
Aku segera pulang setelah mengantar Elang sekolah. Tak lupa kuingatkan Pak Min untuk mampir ke pasar sebelum pulang.
"Pak Min tunggu di Mc. D aja, ya. Biar saya turun sendiri cari jambu airnya," ujarku pada Pak Min.
"Mau saya anter, Mbak?" tawar Pak Min.
"Nggak usah, Pak. Makasih. Lagian kok ya tumben Mas Firman minta jambu air," selorohku sambil turun dari mobil.
Aku sudah mengitari pasar tradisional yang tidak terlalu luas itu, tapi belum juga menemukan penjual jambu air.
"Firman mintanya kok jambu air, sih. Kenapa nggak minta mangga atau jeruk aja yang banyak," gumamku.
Karena tidak menemukan penjual jambu air, aku berniat segera pulang. Namun tiba-tiba seorang penjual rujak lewat di depanku sambil mendorong gerobaknya.
"Mang! Rujak!" teriakku.
Penjual rujak itu segera berhenti dan menoleh ke arahku.
"Mau jambu airnya semua ya, Mang," ujarku setelah berdiri di depan gerobaknya.
"Sadayana, Neng¹?" tanyanya memastikan.
"Muhun, Mang²."
"Eneng nuju nyiram³?" tanya si Penjual Rujak membuatku terlonjak.
"Nggak, Mang," jawabku buru-buru.
"Oh, kirain Mang teh, Eneng lagi ngidam," kata Penjual Rujak itu sambil tersenyum.
Aku segera membayar jambu air itu dan berlalu setelah mengucapkan terima kasih.
Ngidam? Masa sih, Firman ngidam?
Begitu sampai ke rumah, aku segera masuk ke kamar, ingin memastikan bahwa Firman baik-baik saja.
"Man, Firman!" panggilku.
"Iya, Sayang," terdengar sahutan dari kamar mandi.
"Kamu udah mandi? Katanya nggak enak badan. Padahal jangan mandi dulu," cerocosku ketika melihat Firman sudah berpakaian rapi.
"Aku udah baikan, Sayang," katanya sambil menarik tanganku. "Makasih, ya. Maaf kamu jadi repot gara-gara aku."
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu udah sehat," ujarku sambil membelai pipinya yang mulai dihiasi jenggot-jenggot kecil.
Diambilnya tanganku dan dikecupnya. Kebiasaan yang sudah mendarah daging.
"Kamu wangi banget, Sayang," ujarnya sambil mengendus tanganku.
"Masa sih? Aku nggak pake parfum, kok," sanggahku.
"Beneran," dia terus mengendus, membuatku risih.
"Buburnya udah abis?" aku mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Aku muntahin lagi," jawabnya.
"Kamu harus makan, Sayang. Nanti kamu masuk angin. Makan lagi, yuk!" ajakku.
"Aku nggak mau bubur," katanya.
"Terus mau apa?" tanyaku dengan kening berkerut.
"Mau ... kamu."
Aku langsung menelan salivaku.
"Katanya kamu sakit? Masa mau begituan pagi-pagi?" elakku.
"Aku nggak tau, Lin. Tapi liat kamu, cium bau kamu, pikiranku langsung ke arah sana," jawabnya.
"Modus kamu."
"Biarin," langsung ditariknya pinggangku, membuatku menempel di dadanya.
Harum sabun beraroma sakura memanjakan hidungku. Firman terlihat jauh lebih segar setelah mandi.
Dia mulai mengendus lagi.
"Kenapa sih, Man?" tanyaku aneh.
"Baumu, Sayang," dia terus menciumi bahu hingga leherku. Sesekali memberikan gigitan kecil di sana, membuatku berjengit.
__ADS_1
Firman mendorongku hingga jatuh ke tempat tidur.
"Sebentar, ya," mohonnya.
Aku hanya bisa mengangguk.
Tanpa bertanya lagi, dia segera mencumbuku. Membuat suasana kamar ini lebih panas daripada cuaca di luar. Tak hanya sekali, Firman bahkan melakukannya berulang-ulang.
