tadi. Kakiku langsung lemas. Aku berusaha tetap berdiri dengan menahan tanganku di pinggir wastafel.

__ADS_1


Dari pantulan cermin, kulihat seorang pria berdiri tak jauh di belakangku.


__ADS_2