
Rupanya kekhawatiranku terhadap kehamilan simpatik yang dirasakan oleh Firman terlalu berlebihan. Pada kenyataannya, setelah melewati trimester pertama, Firman sudah tidak mengalami mual muntah lagi. Tidak ada lagi keinginan aneh dan tingkah menyebalkan.
Dan sekarang semuanya berjalan kembali dengan normal. Tiap hari kulalui dengan kebahagiaan. Tak ada yang lebih membahagiakan dibanding hamil dengan ditemani orang-orang tersayang yang selalu memanjakanku.
Aku yang benar-benar melepaskan semua pekerjaanku, sama sekali tidak merasa kesepian di rumah. Meski kadang sesekali merindukan menjelajah negeri, kehadiran Elang dan bayi yang diprediksi berjenis kelamin perempuan ini, mengobati semua rasa rindu.
Firman yang semakin memperluas usahanya tidak pernah sedikit pun mengurangi perhatian dan waktunya untukku dan Elang. Meskipun dia sibuk dan sering keluar kota, dia selalu memberikan perhatian penuh pada kami. Di luar kesibukannya, Firman lebih memilih berkantor di rumah daripada harus menghabiskan waktu di gedung-gedung pencakar langit miliknya. Semua terasa begitu sempurna.
Hari ini cuaca begitu cerah. Aku sedang duduk di halaman belakang ketika tiba-tiba seseorang mengalungkan tangannya dari belakang.
"Kok udah pulang, Sayang?" tanyaku ketika Firman mencium pipiku. "Udah beres rapatnya?"
"Udah," ujarnya sambil berputar melewati kursi taman dan duduk di sampingku. "Aku kangen sama kalian."
"Belum juga seharian, udah kangen," protesku.
"Kenapa? Nggak boleh?" tanyanya sambil menekuk wajahnya.
"Ya boleh dong, Pa." Kuusap pipinya agar dia tidak merajuk.
Seperti bocah yang mendapat hadiah permen, Firman langsung tersenyum lebar. Diusapnya perutku dengan penuh kasih. Kandunganku yang sudah hampir menginjak bulan kedelapan membuat perutku terlihat bulat sempurna.
"Aku nggak sabar nunggu dia lahir," lirihnya.
"Sebentar lagi, Pa. Sabar, ya." Aku ikut mengelus perutku yang buncit.
"Dia pasti cantik kayak kamu," tangannya berpindah dari perut ke pipiku yang cubby.
Aku hanya tersenyum kecil. Diciumnya keningku lembut.
"Sayang ...," Firman terdengar ragu meneruskan kalimatnya.
"Kenapa? Pasti karena keberangkatanmu besok, ya? Ya ampun, Man. Aku nggak apa-apa. Lagian cuma dua hari ini. Kamu masih blom terbiasa juga," ujarku.
"Entahlah, rasanya males buat pergi kemana pun kalau nggak sama kamu."
"Masa iya aku harus ikut?"
"Nggak, aku nggak ngizinin kamu pergi jauh-jauh, apalagi pake pesawat," pungkasnya cepat.
"Ya udah, kalau gitu. Kamu aja yang berangkat. Cuma ke Banjarmasin sama Samarinda doang. Kan nggak lucu kalau peresmian kantor baru kamu nggak dateng," kataku berusaha menenangkannya.
Firman menarik napas panjang, seperti ada beban di dadanya.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang? Ada masalah?" tanyaku penuh selidik.
"Nggak ada, tapi rasanya ...." Dia menggantungkan kalimatnya.
Kuambil tangannya dan kuletakkan di atas perutku.
"Papa, kalau Papa ada masalah, Papa cerita sama aku. Aku siap mendengarkan," ucapku dengan suara dicicit-cicitkan.
__ADS_1
"Nggak, Sayang. Papa nggak apa-apa. Kalaupun ada apa-apa, Papa nggak akan meracunimu dengan semua masalah Papa," ujar Firman sambil berjongkok. Diciumnya perutku beberapa kali. Dan si janin hanya membalas dengan sebuah geliatan lembut.
Aku hanya terkekeh.
"Beda ya anak cewek sama anak cowok. Perasaan dulu aku sering banget ditendang sama Elang. Yang ini anteng banget," celetuk Firman. Bayi di dalam kandunganku ini tidak seaktif Elang. Dia lebih bisa diajak berkompromi, mungkin karena dia perempuan.
"Dia di dalem cuma main petak umpet, nggak kayak Elang yang main bola mulu," ujarku.
"Jadi, sekarang kamu mau apa, Sayang? Sebelum Papa pergi, Papa pengen manjain kamu dulu sama Mama," katanya masih dengan berjongkok di depan perutku.
"Kayaknya es buah buatan Papa seger jam segini. Banyak bahannya di kulkas. Dan Mama juga udah buat simple syrup kemaren," aku masih mengecilkan suaraku, seolah itu adalah permintaan bayi di dalam perutku.
