
"Sttt, ingat! Tidak ada penolakan!"
Aku mengerucutkan bibirku. Protes.
Hari-hariku yang penuh dengan kalimat larangan dari Firman pun dimulai. Karena Firman lebih banyak bekerja dari rumah daripada berangkat ke kantor, maka dia semakin leluasa dalam memperhatikanku. Dia langsung terbangun ketika aku merasa mual dipagi hari. Dia juga yang sibuk ketika tiba-tiba aku meminta sesuatu yang tidak biasa. Namun, dia tidak pernah mengeluh dan selalu terlihat bahagia ketika aku menyusahkan dan bermanja padanya.
Dia mengatur semua hal, mulai dari asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhku hingga pekerjaan apa yang boleh dan tidak boleh kukerjakan.
Ketika ada di rumah, dia akan mengantarku bekerja dan menjemputku ketika waktunya pulang. Ketika dia harus ke kantor, dia akan meminta salah seorang sopir untuk standby, kalau-kalau aku menginginkan sesuatu. Juga dua orang bodyguard yang membuntutiku kemana pun aku pergi.
Semuanya sempurna hingga usia kandunganku berumur tujuh bulan.
"Sayang, ada Mama di depan," bisik Firman saat aku sedang melakukan yoga di ruang gym.
"Tumben, Mama dateng. Ada apa?" tanyaku.
"Ya disamperin, dong. Masa disuruh nunggu," katanya.
"Iya Man, iya," kataku sambil mengulurkan tangan, meminta bantuan untuk berdiri. Dengan tubuhku sekarang, aku bahkan kesulitan untuk bangun dari dudukku. Perut buncit yang menggemaskan ini menahanku untuk bertingkah seperti sebelumnya.
Firman menarikku dengan hati-hati hingga aku berdiri tegak.
"Sayangnya Papa lagi apa? Senam ya, biar gampang keluarnya?" tanyanya pada perut gendutku.
Aku terkekeh ketika kaki kecil menendang perutku dari dalam sebagai jawaban atas pertanyaan Papanya.
"Katanya disuruh nemuin Mama, malah diajak ngobrol," protesku.
"Sebentar ya Dek, Papa kan cuma nyapa," diciumnya perutku yang tercetak nyata di bawah tank top sport yang kupakai.
Aku segera berganti pakaian dan bergegas menemui Mama.
"Hai, Ma," sapaku ketika melihat Mama duduk di teras samping sambil menikmati jus sirsak kesukaannya. Kucium tangannya dengan penuh cinta.
"Hai, Sayang," diciumnya pipiku.
Firman juga ikut duduk bersama kami.
"Tumben Mama ke sini, biasanya Mama cuma nelpon," sindirku.
"Kan Mama sibuk, Lin. Kayak kamu nggak tau aja," kata Mama.
"Iya lah aku tau, Mama kan sosialita, pengusaha sukses, istri pejabat lagi," kataku masih menggoda beliau.
"Kamu ini. Tau aja kalau Mama ke sini ada perlunya."
Aku tertawa.
"Ada apa, Ma?" tanyaku serius.
"Kamu tau Om Reynald sama Tante Saras, 'kan?" Mama balik bertanya.
"Iya, tau."
"Mama dapet undangan anniversary mereka, tapi Mama nggak bisa dateng. Kamu sama Firman juga dapet undangannya 'kan?" Mama terdengar memaksa.
Aku menengok ke arah Firman. Firman mengangguk.
"Kok kamu nggak bilang, Man?"
"Karena tadinya aku nggak niat dateng juga ke sana, Lin," jawabnya jujur. "Masa aku mau bawa kamu ke tempat orang banyak kayak gitu."
"Tuh, Ma. Kata Firman juga kami nggak akan dateng," ujarku.
"Yaaah.. Mama nggak enak sama Tante Saras," kata Mama.
"Ya Mama aja yang pergi, kan Tante Saras temen Mama."
"Iya, tapi Om Reynald juga kan partnernya Firman. Iya 'kan, Man?" Mama terus saja berusaha mendesak.
__ADS_1
"Saya agak keberatan kalau harus bawa Lintang dalam kondisi hamil besar gini, Ma. Namun kalau Lintang nggak pergi nemenin saya, saya nggak akan pergi."
"Jadi gimana dong?"
"Ya udah, nggak apa-apa. Kita pergi aja, Man. Aku yakin aku bakal baik-baik aja kok. Lagian aku kan udah lama nggak jalan-jalan."
"Acaranya malam, Sayang."
"Ya nggak usah nunggu sampai beres. Kan kita bisa pulang duluan. Yang penting kita udah ketemu sama Om Reynald dan Tante Saras," alasanku.
"Ya, terserah kamu."
"Jadi kapan undangannya?" tanyaku.
"Malam minggu besok di Jakarta," jawab Firman.
"Kalau gitu, biar kami yang pergi, Ma," ucapku pada Mama.
"Beneran nggak apa-apa?" tanya Mama.
"Iya, beneran nggak apa-apa."
"Kalau gitu, ini Mama nitip kadonya, ya," kata Mama sambil menyerahkan sebuah paper bag dengan isi sebuah kotak berwarna hitam berpita putih.
"Kayaknya Mama yakin banget kalau aku mau pergi, sampai-sampai Mama udah bawa kadonya," sindirku lagi. "Lagian kenapa Mama nggak pergi?"
"Karena Papamu juga ada undangan dari orang penting, Lin."
