Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Ekstra Part - Drama Firman


__ADS_3

Saat ini kami sedang duduk di depan dokter kandungan yang dulu menangani kehamilanku saat mengandung Elang.


Keinginanku untuk memiliki anak lagi semakin bulat. Namun, tidak bagi Firman. Setelah dia menyetujui keinginanku dan Elang, sekarang dia justru terlihat amat tidak suka. Kenapa? Karena dia baru mengetahui bagaimana cara melepas IUD. Dia tidak mau aku diperlakukan demikian.


"Man, please ...," bisikku pelan.


"Nggak!"


"Toh, suatu saat juga pasti dilepas. Dan caranya juga tetep gitu. Masa aku harus dioperasi lagi cuma buat ngelepas KB," ujarku dengan wajah memelas.


"Tapi itu pasti sakit, Lin," katanya bersikeras.


"Ya pasti sakit," ujarku. "Tapi nggak sesakit melahirkan 'kan, Dok?" tanyaku meminta bantuan pada Dokter Riana.


Dokter Riana hanya mengulum senyum. Dia tahu betapa overprotectivenya Firman padaku.


"Iya, Pak Firman. Saya usahakan pelan-pelan," ujarnya.


Elang yang sejak tadi duduk di pangkuan Firman hanya menonton drama orang tuanya dengan tatapan bingung.


"Jadi kapan babynya bisa dibawa pulang?" tanyanya polos.


Dokter Riana tertawa mendengar celoteh Elang.


"Elang Sayang, babynya nggak instan, Nak. Punya baby membutuhkan waktu," kataku berusaha menjelaskan.


"Jadi, nggak bisa dapat baby sekarang?" tanyanya.


"Nggak, apalagi kalau Papa nggak ngizinin Bunda lepas KB nya," aku pura-pura memasang wajah sedih.


"Pa ...," rajuk Elang.


Firman menarik napas panjang. Sepertinya mengizinkanku melepas IUD lebih sulit daripada memutuskan kerjasama bisnisnya.


"Oke, tapi saya akan mendampinginya, Dok," katanya akhirnya.


"Silakan, Pak," izin Dokter Riana sambil tersenyum.


Elang dibiarkan bermain game, sementara Dokter Riana memeriksa posisi IUDnya. Firman terus menggenggam tanganku selama proses itu. Aku yang semula santai jadi ikut tegang melihat reaksi suamiku.


Benar saja, proses yang seharusnya bisa dilalui dengan lancar jadi terhambat karena banyaknya interupsi dari Firman.


Akhirnya IUD itu berhasil dilepas dengan dibumbui banyak drama.


"Bagaimana ini, Dok?" Firman mulai panik melihatku yang meringis kesakitan.


"Sakitnya hanya sebentar, Pak. Nanti setelah ini mungkin ada pendarahan sedikit, tapi itu normal, kok," beber Dokter Riana.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" dia mengusap air mata yang luruh di pipiku.


"Nggak usah lagi pake KB, aku nggak mau kamu sakit kayak gitu. Biarin aja kamu hamil terus, aku sanggup kok biayainnya."


Seandainya dalam kondisi biasa, tentu aku akan tertawa sepuasnya mendengar pernyataannya itu. Namun rasa sakit menahanku untuk menertawakannya.


"Sayang, melahirkan lebih sakit dari ini," ujarku.


"Dicaesar lagi aja."


"Kita baru mau program, Sayang. Udah ngomongin caesar aja," gerutuku. "Setidaknya kamu tau kalau hamil dan melahirkan itu sakit."


"Jadi gimana, Dok?" tanya Firman setelah kami duduk lagi di depan mejanya.


"Melihat riwayat Bapak dan Ibu, sepertinya Bu Lintang tidak usah program. Bu Lintang sehat dan subur. Begitu pun dengan Pak Firman. Semoga segera diberi momongan lagi secepatnya. Paling saya sarankan jaga asupan makanan juga pola makannya saja."


Aku dan Firman saling berpandangan dengan senyum merekah. Kesempatan untuk hamil secepatnya terbuka lebar. Kami pun pulang dengan bahagia.

__ADS_1


...


