
Dari pantulan cermin, kulihat seorang pria berdiri tidak jauh di belakangku.
"Hen ...."
"Kamu nggak apa-apa, Lin? Tadi aku liat kamu jalan buru-buru sampai main tabrak aja," katanya dengan tatapan khawatir.
Aku berbalik menghadap ke arahnya.
"Aku mual, Hen," mataku langsung tertuju pada noda di jasnya yang terlihat baru dibersihkan dengan air.
"Orang yang aku tabrak tadi, kamu ya?"
"Iya. Makanya aku kejar kamu. Kamu nggak apa-apa?" dia berjalan mendekatiku.
"Aku nggak kuat kalau cium bau yang menyengat. Pasti langsung mual dan pusing. Maaf ya, aku jadi ngotorin jas kamu," sesalku.
"Nggak apa-apa. Apa selalu begini?" dia memandangku iba.
Aku mengangguk. Kakiku sudah mulai lemas. Tanganku tidak kuat terus menopang tubuhku yang berat. Aku mulai merosot di bawah wastafel.
"Lintang!" dengan sigap dia menahan tubuhku agar tidak sekaligus jatuh ke lantai. "Firman kemana, sih?"
Aku menggeleng. "Handphonenya ada di dalam tasku."
Sekarang posisiku terduduk di lantai, dengan dada Hendy sebagai sandaran. Perutku kembali menegang. Beberapa kali bayiku menendang, membuatku merintih. Sepertinya dia ikut merasakan kekhawatiranku saat ini.
"Aduh, gimana ini?" Hendy yang melihat keadaanku terlihat sangat bingung. "Bayimu nendang-nendang, ya?"
"Kalau aku merasa sakit, dia juga ngerasainnya, Hen. Begitu juga kalau aku ngerasa cemas, dia juga suka nggak bisa diem," ujarku sambil mengelus perutku yang meregang ke kanan dan ke kiri membuat perutku tidak berbentuk bulat sempurna.
"Dek, dek, tenang ya, Sayang. Kasian Mamamu kalau kamunya nendang-nendang terus," dia berusaha membantu dengan ikut mengelus perutku.
Bukannya tenang, bayiku malah semakin kuat menendang, membuat Hendy terkejut.
"Dia kayaknya nggak suka sama aku," lirihnya.
Meskipun lemas, mau tidak mau aku jadi tertawa mendengarnya.
"Ini Papanya kemana, sih?" katanya kesal. "Bisa berdiri, Lin? Aku bantu."
"Sebentar, Hen. Tubuhku masih lemas. Kepalaku juga masih agak pusing. Bisa tolong ambilkan handphone?"
Hendy segera membuka clutch dan mengambil sebuah handphone. Disodorkannya padaku. Aku segera menelpon Pak Anto untuk mencari Firman dan menyuruhnya menjemputku di toilet.
Hendy membantuku berdiri. Aku masih bersandar di dadanya. Rasanya dejavu merasakan kembali dadanya yang bidang dengan wangi woody yang hangat.
"Bisa jalan? Atau mau aku gendong?" tawarnya.
"Yakin mau gendong aku yang segede gini?" aku terkekeh. "Aku mau jalan aja, Hen. Aku nggak mau Firman berpikir macam-macam liat kamu gendong aku."
"Baiklah," dipapahnya aku keluar dari toilet. Sebelah tangannya memegang tanganku dan sebelah lagi menahan pinggangku.
"Seandainya dulu aku berani menghadapi Papa untuk melamarmu, mungkin sekarang anak di kandunganmu itu anakku, bukan anak Firman," katanya penuh penyesalan.
"Jangan pakai kata pengandaian, Hen. Memang jalan kita berbeda."
"Ya, kamu benar," kami berjalan pelahan menuju ruang acara.
Kulihat Firman berlari ke arah kami. Namun dia mendadak berhenti beberapa langkah di depanku. Dia memandang kami dengan pandangan yang tak kumengerti.
