
Kubuka pintu lebar-lebar. Dan ...
Brug!
Angela mendorongku dengan sangat keras. Aku yang tidak siap, langsung terhuyung dan jatuh berdebum dengan keras di lantai.
Aku yang jatuh terduduk, tidak kuasa menahan berat badanku dan langsung tergolek lemah di lantai.
Aku tergeletak di lantai dengan posisi seperti udang yang dipanaskan. Merintih menahan sakit di perut dan pinggangku.
Angela mendekatiku dengan senyum smirknya. Dia berjongkok dan mencengkeram rahangku dengan kuku-kukunya yang indah.
"Aku sudah muak melihat kebahagiaanmu dengan Firman," desisnya. "Seharusnya dia milikku kalau kamu tidak kembali dalam hidupnya."
Dilepaskannya rahangku dengan kasar, menyisakan rasa perih yang kuyakin berasal dari luka yang dia tinggalkan di wajahku.
Aku benar-benar tidak bisa berkutik, rasa sakit yang teramat sangat kurasakan di perutku.
"Aku sudah bosan menyuruh orang untuk melenyapkanmu, tapi tak pernah ada hasilnya. Maka sekarang, aku sendiri yang akan membuatmu hilang dari muka bumi ini. Oh, aku lupa. Tak hanya kamu, tapi juga bayimu, agar dia bisa menemanimu di sana," Angela tertawa mengerikan.
Tidak! Tidak boleh ada yang menyakiti anakku lagi!
Aku ingin berteriak sekencangnya, tapi tak ada yang keluar dari bibirku selain rintihan kesakitan.
Angela berdiri. Dia mengitari tubuhku yang sudah tak bertenaga.
"Jangan khawatir, aku tidak akan melenyapkanmu secepat itu. Aku ingin kamu merasakan sakit yang kurasakan karena kelakuanmu."
Tak disangka dia langsung melayangkan kakinya ke arah perutku. Secara reflek aku menaikkan kakiku ke atas untuk melindungi perutku, sehingga tendangannya mengenai pahaku dengan telak.
Aku meringis merasakan tendangan itu.
Tak puas karena tendangannya meleset, Angela terus melayangkan tendangannya secara bertubi-tubi ke seluruh tubuhku. Membuatku menjerit di dalam hati.
Wanita itu terus memaki dan mengeluarkan sumpah serapah padaku. Sesekali dia tertawa melihatku yang tidak berdaya. Dan akhirnya, sebuah tendangan keras di pinggangku membuatku berteriak tertahan. Aku merasa ada sesuatu yang hangat mengalir di sela pahaku. Benar saja, aliran darah segar mengalir membasahi gaun tidurku.
Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya memanggil Firman, tapi suaraku tercekat di tenggorokan.
Angela tertawa puas melihat keadaanku.
"Rasakan! Bila apa yang kuinginkan tidak menjadi milikku, maka orang lain pun tidak boleh memilikinya! Katakan selamat tinggal pada Firman, karena kamu tidak akan pernah melihatnya lagi."
__ADS_1
Tuhan, tolong kami! Aku ikhlas kalau terjadi sesuatu padaku, tapi tolong anakku. Jangan sampai terjadi apa-apa padanya. Kumohon jaga dia.
Rasa sakit yang tak tertahan membuat penglihatanku berkabut. Makin lama, wajah Angela terlihat makin menjauh. Dan akhirnya gelap menyelimutiku.
...
POV Firman
Lintang dan bayi dalam kandungannya adalah hal paling berharga dalam hidupku. Mereka membuatku jadi lelaki paling bahagia di dunia. Hidupku benar-benar sempurna. Namun, kejadian kemarin malam membuatku merasa tidak berguna. Karena terlalu sibuk meladeni omongan orang lain, aku tidak memperhatikan istriku. Hingga lelaki lain yang harus menolongnya.
Rasa sesak masih merayap di hatiku hingga pagi ini. Namun, perlakuan Lintang selalu bisa menghangatkan hatiku. Dia benar-benar matahari untukku. Dia adalah sumber kebahagiaanku.
Aku masih berada di dalam mobil, berteleconference bersama beberapa kepala cabang, saat smartphoneku berbunyi. Nama Bi Sumi tertera di layarnya. Untuk apa Bi Sumi menelponku? Bukankah kalau membutuhkan sesuatu ada Lintang di apartemen?
"Silakan dilanjutkan, saya tinggal sebentar," ujarku kepada para kepala cabang.
"Ada apa, Bi?" tanyaku saat kugeser tombol hijau.
"Mbak Lintang, Mas ... Mbak Lintang ...," kalimatnya terputus-putus.
