
POV Firman
Aku terbangun dengan rasa sakit di kepala. Para dokter segera memeriksaku dengan teliti. Tak ada yang kukeluhkan, kecuali rasa sakit di kepalaku. Namun, lama-kelamaan aku merasakan ada yang janggal. Ketika para dokter itu menanyaiku apa yang terjadi, aku tak mengingatnya sama sekali. Begitu pula ketika mereka menanyakan tentang identitasku. Aku kehilangan ingatan! Menurut dokter, aku mengalami amnesia global sementara. Hal ini terjadi karena adanya kerusakan pada bagian otak yang berfungsi untuk membentuk sistem limbik. Sistem limbik inilah yang mengatur emosi dan ingatan seseorang.
Orang-orang yang menungguiku di rumah sakit memperlakukanku dengan sangat baik dan penuh rasa hormat. Mereka memanggilku dengan panggilan 'Pak Firman'. Sepertinya itu adalah namaku.
Berselang beberapa jam, datanglah dua orang lelaki yang mengaku sebagai orang tua dan mertuaku. Beliau berdua yang berkomunikasi dengan para dokter, karena aku dianggap tidak bisa memberikan keterangan.
Kedua orang itu terlihat sangat sedih ketika mengetahui bahwa aku mengalami amnesia. Tidak hentinya beliau berdua berusaha mengingatkanku pada identitasku sendiri. Namun nihil, aku benar-benar tak mengingat apa pun.
Selama beberapa hari, aku menjalani berbagai macam tes. Dari mulai tes fisik, pemeriksaan darah, MRI, CT scan hingga elektroensefalogram. Entah apa yang mereka dapatkan dari semua hasil tes itu, hingga akhirnya aku diizinkan untuk pulang.
Pulang? Aku harus pulang ke mana?
Dua lelaki itu, yang mengaku sebagai bapak dan mertuaku, segera membawaku ke bandara. Beliau berdua terlihat sering sekali mengobrol dengan serius. Mereka terus saja menyebut nama Lintang dan Elang, yang akhirnya kutahu bahwa itu adalah nama istri dan anakku.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kami sampai di sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Rumah itu rasanya tidak asing bagiku.
Papa dan Bapak terlihat sangat tegang begitu kami turun dari mobil. Kami, dengan dikawal beberapa orang, memasuki sebuah pintu besar yang terbuka. Tanpa disangka, seorang wanita dengan perut yang besar langsung berlari dan memelukku dengan sangat erat.
"Aku khawatir, Man. Aku takut kamu kenapa-napa," tangisnya.
Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan?
Kupegang kedua bahunya, dan kujauhkan tubuhnya dariku.
"Maaf, Anda siapa?" tanyaku.
Wanita itu terlihat terkejut, dia menatapku tak percaya.
"Pa ... Pak ... apa ini? Kenapa Firman begini?" tuntutnya pada Papa dan Bapak.
"Firman ... hilang ingatan, Sayang," jawab Papa.
"Apa?! Ini nggak lucu, Pa!" wanita itu terlihat begitu terpukul.
"Papamu jujur, Lin. Suamimu amnesia." Kali ini Bapak yang bicara.
Aku hanya bisa diam.
"Nggak mungkin!" teriaknya.
"Jangan bilang Mama sama Ibu juga tau akan hal ini." Matanya menyiratkan begitu besar kekecewaan.
"Kami nggak mau kamu khawatir, Lin. Ingat kandungan kamu. Kasian dia kalau kamu sampai stress." Seorang ibu dengan dandanan ala sosialita ikut berbicara.
"Kenapa, Ma ...? Kenapa ini selalu terjadi sama Lintang? Apa belum cukup yang selama ini terjadi sama Lintang? Lintang udah kehilangan bayi pertama Lintang. Lintang hampir mati ketika hamil Elang. Dan sekarang ... liat! Bahkan suami Lintang sendiri nggak kenal sama Lintang! Salah Lintang apa, Ma?"
Rasanya hatiku teriris sembilu ketika mendengarnya mengatakan hal itu. Ingin rasanya aku berlari dan memeluknya yang sudah luruh di lantai. Namun, tubuhku sama sekali tak bereaksi.
"Istigfar, Nak. Jangan begini. Kasian bayimu." Ibu cantik yang dipanggil 'Mama' itu membenamkan sang wanita ke dalam pelukannya.
"Iya, semua orang kasian sama bayi ini, tapi nggak kasian sama Lintang," wanita itu memukuli perutnya.
__ADS_1
"Jangan!" Semua orang berteriak bersamaan.
Aku terperangah. Apakah ini salahku?
