Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Aku nggak mau gendut!


__ADS_3

Dear readers, bab ini mengandung sedikit molekul-molekul 21+ ya. Bisa menimbulkan sengatan aliran listrik bertegangan rendah 🤭🤭🤭.


Untuk adek-adek di bawah 21 tahun, cukup dilike aja, ya. Atau bisa mampir ke Dia, Sahabatku, novel Candy yang bergenre teen.


Selamat membaca ...


💕💕💕


"Aku minta servis 24 jam," kata Firman enteng.


"Apa?!" teriakku kaget.


"Kenapa kaget gitu, sih? Biasa aja kali, Sayang," katanya dengan tetap melihat ke arah jalan.


"Kalau 24 jam, nanti aku nggak bisa bangun, dong," kataku dengan wajah memelas.


"Kenapa sampai nggak bisa bangun?" dia malah balik bertanya.


"Itu, 'kan ...."


"Bentar, bentar. Kita lagi ngomongin apaan sih?" Firman menengok ke arahku.


"Servis 24 jam."


"Iya, servis 24 jam. Wajar 'kan aku minta servis 24 jam. Biasanya juga gitu. Kamu bangunin aku, siapin baju ganti, siapin sarapan, masakin aku, malemnya temenin aku nonton, kelonin sampai tidur. Urusin aku dari bangun tidur sampai tidur lagi. Masa gitu doang sampai nggak bisa bangun. Kecuali kalau aku nyuruh kamu nyabutin rumput di halaman, baru kamu nggak bisa bangun," katanya.


Hah? Kayaknya aku deh yang salah sangka.


Wajahku memerah saat terbayang apa yang aku pikirkan.


"Kok, mukanya jadi merah gitu?" tanyanya melihatku lewat spion.


"Masa? Nggak ah. Panas kali, AC nya nggak nyala," kataku sambil mengecek AC.


Ya ampun, apa jadinya kalau Firman tahu apa yang aku pikirkan. Aku pasti disindirnya habis-habisan.


"Jadi kita mau kemana lagi, My Lady? Mau langsung pulang?"


"Aku mau es buah," celetukku.


"Es buah?"


"Iya, yang arah kita pulang. Tapi aku maunya makan di sana," kataku lagi.


"Biasanya kalau di situ kamu belinya es durian," ujar Firman.


"Lagi nggak pengen durian, lagi pengen es buah."


"Oke, karena hari ini belum berakhir, apa pun yang kamu mau akan aku kabulkan."


"Asyiiiikk!" teriakku kegirangan. "Abis es buah, aku mau batagor. Abis itu nanti malem kita jalan ke Ciwalk ya, Sayang. Aku pengen donat, cheese cake sama tiramisu."


"Kenapa nggak sekarang aja, Sayang, biar sekalian pulang?"


"Aku maunya nanti malem. Sekarang belum pengen."


Kudengar Firman menghela napas panjang.


...


Entah kenapa beberapa hari ini aku merasa ada yang berbeda dengan tubuhku. Napsu makanku begitu besar. Hampir semua yang kulihat ingin aku makan. Firman yang lebih sering bekerja dari rumah pun menyadarinya.


"Jangan terlalu memaksakan diri, Sayang," kata Firman yang melihatku menghabiskan banyak waktu di ruang gym. Ruang yang dilengkapi peralatan olahraga, bahkan lintasan anggar di dalam rumah kami.


"Aku nggak mau gendut, Man," kataku sambil terus memukuli samsak. "Lihat nih, lenganku udah mulai membesar. Pipi aku juga."


"Nggak, Sayang. Kamu nggak nambah gendut, kok," sangkal Firman.


"Aku nambah gendut, Man. Timbanganku naik dua kilo," keluhku.

__ADS_1


"Apa aku pernah mengeluhkan berat badanmu? Atau bentuk tubuhmu? Buat aku kamu tetap sempurna, Lin," katanya sambil mendekatiku.


Ditariknya tanganku ke depan cermin yang mengelilingi tiga perempat ruangan ini.


"See, nggak ada yang berubah, 'kan?" katanya sambil menyuruhku berdiri dalam beberapa posisi berbeda.


Kuperhatikan tubuhku yang berbalut kaos ketat dan legging hitam. Kubolak-balikkan tubuhku di depan cermin. Ya, Firman benar, tidak ada yang berubah. Setiap lekuk tubuhku terlihat sempurna, tidak ada tambahan lemak di mana pun.


"Iya, deh. Tapi nanggung, Man. Satu seri lagi, ya," pintaku.


"Kamu udah seminggu gini terus lho, Sayang. Nanti kamu sakit."


"Nggak, aku sehat. Aku cuma mau nambah satu seri lagi. Cuma dua puluh menit," kataku sambil tersenyum.


"Oke, kalau gitu aku temenin," dibukanya kaos yang dia pakai.


"Eh, mau ngapain?" tanyaku sambil menelan salivaku dengan susah payah karena melihat perutnya yang sixpack.


"Temenin kamu olahraga," katanya sambil melakukan peregangan.


Oh My God! Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku sudah terbiasa melihat tubuhnya, tetapi kenapa kali ini dia terlihat begitu seksi? Sepertinya tidak hanya napsu makanku yang tinggi, libidoku pun sedang tinggi.


Kugigit bibir bawahku untuk menyembunyikan kegugupanku.


"Katanya mau satu seri lagi, yuk," ajaknya.


"Oh, iya," aku tergagap.


Aku mulai dengan mengangkat lutut, loncat samping, lunge dan loncat bintang. Dilanjutkan dengan rangkaian gerakan lainnya.


