Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Ekstra Part - Aku merindukanmu yang dulu


__ADS_3

POV Lintang


Keadaan terasa begitu sulit untukku. Kehamilan yang sudah memasuki bulan kedelapan, Elang yang sedang aktif-aktifnya, juga Firman yang amnesia.


Semuanya butuh energi dan perhatian ekstra. Untung saja, aku punya banyak bala bantuan dalam hal ini.


Untuk pengobatan Firman, aku benar-benar melakukan apa yang aku janjikan kepada orang tua kami. Kucari dokter terbaik untuknya, meski aku harus banyak berkorban waktu dan tenaga.


"Kamu nggak apa-apa, Lin?" tanya Firman ketika dia melihatku meringis mengusap perutku yang besar ini. Kami baru saja keluar dari sebuah rumah sakit di Jakarta setelah terapi okupasi. Terapi untuk membantunya mengingat.


"Perutku sakit, Man. Kram." Kusangga bagian bawah perutku dengan tangan.


"Kita periksa langsung ke dalam, ya," ajaknya.


"Nggak ah, nanti aja sama dokter Riana," ujarku sambil duduk pelahan di sebuah kursi taman.


"Jangan bikin saya khawatir, Lin," katanya.


"Kenapa kamu khawatir? Kamu kan nggak inget aku ini siapa, ini anak siapa," sindirku. Ya, sudah seminggu sejak Firman pulang, tapi tak ada yang dia ingat. Terapi, obat-obatan, alat bantu mengingat, semua sudah kami coba. Namun, tetap saja Firman tidak mengingat apa pun. Aku tahu, ini belum apa-apa, aku akan terus berusaha.


"Lin, jangan bikin saya tambah bingung," keluhnya.


"Man, jangan bilang 'saya' dong. Aneh dengernya."


"Kamu juga suka aneh, kamu panggil saya 'Firman', tapi di depan Ibu, kamu panggil saya 'Mas'. Kenapa tidak panggil saya 'Mas' juga kalau kita sedang berdua?" katanya.


"Apa aku harus jelaskan?" tanyaku sambil menyipitkan mata.


"Kalau kamu tidak keberatan," ujarnya.


"Yakin kamu nggak akan malu?"


"Apa alasannya memalukan?" tanyanya aneh.


Aku tertawa. "Kenapa aku nggak pernah panggil kamu 'Mas' kalau kita sedang berdua, karena ...," kupotong kalimatku.


"Karena apa?" desaknya penasaran.


"Sini aku bisikin." Firman mendekatkan telinganya ke wajahku. Kubisikan alasannya. Wajahnya tiba-tiba berubah warna menjadi merah padam.


Aku tertawa terpingkal-pingkal melihat mimik wajahnya yang terlihat sangat malu.


"Elang itu hasil aku memanggilmu 'Mas' waktu kita di Yunani." Aku masih belum bisa menghentikan tawaku.


"Apa saya semesum itu, Lin?" tanyanya tak percaya.


"Lebih parah dari itu," ungkapku.


"Apa kamu bahagia hidup dengan saya?"


Aku langsung diam. "Kamu beneran amnesia nggak, sih, Man? Nggak lagi sadar, nggak amnesia, nanyanya sama."


"Benarkah?" tanyanya.


"Ya, hampir tiap malam sebelum tidur, kamu selalu menanyakan hal yang sama."


"Dan jawabannya?"


"Aku bahagia, Man." Kuusap pipi suamiku itu. Dia memejamkan mata, menikmati sentuhanku.


Dipegangnya tanganku, lalu dikecupnya lama. Kebiasaan yang selalu dia lakukan. Aku terkejut. Bagaimana dia bisa melakukannya?

__ADS_1


Dia melihat keterkejutanku. Lalu menyadari apa yang telah dia lakukan. Segera dilepaskannya tanganku.


"Maaf," lirihnya. "Saya tidak bermaksud kurang ajar."


