Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Hari terindah


__ADS_3

Kami semua berangkat dengan hati riang gembira. Terlebih anak-anak, mereka terlihat sangat antusias dan bersemangat.


Jarak yang tidak seberapa membuat kami cepat sampai di tujuan. Bunda Shinta memberikan instruksi agar anak-anak tidak terpisah dari rombongan. Semua anak dengan patuh mengikuti apa yang dikatakan Bunda Shinta.


Aku menggandeng dua anak di sisi kanan dan kiriku. Firman menggendong seorang anak dan menggenggam tangan anak lainnya. Begitu juga dengan Hendy.


"Sayang, kebayang nggak sih kalau kita beneran punya anak sebanyak ini?" bisik Firman padaku.


Aku bergidig ngeri.


"Jangan dong, Man. Kamu pikir aku pabrik apa, sekali cetak dapet selusin," kataku mencebik. "Dua anak cukuplah."


Firman tertawa.


Ketika kami sampai di arena permainan, anak-anak kami bebaskan untuk bermain apa pun yang mereka suka. Dengan meminta bantuan pihak keamanan, kami memastikan semuanya aman terkendali.


Firman menemani Sandy bermain basket, dan kulihat Hendy ada di permainan balapan bersama Raka. Tiba-tiba terbersit sebuah ide di dalam kepalaku.


Kuambil handphoneku dan kufoto Hendy bersama Raka. Kukirimkan foto itu pada Tasya.


[Buruan ke sini atau kamu bakalan nyesel. Hendy besok balik lagi ke Semarang] tulisku untuknya.


Dalam beberapa detik pesanku sudah dibaca olehnya. Dan sesuai tebakanku, Tasya langsung menelpon.


"Kak, kok Kakak bisa bareng sama Pak Hendy? Kakak di mana sekarang? Itu anak siapa?" berondongnya.


"Nanti aja nanyanya, pokoknya ke sini dulu. Ini belum akhir bulan, jadi kamu nggak sibuk, 'kan?" desakku. "Now or never."


"Iya, iya, aku ke sana. Kakak dimana?"


"Jalan Merdeka."


Segera kututup panggilan dari Tasya. Senyum mengembang di bibirku.


"Kenapa senyum-senyum? Seneng ya liat mantan?" Firman tiba-tiba sudah berdiri di belakangku.


"Please deh, Man. Ini anniversary kita, nggak mungkin aku kayak gitu," kataku sambil menarik tangannya.


"Iya, Sayang, aku becanda," katanya sambil mencium pelipisku.


"Aku bangga banget sama kamu, Man," kataku tulus.


"Kenapa?"


"Karena kamu bisa bersikap dewasa. Kamu bisa melawan ego dan rasa cemburumu. Nggak kayak waktu itu, aku sampai ...."


"Jangan ingetin aku tentang hal itu. Itu sangat menyakitkan," ujar Firman.


"Maaf," kugenggam tangannya.


"Kamu yang mau main ke sini, tapi belum ngapa-ngapain," Firman mengalihkan pembicaraan.


"Aku baru mau main. Tadi nemenin anak-anak dulu. Sekalian nungguin Tasya."


"Tasya mana?"


"Tasya admin baru di kantor," jawabku.


"Ngapain nungguin dia?"


"Mau aku jodohin sama Hendy," bisikku.


"Hhfff ...," Firman menahan tawa sambil menutup mulutnya.


"Mana mau Hendy sama Tasya."


"Kenapa? Tasya 'kan masih muda, cantik juga," tanyaku heran.


"Sayang, aku sama Hendy itu setipe. Kalau dia suka sama perempuan, pasti patokannya kamu. Nah, kamu sama Tasya itu beda banget. Cara kalian ngomong, berinteraksi sama orang, itu beda."


"Terus gimana dong?" tanyaku tidak mengerti.


"Ya, bilang aja sama dia, jangan ganjen."


"Dia nggak ganjen, Man, dia cuma centil," belaku.


"Bedanya apa?"


"Ya beda lah."


"Kak Lintang!"


"Panjang umur," seruku.


Tasya berjalan ke arahku dengan napas tersengal.


"Kok cepet nyampenya?" tanyaku.

__ADS_1


"Pake ojek online," sengalnya sambil mengatur napas.


"Tuh," tunjukku dengan dagu.


"Gimana nih, Kak? Aku deg-degan," katanya.


"Iya lah deg-degan, kalau nggak deg-degan berarti kamu udah almarhumah," jawabku asal.


"Ih, Kakak ngasal," katanya sebal.


"Ya udah sana samperin," ujarku.