Waktu berlalu tanpa terasa. Hari pun berganti hari. Minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan. Kami selalu berbahagia, meskipun apa yang kami inginkan belum juga terwujud.


Kami masih bermain di ruang keluarga malam ini. Hanya kami bertiga. Arum sudah langsung ditawari bekerja di Singapura begitu dia lulus sarjana. Bahkan pendidikan S2 nya ditangguhkan demi ingin mencoba dunia kerja.


Elang terus memainkan mainan alat beratnya. Sesekali terdengar suara-suara mesin keluar dari bibirnya yang mungil. Firman dengan setia menemaninya bermain kesana kemari. Mendorong bulldozer dan menggeser mobile crane.


"Sayang, belum ngantuk? Mama udah ngantuk, nih," ujarku sambil menutup mulut dengan tangan. Menguap.


"Belum, Ma. Ini masih seru," katanya masih dengan mendorong sebuah toples dengan excavator.


"Tidur duluan aja, Ma," kata Firman. "Biar Elang main sama Papa dulu."


"Mama bobo duluan, ya. Mama capek banget hari ini," pamitku. "Cium Mama dulu, Sayang."


Maksudku memanggil Elang, tapi yang mendekat tidak hanya Elang, papanya juga ikut mendekat. Keduanya mencium pipiku bersamaan. Aku tersenyum bahagia.


Aku pun berpindah ke dalam kamar. Membiarkan kedua lelaki itu bermain bersama. Entah apa yang kulakukan hari ini, tapi rasanya tubuhku benar-benar lelah. Aku tertidur dengan mudah.


Aku mengerjap ketika kurasakan beberapa kecupan mendarat di wajahku.


"Man ...."


"Iya, Sayang."


"Elang mana?" tanyaku.


"Udah tidur di kamarnya," jawab Firman sambil merengkuh tubuhku.


"Maaf, ya. Aku ngantuk banget," sahutku dengan menutup mata.


"Nggak apa-apa, Sayang. Aku tau kamu pasti capek seharian nungguin Elang. Tidurlah," disugarnya rambutku dengan lembut. Dikecupnya keningku lama.


"Terima kasih atas semua pengorbananmu, Sayang. Untukku juga untuk Elang. Bahkan kamu harus meninggalkan semua mimpimu."


"Kalianlah mimpiku saat ini, Man. Kamu dan Elang."


"Terima kasih, Sayang. Entah seperti apa aku harus bersyukur, tapi kamulah anugerah terbesar untukku. Tanpamu aku benar-benar tak akan bisa bertahan. Semakin hari aku semakin mencintaimu. Semakin hari aku juga semakin takut kehilanganmu," kali ini bibirnya langsung menyapa bibirku dengan lembut.


"Terima kasih, Man. Terima kasih kamu sudah mencintaiku begitu lama dan tetap menjaga cintamu hingga hari ini," kuusap bibirnya yang basah.


"Hanya satu inginku kini, memberimu seorang anak lagi agar kebahagiaan kita sempurna. Namun sampai hari ini, aku belum juga bisa memberikannya."


"Jangan khawatir, Sayang. Jangan jadikan itu sebagai beban. Kebahagiaan kita sudah sempurna. Bila Allah masih berkenan untuk menitipkan seorang anak pada kita, tentu mudah bagi-Nya memberikannya kapan pun sesuai kehendak-Nya."


Kata-katanya selalu menenangkanku. Kami berpelukan. Seolah saling memperlihatkan betapa kami ingin memberi kebahagiaan kepada satu sama lain. Ya, benar kata Firman, hidup kami sudah sempurna. Tinggal kami nikmati dan syukuri.


Pagi ini aku terbangun karena mendengar suara seseorang muntah-muntah di kamar mandi. Firman.


Langsung kusambar kimono tidurku dan segera berlari ke kamar mandi.


"Kamu kenapa, Sayang?" kupijat tengkuknya, berusaha membantunya agar merasa lebih baik.


Firman tidak menjawab, dia masih terus-terusan muntah. Setelah beberapa menit berlalu, barulah dia bisa mengangkat wajahnya. Segera kuberikan sebuah handuk kecil padanya. Kubantu dia berjalan ke arah tempat tidur.