Aku menggeleng. "Aku nggak apa-apa, Man. Aku malah seneng, setidaknya aku tau kalau secara tidak sadar, kamu tetap Firmanku. Nggak ada yang berubah darimu."


Firman melihatku dengan intens. Masih belum memahami apa yang kukatakan.


"Kamu ingat, kemarin sore ketika Bi Sri akan membuatkanku susu, kamu bilang, kalau sore bikin aja yang rasa strawberry, jangan coklat. Dari mana kamu tau kalau ada susu rasa strawberry di dapur? Dan dari mana kamu tau kalau sore aku nggak minum rasa coklat, tapi rasa strawberry?"


Firman terlihat bingung. Akhirnya dia menggeleng.


"Itu karena di alam bawah sadarmu, kamu masih menyimpan semua memori itu. Karena memang kamu yang tiap hari membuatkanku susu," jelasku.


Dia tampak berpikir.


"Semoga saya segera ingat semuanya, Lin. Secepatnya. Ya udah, yuk, kita pulang." Firman membantuku untuk berdiri.


"Aw!" teriakku ketika ada rasa seperti gigitan semut di betisku.


"Kenapa?" Firman terlihat cemas.


"Sekarang kakiku yang kram," lirihku sambil kembali duduk.


Firman tiba-tiba berjongkok di depanku. Dilepaskannya flat shoes yang kupakai dan diangkatnya kakiku ke atas lututnya.


"Man, jangan!" tolakku ketika Firman mulai memijat kakiku pelahan.


"Sakit?" tanyanya tanpa mendengar penolakanku.


Aku mengangguk.


"Sebentar, ya," dia memijat betisku pelahan.


Rasanya tak ada yang berubah dari Firman, amnesia atau tidak, dia tetap begitu perhatian. Meskipun sampai saat ini kami tetap menjaga jarak.


"Lebih baik?" tanyanya membuyarkan lamunanku.


"Iya, makasih, Man." Aku mencoba berdiri dan melangkah.


Firman dengan sigap mengambil tanganku dan memegang pinggangku. Seketika aku merindukannya, merindukan dirinya yang dulu. Merindukan sentuhannya, ciumannya, kata-kata romantisnya ...


Setetes air mata lolos dari mataku.


Firman yang melihatku menangis segera melepaskan semua pegangannya.


"Maaf Lin, saya reflek melakukannya. Maaf kalau kamu tidak berkenan."


"Aku merindukanmu, Man. Aku merindukanmu yang dulu. Aku nggak mau kamu yang kayak orang asing." Air mata malah saling berlomba berseluncur di pipiku.


"Maaf bila saya belum ingat apa pun. Maaf bila membuatmu kecewa," ucapnya.


Aku menggeleng cepat.


"Nggak, Man. Ini bukan salah kamu, aku yang terlalu egois. Maaf. Sebaiknya kita segera pulang. Kasian Ibu kalau Elang berulah di rumah," ujarku sambil mengaitkan tanganku pada tangannya.


Eyang Putrinya Elang itu mengkhawatirkan anak dan menantunya, beliau memilih tinggal di rumah kami sampai aku melahirkan. Sedangkan Bapak kembali ke Semarang. Mama dan Papa pun hampir setiap hari mampir untuk melihat keadaan kami.


Firman kembali menuntunku dengan kaku menuju mobil yang sudah menunggu. Dan Pak Min segera melajukan kendaraan itu menuju ke Bandung.


...

__ADS_1


Dua minggu telah berlalu, pagi ini aku ada rapat dengan beberapa orang dari kantor pusat. Aku meminta agar rapat diadakan di rumah. Di rumah ada sebuah ruangan luas yang biasa Firman pakai sebagai kantor ketika dia bekerja di rumah.


"Kamu mau ke mana, Lin?" tanya Firman yang baru saja masuk setelah mengantar Elang ke sekolah. Dia melihatku dari kepala sampai ujung kaki.