"Kamu dari mana aja sih, Man?" bentak Hendy. "Kamu nggak tau kalau istrimu ini hampir pingsan di toilet?"
Firman tampak terkejut mendengar Hendy membentaknya. Dia segera maju dan mengambil alih tubuhku dari tangan Hendy.
"Maaf, aku tadi cari-cari kamu di dalam, tapi nggak ketemu. Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanyanya sambil merangkul pinggangku dan menggenggam sebelah tanganku erat.
"Nggak apa-apa gimana? Dia muntah-muntah sampai pucet gitu," sambar Hendy.
"Hen, sejak kapan sih kamu jadi cerewet gitu?" sindirku.
"Habisnya suamimu, udah tau istrinya hamil gede malah dibawa ke tempat kayak gini."
"Yang mau pergi ke sini tuh aku, bukan dia," aku meringis merasakan tendangannya bayiku lagi.
Firman yang melihatnya, langsung mengelus perutku. Berusaha menenangkan anaknya di dalam sana.
__ADS_1
Hendy yang melihatnya langsung terdiam.
"Ya udahlah, karena suamimu udah datang, aku mau pergi," Hendy melangkah menjauhi kami.
"Hen!" panggilku, "Makasih banyak. Dan maaf aku udah ngotorin jasmu."
Firman langsung menoleh.
"Aku muntahin Hendy," kataku padanya.
"Maaf, Hen. Aku akan minta orang membawakan jas baru untukmu," ujar Firman cepat.
"Nggak usah, aku juga udah mau pulang. Lagian ini bukan kali pertama Lintang muntahin aku," katanya santai. "Yang penting kamu jaga baik-baik dia dan anaknya."
Hendy kembali memasuki ruangan acara.
"Maaf, Sayang. Tadi aku bener-bener khawatir nyariin kamu. Kamu nggak apa-apa?" Firman menelitiku dari atas ke bawah.
"Aku masih lemes, Man."
Tanpa aba-aba, langsung digendongnya tubuhku ini ala bridal style. Dia segera membawaku ke luar menuju Pak Anto yang sudah siap dengan mobilnya.
"Man, malu diliatin orang," kataku sambil menyembunyikan wajahku di dadanya.
"Biarin, paling juga besok pagi masuk koran," katanya masa bodoh.
Dia memasukkanku ke dalam mobil dengan hati-hati. Lalu dia ikut masuk ke dalamnya. Direbahkannya aku di pangkuannya dan tangannya terus mengelus perutku tanpa kata.
...
Semalaman Firman tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya memelukku dengan erat dan terus menciumiku. Sepertinya dia kembali merasa insecure.
"Man," panggilku saat pagi menjelang. Aku tidak suka suasana seperti ini. Kalau dia tidak mau bicara, biar aku yang bicara.
"Hemm ...," dia hanya menggeliat.
"Bangun Sayang, udah subuh," kuusap pipinya.
Firman membuka matanya pelahan. Aku berusaha tersenyum semanis mungkin agar mencerahkan suasana hatinya.
"Sayang ...."
"Please, Lin. Jangan ngomong apa-apa. Aku cuma ingin memelukmu," katanya sambil memejamkan mata lagi.
Kubiarkan dia memelukku. Aku tahu, dia hanya ingin menyatakan kepemilikannya atas diriku.
"Nanti kita kesiangan, lho," ingatku.
Akhirnya dia bangun dengan seutas senyum di wajahnya.
Selesai shalat, kami hanya bercengkrama di atas tempat tidur. Meski tidak banyak kata yang keluar dari bibirnya, aku tahu dia sudah merasa sedikit lega.
"Man, soal yang kemarin ...."
"Bisa jangan omongin apa pun tentang yang kemarin?" pintanya.
"Oke."
Aku berbaring di pangkuannya. Dia mengelus rambutku yang panjang.
"Kapan kita pulang ke Bandung, Man?" tanyaku.
"Habis mandi dan sarapan ya, Sayang," katanya sambil mengusap perutku.
"Oke. Kalau gitu cepetan mandi, biar kita bisa cepet pulang."