Tasya langsung merapikan baju dan rambutnya. Juga menambahkan bedak dan lipstik.


Firman melihatku seolah mau mengatakan, "Kubilang juga apa."


Sebelum Tasya melangkah dengan percaya diri, kutarik tangannya.


"Hendy nggak suka cewek yang terlalu agresif," ingatku.


Dia mengangguk mengerti.


"Jadi, mau terus ngeliatin mereka?" kata Firman sambil mengaitkan tangannya di pinggangku.


"Nggak lah, aku mau maen," kataku sambil menarik tangan suamiku itu.


Permainan pertama yang aku mainkan adalah permainan memukul buaya. Setiap buaya yang keluar dari sarangnya, akan kupukul habis-habisan.


"Nih, nih, rasain nih! Pukul, pukul, pukul!" seruku berkali-kali.


Firman tertawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan anak-anak yang ikut menonton aksiku. Mungkin mereka terkejut dengan kelakuan bunda mereka ini.


Akhirnya kami bergantian main. Kami menemani anak-anak secara berkelompok. Ketika kulihat permainan memasukkan bola ke dalam ring kosong, kutarik Firman ke sana.


Kugesek kartunya pada dua mesin sekaligus.


"Aku main di sini, kamu main di sana," perintahku pada Firman. "Kita tanding."


"Yang menang dapet apa? Yang kalah harus apa?" tanyanya.


"Yang kalah harus ngelakuin semua yang diminta sama yang menang," kataku penuh keyakinan.


"Oke," jawabnya.


Permainan dimulai. Dengan penuh semangat, aku melempar bola basket ke dalam ring.


"Jangan loncat-loncat, kamu pake rok," ingat Firman.


Saking bersemangatnya, aku melempar bola terlalu keras hingga bola memantul ke luar dari tempatnya.


"Ya ampun," kukejar bola itu. Ternyata bola itu malah menggelinding ke kaki Hendy.


Hendy yang sedang menemani Putri naik kuda-kudaan dengan Tasya di sampingnya, mengambil bola itu dan melihat ke arahku.


"Hen, shoot!" kulambaikan tanganku agar dia melemparnya.


Hendy melemparnya padaku. Kutangkap dengan tepat. Namun sayang, waktunya tinggal sedikit. Aku berusaha memasukkan bola sebanyak-banyaknya, tapi sayang poinku jauh tertinggal dari poin Firman.


"Yah ...," desahku kecewa.


"Inget janjimu, Sayang," ujar Firman penuh kemenangan.


"Tapi kan tadi bolanya loncat," kataku berargumen.


"Suruh siapa lemparnya pake napsu gitu," kata Firman sambil tertawa.


"Gimana kalau saya main sama Pak Firman?" tiba-tiba Hendy sudah berdiri di belakang kami, dengan Tasya mengekor di belakangnya.


"Tentu saja boleh," Firman memintaku menggesek kartu lagi untuk mereka berdua.


Entah kenapa dadaku berdebar hebat melihat pria masa laluku dan pria masa depanku bertanding basket. Padahal kan ini hanya sebuah permainan anak-anak.


Firman dan Hendy bersiap di depan mesin permainan. Anak-anak mulai berkumpul di sekeliling kami.


"Wah, suami sama mantan main bareng, gimana rasanya, Kak?" Tasya berdiri di sisiku.


"Apaan sih?" kataku dengan wajah memanas.


Permainan dimulai. Firman dan Hendy sama-sama berkonsentrasi penuh untuk memasukkan bola. Poin mereka saling kejar-mengejar.


Anak-anak bersorak menyemangati keduanya. Suasana menjadi riuh. Sebagian memanggil nama Firman, sebagian lagi meneriakkan nama Hendy. Aku ikut bersorak.


Akhirnya waktu habis, dan Firman menang dengan selisih dua poin dari Hendy.


Tanpa sadar aku langsung berhambur ke pelukan Firman. Firman langsung memelukku. Hendy hanya terpaku melihat apa yang terjadi di depannya.


"Good job, Bro!" seru Firman sambil menepuk bahu Hendy.

__ADS_1


"Anda cuma beruntung, Pak," katanya sambil tersenyum.


Tiba-tiba mereka berdua tertawa bersama sambil ber- Hi 5. Rasanya hatiku disiram dengan seember air es.


Ya Tuhan, ini adalah hari terindah dalam hidupku. Melihat keduanya tersenyum dan tertawa bersama adalah anugerah yang tak ternilai harganya untukku.


"Yuk, main yang lain," ajak Firman pada anak-anak yang masih berkerumun mengelilingi kami.