Deg!
Jantungku mencelos. Ada apa dengan Lintang?
"Nggak tau, Mas. Waktu Bibi datang, Mbak Lintang udah berbaring di lantai, nggak sadarkan diri, Mas. Dan ... dan ... Mbak Lintang terus ngeluarin darah," suara Bi Sumi sudah seperti orang menangis.
"Kayaknya Mbak Lintang pendarahan, Mas."
"Apa?!" teriakku. Aku tidak bisa mengontrol jantungku yang berdegup sangat kencang.
Aku kalang kabut, tidak tau harus berbuat apa. Aku berusaha berpikir jernih.
"Bi, langsung telpon ambulan. Aku segera putar balik."
"Ada apa, Pak?" tanya Pak Anto yang melihatku kacau.
"Putar balik ke apartemen, Pak. Ada sesuatu yang terjadi sama Lintang."
Tak perlu diperintah dua kali, Pak Anto segera memutar balik arah kami dan dilajukannya mobil dengan kencang.
"Ya Tuhan, jaga selalu istri dan calon anak kami," kuulang doa itu terus-menerus.
__ADS_1
Mobil kami sampai bersamaan dengan sampainya ambulan.
Aku membanting pintu mobil dan berlari secepat yang aku bisa.
"Pak, tolong tunggu di depan lift, ya. Saya akan bawa istri saya turun. Bisa seorang petugas temani saya naik ke atas?"
Seorang petugas langsung mengikutiku ke lantai 25. Kalau para petugas membawa blankar ke atas, akan memakan banyak waktu karena sekarang adalah jam sibuk.
Begitu sampai ke lantai apartemenku, aku segera berlari dan membuka pintu dengan kasar.
Jantungku hampir keluar dari tempatnya, ketika kulihat istriku tergeletak dengan darah membanjiri lantai di bawahnya.
Bi Sumi yang menangis, menahan kepala Lintang di pangkuannya.
"Sayang, Sayang, kamu kenapa Sayang?!" langsung kurengkuh dia ke dalam pelukanku.
Wajahnya sudah terlihat pucat seolah tak ada darah yang mengalir di sana. Berbeda sekali dengan wajah meronanya ketika beberapa puluh menit yang lalu kutinggalkan.
Kubuka jasku dan kututup tubuhnya yang masih berbalut gaun tidur dengan noda darah dimana-mana. Segera kuangkat dan kubawa keluar dengan pertolongan petugas medis. Orang-orang yang berkerumun di depan lift memberi kami jalan dan mempersilakan kami menggunakan lift terlebih dahulu.
"Sayang, bangun Sayang," terus kuciumi wajahnya. Berharap dengan demikian, dia mau membuka matanya.
"Golongan darah istrinya apa, Pak?" tanya petugas yang langsung tanggap melihat baju Lintang yang berlumuran darah.
"AB, Pak. Saya sudah konfirmasi ke PMI beberapa minggu yang lalu, tapi untuk dua bulan ke depan," ujarku dengan cemas.
"Biar kami konfirmasi lagi. Istri Bapak kehilangan banyak darah," sahut petugas itu.
Begitu pintu lift terbuka, para petugas medis dengan sigap membawa Lintang ke atas blankar dan mendorongnya dengan cepat. Aku sudah tidak peduli lagi dengan pekikan para penghuni apartemen lain yang melihat bajuku berlumuran darah.
"Bangun Sayang! Jangan tinggalkan aku!" teriakku pada Lintang yang masih terus menutup matanya.
Para petugas medis segera memasang oksigen dan alat-alat yang sekiranya dapat menolong istriku. Kugenggam tangannya dan terus kuciumi tangannya.
Ambulan melaju sangat cepat di antara padatnya lalu lintas. Tak membutuhkan waktu lama, kami sudah sampai di rumah sakit.
Para petugas segera membawa Lintang ke Unit Gawat Darurat. Aku terus berlari mensejajarinya.
"Maaf, Pak. Bapak tidak boleh masuk. Bapak bisa tunggu di sini saja," kata seorang suster yang menahanku untuk tidak melewati pintu.
"Itu istri saya, Suster. Dia adalah hidup saya. Saya harus memastikannya baik-baik saja," pungkasku.
__ADS_1
"Kami mengerti, Pak. Kami akan berusaha yang terbaik untuk istri Bapak," katanya sambil menutup pintu.
Aku mondar-mandir gelisah sambil menjambak rambutku sendiri. Aku benar-benar kacau. Aku baru saja meninggalkannya beberapa menit yang lalu. Apa yang terjadi padanya?