Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Ekstra Part - Temani aku sampai tua


__ADS_3

Malam ini, seperti yang sudah direncanakan, kami akan merayakan kehamilanku. Kami hanya memberitahu seisi rumah, orang tua dan keluarga besar lainnya belum kami beritahu.


Dan bisa ditebak, betapa bahagianya Elang mendengar bahwa dia akan memiliki seorang adik.


"Makasih, Ma, Pa. Elang seneng banget! Jadi di mana babynya?" tanyanya sambil memelukku.


"Di dalam sini, Sayang," ujarku sambil mengusap perutku yang rata.


"Di sini?"


"Iya, Jagoan. Adikmu masih sangat kecil. Jadi kamu harus menjaganya agar dia sehat dan cepat besar." Firman mengusap kepala anak kebanggaan kami itu.


"Tentu, Pa. Elang akan menjaga Mama dan baby di perut Mama," katanya dengan pasti.


"Terima kasih, Sayang." Kukecup kening putraku itu.


"Jadi, ayo sekarang kita rayakan!" teriak Firman.


"Yeee!!" Elang berteriak kegirangan.


Firman dan Elang langsung berbaur dengan Pak Jana yang sedang membakar jagung. Sedangkan aku mendekati Bi Sri yang sedang menyiapkan sate-sate yang siap dibakar.


Malam ini cuaca begitu indah. Langit malam di hiasi ribuan bintang. Angin malam bertiup semilir. Suara jangkrik menghiasi kebersamaan kami.


Aku melihat Elang menguap berkali-kali. Dia memang sudah memiliki jam tidur yang tetap. Biasanya sebelum jam delapan, dia sudah berbaring di peraduannya.


"Udah ngantuk, Sayang?" tanyaku padanya yang masih berada di atas pangkuan Firman.


Elang mengangguk.


"Kalo gitu, kita ganti baju terus bobo, yuk," ajakku.


Elang turun dari pangkuan Firman, dan mengikutiku.


"Elang mau bobo di tenda ya, Ma," pintanya dengan mata memerah.


"Iya, Sayang. Mama temenin. Malam ini kita bobo di tenda."


Kami berdua kembali ke luar dan masuk ke dalam tenda. Kubacakan sebuah cerita seperti biasanya. Keramaian di luar tenda tidak mengusiknya sama sekali. Dalam hitungan menit, Elang sudah terlelap di atas tempat tidur di dalam tenda.


Aku turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke luar menghampiri seisi rumah yang masih asyik bercengkrama di depan api unggun.


"Elang udah tidur, Sayang?" tanya Firman.


"Udah. Ceritanya belum selesai, dia udah tidur," jawabku.


"Kayaknya dia capek. Dari sore dia keliatan seneng banget. Lari-lari kesana kemari," celetuk Firman.


"Iya." Aku mulai ikut mengambil setusuk sate di atas piring.


"Sayang, kamu jangan makan daging sapi," sela Firman.


"Kenapa?"


"Kita kan mau anak perempuan, jadi kamu harus makan banyak sayuran." Firman menyodorkan sepiring sate sayuran yang berisi paprika, jamur dan brokoli.


Mulai lagi, deh.

__ADS_1


Dengan pasrah, kuambil piring itu. Dan kumakan sate sayuran itu satu persatu.


Malam semakin larut, kami akhirnya membereskan semua peralatan pesta kebun itu. Semua penghuni rumah kembali ke kamarnya masing-masing. Yang tersisa hanyalah aku dan Firman yang duduk di depan tenda, menikmati api unggun yang masih menyala.


Aku menyandarkan kepalaku di bahu Firman. Dikecupnya keningku lama. Jemarinya menelusup di antara jemariku. Digenggamnya erat, lalu diciumnya dengan penuh cinta.


"Aku nggak bisa mengungkapkan seberapa besar syukurku hari ini, Lin," katanya sambil merangkul bahuku.


"Kehamilanmu ini benar-benar anugerah yang begitu luar biasa."


Aku hanya bisa tersenyum dan melafalkan syukur sebanyak-banyaknya dalam hati.


"Jujur, aku takut. Namun aku yakin, kali ini semuanya akan berjalan lancar," katanya lagi.


"Aku percaya padamu, Man."


"Jika sebelumnya tidak pernah ada kejadian-kejadian mengerikan itu, pasti dengan senang hati aku akan memintamu hamil setiap tahun," ujarnya.


"Enak aja, kamu pikir aku ibu kucing," kataku keki.


Dia tertawa.


"Aku akan sangat bahagia kalau rumah kita dipenuhi tawa anak-anak." Ditariknya aku untuk duduk di pangkuannya.


Kini aku duduk di pangkuan Firman. Diusapnya perutku dari belakang.


"Kalian adalah oksigen bagiku. Aku nggak akan bisa hidup tanpa kalian," lirihnya. Diletakkannya dagunya di bahuku, sedangkan tangannya melingkar di pinggangku. "Kamu tau, Sayang, jika aku bisa memilih, aku mau mati lebih dulu daripada kamu."


"Kamu ngomong apa sih, Man!" seruku marah.


