Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Berbagi kebahagiaan


__ADS_3

Aku menelpon Firman berkali-kali, tapi dia tidak mengangkatnya sama sekali.


"Mungkin dia sibuk," gumamku.


Teman-temanku masih membicarakan kejadian tadi di belakang Tasya.


"Jangan dibahas lagi," ujarku pada mereka semua.


"Kok dia bisa kenal Hendy, Lin? tanya Rama.


"Aku nggak tau. Katanya sih ketemu di pameran perumahan di Semarang," jelasku.


"Udahlah. Nggak usah dibahas. Nggak usah dikasih tau juga Tasyanya. Kasian dia."


Tak ada lagi yang membahas tentang apa yang terjadi saat makan siang tadi.


Aku memilih pulang lebih awal. Tidak ada yang harus kukerjakan di kantor. Pak Jana membukakan pintu belakang mobilku ketika tiba-tiba seseorang menahannya untuk tidak tertutup.


"Lin, bisa kita bicara sebentar?" kata orang yang menahan pintuku.


"Apalagi yang harus diomongin, Hen?" aku tidak memberinya kesempatan.


"Apa Firman menyakitimu?" tanyanya lagi.


"Firman sangat mencintaiku, jadi nggak mungkin dia menyakitiku," ucapku.


"Tapi katanya ...."


"Aku yang mengalami dan merasakannya, Hen. Jangan dengar kata orang lain. Aku bahagia dengan pernikahanku. Jadi sebaiknya kamu pun segera mencari wanita yang bisa kamu cintai dan juga mencintaimu."


"Aku hanya ingin membuktikan janjiku, Lin."


"Nggak ada yang harus dibuktikan, Hen. Dia mencintaiku dan aku mencintainya."


Hendy melepaskan tangannya dari pintu di sampingku.


"Baiklah kalau memang kamu sudah bahagia dengannya. Aku ikut bahagia untuk kalian," Hendy mundur beberapa langkah.


"Lupakan aku, Hen."


Aku meminta Pak Jana untuk segera meninggalkan tempat ini.


...


"Sayang, maaf ya tadi siang aku nggak bisa angkat telponmu. Tadi aku sibuk banget," Firman menghubungiku dengan video call.


"Nggak apa-apa, Man. Aku ngerti kok. Jadi, ngapain aja kamu hari ini?" tanyaku.


"Hari ini aku melakukan inspeksi mendadak ke kantor pusat Buana Perdana dan mengecek pengerjaan proyek bersama Reno," jawabnya.


"Hasilnya?"


"Aman terkendali."


"Syukurlah kalau gitu."


"Kamu sendiri, ngapain aja hari ini?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke layar.


Aku terkekeh melihat wajahnya yang memenuhi layar.


"Jelek, Man! Mundur!" seruku.


"Aku mau liat kamu dari dekat."


"Cepetan pulang makanya," ujarku.

__ADS_1


"Jadi gimana harimu, Sayang?"


"Biasa aja sih. Cuma karena udah lama nggak ngantor, ya jadi banyak cerita. Tapi aku pulang cepet, kok. Langsung pulang ke rumah, nggak ke studio dulu," jelasku.


"Jangan terlalu capek dulu," ingatnya.


"Iya. Kamu juga," kataku.


"Nanti kalau kamu mau tidur, v call aku dulu ya, Sayang," katanya.


"Oke, Sayang," kuberi kode jempol untuknya.


Dan malam ini kami habiskan dengan melakukan video call. Serasa tak ada jarak antara kami. Dia menemaniku hingga aku terlelap. Cerita tentang Hendy pun terlupakan begitu saja.


...


"Kak Lintang! Kenapa Kak Lintang nggak bilang kalau Pak Hendy itu mantan Kak Lintang?"


Aku yang baru saja membuka pintu langsung dikejutkan oleh pertanyaan Tasya.


"Kamu kata siapa, Sya?"


"Nggak perlu tau siapa yang bilang. Bener kan, Pak Hendy itu mantan Kak Lintang?"


"Iya, dia mantan pacarku. Terus?"


"Kenapa Kakak nggak bilang?"


"Mana aku tau kalau yang kamu omongin itu dia," kataku membela diri. "Lagian aku udah nggak peduli sama dia. Aku udah punya suami yang harus kujaga perasaannya."


"Ya, Kakak udah nggak peduli sama dia, tapi dia masih sangat peduli sama Kakak, gitu, 'kan?"


"Aku nggak tau, tanya aja langsung sama dia," selorohku.


"Boong. Kemaren Pak Hendy ngejar Kak Lintang, 'kan?"


