
"Saya dari Semesta Perdana cabang Banjarmasin, Bu. Saya mau mengabarkan bahwa ... mobil yang membawa Pak Firman dan Pak Reno mengalami kecelakaan tunggal."
"Apa?!" Tubuhku rasanya langsung lemas.
"Anda bercanda, 'kan?" tanyaku setengah berteriak.
"Maaf, Bu Lintang. Memang demikian kenyataannya. Saat ini Pak Firman dan Pak Reno sudah dibawa ke rumah sakit terdekat," ujar orang di seberang sana.
Telingaku mendadak tuli, aku tidak bisa mendengar apa pun lagi. Gagang telpon jatuh dari tanganku. Rasanya semuanya gelap. Sebelum tubuhku menyentuh lantai, aku mendengar teriakan Elang yang memanggil namaku.
...
Kukerjapkan mataku berkali-kali. Cahaya lampu di dalam ruangan bercat putih ini menyilaukan mata.
"Lin ...." Wajah cantik Mama yang pertama kali kulihat.
"Ma, Firman, Ma ... Firman ...," lirihku dibarengi air mata yang bercucuran.
"Firman, nggak apa-apa, Lin. Firman baik-baik aja. Dia cuma luka kecil," ujar Mama.
"Mama bohong, kan? Orang kantor bilang mobilnya sampai terbalik," desakku.
"Iya, mobilnya menabrak pembatas jalan sampai terbalik, tapi alhamdulillah Firman nggak apa-apa. Cuma luka ringan aja, Reno yang tangan kirinya patah," jelas Mama.
"Alhamdulillah ...," tak hentinya aku bersyukur.
"Papa sama bapak mertuamu langsung terbang ke sana. Mungkin sebentar lagi, mama mertuamu sampai ke sini."
"Elang gimana, Ma?" tanyaku khawatir. Aku ingat, sebelum pingsan aku mendengar teriakannya.
"Elang yang kasian, Lin. Kata Bi Sri, dia sampai histeris liat kamu pingsan. Tadi waktu Mama sampai rumahmu, dia masih nangis sambil peluk kamu."
Aku merasa sangat menyesal mendengarnya. Salahku yang tidak mendengar beritanya sampai selesai.
"Kenapa aku dibawa ke sini, Ma?" tanyaku sambil melihat seisi ruangan, yang kuyakini sebagai ruang rawat rumah sakit.
"Kamu nggak sadar-sadar, Lin. Mama takut ada apa-apa sama kamu dan anakmu. Jadi Mama panggil ambulan dan bawa kamu ke sini," jawab Mama.
"Makasih, Ma."
"Iya, cepet sehat, Lin. Biar kamu cepet pulang. Firman pasti ngerasa bersalah banget kalau tau kamu masuk rumah sakit."
"Iya, Ma. Lintang nggak apa-apa, kok. Lintang cuma kaget aja," kuelus perutku yang terasa menegang. "Maafin Mama, ya Sayang. Kamu juga kaget, ya di dalem sana."
__ADS_1
"Iya, Lin. Kamu sekarang harus kuat, bukan demi dirimu sendiri, tapi juga buat anak-anakmu."
"Iya, Ma. Lintang janji."
...
Hanya sehari aku dirawat di rumah sakit. Keesokan harinya, dokter sudah mengizinkanku untuk pulang. Elang menyambutku dengan pipi penuh air mata, membuatku makin merasa bersalah. Bu Ratna, mertuaku, sampai sebelum aku keluar dari rumah sakit dan ikut menjaga Elang.
Ini sudah dua hari sejak aku keluar dari rumah sakit, tapi Firman belum juga pulang. Papa dan Bapak yang bisa kuhubungi, hanya mengatakan bahwa Firman masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Padahal sebelumnya beliau mengatakan kalau Firman hanya luka ringan. Aku merasa ada yang mereka tutupi dariku.
Akhirnya, setelah hari kelima, Papa mengabari bahwa mereka semua akan pulang. Betapa leganya hatiku. Aku sudah tidak sabar menunggu Firman pulang. Sejak Papa sampai di Banjarmasin, belum pernah sekali pun Papa mengizinkanku mengobrol dengan Firman. Begitu pula dengan Bapak.
Aku terus berjalan bolak-balik di ruang tamu. Gelisah, meskipun Papa sudah menelpon untuk mengabarkan bahwa mereka semua sudah sampai di Bandara Husain Sastranegara.
"Nduk, coba tenang dulu. Nanti kakimu kram kalau kamu bolak-balik terus kayak gitu," seru Ibu yang khawatir melihatku.
"Iya, Ma. Kasian babynya kalau Mama kayak gitu terus." Elang ikut bersuara.
"Mama nggak tenang kalau Papamu belum sampai rumah dengan selamat, Sayang. Mama ngerasa ada yang nggak beres," ujarku masih terus mondar-mandir.
