
POV Firman
Aku duduk terpekur di depan Unit Gawat Darurat. Tidak berani membayangkan apa yang terjadi di dalam sana.
Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Lintangku?
"Pak Firman yang tenang. Saya yakin Bu Lintang akan baik-baik saja. Bu Lintang adalah wanita yang kuat," Pak Anto yang sejak tadi berdiri di belakangku berusaha menenangkanku.
Aku ingin sekali meyakini apa yang Pak Anto katakan.
Ya, Lintang adalah wanita yang tangguh. Begitu juga dengan calon anak kami. Tadi pagi saja dia menendangku dengan sangat keras, gara-gara aku menciumnya.
Aku tersenyum membayangkan perut Lintang yang akan condong ke kanan dan ke kiri kalau aku menggelitiki atau menciumnya berkali-kali. Lintang ...
Air mataku tak dapat kubendung. Aku menunduk, kubiarkan air mataku turun begitu saja.
"Ada keluarga dari Ibu Lintang?" seorang dokter keluar dari pintu UGD.
"Saya suaminya, Dokter," aku segera melangkah lebar ke arahnya.
"Begini, Pak. Ibu Lintang kondisinya sangat kritis. Beliau banyak sekali kehilangan darah. Dan itu sangat berpengaruh kepada dirinya dan juga bayi yang dikandungnya. Kami menyarankan untuk operasi caesar segera, karena air ketubannya juga sudah pecah. Dikhawatirkan bayinya keracunan," jelas sang Dokter.
"Air ketubannya sudah pecah? Tapi bayi kami baru berusia 31 minggu, Dok," kataku bergetar.
"Tidak ada pilihan lain, Pak. Kalau sampai Ibu Lintang kehilangan darah lebih banyak lagi sedangkan bayinya tidak dikeluarkan, Bapak akan kehilangan keduanya," kata-kata dokter itu bagai petir yang menyambarku tanpa ampun.
"Tidak, Dokter! Itu tidak boleh terjadi! Lakukan apa pun agar keduanya selamat! Lakukan yang terbaik! Saya sanggup membayar berapa pun, asalkan keduanya selamat!" teriakku tak terkontrol.
Tidak pernah sedetik pun aku membayangkan harus kehilangan salah satunya lagi, apalagi bila aku harus kehilangan keduanya.
"Kalau begitu silakan Bapak tanda tangani surat izinnya, kami akan segera membawa Ibu Lintang ke ruang operasi." Dokter itu memanggil seorang suster dan aku segera mengikutinya.
Aku sudah tidak bisa berpikir. Pikiranku sungguh kalut. Kulakukan semua yang bisa kulakukan.
"Oya, Pak. Kalau Bapak punya saudara atau kenalan yang memiliki golongan darah AB, sebaiknya di bawa ke sini. Untuk berjaga-jaga jikalau Ibu lintang membutuhkan lebih banyak darah," kata suster itu lagi.
Aku hanya bisa mengangguk.
Tiba-tiba smartphoneku berbunyi. Siska, sekretaris Reno yang memanggil.
"Selamat pagi, Pak Firman. Maaf, Bapak sudah sampai di mana, ya? Pak Reno sudah menunggu Anda," katanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan datang, Sis. Suruh Reno atau siapalah yang pimpin rapatnya. Kalau perlu, batalkan saja. Aku tidak peduli."
"Pak, Bapak baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
"Pak Anto akan ke kantor, biar dia yang jelaskan. Satu lagi, carikan karyawan yang bergolongan darah AB. Sekarang! Aku akan membayar mahal darah mereka," kututup panggilan itu.
Lintang sudah dipindahkan ke ruang operasi. Aku tidak bisa melakukan apa pun selain berdoa pada Yang Kuasa agar istri dan anakku selamat.
"Suster, bagaimana keadaan istri saya? Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?" aku segera bertanya pada suster yang baru saja keluar dari ruang operasi dengan membawa sebuah catatan.
"Istri saya belum waktunya melahirkan, 'kan? Tadi pagi dia tidak mengeluh sakit apa pun."
"Iya Pak, betul. Ibu Lintang mengalami pendarahan bukan karena mau melahirkan. Pendarahan yang Ibu Lintang alami terjadi karena benturan yang sangat keras. Kami menemukan luka-luka lebam di tubuh beliau. Mungkin karena benturan, pukulan atau karena terjatuh."
"Benturan? Pukulan? Tidak mungkin!" aku benar-benar tidak percaya ini.
Sang Suster meminta izin untuk pergi dan segera berlalu. Tinggallah aku berdiri di depan ruang operasi, berpikir keras atas apa yang terjadi pada belahan jiwaku. Tubuh istriku mulus tiada cela, tidak mungkin ada luka lebam bekas benturan apalagi pukulan.
