Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Berdamai


__ADS_3

"Happy First Wedding Anniversary, Honey," bisik Firman di telingaku.


What? Wedding Anniversary? Aku benar-benar lupa! Kenapa aku selalu saja lupa pada momen-momen penting sih? Kemarin ulang tahun Firman, sekarang hari jadi pernikahan kami. Payah! Terlalu banyak yang aku pikirkan di luar sana.


"Happy Wedding Anniversary juga, Man," kubalas bisikannya.


"Maaf, kupikir kamu nggak akan pulang hari ini, jadi aku belum membeli apa pun buat kadomu," kuusap pipinya yang ada di depan wajahku.


"Kamu adalah kado terindah di sepanjang hidupku, Lin. Aku nggak butuh kado lain, aku cuma mau kamu selalu ada di sisiku."


Kuberi dia kecupan sekilas di bibir, "Terima kasih, Man."


Aku memilih bangun dan duduk. Kantukku sudah hilang sama sekali. Firman pun ikut duduk bersamaku.


"Kamu nyampe jam berapa?" tanyaku.


"Jam sebelas."


"Terus, kamu udah makan? Mau aku bikinin teh?" tawarku.


"Ini udah jam satu, Lin. Satu-satunya yang pengen aku makan jam segini tuh, cuma kamu," ujarnya sambil menarikku agar kembali berbaring.


"Baru juga nyampe, ngomongnya udah kemana-mana," kataku sambil tersipu.


"Udah dua hari, Lin. Aku kangen kamu," diciumnya pipiku.


"Istirahat dulu, baru ...," belum selesai aku bicara, Firman sudah menindihku.


"Anggap aja ini kado pernikahan dariku, terima ya," tanya menunggu jawaban, Firman sudah memulai aksinya.


...


Pagi-pagi sekali, Mama dan Ibu sudah menelponku untuk memberikan selamat. Dilanjutkan oleh Arum yang juga memberikan selamat atas ulang tahun pernikahan kami.


Aku menunggu apa yang akan Firman berikan untukku sebagai hadiah, selain nafkah batin tadi malam tentunya. Namun Firman tidak juga memberikan tanda-tanda akan memberi kejutan seperti biasanya.


"Sayang, hari ini kamu nggak usah ngantor, ya," pinta Firman di meja makan.


"Memangnya kenapa?" tanyaku.


"Aku mau ajak kamu jalan-jalan," katanya. "Seingatku, kita nggak pernah jalan-jalan sekitar sini sejak kita tunangan."


Sepertinya Firman benar. Sejak kami bertunangan, kami belum pernah menyengajakan diri untuk sekedar jalan-jalan keliling kota. Kami hanya pergi untuk keperluan tertentu.


"Mumpung belum weekend, jadi nggak terlalu macet," katanya.


"Boleh," aku langsung menelpon Mas Bima dan Sasa, memberitahukan bahwa aku tidak akan berangkat bekerja.


"Arum, mau ikut?" tawarku.


"Nggak ah, Mbak. Aku ada kuliah," jawabnya.


"Tapi nanti kalau kamu udah pulang, terus kami belum, kamu samperin Mas sama Mbak, ya," kata Firman.


"Iya, Mas."


Dan kami pun melaju hanya berdua, tanpa Arum dan tanpa sopir. Sepanjang jalan, dia terus saja memegang tanganku dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah tangannya memegang kemudi.


"Ini masih pagi lho, Sayang. Belum ada tempat hiburan yang buka," kataku sambil menengok ke kanan dan ke kiri di daerah Jalan Riau.


Kulirik jam tanganku. Pukul 09.02 WIB.


"Kamu mau kemana, Sayang? Nonton? Makan?" tanya Firman.


"Jangan nonton, nggak ada film yang seru. Kalau makan, nanti siang aja," ujarku. "Gimana kalau kita ke area permainan?"

__ADS_1


"Time zone?"


"He eh."


"Mau main apa? Main basket, di rumah ada. Emang kamu mau ngedance? Nggak malu gitu? Atau main tembak-tembakan? Kan udah tadi malem," kata Firman sambil tertawa.


Kucubit pinggangnya sekecil mungkin.


"Aww! Sakit, Sayang."


Aku memberengut sebal.


"Maaf, maaf. Ya udah kita main ke Time Zone. Biar nggak malu-malu banget, kita ajakin anak panti, yuk," usulnya.


"Ajakin anak panti? Serius, Man?" tanyaku tak percaya.


"Serius, dong. Kita berbagi kebahagiaan bersama mereka," katanya dengan senyum merekah.


"Makasih, Sayang. Aku seneng banget," kataku hendak memberikan sebuah ciuman, tapi terhalang safety belt. "Nanti aja deh ciumnya."


Firman tertawa. Diputarnya arah tujuan kami ke Jalan Suci. Jalanan yang lenggang membuat perjalanan kami hanya membutuhkan beberapa menit.


Begitu sampai, kami langsung memasukkan mobil ke halaman. Di sana sudah ada sebuah mobil lain yang kuingat jelas plat nomornya. Jantungku berdetak kencang. Aku tidak percaya dia ada di sini.


"Ayo, Sayang," dibukakannya pintu mobil untukku.


"I-iya, Man," kataku terbata.


Firman sepertinya tidak menyadari kegugupanku.


Di teras, kulihat Bunda Shinta sedang mengobrol dengan seorang pria yang sedang memangku si Kecil Arya, anak panti yang baru berumur empat tahun.


