Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Aku merindukanmu


__ADS_3

"Kamu lagi program hamil, Lin?" tanya Dokter Nia setelah memeriksaku.


"Nggak, Kak. Nggak boleh dulu sama Firman," jawabku.


"Ada tanda-tanda kehamilan?"


"Kayaknya nggak, Kak. Mual pun baru tadi pagi," jawabku berusaha menerawang arah pertanyaan Dokter Nia.


"Ini kamu lagi hamil, lho," katanya lagi.


Ibu terlihat terkejut. Apalagi aku.


"Ah, nggak mungkin, Kak. Bulan kemarin aku dapet, kok," sangkalku.


"Full?"


"Cuma tiga hari, sih."


"Biasanya?"


"Enam sampai delapan hari."


"Itu pendarahan implantasi. Atau malah pendarahan ringan karena kecapekan atau aktivitas berat. Cuma sedikit-sedikit, 'kan? Terus warnanya nggak sepekat biasanya, 'kan?"


Aku berusaha mengingat-ingat dan akhirnya mengangguk.


"Kayaknya udah hampir dua bulan lho, Lin. Mending sekarang langsung ke dokter kandungan, aku temenin," ujar Dokter Nia.


Dadaku terasa sesak. Aku ingin menangis tapi tidak ada air mata yang keluar. Aku bingung, mau senang atau malah sedih.


"Ayo, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang," Ibu langsung tanggap dan memberikan baju hangat untukku.


Aku segera memakai baju hangat yang ibu berikan dan beranjak perlahan dari tempat tidur.


Begitu sampai di rumah sakit, kami tidak perlu mengantri. Dokter Nia sudah membooking antrean untukku.


"Bu Lintang bisa lihat, ini rahim ibu, dan ini adalah janinnya. Usianya sekitar enam minggu," ucapan dokter kandungan itu reflek membuat air mataku mengalir.


Kupandangi monitor yang memproyeksikan janinku. Dia ada di sana. Ya, dia ada di sana. Dan untuk kedua kalinya aku lalai menyambut kedatangannya.


"Selamat ya, Sayang. Firman pasti seneng banget kamu hamil lagi," kata Ibu sambil mengusap kepalaku.


"Maafin Lintang, Bu," isakku.


"Kok malah minta maaf? Ibu seneng sekali kamu hamil lagi."


"Lintang terlambat tau lagi. Lintang bener-bener nggak peka," ujarku.


"Nggak apa-apa, Nduk. Yang penting kamu dan janinmu sehat," hibur Ibu.


"Jaga baik-baik, Lin," kata Dokter Nia.


"Iya, Kak. Kali ini Lintang nggak akan ceroboh lagi," janjiku.


Kami pulang setelah semua resep ditebus. Dan Ibu menjadi lebih protektif padaku. Beliau membuatkanku bubur dan membelikanku susu ibu hamil. Tanpa jeda, beliau menasehatiku dengan banyak wejangan. Disuruhnya aku banyak beristirahat.


Aku mengusap perutku pelahan. Masih ada trauma yang dalam di hatiku. Aku takut kehilangan lagi.


"Selamat datang, Sayang. Aku Mamamu. Maaf ya, Mama nggak tau kalau kamu ada di dalam sini. Papamu pasti sangat bahagia kalau tau ada kamu lagi di perut Mama. Papa aja belum turun dari pesawat sekarang. Kalau kemarin kita periksa, Papa pasti nggak akan pergi. Yang kuat ya, Sayang. Kita akan berjuang bersama sampai kamu lahir nanti."


Aku sedang berbaring ketika handphoneku berbunyi.


Siapa ini?


Kuangkat panggilan itu.


"Assalamu 'alakum," sapaku.


"Wa 'alaikum salam, Sayang."


Aku langsung duduk.


"Man ...."


"Ya, Sayang. Kamu pasti kangen sama aku, ya? Sama, aku juga kangen banget sama kamu," katanya di sana.


Tiba-tiba aku terisak.


"Lho, kenapa Lin? Kamu nangis?"


Aku tidak menjawab apa pun. Hanya suara isakan yang keluar dari bibirku.


"Sayang, kamu kenapa? Aku nggak mau kamu sedih. Aku balik lagi ke sana, ya. Biar aku cancel perjalanan ini. Mumpung aku lagi transit di Amsterdam."


"Jangan, aku nggak apa-apa. Kamu terusin aja."


"Kalau gitu jangan nangis, dong. Hatiku sakit denger kamu nangis. Nanti kalau aku udah sampai, kita video call, ya," katanya.

__ADS_1


"Iya."


"Kamu lagi apa sekarang?" tanyanya.


