Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Ekstra Part - Permintaan Elang


__ADS_3

"Tamat," ujarku sambil menutup buku cerita bergambar itu.


Elang masih menatapku dengan mata bulatnya.


"Kok Elang belum bobo juga? Biasanya sebelum Mama selesai baca buku, Elang udah bobo," tanyaku sambil mengusap keningnya. "Apa ceritanya kurang seru?"


"Ceritanya seru kok, Ma. Elang aja yang belum ngantuk," jawabnya.


"Ya udah, kalau gitu sekarang Mama temenin Elang, sampe Elang bobo, ya. Ini udah jam delapan, udah waktunya tidur, Sayang."


"Iya, Ma," Elang menutup matanya.


Hening. Aku menggumamkan lagu lullaby berharap dia segera tidur.


"Ma ...."


"Hemm ...."


"Kenapa Elang cuma sendiri, nggak punya kakak atau adik?" tanyanya menohok.


"Kenapa Elang tanya gitu?" tanyaku pelan.


"Karena temen-temen Elang punya kakak atau adik. Cuma Elang yang sendiri," jawabnya jujur.


"Kan Elang punya banyak kakak dan adik di rumah Bunda Shinta."


"Maksud Elang, kakak atau adik di rumah ini, Ma. Anak Mama dan Papa. Kemarin waktu Elang ulang tahun, Elang minta kado baby, kata Papa iya, tapi nggak ada baby di tumpukan kado yang aku buka," jawabnya polos.


"Elang yakin, mau baby? Gimana nanti kalau babynya nangis? Terus, emangnya Elang mau berbagi mainan sama baby?"


"Mau dong, masa sama teman aja Elang mau berbagi, sama baby nggak mau berbagi," jawabnya membuatku terenyuh.


"Kalau punya baby, nanti Mama ngurusin baby terus lho, gimana?" tanyaku dengan menyipitkan mata.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dengan sangat pelan. Firman masuk dengan hati-hati.


"Kirain jagoan Papa udah bobo, ternyata belum," ujar Firman yang ikut naik ke tempat tidur.


"Elang belum bisa tidur, Pa. Dia masih kepikiran tentang kakak dan adik," ceritaku.


Firman menatap Elang dengan pandangan teduh.


"Elang seharusnya punya kakak, tapi Allah mengambilnya lebih dulu sebelum dia dilahirkan," kata Firman.


"Kenapa?" tanya Elang.


"Karena Allah lebih sayang sama Kakak," jawab suamiku lagi.


"Apa Allah juga sayang sama Elang?" tanyanya lagi.


"Tentu saja, Elang kan anak baik yang penurut," selaku.


"Lalu kenapa Allah nggak ambil Elang juga, kayak Allah ambil Kakak?" pertanyaannya menusuk tepat di jantungku.


"Karena Allah kasian sama Papa. Seandainya Papa sampai kehilangan kamu juga, entah seperti apa hidup Papa sekarang," ujar Firman.


Elang mengusap pipi papanya. "Elang sayang sama Papa."


Firman sontak memeluk Elang.

__ADS_1


"Papa juga sayang banget sama Elang."


"Gimana kalau malam ini Elang bobo sama Mama dan Papa?" cetusku.


"Emang boleh?" tanyanya sambil melihat ke arahku.


"Boleh, ya Pa?" izinku.


"Boleh, yuk!" Firman turun dari tempat tidur. "Tapi Elang harus cepet bobo, ya."


"Iya!" janjinya.


"Ayo naik ke punggung Papa. Kita pindahan naik kuda," ujar Firman sembari memberikan punggungnya pada Elang.


Dengan sigap, Elang naik ke punggung Papanya.


Aku melihat tingkah kedua orang yang amat kusayangi itu dengan hati penuh syukur. Bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk merasakan menjadi keluarga yang bahagia.


Elang tidur dengan cepat di dalam pelukan kami. Wajah tenangnya membuatku teringat akan permintaannya.


"Dia kesepian, Man," ucapku lirih, takut membangunkannya yang baru saja terlelap.


"Ya, dia pernah cerita tentang teman-temannya yang bermain sama kakak atau adiknya. Makanya diulang tahunnya kemarin dia minta kado seorang adik," jawab Firman sambil mengusap rambut anak kesayangannya itu.


Aku turun dari tempat tidur, berpindah ke atas sofa. Firman pun segera mengikuti.


"Aku menyadarinya waktu dia main di panti. Dia keliatan seneng banget dan nggak mau pulang. Juga tiap dia pulang sekolah, dia keliatan lesu," ujarku sambil menerawang. Aku yang sekarang memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, benar-benar menyadari perubahan sikap anakku.


Firman menarikku ke atas pangkuannya. Di peluknya aku dari belakang.


"Tapi aku takut, Lin. Aku masih trauma. Dua kali hampir kehilanganmu, benar-benar bikin aku hampir mati. Meskipun aku sering bilang, kasih Elang adik, tapi aku nggak benar-benar menginginkannya. Bagiku, kamu dan Elang sudah cukup," diciuminya punggungku.