Kami pun bermain dengan suka cita, hingga waktunya makan siang tiba. Acara kami lanjutkan dengan makan siang bersama di sebuah restoran


fast food. Diakhiri dengan mencari buku-buku dongeng dan alat tulis di toko buku kesayanganku, untuk anak-anak yang tidak bisa ikut bermain bersama kami.


Akhirnya kami mengantar anak-anak kembali ke panti. Mereka terlihat begitu gembira sekaligus kelelahan.


"Seneng nggak hari ini?" tanyaku saat anak-anak sudah turun dari mobil.


"Seneng, Bunda!" teriak mereka beramai-ramai.


"Lain kali kita main lagi, ya," kataku sambil menyambut tangan-tangan mungil yang menyalamiku dengan hangat.


Tidak hanya menyalamiku, mereka juga menyalami Firman, Hendy dan Tasya.


"Makasih lho, Lin. Anak-anak seneng banget diajak main," kata Bunda Shinta sambil mengusap bahuku.


"Sama-sama, Bun. Sebenernya ini kado dari Firman untuk ulang tahun pernikahan kami," kataku sambil tersenyum malu.


"Wah, nggak kerasa ya, udah setahun. Bunda masih inget waktu kalian nikah di hotel Setiabudi itu. Mudah-mudahan langgeng dan segera diberi momongan lagi, ya," doa Bunda Shinta.


"Aamiin, Bunda. Makasih doanya," ujarku dan Firman berbarengan.


Kami saling pandang dan tertawa. Dia mencubit pipiku pelan.


"Jadi hari ini anniversarynya Kak Lintang? Wah, selamat ya, Kak. Mudah-mudahan bahagia terus sampai kakek nenek," kata Tasya sambil mencium pipi kanan dan kiriku.


"Makasih, Sya."


Hendy tidak mengatakan apa pun. Aku pun tidak berharap dia mengucapkan selamat pada kami.


"Bun, kami pamit duluan, ya," izinku pada Bunda Shinta.


"Iya, Lin. Sekali lagi makasih, ya. Semoga semua yang kalian lakukan mendapat balasan yang berlipat dari Allah SWT," kata Bunda Shinta sambil mengusap rambutku.


"Aamiin, Bunda."


"Pak Hendy, terima kasih sudah mau membantu kami mengasuh anak-anak hari ini. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan," kata Firman.


Hendy hanya tersenyum.


"Kami duluan ya, Hen, Sya," pamitku kepada keduanya.


"Iya," jawab keduanya.


Kami berjalan menuju mobil kami. Firman merangkul bahuku dengan mesra.


"Pak Firman!" tiba-tiba Hendy berteriak.


Kami berdua kembali berbalik. Hendy terlihat berjalan ke arah kami.


"Anda tau, saya masih mencintai Lintang hingga hari ini. Namun, melihat dia bahagia bersama Anda, saya yakin sudah tidak ada nama saya di hatinya. Saya mohon, jaga dia baik-baik. Bahagiakan dia. Dia wanita terbaik yang pernah saya kenal," kata-kata Hendy membuat air mataku meluncur begitu saja.


"Saya pasti menjaganya. Saya mencintainya lebih dari diri saya sendiri. Anda tidak perlu khawatir," jawab Firman.


"Saya tenang kalau begitu," kata Hendy lagi.


"Makasih ya, Hen," aku tidak bisa mengucapkan kata lain selain terima kasih.


"Sama-sama."


Aku dan Firman kembali berjalan ke arah mobil kami. Dibukakannya pintu sebelah kiri untukku. Dia sendiri masuk ke pintu sebelah kanan.


"Makasih ya, Sayang," kataku sambil mengusap pipi Firman dengan penuh kebahagiaan.


"Asal kamu bahagia, Sayang," katanya sambil menghidupkan mesin mobil.


"Mungkin nggak ya, kalau suatu saat kamu dan Hendy berteman, terus kamu sama Adi kembali berbaikan?" anganku.


"Mungkin aja," jawabnya, "asal mereka udah punya istri masing-masing dan nggak lagi menitipkan hatinya padamu."


Aku tertawa senang mendengar jawabannya.


"Eh, jangan seneng dulu, Sayang. Kamu lupa ya sama janji kamu tadi."


"Janji yang mana?" tanyaku bingung.


"Janji karena kamu kalah," ingatnya.


"Oh iya. Jadi, kamu mau minta apa?" tanyaku sambil sedikit memiringkan tubuhku ke arahnya.

__ADS_1


"Aku minta servis 24 jam," jawabnya enteng.


"Apa?!"


__ADS_2