"Beneran, karena aku nggak akan bisa melihatmu meninggalkanku. Jadi lebih baik, aku yang meninggalkanmu duluan. Karena aku yakin kamu pasti bisa bertahan tanpaku."


"Kamu pikir aku bisa bertahan tanpamu?!"


"Maaf ...," diusapnya pipiku dengan lembut.


"Aku mencintaimu, sebesar kamu mencintaiku," ucapku dengan air mata mengembang di pelupuk mata.


Firman tersenyum kecil.


"Aku tau." Diciumnya bibirku lama.


"Jangan katakan sesuatu yang buruk lagi, ya, Man. Kamu udah janji waktu kita bulan madu di Bali, kalau kamu akan menemaniku sampai tua."


"Iya, aku janji. Itu hal yang selalu ada dalam doaku tiap aku bersujud. Menemanimu dan anak-anak kita sampai tua." Diusapnya rambutku. "Kamu ingat pertama kali kita camping di sini, Sayang?"


Aku mengangguk.


"Hari itu, seminggu sebelum pernikahan kita. Hari ketika aku kecelakaan di jalan tol ...."


"Dan dihari itulah pertama kali aku menyadari kalau aku mencintaimu dan nggak mau kehilanganmu," sambungku.


"Malam itu, di sini, aku menciummu untuk pertama kalinya," terlihat senyum mengembang di bibirnya. "Aku ngerasa itu buruk banget. Nggak seharusnya aku ngelakuin itu sama kamu."


"Tapi seminggu setelah itu, entah berapa banyak ciuman yang kamu kasih buat aku," aku tertawa mengejek.


"Itu kan karena aku udah sah jadi suamimu," ditariknya ujung daguku dengan gemas.

__ADS_1


"Kenapa sih, Man, kamu cinta banget sama aku?" tanyaku sambil mengalungkan kedua tanganku ke lehernya.


"Kenapa, ya? Terlalu banyak alasan untukku mencintaimu. Pokonya sejak dua puluh tahun lalu, aku udah mengunci hatiku buat perempuan lain. Cuma ada nama kamu di sana, dan udah aku buang kuncinya di Laut Mati waktu aku mampir ke sana," katanya sambil mendaratkan bibirnya di atas bibirku sekilas.


"Gombal!"


"Serius. Ngapain gombalin kamu, orang kamu udah jadi milik aku," katanya sambil memelukku. "Cuma kamu, Sayang. Pertama dan terakhir."


"Serius, aku perempuan pertama di hatimu?" tanyaku penasaran.


"Iya. Sejak hari aku dibully itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk belajar lebih keras agar aku sukses dan bisa menyematkan sebutan Nyonya Firman padamu."


Air mataku hampir menetes.


"I love you, My Husband," kali ini aku yang memeluknya lebih dulu.


"I love you more, My Lovely Wife."


Seperti malam itu, hanya suara angin dan gesekan daun pinus yang menemani kami.


"Apa kita akan begadang semalaman di sini?" tanya Firman masih dengan posisi aku duduk manis di pangkuannya, memeluknya erat. "Masuk, yuk! Dingin. Kasian dede bayi."


"Gendong ...," rajukku.


"Uluu ... manjanya istriku," dia berseloroh. Namun dia tetap berusaha berdiri sambil menggendongku di depan, seperti biasanya dia menggendong Elang.


Firman membawaku masuk ke dalam tenda dan menyeletingkan pintunya. Dia mendudukanku di tepi tempat tidur di mana Elang tidur dengan lelap.


Dia berlutut di depanku, mensejajarkan wajahnya dengan perutku. Diciuminya perutku dengan penuh kasih sayang.


"Kami mencintaimu, Sayang. Cepat besar, ya. Mama, Papa dan Mas Elang akan menunggumu."


Kuelus rambut Firman. Dia mendongak. Diciumnya bibirku dengan lembut. Kupejamkan mataku menikmati ciumannya. Ciuman yang awalnya lembut, semakin lama semakin menuntut lebih. Dibaringkannya aku pelahan di samping Elang.


"Sayang, nanti Elang bangun, lho," kutarik tangannya yang sudah mulai bergerilya kemana-mana.


"Aku pelan-pelan kok, Sayang," bisiknya pelahan.


"Nggak bisa ...."


Sepertinya dia tidak mendengarkanku. Dia mulai menciumi leherku.


"Sayang ...," aku mulai merasa tidak nyaman.


"Ya udah, kita pindah ke bawah," dibantunya aku bangun dari tempat tidur.


"Man ...."


"Sttt ... aku suka baumu," dia memulai aksinya.


"Ma, Pa," suara Elang terdengar dari atas tempat tidur.


Aku kaget bukan kepalang. Buru-buru kupegang dua kancing paling atas piyamaku.


"Tuh, kan. Aku bilang juga apa," sergahku.


Firman meraup wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Iya, Sayang." Aku langsung berdiri dan naik ke atas tempat tidur. Di sana Elang sudah dalam posisi duduk sambil mengucek matanya.


Firman hanya bisa mendesah pasrah.


__ADS_2