
Kami kini duduk di depan Dokter Riana, setelah tadi mengantarkan Elang berangkat ke sekolah.
Dokter Riana melihat ke arah kami dengan pandangan bertanya.
"Jadi, Pak Firman mual muntah tiap pagi?" tanyanya dengan menahan senyum. Sepertinya Dokter Riana masih ingat seperti apa kelakuan Firman saat terakhir kami datang padanya.
"Iya, Dok," jawabku sambil terus melihat ke arah Firman yang terlihat pucat.
"Bu Lintang sendiri, apa sudah terlambat menstruasi?" tanya Dokter Riana.
Aku menggeleng.
"Saya juga sudah mencoba mengetesnya menggunakan testpack, tapi hasilnya negatif," aku menjelaskan.
"Tapi tadi pagi Dokter Deni menyarankan Lintang untuk USG. Katanya kemungkinan Lintang hamil, tapi usianya masih sangat muda." Firman ikut bicara.
"Sepertinya begitu. Apalagi kalau Ibu Lintang belum telat, kemungkinan usianya dibawah 4 minggu," ujar Dokter Riana. "Hitungan usia janin dihitung dari hari pertama haid terakhir, ya."
Dokter Riana mempersilakanku untuk naik ke atas tempat tidur, dibantu oleh seorang suster.
"Kalau masih hamil muda, belum terlihat janinnya. Paling yang terlihat kantung tempat nantinya si janin ini berkembang," Dokter Riana mulai mengolesi perutku yang rata dengan gel agar licin.
Jantungku berdebar kencang. Semoga hasilnya sesuai dengan perkiraan Dokter Deni dan juga keinginan kami.
"O iya, Bu Lintang memang sedang hamil. Ini sudah ada penebalan dinding rahim."
Kata-kata Dokter Riana seperti segelas air dingin di cuaca yang panas. Terasa sejuk di hatiku. Akhirnya aku hamil lagi. Tak terasa air mataku meluncur begitu saja.
Terima kasih, Ya Allah.
Firman yang duduk di sampingku langsung memberikan kecupan di keningku. Tangannya menggenggam tanganku erat. Ini bukan kali pertama aku hamil, tapi kebahagiaan itu tetap terlihat kentara di matanya.
"Selamat, ya Bu Lintang, Pak Firman, akhirnya Elang akan mendapatkan seorang adik." Dokter Riana melihat ke arah kami sambil tersenyum.
"Terima kasih, Dokter," kata Firman. Lagi, diciumnya keningku.
"Terima kasih, Sayang. Kamu akan menjadikanku seorang ayah lagi," lirihnya.
"Selain vitamin dan penguat kandungan, sepertinya saya harus meresepkan anti mual untuk Pak Firman," ujar Dokter Riana sambil menuliskan resep.
"Saya rela, Dok, kalau harus menanggung rasa mual ini. Setidaknya saya mengurangi kesakitan Lintang selama hamil anak saya," ujar Firman sambil menatapku.
"Firman, ih ...."
Dokter Riana yang sudah hafal tabiat Firman, sama sekali tidak mengkoreksinya. Beliau hanya tersenyum dan memberikan saran-saran yang bermanfaat untuk kami.
"Aku nggak tau harus gimana, Sayang. Aku seneng banget kamu hamil lagi, tapi aku juga takut," dipegangnya terus tanganku begitu kami keluar dari ruang periksa.
"Jalani aja, Man. Aku yakin, kita bisa menjaganya dengan baik," kataku.
"Aku nggak sabar bilang sama Elang, kalau dia akan punya adik baby," cetus Firman gembira. "Dia pasti seneng banget."
"Gimana kalau kita kasih taunya nanti malem, sambil camping di halaman?" usulku.
__ADS_1
"Malam ini?"
"Iya," jawabku bersemangat.
"Kamu kan lagi hamil, Sayang. Takut di luar dingin," katanya.
"Nggak apa-apa. Aku mau. Ya, Sayang, please ...," rajukku.
"Apa pun maumu, Sayang," katanya sambil mengecup bibirku.
Firman tidak akan pernah menolak apa pun keinginanku, aku tahu persis itu. Selama dia bisa melakukannya, maka akan dia lakukan.
Seperti sekarang, meskipun dia masih terlihat pucat, Firman, Pak Jana, Pak Min dan Pak Diman tetap mendirikan sebuah tenda untukku di depan kamar kami.
Aku hanya bisa tersenyum. Selama mereka mendirikan tenda, aku lebih memilih menemani Elang mengerjakan PR nya.
"Kita mau camping, Ma?" tanya Elang ketika PR nya sudah selesai.