"Hari ini ada rapat, Man."


"Dengan orang -orang itu?" Dia menunjuk ke arah mobil-mobil yang berjajar di halaman.


"Iya."


"Apa harus kamu yang rapat?" tanyanya.


"Harusnya kamu. Tapi karena kamu mengalihkan separuh sahammu padaku sebagai hadiah ulang tahun yang ke tiga puluh, tiga tahun yang lalu, jadi aku yang sekarang memegang kendali."


"Apa itu nggak akan menambah beban tugas dan pikiranmu?"


"Abis gimana? Aku nggak mau menumpuk pekerjaan. Nantinya toh tetap harus dikerjakan juga," ujarku.


"Biarkan aku juga ikut rapat," pintanya.


"Silakan. Kalau gitu kamu ganti baju dulu. Nggak enak sama yang lain." Kudahului Firman masuk ke dalam kamar.


"Boleh aku masuk?" tanyanya di depan pintu.


"Masuk aja, ini juga kamar kamu," jawabku dari ruang ganti. Kuambilkan satu set jas untuknya.


Firman berdiri di depan dinding yang dipenuhi fotoku. Memang sejak dia datang ke rumah ini, baru dua kali dia masuk ke kamar ini. Jadi, dia belum sempat memperhatikan semuanya dengan seksama. Dia menolak ketika aku menawarkan kamar ini untuknya. Dia memilih kamar tamu sebagai kamarnya. Dia bilang, dia akan kembali ke kamar kami, ketika dia ingat semuanya.


"Apa ini ... kita?" tanyanya sambil menunjuk sebuah foto.


"Iya," jawabku singkat.


"Sejak kapan aku mulai mencintaimu?"


"Sejak kelas satu SMP, itu katamu. Aku nggak tau pasti," jawabku sambil menariknya ke arahku. "Cepetan ganti baju. Aku nggak mau telat."


Firman masih terus saja melihat ke arah foto-foto itu, tanpa melakukan apa pun.


"Firman cepetan. Nggak enak yang lain nungguin, mereka datang dari luar kota, lho."


Firman mulai membuka shirtnya dengan mata tetap terpancang di dinding itu.


Aku senelan salivaku melihat tubuhnya yang sudah lama tak kusentuh.


Firman mengancingkan kemejanya satu persatu.


"Sini aku bantuin. Kamu lama," ujarku. Dengan cepat kukancingkan kemejanya.


Kuambil sebuah dasi yang senada dengan kemeja itu.


"Turun dikit. Kamu ketinggian, aku nggak nyampe," pintaku pada Firman.


Firman menunduk sedikit, hingga wajah kami sejajar. Jarak wajah kami begitu dekat, hingga kurasakan hembusan napasnya yang hangat. Matanya melihat ke arahku tanpa berkedip. Begitu pun denganku. Kuselami mata teduh yang selalu menenangkanku itu.


Entah dorongan dari mana, dan entah siapa yang memulai, tanpa sadar bibir kami sudah bertautan. Saling mengulum dengan lembut dan penuh perasaan. Kukalungkan kedua tanganku di lehernya, dan tangannya menarik tengkukku untuk memperdalam ciumannya.


Kami benar-benar terhanyut. Kerinduanku padanya akhirnya terluapkan. Dan dia memberikan jawaban atas kerinduanku ini tanpa menjedanya sedikit pun.


Akhirnya kuakhiri ciuman kami. Napasku tersengal. Kuhirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paruku. Juga untuk menghilangkan rasa panas di wajah.


"Aku mencintaimu, Sayang." Tiba-tiba dibisikannya kalimat itu lirih di telingaku.

__ADS_1


Mataku membulat sempurna. Kuangkat wajahku untuk memastikan yang kudengar.


"Kamu ... kamu ingat sesuatu, Man?" tanyaku dengan hati berdegup kencang.


__ADS_2