"Oke, Papa bikinin sekarang juga. Yuk!" Firman langsung berdiri dan mengulurkan kedua tangannya padaku. "Nanti malem Papa tengokin, ya. Biar dua hari besok Papa nggak kangen sama kamu, baby."
Aku memutar bola mata dengan malas. Modus!
...
Firman sudah berangkat sejak pagi. Dia dan Reno akan menghadiri peresmian gedung baru di Banjarmasin, lalu langsung mengecek persiapan pembangunan kantor cabang baru di Samarinda.
Aku yang jenuh duduk sendiri, memilih mengambil buku sketsa yang sudah lama tidak kusentuh. Alih-alih menggambar denah atau sketsa bangunan, aku malah menggambar sesuatu yang lain.
"Assalamu 'alaikum, Ma." Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.
"Wa 'alaikum salam, Sayang. Gimana hari ini, menyenangkan?" kusapa jagoan cilikku yang baru pulang sekolah. Sejak perutku makin membesar dan sulit untuk bergerak lincah, Elang tidak pernah memintaku untuk mengantar ataupun menjemputnya sekolah.
"Menyenangkan, Ma. Tadi Bunda Mimi mengajarkan lagu baru, judulnya Aku Teko Kecil. Nyanyinya pake gaya, lho, Ma. Nanti Elang praktekan. Mama sama Papa harus liat," katanya bersemangat.
"Oke, Ma!" Dia mengacungkan jempolnya.
"Mama lagi gambar apa?" tiba-tiba matanya tertuju pada buku sketsa yang ada di atas meja kerja.
"Oh, ini ...."
"Mama kok gambar orang nangis? Mama biasanya nggak gambar orang," tanyanya sambil mengambil bukuku.
"Mama cuma lagi iseng aja," ujarku sambil mengambil kembali buku itu.
"Udah gih, Sayang, cepet ganti baju," perintahku.
"Iya, Ma." Elang pun segera berlari ke luar.
Aku segera meraih gawaiku dan melakukan panggilan dengan video call.
"Assalamu 'alaikum, Sayang," sapanya dengan senyum lebar.
"Wa 'alaikum salam, Sayang. Udah beres peresmiannya?" tanyaku sambil mengarahkan kamera pada posisi yang tepat.
"Udah. Udah ini tinggal ramah tamah aja. Nanti, abis makan siang, aku langsung terbang lagi ke Samarinda. Biar cepet beres. Jadi besok siang atau paling telat sore, aku udah bisa pulang," katanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, mudah-mudahan semuanya lancar, ya Man," ujarku.
"Aamiin. Eh, Elang udah pulang, belum?"
"Udah, sekarang lagi ganti baju. Bentar lagi juga ke sini." Benar saja, Elang sudah ada di depan pintu dengan kaos bergambar beruang dan celana pendek.
"Papa ya, Ma?" tanyanya.
"Iya. Nih, Papa mau ngobrol sama Elang." Kuserahkan smartphoneku padanya, dan mereka langsung memulai percakapan yang seru.
...
Sore ini aku sedang menyiapkan baju koko untuk Elang. Sebentar lagi, Pak Ustadznya datang. Setiap sore, kegiatan Elang adalah mengaji.
"Ma, Pak Ustadznya belum datang?" tanya Elang masih dengan bathrobenya.
"Belum, Ganteng. Sebentar lagi," jawabku. "Pake dulu bajunya."
"Iya, Ma." Dengan patuh, dia segera mengenakan pakaiannya.
Sebuah ketukan di pintu menghentikan tanganku yang sedang menyisiri Elang. Kulihat Teh Nana berdiri di depan pintu dengan wajah tegang.
"Masuk aja, Teh. Ada apa?" tanyaku sambil kembali menyisiri Elang.
"Ada telpon buat Mbak Lintang," jawabnya.
"Telpon dari siapa?"
"Dari ... kantornya Mas Firman, Mbak," jawabnya terdengar ragu.
"Kok tumben. Biasanya kalau dari kantor, nelponnya langsung ke Firman."
Teh Nana hanya menunduk, tak menjawab apa pun. Sepertinya ada yang ditutupinya.
"Bilang aja tunggu sebentar, ya Teh," ucapku.
Teh Nana mengangguk dan langsung keluar dari kamar.
"Mama angkat telpon dulu, Elang tunggu Pak Ustadz di perpustakaan, ya," kataku sambil mencium pucuk kepala anakku itu.
"Iya, Ma." Elang segera melesat ke perpustakaan.
Aku mendatangi telpon yang ada di ruang tamu. Gagangnya masih dalam posisi terbalik.
"Halo," sapaku.
"Dengan Ibu Lintang?" tanya orang di seberang sana.
"Iya, betul."
"Saya dari Semesta Perdana cabang Banjarmasin, Bu. Saya mau mengabarkan bahwa ... mobil yang membawa Pak Firman dan Pak Reno mengalami kecelakaan tunggal."
__ADS_1
"Apa?!"