Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Kebahagiaan yang tertunda


__ADS_3

"Nggak mau! Aku mau pulang! Lagian ada yang nungguin di rumah," seruku gemas.


"Siapa? Ibu?"


"Bukan."


"Terus siapa?"


"Ada deh. Makanya cepetan pulang," rengekku.


"Yakin nggak mau ke apartemen dulu?" tanyanya.


"Nggak!"


"Ya udah, kita pulang. Tungguin Pak Min dulu, ya," bujuknya sambil menarik ujung daguku.


Pak Min berjalan dengan tergopoh. Begitu beliau sampai, kami segera kembali ke Bandung.


Sepanjang perjalanan, Firman terus menggenggam tanganku. Sedangkan aku hanya menyandarkan kepalaku di bahunya. Kepalaku pusing dan perutku mual. Minyak kayu putih tak lepas dari ujung hidungku.


"Tumben kamu mabok, Sayang. Biasanya juga nggak apa-apa," diusapnya dahiku dengan lembut. "Kamu pucet lagi."


"Aku nggak apa-apa, Man," ujarku meyakinkannya.


"Padahal kalau kamu nggak enak badan, nggak usah jemput aku ke bandara. Tunggu aja di rumah," katanya dengan nada khawatir.


"Aku kan kangen sama kamu. Aku pengen buru-buru ketemu kamu," ucapku manja.


"Tiap kamu bilang kangen, hatiku berdebar-debar tau, Lin."


"Masa?" tanyaku dengan tatapan menggoda.


"Nggak percaya? Sini dengerin," Firman menarik tengkukku ke arah dadanya.


Pak Min terlihat tersenyum melihat tingkah kami.


"Firman, iiih ...."


"Katanya nggak percaya," ujarnya sambil menarik pipiku dengan jempol dan jari telunjuknya.


"Udah, tidur aja di pangkuanku. Biar kamu cepet sembuh." Direbahkannya kepalaku di pangkuannya. Ditariknya kakiku agar naik ke atas kursi dan sejajar dengan tubuhku.


Tangannya tak henti mengusap dahiku. Membuatku merasa nyaman.


"Man, ceritain kerjaan kamu di sana," pintaku sambil memandangnya dari bawah.


"Kamu mau denger?"


"He eh."


"Baiklah," dia lalu menceritakan banyak hal yang dilakukannya di Jerman.


Suaranya yang lembut dan usapannya di kepalaku membuatku merasa mengantuk. Dan aku pun tertidur di pangkuannya.


...


"Hei, Putri Tidur, bangun! Kita udah sampai di rumah," kata Firman sambil mencolek hidungku. "Kalau kamu nggak tidur di pangkuanku, udah aku gendong kamu masuk," lanjutnya.


Aku hanya menggeliat. Menggeleng-gelengkan kepalaku di pangkuannya.


Firman terkekeh.


"Aduh, manjanya istriku. Kita lanjutin manja-manjaannya di dalam, yuk," katanya sambil membantuku untuk bangun.


Aku keluar dari mobil dengan tubuh sempoyongan. Firman buru-buru memegangi tubuhku.


"Lintang kenapa? Pusing? Mual? Muntah?" tanya Ibu yang tiba-tiba menghampiri kami. "Kata Ibu juga, kamu diem aja di rumah, nggak usah jemput."


"Lintang nggak apa-apa kok, Bu. Lintang baru bangun tidur," ujarku.


"Aku yang baru dateng, kok Lintang yang ditanyain," sungut Firman sambil mencium tangan ibunya.

__ADS_1


"Kalau kamu ibu yakin baik-baik aja," kata ibu sambil mengusap kepala anak sulungnya itu.


"Udah cepetan masuk. Kasian Lintang."


"Lintang beneran nggak apa-apa, Bu. Jangan khawatir. Sayang, cepetan mandi, gih. Biar aku bikinin minum," ujarku.


"Iya, Sayang."


Aku sedang menyiapkan pakaiannya, ketika Firman keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk menutupi sebagian tubuhnya.


Melihat tubuhnya yang kekar dengan beberapa tetesan air yang turun dari ujung rambutnya membuatku meneguk salivaku sendiri.


Firman mendekatiku dengan menaikan sebelah alisnya. Menggoda.


Aku menundukkan pandanganku dengan wajah tersipu. Belum juga Firman melakukan apa-apa, tubuhku sudah panas dingin.


Diusapnya pipiku dengan sebelah tangan, sebelah tangannya lagi memegang pinggangku erat. Pelahan dia mendekatkan bibirnya ke bibirku. Dengan lembut diciumnya bibirku, dan dengan senang hati kubalas ciumannya.


Makin lama ciumannya makin panas dan menuntut. Aku yang sudah lama merindukannya dengan mudah mengikuti irama yang dimainkannya.


Dituntunnya tubuhku ke atas tempat tidur. Ditindihnya dengan penuh napsu. Tangannya mulai menjelajahi setiap jengkal tubuhku. Membuatku mendesah tak karuan. Dengan cepat dilepaskannya dressku dan dilemparnya sembarangan.


"Aku benar-benar merindukanmu, Sayang," bisiknya di telingaku.


Diciuminya seluruh wajahku, lalu turun ke leher. Aku merasakan hasratnya yang tak terbendung. Kubiarkan dia memberikan banyak tanda kepemilikan di tubuhku. Kupersilakan Firman mengungkapkan rindunya, sampai dia benar-benar puas menuntaskan hasratnya.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih," dihadiahinya aku sebuah ciuman di pucuk kepalaku.