Mama dan Ibu saling berpandangan penuh arti. Namun, tak ada satu pun yang bersuara.
Suara gerbang kayu yang dibuka terdengar olehku. Segera kubuka lebar-lebar daun pintu itu. Kulihat enam mobil masuk satu per satu ke dalam halaman.
Benar saja, beberapa menit kemudian terdengar salam dari arah luar pintu. Papa, Bapak, Firman, beberapa orang staf kantor dan empat orang bodyguard masuk ke ruang tamu.
Tanpa menunggu, aku langsung berhampur ke dalam pelukan Firman. Kupeluk tubuhnya yang tegap dengan sangat erat, seolah aku takkan melepaskannya lagi.
"Aku khawatir, Man. Aku takut kamu kenapa-napa," tangisku.
Firman tidak menjawab. Dia malah memegang kedua bahuku dan menjauhkanku dari tubuhnya.
Aku kaget luar biasa. Aku sudah begitu merindukannya, mengkhawatirkannya, tapi kenapa ...
"Maaf, Anda siapa?" Pertanyaannya bagai godam yang menghantam dadaku dengan keras. Sesak.
Aku mundur beberapa langkah dengan memegangi dadaku. Kupandangi semua orang yang baru datang itu satu persatu.
"Pa ... Pak ... apa ini? Kenapa Firman begini?" tanyaku dengan suara tercekat.
"Firman ... hilang ingatan, Sayang," jawab Papa.
"Apa?! Ini nggak lucu, Pa!"
__ADS_1
"Papamu jujur, Lin. Suamimu amnesia," kali ini Bapak yang berbicara. Beliau tidak berani melihat langsung ke wajahku. Beliau hanya bisa menunduk.
"Nggak mungkin!" Kutatap lekat wajah suamiku. Tak ada yang berubah, hanya ada tambahan sebuah plester kecil di dahinya.
Aku memandang berkeliling. Menatap wajah semua orang di dalam ruangan ini yang menatap iba padaku.
"Jangan bilang Mama sama Ibu juga tau akan hal ini." Aku mundur lagi beberapa langkah.
Mama dan Ibu hanya bisa menunduk.
"Kami nggak mau kamu khawatir, Lin. Ingat kandungan kamu. Kasian dia kalau kamu sampai stress," Mama mencoba membujukku.
Kupejamkan mataku dan berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Rasanya ini seperti mimpi. Kutatap wajah suamiku. Wajah itu datar, tak ada senyum di sana. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha mengenyahkan semua bayangan buruk yang ada di depan mataku.
"Kenapa, Ma ... ? Kenapa ini selalu terjadi sama Lintang? Apa belum cukup yang selama ini terjadi sama Lintang? Lintang udah kehilangan bayi pertama Lintang. Lintang hampir mati ketika hamil Elang. Dan sekarang ... liat! Bahkan suami Lintang sendiri nggak kenal sama Lintang! Salah Lintang apa, Ma?" teriakku. Hancur sudah semua pertahananku. Aku terduduk di lantai sambil tergugu. Aku sudah tidak peduli kalau aku jadi tontonan.
"Istigfar, Nak. Jangan begini. Kasian bayimu," Mama segera menarikku ke dalam pelukannya.
"Iya, semua orang kasian sama bayi ini, tapi nggak kasian sama Lintang!" Kupukul perut buncitku ini.
"Jangan!" semua orang berteriak bersamaan.
Ibu sudah menangis histeris di pelukan Bapak. Mama dan Papa menahan kedua tanganku agar tidak memukul perutku sendiri.
Bagaimana jika Elang tahu Papanya tidak lagi mengenalnya? Apa yang akan dilakukannya? Hatiku menangis mengingat putra kebanggaanku itu.
"Ma ...." Aku segera menengok ke arah suara itu datang. Kulihat Elang berjalan pelahan sambil mengucek matanya. Sepertinya tidur siangnya terganggu karena keributan ini.
Elang melihat sekelilingnya. Dia terlihat bingung. Tiba-tiba senyumnya merekah.
"Papa!" teriaknya sambil berlari ke arah Firman.
Aku sudah tidak sanggup berada di ruangan itu, aku memilih berbalik dan berlari ke kamar. Kukunci pintunya. Aku tak sanggup melihat Elang kecewa.
Kudengar ketukan keras di pintu.
"Lin, bukan pintunya, Lin. Firman hanya amnesia sementara. Kita bisa obati dia." Papa menggedor pintu yang kupunggungi.
"Pa, gimana ini, Pa? Gimana kalau Lintang kenapa-kenapa? Dia lagi hamil besar." Kali ini suara Mama yang terdengar nyaring.
"Jangan panik, Ma. Anakmu tidak akan berpikiran pendek. Papa yakin dia hanya butuh waktu."
Tubuhku bergetar mendengar kata-kata orang tuaku. Tangisku lagi-lagi tak terbendung. Kutumpahkan segala sakitku dalam air mata ini.
__ADS_1