"Kenapa pengen cepet pulang? Kamu nggak mau jalan-jalan dulu?" tawarnya. "Mungkin kamu mau beli sesuatu di sini buat tambahan kamar bayi kita."
"Kamar anakmu udah penuh, Pa," ucapku penuh tekanan.
"Aku ingin yang terbaik untuknya. Setelah dia lahir, aku juga akan membuatkannya taman bermain di depan rumah kita. Sesuai janjiku pada kakaknya."
Diciumnya perutku. Dan seperti biasa, bayiku membalas ciuman Papanya dengan sebuah tendangan yang membuatku meringis.
"Bayi kita pasti cowok deh, tendangannya kenceng banget," ujarku sambil mengusap perutku untuk mengurangi rasa sakitnya.
__ADS_1
"Nggak ya, Dek. Kamu pasti cewek, kan? Abis Mama keliatan cantik banget selama hamil kamu," katanya sambil mendekatkan wajahnya ke perutku seolah mereka sedang berbincang.
"Aku yakin, pasti ganteng kayak Papa," kataku teguh pendirian.
"Enggak, pasti cantik kayak Mama," dia juga bersikukuh dengan keyakinannya.
Sejak awal kami memang sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak ini, agar nanti menjadi kejutan.
"Aku mau anak cowok mirip kamu."
"Aku mau miniatur dirimu."
Perselisihan kami terpotong suara dering telepon.
"Angkat aja," ujarku.
Firman beringsut dan mengambil handphonenya di atas nakas.
"Halo," sapa Firman ketika dia mengangkat panggilan itu.
" ... "
Dia seperti tidak menyukai apa yang dibicarakan lawan bicaranya.
"Kamu nggak bisa handle sendiri?" katanya lagi.
" ... "
Terlihat kerutan di keningnya.
"Ya udah, nanti bisa nggaknya, aku telpon lagi," kata Firman mengakhiri percakapannya.
"Kenapa sih, Sayang?" tanyaku dengan hati-hati.
"Ada yang nawarin kerja sama, tapi dia maunya ngobrol sama aku, nggak mau sama Reno," jawabnya.
"Terus?"
"Dia ngajak ketemuan pagi ini."
"Buru-buru banget," komentarku.
"Makanya itu ...."
"Tapi kalau sekiranya menguntungkan, ya pergi aja."
"Nggak! Hari ini aku cuma mau sama kamu dan bayi kita," didekatkannya lagi wajahnya ke perutku diciuminya perutku bertubi-tubi.
"Sayang, jangan digituin. Geli tau! Tuh kan dia langsung bereaksi."
Benar saja, bayi di perutku meregang. Entah apa yang dilakukannya di dalam sana sampai perutku tidak lagi berbentuk bulat. Rasa ngilu dan sakit, sekaligus geli merambati perutku.
"Aduuuh!" rintihku sambil memegang perutku yang kini lebih condong ke kanan.
"Sayang, tenang ya. Jangan keras-keras nendangnya, kasian Mama kesakitan," Firman mengelus perutku lagi dengan rasa bersalah.
"Sakit ya, Sayang?" tanyanya.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Seandainya bisa, aku bersedia menggantikanmu merasakan sakitnya."
"Udah, aku enggak apa-apa, kok. Biar aku yang ngerasainnya. Yang kamu harus lakukan sekarang adalah mandi. Aku bikin sarapan, terus kamu bisa berangkat," ujarku sambil menyisir rambutnya dengan jari.
"Aku nggak akan tinggalin kamu sendirian," ujarnya sambil menggenggam tanganku.
"Kan bentar lagi juga Bi Sumi dateng," kataku menenangkan.
...
Aku baru saja mengantar Firman ke depan pintu, ketika ada yang mengetuknya lagi.
"Kebiasaan. Pasti deh kalau buru-buru ada yang ketinggalan," gerutuku sambil berjalan ke arah pintu dengan menopang perutku yang buncit.
Kubuka pintu lebar-lebar. Dan ...
__ADS_1
Brug!