"Kakak serius?" tanyanya sanksi.


"Ya iyalah aku serius. Aku punya suami yang sempurna, apalagi yang harus aku harapkan dari pria lain?"


Raut wajah Tasya berubah.


"Kalau kamu benar-benar mencintainya, kejarlah dia, Sya. Aku akan mendukungmu. Aku juga ingin dia bahagia. Siapa tau kamu wanita yang tepat buat dia," kusentuh bahunya.


"Makasih, Kak," dia memelukku dengan erat.


Walau bagaimana pun, Hendy adalah pria yang spesial untukku. Dia adalah pria pertama yang membuatku berpikir tentang pernikahan. Dia pria yang selama dua tahun menyiramiku dengan cinta dan perhatian.


Aku ingin Hendy juga merasakan kebahagiaan yang aku rasakan, meskipun tidak bersamaku. Aku akan bahagia bila dia menemukan wanita yang mencintainya, yang bersedia berbagi suka dan duka dengannya. Yang dengan setia menemaninya hingga ujung waktu.


...


"Sayang, udah makan siang belum?" tanya Firman dari balik layar.


"Udah dong."


"Makan apa?"


"Ayam geprek."


"Awas, terlalu pedes. Perhatikan asupan makanannya," ingatnya.


"Siap, Pak Bos!" kunaikan tanganku menghormat padanya.


"Kak Firman!!" Sasa dan Ratry menghimpitku memaksa masuk dalam frame.

__ADS_1


"Mau ngapain ni bocah? Hus.. hus..," kuusir duo cempreng itu. Aku memang sedang berada di meja kassa.


"Kami mau bilang makasih sama Kak Firman. Makasih ya Kak atas oleh-olehnya!" teriak Sasa di dekat telingaku.


"Kapan Kak Firman bawa Kak Lintang bulan madu lagi? Kami nanti nitip oleh-oleh lagi, ya" seru Ratry.


Firman tertawa terbahak-bahak.


"Tiap hari aja bulan madu," sengitku.


"Kalau nitip ke Kak Firman kita menang banyak," kikik Sasa.


Kucubit pipinya sampai dia mengaduh.


"Jangan pulang terlalu malam ya, kasian Arum," ujar Firman.


"Iya, Man."


"Arumnya ajakin sini aja, Kak. Biar main sama kami, jangan disuruh belajar terus," celetuk Sasa.


"Ogah. Nanti dia terkontaminasi sama kalian. Aku nggak mau adikku jadi ketularan gesrek," cibirku.


"Enak aja gesrek. Kami nggak gesrek, Kak. Kami menggemaskan," mereka tertawa bersama.


"Jagain Kak Lintangnya ya, kalau dia makan yang aneh-aneh, bilang sama Kak Firman," katanya.


"Siap, Kak. Kalau di sini pasti terpantau, nggak tau kalau di kantor sana," kata Ratry.


"Udah ah, pindah. Males ngobrol di sini," ujarku sambil beranjak dari kursiku.


"Sayang, kamu pulangnya kapan?" tanyaku sambil berjalan ke arah ruang tunggu.


"Tinggal sekali lagi pengecekan. Mudah-mudahan secepatnya."


"Ya udah deh, mudah-mudahan semuanya lancar ya, Man."


"Oya, nanti malam aku ada janji ketemu sama klien. Kalau kamu ngantuk, tidur duluan aja ya, nggak usah tunggu aku VC."


"Oke."


Dan pembahasan tentang Hendy pun terlupakan lagi.


...


Aku berniat tidur lebih awal, karena tidak ada yang harus aku kerjakan hari ini. Aku tertidur lelap, sampai aku merasa ada yang memelukku dari belakang.


Aku kaget setengah mati ketika ada sebuah tangan melingkar erat di pinggangku. Aku segera berbalik. Di belakangku, Firman sudah berbaring menyamping lengkap dengan piyama birunya.


"Firman ...."


"Yes, i'am."


Langsung kupeluk tubuh suamiku itu.


"Kirain pulang besok," ujarku di dalam dekapannya.


"Aku udah nggak kuat nahan kangen sama kamu," katanya sambil mencium pucuk kepalaku.


"Aku juga kangen sama kamu," kataku jujur.


Disusurinya wajahku dengan bibirnya. Diakhiri dengan ciuman panas di bibir.


"Happy First Wedding Anniversary, Honey," bisiknya.


Aku langsung terhenyak.

__ADS_1


What? Wedding Anniversary? Aku benar-benar lupa!


__ADS_2