"Maksudmu?"


"Kalau aku yang mau punya anak lagi. Apa kamu ngizinin?" kusandarkan kepalaku di dadanya.


Firman terdiam.


"Kan tahun sekarang, umurku 34 tahun. Aku pengen punya anak satu lagi," ujarku sambil melirik wajah Firman yang menegang. "Emangnya kamu nggak mau punya anak lagi, Sayang?"


"Kalau kamu tanya aku, aku mau punya anak lima," jawabnya.


"Kalau gitu, boleh ya, aku lepas IUD nya? Kita ikut program kehamilan," pintaku.


"Kamu yakin?" tanyanya.


"Iya."


Disibaknya gaun tidurku, "Kamu nggak takut perutmu dibelah lagi?" ditunjuknya bekas operasi caesar yang melintang di perutku.


"Nggak, karena kali ini aku mau melahirkan secara normal. Biar aku bisa ngerasain yang namanya kontraksi sambil jambakin sama cakarin kamu," ujarku sambil tertawa.


...


Pagi ini aku dan Firman sedang berebut bola di lapangan basket. Aku bersiap untuk shooting ketika Firman menarik tubuhku ke belakang hingga terjebab di atas tubuhnya.


"Firman! Kamu curang! Bocah banget, sih," gerutuku kesal.


Firman tertawa puas.

__ADS_1


"Bilang aja udah tua. Nggak bisa ngeblock," aku masih saya menggerutu dan berusaha berdiri.


"Apa kamu bilang, Sayang? Siapa yang udah tua?" ditariknya lagi tubuhku ke pelukannya.


"Sini aku kasih liat, stamina suamimu ini yang kamu bilang udah tua," diciumnya bibirku dengan penuh gairah.


"Ma, Pa," tiba-tiba sebuah suara mengagetkan kami.


Segera kudorong tubuh Firman, dan kulap bibirku dengan punggung tangan.


"Udah bangun, Sayang?" aku langsung berbalik menghadap Elang yang berdiri di dekat pintu samping.


"Mama sama Papa lagi apa?" tanyanya polos.


"Lagi main basket. Tapi Papa curang. Papa tarik Mama sampai jatuh," kataku sambil mendekat ke arahnya.


Firman yang masih terduduk di tanah hanya tersenyum mendengar alasanku.


"Elang mau ikut main?" tanya Firman.


"Elang mau main bola aja, ring basket terlalu tinggi," sahutnya.


"Boleh. Ayo kita main bola," Firman langsung berdiri untuk menerima putranya yang langsung berlari ke arahnya.


Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ayah dan anak itu. Mereka bukannya bermain bola, tetapi malah berlari-lari mengejar satu sama lain.


Aku hanya bisa tertawa. Aku pun berlari ke arah mereka, ikut serta dalam permainan yang mereka ciptakan. Maksud hati ingin membantu Elang mengalahkan papanya, sekarang malah aku yang jadi bulan-bulanan. Bukannya mengejar bola, mereka malah mengejarku.


"Stop! Stop! Ampun!" teriakku ketika dua lelaki itu berhasil menangkapku.


Firman memelukku dari belakang dengan erat. Aku benar-benar tidak berkutik dibuatnya.


"Kasih Mama hukuman, El," teriak Firman sambil tertawa.


"Dikelitikin ya, Pa," jawab Elang.


"Jangan, Sayang. Jangan!" aku terus berusaha memberontak dalam dekapan Firman.


Namun tangan kecil Elang sudah terlanjur menggelitiki perutku.


Aku tertawa kegelian, masih dengan sesekali meminta agar mereka berhenti melakukannya. Akhirnya mereka berhenti. Firman melepaskanku yang langsung berlutut di atas rumput.


"Mama capek, ya?" tanya Elang.


"Iya, Mama capek ketawa," jawabku.


Elang menangkup wajahku dan mencium ujung hidungku. Langsung kutarik anak itu ke dalam pelukanku, kubalas menciumi pipinya yang gembul sampai dia terkekeh.


"Anak Mama baru bangun, malah main bola. Bau acem. Ayo Pa, kita mandiin Elang. Mumpung hari libur," seruku.


"Sekalian mandiin mamanya juga, biar nggak bau acem," sahut Firman sambil menunduk dan langsung mengangkatku di bahunya seperti mengangkat sekarung beras.


"Horeee!!" teriak Elang. Dia segera mengaitkan jemarinya di antara jemari papanya.


"Pa, turunin! Mama pusing," teriakku.


Firman seolah tak mendengar. Dia membawaku masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Elang.


"Habis mandi kita ke rumah sakit, ya. Kita ngobrol sama dokter, biar Elang punya adik segera," katanya.

__ADS_1


"Asyik! Papa memang yang terbaik," seru Elang sambil melompat-lompat kegirangan.


__ADS_2