Emosiku sudah naik ke ubun-ubun. Aku segera menelpon Bi Sumi.
"Bi, apa yang sebenarnya terjadi di sana?!" teriakku pada Bi Sumi yang baru mengangkat panggilanku.
"Bibi nggak tau, Mas. Waktu Bibi masuk, Mbak Lintang udah tergeletak di lantai. Mbak Lintang udah berdarah gitu. Tapi nggak ada orang di dalam."
Sebenarnya ada apa ini? Aku mengepalkan tanganku hingga buku-buku jariku memutih. Kepalaku berdenyut menyakitkan. Namun hatiku lebih sakit. Melihat Lintang seperti itu serasa tubuhku ikut tercabik-cabik.
Aku mencintainya selama belasan tahun. Dan kebahagiaan itu menghampiriku saat dia membalas cintaku. Kini, ketika semuanya begitu sempurna, kenapa hal ini menimpa kami?
"Kumohon, Sayang. Bertahanlah. Aku nggak akan bisa hidup tanpamu," lirihku.
Aku benar-benar tidak bisa membayangkan harus kehilangan orang yang amat aku cintai itu.
Tiba-tiba kulihat seseorang berlari ke arahku. Setiadi.
"Bro, Lintang gimana?" dia langsung bertanya dengan napas tersengal.
Aku langsung berdiri.
"Dari mana kamu tau kalau Lintang di sini?" tanyaku ketus.
"Dari Angela. Dari mana lagi," Adi terlihat emosi. "Bukankah aku udah bilang, jaga Lintang baik-baik. Jangan pernah tinggalin dia sendiri!"
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Kemarin aku udah bilang sama Lintang kalau Angela terus mengincarnya. Dia nggak cerita sama kamu?" Adi terlihat sebal melihat responku yang lambat.
"Angela?"
Pikiranku melayang saat pagi tadi Lintang ingin mengatakan sesuatu, tapi aku menyuruhnya untuk diam. Inikah yang ingin dikatakannya?
"Bilang sama aku, Di, apa yang Angela lakukan sama Lintang?!"
"Harusnya aku yang tanya sama kamu, Man. Apa yang Angela lakukan pada Lintang?! Dia datang ke kantor seperti orang gila. Tertawa dengan puas dan mengatakan bahwa dia sudah membunuh Lintang dan anaknya," rasanya sebuah godam menghantam dadaku mendengar kata-kata Adi.
"Jadi ini semua perbuatan Angela? Akan kebunuh dia dengan tanganku sendiri!" aku mengambil langkah lebar untuk menemui iblis betina itu.
Adi segera menarikku kuat-kuat.
"Man! Mikir, Man! Jangan kebawa emosi. Kalau kalau sampai menyentuhnya, kamu yang akan masuk bui!" teriak Adi.
Dadaku rasanya mau meledak. Emosiku meluap tak terkendali. Apa yang Angela lakukan pada istri dan anakku?
Aku memukulkan tanganku ke udara. Frustasi. Lagi-lagi aku merasa gagal menjaga Lintang.
"Gimana keadaan Lintang sekarang?" tanyanya sambil melirik kemejaku yang berlumuran darah.
"Lintang kritis. Dia kehilangan banyak darah. Dan sekarang anak kami harus dikeluarkan secara paksa karena ketubannya juga sudah pecah," ujarku lirih.
"Shit! Apa yang dia lakukan pada Lintang?" dia ikut mengumpat dan meninju udara kosong.
Tiba-tiba smartphoneku berdenting. Sebuah pesan masuk. Ternyata Bi Sumi mengirimkan salinan rekaman CCTV.
Aku langsung membulatkan mata, tidak percaya apa yang kulihat.
"Aku akan membunuh wanita itu!" teriakku.
Adi lagi-lagi menahanku. Direbutnya gawai yang kupegang. Dia pun memberikan reaksi yang sama begitu melihat video itu.
"Angela benar-benar tidak punya hati. Kamu tidak perlu mengotori tanganmu untuk membunuh wanita jahat itu, Man. Kita kirim dia ke penjara dan biarkan dia membusuk di sana. Aku punya banyak bukti dan saksi yang menunjukkan bahwa dia sudah berkali-kali mau mencelakai Lintang," ujarnya.
"Kita ke kantor polisi sekarang!" aku sudah tidak bisa menahan emosiku.
"Pak Firman," seseorang memanggilku dari belakang.
__ADS_1
Aku segera menoleh.
"Selamat, putra Anda laki-laki. Meskipun berat badannya kurang karena lahir prematur, putra Anda sehat dan sempurna. Namun, Bu Lintang ...."