"Aku bikinin teh dulu, ya Man," tanpa menunggu jawaban, aku mendekati dispenser dan mencelupkan sebuah kantong teh ke dalam sebuah gelas.


Firman duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Dia memijit pelipisnya sendiri.


Kusodorkan gelas berisi teh manis yang tidak terlalu pekat, teh kesukaannya.


"Makasih, Sayang," langsung diminumnya teh itu.


"Masih pengen muntah, Man?" tanyaku.

__ADS_1


Dia menggeleng.


"Tunggu bentar, aku ambilin kayu putih," kuambil kayu putih dari dalam kotak obat. Kuusapkan pada perut dan punggungnya.


"Kamu kenapa? Masuk angin?" tanyaku khawatir melihat wajahnya yang pucat. "Nggak usah berangkat, ya," ujarku sambil mengecek suhu tubuhnya dengan punggung tangan. Tidak panas.


"Iya," ujarnya menurut.


...


"Papa kenapa, Ma?" tanya Elang padaku yang sedang membuat bubur di dapur. Dia merasa aneh melihat papanya masih berbaring di tempat tidur.


"Papa sakit, Sayang. Jadi hari ini nggak akan berangkat ke kantor," ujarku.


"Papa sakit apa?" tanyanya.


"Kayaknya masuk angin," jawabku.


"Oo. Boleh Elang yang nanti suapin Papa?" pintanya.


"Boleh, tapi kamu harus mandi dulu. Jangan sampai terlambat ke sekolah karena nyuapin Papa."


"Oke," dia segera berlari kembali ke kamarnya.


Bi Sri tertawa melihat tingkah anakku itu.


"Elang bener-bener duplikatannya Mas Firman, ya Mbak," ucapnya.


"Iya," balasku sambil mengaduk bubur yang sudah mulai mengental itu. "Duplikatannya banget. Nggak cuma wajahnya, sifatnya pun sama," aku tersenyum mengingat sikapnya yang selalu manis padaku. Persis ayahnya.


Kubawakan semangkuk bubur ayam untuk Firman. Elang berjalan mengikutiku, sudah tampan dengan seragam TK nya.


"Papa sakit?" tanyanya sambil duduk di kursi di samping tempat tidur.


"Papa nggak apa-apa, Jagoan. Papa cuma masuk angin aja," Firman berusaha duduk.


Elang meletakkan tangan kecilnya di dahi Firman, membuatku terkikik. Anak itu pandai meniru apa pun yang sering aku lakukan padanya atau pada papanya.


"Papa nggak panas, pasti sebentar lagi sehat. Papa cuma harus makan yang banyak," celotehnya membuatku makin terpingkal.


"Sini, Elang suapin," dia memintaku mendekatkan mangkok buburnya ke arah Firman. Disuapkannya sesendok bubur yang hangat pada papanya.


"Nggak panas, 'kan? Tadi udah Elang kipasin di dapur. Nggak ditiup, kok. Kan kata Mama, makanan panas nggak boleh ditiup."


Ingin sekali aku mencubit pipinya. Entah bagaimana dia bisa begitu cerdas.


Firman mengusap rambut Elang penuh sayang.


"Makasih ya, Jagoan Papa. Tapi kamu harus berangkat sekolah sekarang, kalau tidak mau terlambat. Hari ini diantar Pak Min sama Mama aja, ya. Nanti pulang sekolah, kalau Papa udah baikan, Papa pasti jemput Elang."


Elang melihat ke arah jam dinding.


"Oh iya, bener. Ayo, Ma. Kita harus berangkat sekarang," katanya.


"Ayo, Sayang," kuambil tasku segera.


"Aku antar Elang sebentar ya, Man," izinku sambil mencium tangannya.


"Iya. Bilang sama Pak Min, hati-hati. Oya, kalau pulangnya lewat pasar, tolong beliin jambu air, ya."


Aku langsung melihat ke arahnya, "Jambu air?"


"Iya," dia mengangguk pasti.


Aku yang masih bingung menggiring Elang segera keluar dari kamar. Belum juga aku keluar dari pintu kamar, Firman sudah kembali berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


Dia kenapa?


__ADS_2