"Man, kita harus jemput Elang, lho," ingatku sambil menutup bibirnya yang terus menciumiku.
"O, iya," jawabnya menyebalkan.
"Udah, cepetan mandi lagi sana," kataku sambil mendorong dadanya.
"Sekali lagi, ya Sayang," pintanya.
"Nanti telat jemputnya," alasanku.
"Ya udah, sambil mandi aja," katanya sambil menggendongku ke dalam kamar mandi.
Tubuhku benar-benar terasa lelah. Namun Firman terlihat baik-baik saja. Dia malah membantuku berpakaian.
"Sayang, tadi dapet jambu airnya?" tanyanya sambil mengancingkan dressku.
"Dapet, tapi makan dulu, ya," ucapku. "Aku taruh di dapur tadi."
Setelah berpakaian, kami segera menuju dapur.
Aku di dapur membuatkan sandwich isi fillet ayam dan sayuran, sedangkan Firman menunggu di meja makan. Namun, betapa kagetnya aku, ketika aku kembali, Firman sudah hampir menghabiskan jambu air yang tadi kubeli. Hanya tersisa beberapa buah di atas piring.
"Sayang ... aku bilang apa tadi?" tanyaku sambil melotot.
"Tapi ini seger, Sayang."
"Iya, tapi makan dulu," kataku sambil mendorong sandwich yang kubuatkan untuknya.
Tanpa banyak kata, Firman langsung menyantap sandwich itu. Aku takjub dibuatnya. Rasanya aku belum pernah melihat Firman makan selahap itu.
"Mau muntah lagi?" tanyaku.
Dia menggeleng.
"Yuk, kita jemput Elang," katanya. "Biar aku yang nyetir."
"Sama Pak Min, aja," saranku. "Nanti kamu capek."
Firman terlihat sehat dan bersemangat, jauh berbeda dengan keadaannya tadi pagi. Aku hanya memperhatikan tanpa berkomentar.
Sepanjang jalan menuju sekolah Elang, Firman bersenandung kecil. Hal yang jarang sekali dia lakukan. Biasanya dia akan bernyanyi bila memegang gitar. Aku menatapnya lama. Ini benar-benar di luar kebiasaannya.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata tukang rujak itu. Ngidam? Mungkinkah? Tapi beberapa hari yang lalu aku mengetesnya, hasilnya masih garis satu.
Aku mulai menghubungkan semua yang terjadi sejak tadi pagi. Firman muntah-muntah, minta jambu air, mencium bau-bauan yang tidak biasa, hasratnya yang begitu tinggi, napsu makan yang besar ... rasanya aku pernah merasakan semua itu saat aku hamil Elang.
"Man, abis dari sekolah Elang, kita ke rumah sakit, yuk!" ajakku.
"Aku udah nggak apa-apa kok, Sayang," katanya sambil menggenggam tanganku yang ada di atas pangkuan.
"Bukan gitu, tapi ...."
"Nggak usah khawatir. Aku baik-baik aja," jawabnya sambil tersenyum.
Ya, sudahlah. Mungkin aku terlalu mengada-ada. Mungkin aku terlalu terobsesi ingin segera hamil, sehingga menghubung-hubungkannya. Siapa tahu memang hanya kebetulan.
"Daripada ke rumah sakit, gimana kalau kita ke playground ? Itung-itung ajak Elang main," usulnya.
"Ya, terserah kamu aja," jawabku.
Benar saja, begitu Elang ke luar dari gerbang sekolahnya, Firman langsung membawa kami ke tempat bermain. Kami bermain hingga sore hampir menjelang.
Kami pulang dengan tubuh lelah.
"Ayo, Sayang, Mama mandiin dulu," ujarku sambil menggiring Elang masuk ke kamarnya.
"Biar sama aku aja, Lin. Kamu mandi aja, gih. Kamu keliatan capek banget," kata Firman sambil mengusap rambutku.
"Nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa lah," katanya sambil tersenyum.
...