"Lagi baring, berusaha buat tidur. Tadi malem aku nggak tidur sama sekali, Man. Aku nggak biasa kalau nggak tidur sama kamu."


"Ya ampun, Lin. Jangan gitu dong, Sayang. Nanti kamu sakit," katanya terdengar sedih.


"Aku nggak apa-apa Man. Aku janji, aku akan jaga kesehatan," ujarku.


"Oke kalau gitu. Coba sekarang kamu merem. Udah?"


Kupejamkan mataku, "Udah."


"Dengerin aku, ya. Aku ada di sampingmu. Mengusap rambutmu pelan. Kukecup keningmu lama, lamaaaaa banget. Kamu merasakannya, Sayang? Kuusap pipimu yang putih, kutinggalkan sebuah ciuman di sana. Aku mencintaimu, Sayang." Dia mengucapkannya dengan begitu pelahan dan dengan sepenuh hati.


Air mata menetes dari kedua ujung mataku. Aku bersyukur terjebak dalam kesepakatan cinta kita, Man. Menjadi istrimu adalah pilihan paling tepat dalam hidupku.


"Aku juga mencintaimu, Man," lirihku.


"Kalau gitu kamu sekarang istirahat, ya. Begitu sampai ke sana aku telpon kamu lagi."


"Iya."


"Assalamu 'alaikum, Sayang."


"Wa 'alaikum salam, Man."


Kututup panggilan telponku.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu hamil, Lin?" tanya Ibu yang berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Sepertinya beliau mendengarkan percakapanku sejak tadi.


"Lintang takut Mas Firman langsung balik lagi ke sini, Bu," ujarku.


Ibu mengusap rambutku.


"Terus kapan kamu mau bilang?"


"Nanti kalau Mas Firman pulang."


"Kamu yakin?"


Aku mengangguk, "Lintang akan berusaha, Bu."


"Ya udah kalau memang kamu maunya begitu. Ibu sama Arum juga nggak akan bilang sama Firman."


"Tapi kamu harus makan yang banyak lho, ya," kata Ibu.


"Iya, Bu," aku berusaha tersenyum.


Aku bertekad, aku tidak akan menyusahkan Firman. Aku tidak akan membuatnya sedih. Aku akan berusaha sekuat tenaga kembali menjadi Lintang yang dulu. Yang mandiri, kuat dan ceria.


Firman benar-benar merealisasikan ucapannya. Begitu sampai di Berlin, dia langsung menelponku. Setiap malam, dia selalu menemaniku hingga aku tertidur. Selisih waktu lima jam Berlin dan Bandung sepertinya tidak mempengaruhinya. Dia berusaha sering memberi kabar. Dan aku pun berusaha selalu terlihat ceria di depannya. Menjaga diriku dan janinku dengan baik. Membuat diriku sendiri bahagia. Memenuhi semua yang aku inginkan tanpa merepotkan orang lain.


Ucapan Ibu benar, waktu tidak akan terasa bila kita menggunakannya untuk hal-hal berguna yang membuat hati kita bahagia. Bekerja dengan gembira, bertemu orang-orang yang penuh semangat dan berpikiran positif membuat waktuku cepat berlalu.


"Sayang, besok aku pulang," katanya dengan nada gembira.


"Beneran, Man?" tanyaku tak percaya. Pasalnya ini baru hari ke dua belas dia di Jerman.


"Iya, Sayang."


"Alhamdulillah!" pujiku bahagia.


"Akhirnya aku bisa peluk kamu, Sayang. Rasanya lama banget. Aku kapok, lain kali aku bakal bawa kamu kemana pun aku pergi," katanya menerbitkan senyumku.


"Nanti kamu aku masakin apa, Man?" tanyaku.


"Cuma satu yang pengen banget aku makan," jawabnya.


"Apa?"


"Kamu!"


"Hush, jangan ngomong begituan. Besok aja ngomongnya kalau kamu udah sampai sini," kataku dengan pipi merah.


"Aku kunci kamu dua hari dua malam," katanya masih meneruskan kata-kata mesumnya.


"Nggak bisa," jawabku sambil tersenyum.


"Kok nggak bisa?"


"Nggak bisa pokoknya."


"Makin aku penasaran, makin lama nanti kamu aku kunci di kamar," ancamnya.


Aku hanya tertawa.

__ADS_1


"Ya udah, cepetan pulang, trus kunciin aku di kamar," tantangku dengan mata menggoda.


"Lin ...," katanya dengan mengeram.


Buru-buru kumatikan layarnya. Biarkan saja dia penasaran di sana.


...


Aku sudah berdiri di terminal kedatangan. Rasanya tidak sabar menunggu Firman keluar dengan menyeret kopornya. Pesawat yang Firman tumpangi sudah landing sejak tadi.


