Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Jalan keluar


__ADS_3

Firman berjalan dengan tergesa ke arahku. Wajahnya memerah.


"Firman ...," lidahku kelu.


Dua kali dia melakukan hal bodoh karena situasi seperti ini. Tidak boleh ada yang ketiga kalinya.


Aku segera bangkit dan menarik Firman ke arah yang berlawanan.


"Sayang, ini nggak seperti yang kamu pikirkan," kubingkai wajahnya dengan kedua tanganku.


Kami ada di pos keamanan sekarang.


"Lihat aku! Lihat aku!" perintahku.


Dia menatapku dengan pandangan ingin menelanku bulat-bulat.


Langsung kupeluk tubuhnya yang kekar. Kurasakan dadanya turun naik menahan emosi. Aku tidak peduli, bila dia mau marah biarlah dia marah padaku.


Lama aku memeluknya, hingga akhirnya kedua tangannya membalas pelukanku. Dia berhasil meredam emosinya.


Kudengar desahan napasnya di telingaku. Dipeluknya aku erat.


"Bantu aku, Lin, kumohon. Aku nggak mau ada salah paham lagi. Aku nggak mau menyesal lagi," ungkapnya.


"Nggak ada salah paham, Man. Aku kebetulan ketemu Adi di mini market itu. Nggak ada apa-apa di antara kami. Kamu percaya, 'kan?"


"Aku ... percaya," dikecupnya keningku.


Sekali lagi, dipeluknya aku erat.


"Aku nggak mau sampai kehilanganmu, dengan alasan apa pun," lirihnya.


"Nggak akan, Man. Nggak akan."


Dilepaskannya pelukannya, digandengnya aku kembali ke dalam gedung.


"Bukannya kamu lagi rapat, Man? Kenapa kamu malah ke luar?"


"Karena aku ngerasa nggak enak perasaan, Lin. Jadi aku langsung ke luar. Lebih baik kamu tetap di ruangan aja. Melihatmu di depanku membuatku lebih tenang."


Dirangkulnya bahuku memasuki lift yang terbuka.


"Man, aku tunggu di sini aja, ya," pintaku saat kami melewati ruang tunggu.


"Tapi janji, jangan kemana-mana, ya," pesannya. "Kalau kamu menginginkan sesuatu, bilang aja sama Siska, Sekretaris Reno," ditunjuknya si Wanita Berkacamata.


"Iya, Mas, aku akan duduk manis di sini," ujarku.


"Jangan bikin aku khawatir," diciumnya aku sebentar.


"Aku janji."


Firman terlihat ragu melangkah ke dalam ruangan Reno. Namun akhirnya punggungnya yang bidang menghilang di balik pintu. Tinggallah aku sendiri duduk di sofa ruang tunggu.


"Tadi Adi mau bilang apa, ya?" gumamku penasaran.


Apa aku harus mengontaknya lagi? Ah, sudahlah. Aku bukan keledai yang bisa jatuh ke lubang yang sama. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada rumah tanggaku ini. Takkan pernah lagi aku keluar rumah tanpa izin suamiku.


...


Firman benar-benar berusaha untuk berubah. Aku tahu betul kalau dia berusaha selalu berpikir positif terhadapku. Tidak pernah lagi dia mempertanyakan Adi atau pun mendesakku untuk menceritakan apa yang terjadi.


Dengan perubahannya, aku jadi semakin berusaha menjaga kepercayaannya. Aku tidak ingin ada lagi kesalahpahaman.


Aku tidak bisa meninggalkan Firman dalam keadaan yang sulit seperti ini. Kami akhirnya sepakat untuk tinggal lebih lama di Jakarta. Semua pekerjaanku dikerjakan melalui perangkat elektronik.


Aku sedang membuat sketsa denah rumah untuk sepasang pengantin baru yang menginginkan rumah dengan desain kontemporer, ketika gawaiku berbunyi.


Sebuah nama terpampang di layar. Setiadi.


Apa yang membuat dia menelponku? Apa aku harus mengangkatnya?