Lagi, aku terbangun dari tidurku karena mendengar seseorang muntah-muntah di kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa lagi?" tanyaku sambil berjalan mendekatinya.
Firman menggeleng. Dia terus-terusan muntah tanpa mengeluarkan apa pun.
"Aku telpon Dokter Deni, ya," ujarku sambil membantunya bersandar ke kepala tempat tidur.
Firman hanya bisa pasrah. Aku segera menelpon dokter keluarga itu.
"Ini, Sayang," kusodorkan secangkir teh hangat untuk Firman. Kulap dahinya yang berhiaskan tetesan-tetesan keringat dingin.
"Makasih, Sayang," segera diminumnya air itu hingga tandas.
"Baikan?" tanyaku.
Firman mengangguk.
Terdengar ketukan di pintu, aku segera berdiri untuk membukanya.
"Dokter Deni," sapaku pada dokter keluarga yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu.
"Kata Bi Sri, Firman muntah-muntah, Lin?"
"Iya, Dok," ucapku sambil membawanya ke tempat Firman berbaring.
"Kenapa, Man?" tanya Dokter Deni sambil mengeluarkan peralatannya. Diceknya tekanan darah suamiku.
"Nggak tau, Dok. Dari kemarin, tiap bangun pagi selalu mual, tapi siangnya nggak," jawab Firman.
"Makan mau?" tanyanya sambil menekan stetoskop di dada Firman.
"Makannya banyak, Dok. Malah lebih banyak dari biasanya," kali ini aku yang menjawab.
Dokter Deni tersenyum, "Kamu nggak apa-apa kok, Man. Lambungmu pun baik-baik aja."
Dokter Deni membereskan stetoskopnya.
"Ada keluhan lain?" tanyanya.
"Dari kemarin maunya buah-buahan dan minuman yang seger-seger, Dok," timpalku. Aku jadi ingat Firman menghabiskan beberapa cup jus sirsak dan jeruk selama menunggu Elang bermain.
Tiba-tiba Dokter Deni tertawa.
Aku dan Firman saling pandang. Bingung melihat Dokter Deni seperti itu.
"Waktu hamil Elang, siapa yang ngidam?" tanyanya aneh.
"Saya, Dok," ujarku.
"Kayak gitu, nggak?"
"Kayak apa maksudnya?" aku masih tidak mengerti.
"Kayak Firman sekarang, nggak?"
"Lebih parah," ujarku sambil mengingat-ingat.
"Coba deh, yang diperiksa Lintang, bukan Firman," saran Dokter Deni.
"Saya hamil maksudnya, Dok? Saya juga kepikiran gitu, sih. Namun saya cek, hasilnya negatif."
"Ke dokter kandungan?"
"Nggak, pake testpack."
"Coba USG, Lin. Kalau pake testpack, kehamilannya masih muda suka nggak kedeteksi. Siapa tau kamu beneran hamil, tapi Firman yang dapat jatah ngidam," Dokter Deni tertawa lagi.
Firman langsung membulatkan matanya. Aku bisa memperkirakan apa yang ada di pikirannya.
Begitu Dokter Deni keluar dari kamar, Firman langsung menarikku ke pelukannya.
"Man, ini baru perkiraan. Jangan seneng dulu," bisikku.
"Aku rela kalau ini beneran ngidam. Dulu aku ingin sekali menggantikanmu merasakan sakitnya melahirkan, tapi kan nggak mungkin. Setidaknya sekarang aku bisa merasakan nggak enaknya morning sickness menggantikanmu," katanya sambil mengecup puncak kepalaku.
Aku sangat terharu mendengarnya. Semakin lama kami bersama, dia semakin mencintaiku. Betapa beruntungnya aku.
Dia menunduk dan mengecup bibirku singkat.
"Cepetan mandi. Abis anter Elang ke sekolah, kita ke rumah sakit," ujarnya sambil menyentil ujung hidungku.
*Keterangan :
Sadayana, Neng? : Semuanya, Neng?
__ADS_1
Muhun, Mang : Iya, Mang
Eneng nuju nyiram? : Eneng lagi ngidam*?