Walau hanya sebentar, gerakan-gerakan itu membakar banyak kalori dan menghasilkan keringat. Kulihat dada Firman yang bidang nampak berkilau. Keringat tidak hanya membasahi dadanya tapi juga dahi dan lehernya. Sekali lagi aku menggigit bibirku.


"Sayang," panggil Firman.


"Ya," jawabku, masih dengan melakukan peregangan cobra, pendinginan.


Firman mendekat ke arahku.


Firman berjongkok di depanku. Jarinya menyusuri dahiku yang berkeringat, lalu turun ke leherku.


"Man ...."


"Aku udah kunci pintunya," desisnya di telingaku.


"Maksudmu?" tanyaku dengan jantung berdebar kencang.


"Tiga puluh detikmu udah abis."


Dibantunya aku untuk bangun.


"Kamu mau, 'kan?" kata-katanya terasa berambigu bagiku.


"Mau apa?" tanyaku pura-pura polos, sedangkan pikiranku sudah kemana-mana.


Ditariknya pinggangku sampai kami berdempetan. Kedua tanganku sudah ada di atas dadanya.


"Sentuhlah sepuasmu. Ini milikmu," bisiknya.


Bibirnya sudah menempel di telingaku, membuatku merinding. Dibimbingnya tanganku menyusuri dadanya yang keras dan perutnya yang bak roti sobek itu.


Tubuhku mendadak kaku.


"Aku tau dari tadi kamu menahan diri. Sekarang, lakukanlah yang kamu mau," dihembuskan napasnya di leherku.


Firman sepertinya mengerti apa yang sedang kurasakan.


Napasku mulai tidak teratur. Sejak hari pertama menikah, belum pernah aku mendahuluinya dalam urusan yang satu ini. Namun, kali ini aku akan mengesampingkan rasa maluku. Aku menginginkannya, sangat menginginkannya.


Kudorong tubuh Firman ke atas matras yang ada di ruangan ini. Kutindih dia dengan tubuhku.

__ADS_1


"Kali ini biar aku yang memimpin," bisikku sambil mengecup bibirnya dengan penuh napsu.


"Silakan, aku ingin tahu seberapa liarnya kamu, Sayang," ujar Firman dengan senyum smirknya.


...


Aku masih terbaring di atas matras dengan selembar tissue menutupi wajahku. Rambutku yang tadinya dikuncir rapi, sekarang sudah tergerai di atas matras. Hampir dua jam aku di sini untuk melakukan olahraga bersama Firman.


"Kenapa, Sayang, kok mukanya ditutupin tissue?" ditariknya tissue dari atas wajahku.


"Aku malu," kuambil lagi tissue lain dan kuletakkan lagi di atas wajahku.


"Malu kenapa?" ditariknya tissue itu lagi.


"Ruangan ini juga berperedam kayak kamar kita, 'kan?"


Firman tertawa.


"Iya, emang kenapa?"


"Aku takut kedengeran sama yang lain."


Firman tertawa lebih keras.


Aku menggelengkan kepalaku berusaha mengenyahkan memori yang baru saja aku tambahkan ke dalam otakku. Perlakuanku pada suamiku tadi, benar-benar di luar kebiasaanku. Ditambah cermin yang mengelilingi ruangan ini, memperlihatkan dengan jelas apa yang kulakukan padanya.


"Aku suka kamu kayak gini," katanya di atas wajahku dengan senyum lebar. "Nakal dan liar."


Dua kata terakhir sukses membuat wajahku berubah warna. Kututup wajahku dengan dua tangan.


"Kenapa sih, Sayang? Sah-sah aja, 'kan kita kayak gitu. Kenapa mesti malu?"


"Aku di luar kontrol, Man."


"Tapi aku suka," ditariknya kedua tanganku.


Tiba-tiba Firman terdiam. Dia terlihat sedang mengingat sesuatu.


"Sayang, kamu udah dapet 'kan bulan ini?" tanyanya membuatku mengernyit.


"Udah, minggu kemarin. Nggak banyak sih, tapi cukup buat bikin kamu libur, 'kan," kataku mengingatkan.


"Makanya aku nanya. Atau kamu mau kita periksa aja?" tanyanya sambil menarik tubuhku agar masuk ke dalam dekapannya.


"Gimana kalau nggak? Mungkin hasrat aku lagi tinggi karena akhir-akhir ini aku olahraga terus."


"Iya, juga sih."


"Kamu pengen aku cepet-cepet hamil lagi ya, Man?"


"Bukan gitu. Aku udah bilang kan kalau aku akan tetap mencintaimu dengan atau pun tanpa anak. Aku cuma takut aja kalau kita terlambat tau jika kamu hamil, sedangkan kamu porsir tubuh kamu kayak gini cuma karena takut gendut."


Aku memikirkan apa yang Firman katakan.


"Oya, Sayang. Minggu depan aku minta Ibu dateng ke sini," katanya sambil mengusap dahiku yang masih berkeringat.


"Ibu 'kan sibuk, Man. Emangnya kenapa kok sampai ibu harus ke sini?"


"Aku ada urusan ke Jerman, Sayang. Dua minggu."


"Dua minggu? Lama amat!" seruku terkejut. Pasalnya sejak menikah Firman belum pernah meninggalkanku selama itu.


"Makanya aku minta tolong ibu temenin kamu sama Arum di sini. Kecuali kamu mau ikut," ujarnya.


Dia tahu betul kalau jawabanku adalah 'tidak'.


Moodku langsung hancur seketika. Aku merasa kesal sekali pada Firman. Aku langsung bangun dan berjalan ke ke luar ruangan.


"Sayang!" panggil Firman.

__ADS_1


Aku tidak mempedulikannya. Aku tetap pergi meninggalkan Firman sendiri.


__ADS_2