"Assalamu 'alaikum, Di. Ada apa?" tanyaku to the point.

__ADS_1


"Wa 'alaikum salam, Lin. Sebenarnya aku ragu untuk menelponmu, tapi sepertinya ini penting untuk suamimu," jawabnya dari ujung sana.


Aku berpikir sejenak.


"Apa maksudmu ini tentang perusahaan?"


"Ya."


"Apa kamu tau tentang situasi di kantor sekarang?"


"Ya, Lin. Aku tau."


Aku menegakkan punggungku. Bersiap mendengar apa yang akan dia katakan.


"Lanjutkan, Di," pintaku.


"Mungkin kamu nggak akan ngerti kalau aku cerita. Coba bilang aja sama Firman untuk ...," dia menjelaskannya panjang lebar.


Aku mencoba memahami apa yang disampaikannya. Setidaknya aku mengerti maksud Adi.


"Cukup katakan itu pada Firman. Aku yakin dia tau apa yang harus dia lakukan," akhirnya Adi mengakhiri penjelasannya.


"Kenapa kamu mau membantu kami, Di?" entah kenapa aku menanyakan hal itu.


"Karena kamu masih mau berteman denganku, setelah apa yang kulakukan padamu. Aku sangat menghargainya. Kamu tak pernah sedikit pun bersikap buruk atau menyalahkanku atas apa yang pernah terjadi."


"Konyol. Buat apa aku nyalahin kamu? Apalagi kalian dulu teman. Aku merasa aku yang salah ada di antara kalian, sehingga persahabatan kalian rusak," sesalku.


"Nggak ada yang salah, Lin. Mungkin memang seharusnya begitu. Terakhir kami bekerja sama di sini pun, dia bersikap baik. Aku tau, itu pasti karena kamu. Jangan khawatir, aku tidak berniat mengganggu kalian ataupun merebutmu lagi darinya. Karena aku tau itu hal yang sia-sia."


"Makasih, ya, Di. Semoga ini menjadi jalan keluar untuk Firman," ujarku.


"Kalau masih ada yang mau ditanyakan, hubungi aku."


"Oke. Sekali lagi makasih karena kamu mau membantu kami."


"Kita kan teman, kamu bilang gitu, 'kan?"


...


Aku menyambut Firman yang baru saja pulang dari kantor. Dia terlihat lelah.


"Sayang, diminum dulu tehnya," kataku sambil menyodorkan secangkir teh hangat dengan seiris lemon di dalamnya.


"Makasih, Sayang," diterimanya cangkir itu dan langsung diminumnya hingga tandas.


"Haus? Di kantor nggak ada air?" candaku.


Firman hanya tertawa.


"Bukan di kantor nggak ada air, tapi di kantor nggak ada kamu yang bikininnya," jawabnya.


"Jadi gimana? Ada pencerahan?"


"Kami masih merunut semuanya," Firman mengubah posisi duduknya.


"Apa ada kemungkinan human error?" tanyaku.


"Ya. Termasuk human error yang disengaja," katanya.


"Maksudmu ada yang korupsi?"


"Ada beberapa orang yang diberi kewenangan tentang itu. Salahnya aku, sejak dulu aku hanya tau semua beres dari Adi. Aku nggak pernah nanyain kinerja orang per orang."


"Kenapa nggak nanya Adi?"


"Ini udah bukan urusan dia," jawab Firman ketus.


"Sayang, aku memang nggak ngerti sekompleks apa masalah perusahaanmu. Apalagi orang-orangnya. Yang aku kenal cuma Mbak Icha. Tapi, bisa nggak kamu cek tentang ...," kuulangi semua yang Adi katakan tadi siang. Tentu saja kuubah dari sudut pandangku.


Firman mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia tampak berpikir. Sepertinya dia mengerti maksud ucapanku, meskipun aku sendiri tidak mengerti sepenuhnya.


"Aku ngerti maksud kamu. Besok aku coba cek lagi," ujarnya pada akhirnya.