Arya yang melihatku dan Firman mendekat, langsung turun dari pangkuan si Pria dan berhambur ke arah kami.


"Ayah! Bunda!" Arya merentangkan tangan dan langsung diterima oleh Firman. Diangkatnya tubuh mungil itu dan dilemparnya ke udara.


Firman langsung menghentikan langkahnya ketika pria itu berdiri dan melihat ke arah kami.


"Hendy," gumamnya.


Aku bingung harus berbuat apa melihat situasi seperti ini.


"Arya, sini, Sayang," Bunda Shinta mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil Arya.


"Arya mau sama Ayah Firman dulu, Bun," katanya.


"Nggak apa-apa, Bun. Biar Arya saya gendong dulu," ujar Firman.


Dia menoleh ke arahku dan menggenggam tanganku erat.


Arya memeluk leher Firman dengan erat. Dia terlihat senang kami datang.


"Bunda Lintang, itu ada Om Hendy," celetuk Arya.


Ya, dulu Hendy sering menemaniku ke panti asuhan, sehingga dia akrab dengan semua penghuni panti, termasuk Arya, Sandy dan Angga.


"Apa kabar, Pak Hendy?" tanpa disangka-sangka, Firman melepaskan genggaman tangannya dari tanganku dan menyodorkannya pada Hendy.


Jantungku memompa darah lebih cepat. Aku lupa menceritakan tentang Hendy, sekarang mereka malah bertemu di sini.


Tangan Firman melayang di udara, tidak mendapat sambutan. Hendy malah melihat ke arahku. Namun detik berikutnya, tangan Hendy terangkat dan membalas salam dari Firman.


"Seperti yang Anda lihat, saya baik-baik saja, Pak Firman," jawabnya dingin.


Firman hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


"Ayo masuk dulu semua," Bunda Shinta memecahkan kecanggungan yang ada.


Firman menurunkan Arya ketika kami hendak duduk. Anak kecil itu memilih berpindah ke pangkuanku.


"Tumben pagi-pagi ke sininya," ujar Bunda Shinta.


"Iya, Bun. Kebetulan kami tadi baru mau jalan-jalan, tapi keingetan sama anak-anak. Jadi kami kesini buat ngajakin anak-anak main," jelas Firman.


"Wah, anak-anak pasti seneng," kata Bunda.


"Kalau Bunda mengizinkan, kami mau mengajak semua anak panti untuk main hari ini," kataku ikut bersuara.


"Tentu saja boleh," kata Bunda Shinta sambil tersenyum. "Sebentar ya, Bunda cek dulu, berapa orang yang ada."


Bunda Shinta meninggalkan kami berempat di ruang tamu. Tak ada suara yang terdengar, kecuali celotehan Arya padaku. Suasananya terasa begitu tidak menyenangkan.


Bunda Shinta kembali bersama kami.


"Paling enam belas orang, Lin. Itu juga sama yang sebentar lagi pulang sekolah. Yang lain pulang sekolahnya siang," kata Bunda.


"Nggak apa-apa, Bun. Biar saya siapkan mobilnya," kata Firman.


"Sebaiknya saya segera pamit, Bun. Besok saya harus kembali ke Semarang. Saya ke sini buat ngobatin kangen aja sama anak-anak," Hendy akhirnya membuka suara.


"Kenapa nggak ikut kami aja, Pak Hendy? Saya yakin, pasti anak-anak senang Anda ikut. Anda deket sama anak-anak, 'kan? Sandy pernah cerita sama saya, kalau Anda yang selalu menemani dia bermain basket," Firman berkata begitu lancar, seolah tidak pernah ada masalah di antara mereka.


Aku menunggu jawaban dari Hendy dengan hati berdebar.


"Nggak usah, nanti saya malah mengganggu acara kalian," jawabnya.


"Nggak, kami akan sangat senang kalau Anda mau ikut menjaga anak-anak ini. Iya, 'kan, Lin?"


"Eh ... iya," aku tidak siap ditanya seperti itu.


Hendy melihat ke arahku. Aku hanya bisa menunduk.


"Baiklah," katanya akhirnya.


"Yeeee! Kita pergi jalan-jalan ya, Bun," sorak Arya.


"Iya, kita pergi sama-sama, ya," ujar Firman.


Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di depanku. Suamiku yang menaruh cemburu teramat besar pada mantanku, kini mengajaknya pergi bersama kami. Mimpi apa aku semalam?


Firman sudah menelpon travel agentnya untuk meminta dua buah mobil travel yang berkapasitas besar.


Kami semua sudah bersiap, tinggal menunggu mobil yang akan menjemput kami.


Kutelusupkan jari-jariku di antara jari Firman. Firman yang berdiri di sampingku langsung menoleh.


"Kulo tresno kaliyan sampeyan, Mas," bisikku.


Firman tersenyum geli mendengar kata-kataku.


"Tumben pake bahasa Jawa," ujarnya.


"Biar lebih romantis," kataku sambil nyengir.


Ditariknya ujung hidungku dengan keras sampai aku mengaduh. Lalu diciumnya pipiku dengan cepat.


"Ih!" kudorong tubuhnya menjauh.


Dia masih terkekeh.


Di sudut mataku, kulihat Hendy memperhatikan interaksi kami.

__ADS_1


Maafkan aku, Hen.


__ADS_2