"Iya, Sayang. Kamu suka camping, 'kan?" tanyaku.
"Iya, apalagi kalau pake api unggun," jawabnya.
"Nanti kita minta Papa nyalakan api unggun, ya," ujarku sambil mengacak rambutnya.
"Asyik! Kalo gitu, Elang bantuin Papa dulu, ya," pamitnya sambil berlari keluar dari kamar.
Aku hanya bisa tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala. Anak itu selalu menggemaskan.
"Nggak usah, Mbak. Biar sama kami aja," kata Teh Nana saat aku mau membawa potongan brownis kukus ke depan.
"Iya, Mbak. Mbak Lintang nyuruh aja. Mbak Lintang nggak boleh kecapean," kata Bi Sri.
"Nggak apa-apa. Ini nggak berat, kok."
"Mama!" teriak Elang sambil berlari ke arahku.
"Sayang, jangan lari-lari di dalam rumah," ingatku.
"Ma, tendanya keren deh, Ma!" seru Elang.
"Oh ya?" aku hanya tersenyum.
"Mama harus liat. Ayo!" Elang menarik tanganku.
"Sayang, nanti makanannya jatuh," aku menahan nampan yang nyaris jatuh karena ditarik anakku itu.
Bi Sri langsung mengambil alih nampan yang kubawa.
Elang menarik tanganku, dan aku hanya bisa mengikutinya.
"Ya ampun, Papa, ini apa-apaan?" teriakku saat melihat tenda yang Firman dirikan.
"Ini bikin tenda atau mindahin kamar kita ke luar?" aku mendekati mereka yang sedang menata tenda seperti kamarku.
__ADS_1
"Aku nggak mungkin biarin kamu tidur pake sleepingbag di tanah, Sayang. Apalagi kamu lagi hamil. Gimana kalo nanti kamu masuk angin atau sakit pinggang gara-gara tidur di tanah?" sahut Firman.
"Nggak seru dong, Man," rengekku.
Elang keluar dari dalam tenda, "Keren 'kan, Ma? Kalau tendanya kayak gini, Elang mau tidur di luar tiap hari."
Aku menepuk dahi. Aku memilih masuk ke dalam rumah daripada berdebat.
"Sayang, kamu marah, ya? Nggak suka sama tendanya?" Firman membuntutiku.
"Man, itu nggak sesuai pikiranku," ucapku.
"Tapi ini sesuai kemauanku," jawabnya tak mau kalah.
"Aku maunya kita camping kayak biasanya. Ya kalau kamu nggak mau langsung beralaskan tanah kan kita bisa pake karpet," sergahku.
"Tapi aku nggak mungkin biarin kamu camping kayak biasanya, Sayang. Kamu nggak sendiri lho, sekarang. Tolong pikirin juga anak kita yang ada di dalem perutmu."
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Kenapa Firman jadi menyebalkan. Biasanya dia hanya akan mengucapkan 'iya' pada apa pun yang aku inginkan. Tanpa berdebat seperti sekarang.
"Ma, ada yang nganterin makanan," seru Elang dari arah pintu.
"Makanan?" aku mengerutkan kening. Aku tidak merasa memesan makanan.
Pak Jana dan Pak Diman masuk dengan berbagai jenis kantong plastik bermerek di tangannya. Disusul oleh seorang abang ojol yang membawa dua dus pizza.
"Taro aja di meja, Pak," kata Firman.
"Siapa yang pesan junk food, Man?" tanyaku bingung.
"Aku yang pesan semua ini," katanya sambil tersenyum.
"Hah? Junk food? Kamu nggak salah?" aku tidak percaya apa yang kulihat.
"Aku pengen banget, Sayang," jawabnya dengan wajah memelas. "Kan, dede bayinya di perut kamu, jadi nggak apa-apa kalo aku yang makan."
"Astagfirullah ...," aku benar-benar kesal dengan kelakuan Firman sekarang, tapi aku tidak bisa melakukan apa pun.
Aku jadi berpikir, apakah aku juga dulu begitu menyebalkan ketika ngidam?
"Terserah deh, Man. Kamu boleh makan apa pun yang kamu mau. Tapi inget, olahraga! Aku nggak mau kamu gendut!" ujarku sambil berlalu.
"Elang boleh juga, Ma?" Elang jadi ikut-ikutan merajuk.
"Iya, tapi jangan banyak-banyak ya, Sayang," ujarku sambil mengusap kepalanya.
"Kalo kamu tetep nggak boleh ya, Sayang," sergah Firman.
"Nggak pengen!" seruku.
Ya Allah, semoga Firman cepetan beres ngidamnya. Dia nyebelin kalau lagi kayak gini.
__ADS_1