"Ya ampun," kutepuk dahiku.
Firman hanya tertawa kecil.
...
"Sayang, kita nggak usah pergi, ya," kata Firman saat aku sedang mencoba gaunku di apartemen kami di Jakarta.
"Aku nggak suka orang-orang ngeliatin kamu kayak gini."
"Kamu malu ya aku kayak donat, gini?" tanyaku dengan hati teriris.
"Nggak, Sayang. Aku malah nggak mau orang lain ngeliatin kamu karena kamu sekarang terlihat begitu cantik. Kehamilan kamu bikin kamu makin bercahaya, dan ...," Firman menghentikan kalimatnya.
"Dan apa?"
"Kamu keliatan lebih seksi, Sayang."
Aku segera membuang muka, menyembunyikan wajahku yang merona.
"Aku nyesel milihin baju itu buat kamu," lanjutnya. "Pasti semua pria akan melirik kepadamu."
"Firman, cemburumu nggak beralasan. Ini apa?" kutunjuk perutku yang besar.
Ditariknya aku ke pangkuannya. Dielusnya perutku ini dengan penuh cinta.
"Ini anak Papa," katanya sambil mengecup perutku.
"Jadi siapa yang mau ngeliatin ibu hamil kayak aku?"
"Adi juga pasti diundang."
Tiba-tiba aku teringat percakapanku dengan Adi di bandara. Apa yang ingin diucapkannya, ya? Siapa yang pernah mencelakaiku dan berniat mencelakaiku lagi?
"Aku nggak peduli."
"Kamu nggak peduli, tapi dia?"
"Kan dia udah punya Angela," ingatku.
"Ya udahlah. Kalau gitu, kita cepetan berangkat, biar bisa cepetan pulang lagi," katanya sambil mencium pipiku. "Dandannya jangan cantik-cantik ya, Sayang."
__ADS_1
Aku menghela napas panjang. Firman masih saja cemburu pada Adi.
"Yuk, kita berangkat," kataku beberapa saat kemudian.
Firman melihatku ke arahku tanpa berkedip. Dia belainya pipiku lembut.
"Aku nggak suka kamu secantik ini," gumamnya. Dimainkannya ujung rambutku yang sudah ku curly.
"Jangan mulai, Man. Udah, yuk!" kusodorkan jas berwarna merah marun yang senada dengan gaunku.
Dipakainya jas itu.
Aku terpaku. Firman terlihat sangat tampan.
"Aku juga nggak suka kamu seganteng ini," bisikku langsung di ujung telinganya.
Dia menaikkan sebelah alisnya.
"Dengan penampilan kamu yang kayak gini, kamu lebih berpotensi dilirik cewek-cewek single di luaran sana," kataku tajam.
"Kamu cemburu?"
"Iya lah. Inget ya Papanya baby, ibu hamil itu sensitif banget. Dan kadang-kadang mood swing juga. Jadi, jangan coba-coba jauh dariku. Atau pilih tidur di sofa," ancamku.
"Nggak dong, Sayang. Aku pasti ada di mana pun kamu ada," katanya sambil meraih daguku dan mencium bibirku dengan penuh perasaan.
"Udah, yuk!" kuambil hand bag berwarna gold yang sesuai dengan warna sepatuku.
"Sebentar," Firman berjongkok di depanku.
Disibaknya bagian bawah gaunku. "Udah kutebak. Lepas!"
"Tapi, Man ...."
"Nggak ada tapi. Kita nggak cuma sepuluh menit di sananya, Lin. Kita bisa berjam-jam. Kalau kamu pake high heels, kaki dan perutmu bisa kram. Ganti sama yang ini," dilepaskannya sepatu yang kupakai dan digantinya dengan kitten heels.
"Nggak matching sama tasnya," keluhku, berharap Firman berubah pikiran.
Tanpa berkata, Firman beranjak ke lemari tempat aku biasa memajang tasku. Dipilihnya sebuah clutch kecil berwarna hitam dengan hiasan kristal.
"Sekarang udah matching."
Memang susah mempunyai suami seoverprotective Firman.
Begitu kami sampai di gedung tempat undangan berlangsung, Pak Anto langsung membukakan pintu mobil. Firman menolongku yang terus memegangi perut buncitku ini.
Beberapa orang sudah menyapa kami begitu kami menginjakkan kaki ke dalam gedung. Kebanyakan adalah kolega Firman dan para sosialita teman Mama. Kami membalas sapaan mereka dengan hangat.
Aku terus menggandeng Firman, selain agar memudahkan bila aku perlu sesuatu, juga untuk menghindari tatapan para wanita muda yang melihat ke arahnya dengan tatapan menggoda.
Tiba-tiba Firman menghentikan langkahnya. Aku juga jadi ikut menghentikan langkahku.
"Kenapa, Sayang?" tanyaku.
Firman hanya diam. Matanya tertuju ke satu arah. Setiadi. Benar kata Firman, dia juga diundang.
"Udah, yuk," aku tidak terlalu memperdulikan kehadiran Setiadi.
Aku tidak mau Firman cemburu lagi. Meskipun pertemuan terakhir kami masih menyisakan tanya.
Kami mulai mencari sang Pemilik acara. Baru beberapa langkah, aku sudah menghentikan langkahku lagi. Firman pun demikian. Di depan kami, Hendy tengah mengobrol dengan tuan rumah, Om Reynald.
Oh Tuhan, ada apa dengan malam ini?
__ADS_1