Kutarik bed cover agar menutupi tubuh kami yang polos. Dipeluknya tubuhku erat. Kurebahkan kepalaku di dadanya yang bidang. Kutusuk-tusuk perutnya yang keras dengan jariku, membuatnya terkekeh.


"Puas?" tanyaku.


"Belum, mungkin dua atau tiga ronde lagi," katanya sambil menggigit cuping telingaku pelan.


"Firman! Geli tau!" teriakku. Reflek kututupi telingaku dengan telapak tangan.


Firman tertawa.


"Kamu makin cantik dan makin hot," lagi-lagi dia menarik daguku dan menciumku lama.


"Yang lain?"


"Kamu kelihatan lebih berisi, apalagi bagian ini dan ini," diremasnya dua bagian favoritnya di tubuhku.


"Kamu bener-bener hapaf ya, tiap inchi tubuhku," sindirku, kutarik hidungnya yang mancung.


"Tentu saja. Aku udah ngesave semua data tentangmu di otak dan hatiku," katanya sambil mengendus leherku. "You're mine."


"Kalau ini?" kubawa tangannya yang besar ke atas perutku.


Dia mengelus perutku pelahan. Perutku yang tak lagi rata harusnya terlihat sangat jelas di matanya.


Dia melihatku dengan tatapan bingung.


"Ini ...?"


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Dia yang menunggumu pulang. Dia bilang kangen sama Papanya. Dan dia seneng, begitu Papanya pulang, dia langsung menjumpainya."


Firman langsung duduk dengan wajah campuran antara terkejut dan bahagia. Kulihat matanya berkaca-kaca.


"Kamu nggak seneng, ya?" aku ikut duduk sambil merangkum wajahnya dengan kedua tanganku.


"Kamu serius? Kamu hamil lagi?" tanyanya tak percaya.


Aku mengangguk pasti.


Diciuminya seluruh wajahku. Firman memelukku erat, sangat erat. Aku terpasung di dalam pelukannya.


Aku merasa ada air yang jatuh di atas hidungku. Saat aku mendongak, kulihat suamiku itu sedang menangis tanpa suara. Aku tidak menyangka reaksinya akan seperti ini.

__ADS_1


"Man, jangan nangis."


Firman mengusap air matanya dengan cepet.


"Aku nggak nangis, Sayang."


"Sebentar," kudorong tubuhnya agar aku bisa bergerak.


Aku bergeser ke arah nakas. Kubuka salah satu lacinya.


"Ini," kuberikan sebuah buku berwarna pink padanya.


Dibukanya buku itu. Dua lembar foto USG meluncur jatuh ke pangkuannya. Dan lagi-lagi air mata jatuh dari matanya. Kuusap air mata itu dengan jariku. Kukecup pipinya sekilas.


"Papa jangan nangis, dong," hiburku.


"Apakah aku masih pantas dipanggil 'Papa', Lin?"


"Kok kamu ngomongnya gitu?"


"Aku nggak bisa jaga kalian."


"Yang udah berlalu, biarlah berlalu, Man. Aku juga salah. Kalau kamu tau, akulah yang paling merasa kehilangan bayi kita kemarin." Kuelus pipinya.


"Aku tau."


"Kalau gitu, ini ...," kusodorkan foto USG itu kepadanya. "Kamu nggak mau liat, udah kayak gimana anakmu ini?"


"Tentu saja aku mau." Diambilnya foto itu dari tanganku.



"Nah, ini waktu pertama kali aku periksa sama Mama. Sehari setelah kamu berangkat. Dia udah berumur enam minggu waktu itu. Masih segede butiran beras, tapi jantungnya udah bisa berdetak 150 kali permenitnya. Sekarang dia udah delapan minggu."


"Kamu udah hamil delapan minggu, dan kamu baru sekarang kasih tau aku?" tanyanya sambil mengelus perutku.


"Aku nggak mau kamu jadi kepikiran. Aku tau kamu lagi banyak kerjaan."


"Tapi kan kamu tau, Lin, kamu adalah prioritasku. Apalagi ini tentang calon anak kita."


"Iya, Man. Aku tau," ucapku sambil menunduk, menyesal.


"Kalau gitu, sekarang kita ke dokter."


"Ngapain?"


"Meriksain kandungan kamu. Tadikan kita ...," dia menghentikan kata-katanya. "Aku nggak mau ada apa-apa sama kandunganmu."


"Nggak apa-apa, Man. Nggak usah lebay. Kalau tadi sakit atau nggak nyaman, aku pasti bilang sama kamu," kataku menenangkan.


"Kalau gitu, cepetan pake baju. Nanti kamu masuk angin," dibantunya aku mengenakan dressku lagi.


"Katanya mau nambah dua atau tiga ronde lagi," sindirku.


"Kamu ini," ditariknya hidungku. "Apa keluarga kita udah tau?"


"Udah."


"Pantesan kamu keliatan pucet. Terus tumben juga kamu naik mobil mabok."


"Yang ini agak riskan, Man. Tiap pagi aku morning sickness, meskipun kalau udah siang nggak apa-apa."


"Kamu tega sama aku. Kalau kamu bilang sejak awal, setidaknya aku bisa menyemangatimu," katanya.


"Aku nggak mau ngerepotin kamu, Sayang."


"Nggak ada istilah ngerepotin, Sayang. Itu udah kewajibanku. Untuk kali ini aku akan benar-benar menjagamu. Jadi mulai sekarang, belajarlah untuk jadi istri yang manis, nggak ada sanggahan dan penolakan."


"Curang!"


"Sttt ...," diletakkannya jari telunjuknya di bibirku.

__ADS_1


__ADS_2