"Lama banget sih," gumamku sambil melirik jam tangan.


Aku sudah berdandan secantik mungkin untuk menjemputnya. Dress putih dengan motif bunga biru kecil di ujungnya menjadi pilihanku. Mengingat kehamilanku yang masih muda, aku memilih flat shoes untuk alas kakiku.


Aku berjalan mondar mandir tidak jelas. Sesekali kuelus perutku yang sedikit kram.


"Lintang!" seseorang memanggilku.


Aku menengok untuk mencari tahu siapa yang memanggil.


"Hai, Di!" teriakku setelah melihat Setiadi berjalan ke arahku dengan sebuah travel bag di tangannya.


"Kamu baik-baik aja, 'kan? Sama siapa ke sini?" tanyanya berturut-turut.


"Aku baik, kok. Aku lagi nunggu Firman pulang," jawabku jujur.


"Nomormu kehapus Lin. Aku mau ngomongin ini dari dulu," dipegangnya kedua lenganku. "Dengerin aku, kamu harus lebih hati-hati. Jangan pernah keluar tanpa pengawasan."


Aku hanya berdiri mematung. Tidak mengerti apa yang dia katakan.


"Dia bisa melakukan apa pun. Dulu dia pernah mencelakaimu. Sekarang dia juga akan melakukan hal yang sama. Dia tidak ingin melihat kalian bahagia," ujarnya lagi.


"Kamu ngomongin apa, sih? Dia? Dia siapa?"


"Sayang!" seseorang memanggilku dari belakang.


Aku berbalik. Firman sudah berdiri di belakangku. Senyumku langsung mengembang. Aku segera menghambur ke pelukannya.


"Aku kangen banget sama kamu," ucapku sambil mempererat pelukanku.


"Aku juga kangen banget sama kamu, Lin," katanya dengan sebelah tangan merangkulku.


"Kalau gitu, kita cepetan pulang," ditariknya tanganku dengan tidak sabar.


"Bentar, Man," selaku.


Firman tidak mengindahkan apa yang kuucapkan.


Setiadi hanya bisa menggeleng melihatku yang setengah diseret oleh Firman.


"Kenapa dia ada di sana?" tanya Firman ketika kami sudah masuk ke dalam mobil. Pak Min meminta izin ke toilet sebentar.


"Siapa? Adi? Aku nggak tau."


"Kalian kan tadi ngobrol," katanya dengan nada cemburu.


"Ya ampun, Sayang, kamu cemburu? Aku pikir kamu sama Adi udah nggak ada apa-apa lagi," kataku tanpa rasa bersalah.


"Aku sangat merindukanmu, tapi begitu aku melihatmu, kamu lagi ngobrol sama dia," Firman melihat ke luar jendela.


"Sayang ...," kupegang pipinya, memaksanya untuk melihatku.


Dia melihat ke arahku dengan sorot cemburu. Entah kenapa melihatnya seperti itu malah menyalakan hasratku.


Kuputar tubuhku, lalu tanpa malu-malu duduk di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan. Kulingkarkan kedua tanganku di lehernya.


"Aku cuma mencintaimu. Cuma kamu," tanpa aba-aba, langsung kupagut bibirnya dengan penuh gairah membuat Firman terkejut. Namun beberapa detik kemudian dia sudah membalas ciumanku sama panasnya.


Kami melepaskan bibir kami ketika aku sudah kehabisan oksigen.


"Sayang, ini kita masih di parkiran lho, kamu udah ganas gitu. Gimana nanti kalau kita di kamar?" katanya sambil tertawa geli.


Aku kembali berpikir jernih. Aku segera turun dari pangkuan Firman dan membereskan bajuku yang berantakan. Memalukan. Salahkan saja hormon kehamilan ini. Dia tidak memandang waktu dan tempat untuk meluapkan asanya.


"Pak Min mana, ya? Kok ke toiletnya lama. Jangan-jangan nyasar lagi," kataku mengalihkan pembicaraan.


"Nggak usah nyariin Pak Min. Sebenernya kamu seneng kan Pak Min lama," godanya sambil mengusap bibirku yang sedikit bengkak.


"Firman!" kupukul pahanya. Dia malah tergelak.


"Saking kangennya jadi nggak bisa nahan sampai rumah, ya?" dia masih saja menggodaku.


"Di sini aja, yuk. Ekspress. Kan kacanya riben."


Kini giliran lengannya yang mendapat cubitan dariku.


"Nggak mau! Aku mau pulang! Lagian ada yang nunggu di rumah," seruku gemas.

__ADS_1


"Siapa?"


__ADS_2