__ADS_1


"Tapi jangan lupa, Man, posisikan orang yang tepat di posisi yang tepat. Nggak semua orang bisa kamu percaya kan?"


"Iya, Sayang," diacaknya rambutku. "Makasih ya, atas saranmu. Sini aku kasih hadiah," ditariknya lenganku agar aku berpindah ke sisinya.


"Kalau hadiahnya cuma cium, mending nggak usah. Itu bukan hadiah. Itu sarapan, makan siang dan makan malam," ejekku.


Firman tertawa.


"Jadi, Bi Sumi udah pulang?"


"Udah. Kok nanyain Bi Sumi. Apa hubungannya hadiah sama Bi Sumi?"


"Kalau Bi Sumi udah pulang, aku bisa kasih hadiahnya sekarang. Kalau belum berarti hadiahnya dipending nanti malam," katanya sambil menaik turunkan alis.


Kuraupkan tanganku ke wajahnya.


"Pikirin dulu itu perusahaan, bukannya mikirin yang lain," bisa-bisanya dia memikirkan hal itu saat kami berbincang serius.


"Kan kamu udah kasih solusinya, bahkan kamu bisa dengan gamblang menjelaskan siapa aja dan posisi mana yang mungkin bertanggung jawab atas semua ini. Apalagi yang harus aku pikirkan."


Tiba-tiba jantungku berdebar kencang. Kata-kata Firman seolah mau menyindirku, mengatakan bahwa aku tidak mungkin tahu semua itu bila tidak ada yang memberitahuku.


Aku langsung salah tingkah.


"Sini, Sayang," dia menepuk pahanya, menyuruhku untuk duduk di sana.


Aku hanya bisa menurut.


Dirangkulnya pinggangku, diciuminya bahuku. Disibaknya rambutku, memperlihatkan leherku yang masih berhias beberapa tanda merah karena kelakuannya. Diberikannya beberapa kecupan di sana.


"Man ...."


"Adi yang ngasih tau ini semua sama kamu?" bisiknya langsung di telingaku, membuatku merasa tersengat aliran listrik.


"Iya," jawabku jujur.


Seolah jawabanku tidak berpengaruh apa pun untuknya, dia terus saja menciumi leher dan bahuku.


"Kamu nggak marah, Man?" tanyaku hati-hati.


"Sudah kubilang, Lin, aku sangat mencintaimu, dan aku yakin, sekarang kamu juga mencintaiku. Aku percaya padamu, kamu nggak akan mengkhianatiku," ujarnya dengan suara parau.


Kuputar tubuhku agar aku bisa langsung melihat ke arahnya. Mata kami kini berada di satu garis lurus. Tak ada kata keluar dari bibir kami. Hanya mata yang saling menyelami hati kami masing-masing.


"Aku mencintaimu, Man," lirihku.


"Kamu tau aku lebih mencintaimu," jawabnya.


"Tapi kan aku udah menaikkan level cintaku sama kamu," aku tidak mau kalah.


"Tetep aja level cintamu di bawah level cintaku," katanya.


"Buktikan!" tantangku.


"Sekarang udah berani nantangin, ya," katanya sambil mengunci kedua tanganku dengan sebelah tangannya.


"Nggak, nggak, aku becanda!" teriakku. "Ampun!"


Terlambat, dia sudah menggelitiki pinggangku.


"Firman, ampun!" teriakku lagi.


"Nggak ada ampun," dia terus menggelitikiku, membuatku seperti cacing kepanasan di pangkuannya, sampai air mata bercucuran dari mataku.


Akhirnya dia menghentikan aksinya. Dibiarkannya aku mengatur napas hingga normal.


"Sampaikan terima kasihku padanya," kata Firman tanpa kuduga.


"Akan kusampaikan," jawabku sambil tersenyum.


Aku bangga padamu, Lelakiku. Berani mengakui kesalahan dan bersedia memperbaiki diri. Berjiwa besar dan mau menghargai orang lain.


Semoga aku pun bisa memperbaiki diri dan menjadi lebih baik untukmu.

__ADS_1


__ADS_2