Tiba-tiba seorang anak lelaki keluar dari sebuah pintu dan mendekat ke arah kami.
Kubulatkan mataku, tak percaya dengan yang aku lihat. Anak itu berwajah persis sepertiku. Aku bagai melihat diriku sendiri versi kecil.
"Papa!" Anak itu berlari ke arahku sambil merentangkan tangannya.
Tak disangka, Lintang langsung berlari dan hilang di balik pintu yang dibanting dengan keras. Papa dan Mama langsung berlari mengejarnya.
"Papa, Elang kangen." Anak itu masih merentangkan tangannya di depanku.
Aku gamang, tapi detik berikutnya, tanganku dengan reflek mengangkat tubuh kecil itu. Dia memeluk leherku dengan erat, membuatku hampir tercekik.
"Papa bilang cuma dua hari, tapi kenapa Papa perginya lama?" tanyanya sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku.
Semua orang melihat ke arahku.
"Sa ... saya ...." Aku tak bisa mengatakan apa pun.
"Papa kecelakaan, ya? Mama sampai pingsan tau, waktu denger Papa kecelakaan. Sama Oma langsung dibawa ke rumah sakit." Anak itu memegang kedua pipiku, menilik-nilik wajahku. "Cuma sedikit lukanya."
Anak ini cerdas sekali. Aku langsung jatuh hati padanya.
"Elang, Elang sama Eyang Putri dulu, ya." Seorang ibu dengan pakaian jawa modern berusaha membujuk anak yang dipanggil dengan nama Elang ini untuk turun dari gendonganku.
"Nggak mau, Eyang. Elang masih mau sama Papa. Elang takut Papa pergi lagi." Dia makin mempererat pelukannya.
"Nggak apa-apa, Bu. Biar Elang sama saya dulu," ujarku.
"Kamu inget sama Elang?" tanya ibu itu.
Aku menggeleng. Ibu itu terlihat sangat sedih.
"Kasian istrimu, Le," ujarnya sambil menangis lagi.
Aku menarik napas panjang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Semuanya terasa asing bagiku.
Elang meminta turun dan menyeretku ke arah Lintang tadi pergi. Papa dan Mama masih berdiri di depan sebuah pintu besar berukir. Sepertinya beliau berdua tidak berhasil membujuk Lintang untuk membuka pintu.
"Opa sama Oma mau masuk?" tanya Elang.
"Sepertinya Mamamu butuh waktu untuk sendiri, El," ujar Papa.
"Memang Mama kenapa, Opa? Mama sakit?" Elang terlihat cemas.
Papa dan Mama tidak memberikan jawaban apa pun.
"Ma ... Mama ... boleh Elang masuk?" tanya Elang. Diketuknya pintu itu. Rupanya ini kamar Mamanya.
"Ma ...."
__ADS_1
"I ... iya, Sayang. Sebentar," terdengar jawaban dari dalam kamar.
Terlihat kelegaan di wajah opa dan oma Elang.
Terdengar suara anak kunci yang diputar, pelahan daun pintu itu terbuka. Dan muncullah Lintang, dengan penampilan yang terlihat tidak baik-baik saja.
Elang menarik tanganku untuk masuk ke dalam kamar itu. Kamar yang sangat luas, dengan perabotan minimalis, rasanya tidak asing.
"Papa pulang, kok Mama malah sedih," tanyanya sambil menarik tangan ibunya untuk berjongkok. Dirapikannya rambut sang ibu yang berantakan. Dan diusapnya bekas-bekas air mata di pipinya.
Ya Allah, anak ini baik sekali. Sangat terlihat bahwa dia mencintai ibunya.
"Mama marah, ya, sama Papa? Pasti gara-gara Papa tidak menepati janji untuk pulang dua hari. Papa lama ya, pulangnya. Jadi bikin Mama marah dan khawatir."
Kata-kata Elang membuat hatiku mencelos. Begitukah kenyataannya?
Wanita itu hanya mengusap rambut Elang sambil menggigit bibir, menahan tangis.
"Elang ... Elang sama Oma sama Opa dulu, yuk. Biar Mama sama Papa bicara. Mama dan Papa kan udah lama nggak ketemu," tiba-tiba omanya Elang masuk ke dalam kamar.
"Tapi Papa nggak akan pergi lagi, 'kan Oma?" tanya Elang seraya mendongak ke arah omanya.
"Nggak, Sayang. Papa nggak akan kemana-mana," jawab Opa.
"Elang keluar dulu, ya Ma, Pa. Mama jangan marah lagi, kasian Papa. Papa juga harus minta maaf karena nggak menepati janji," ujar Elang sebelum pergi dengan oma dan opanya.
Kini aku hanya berdua dengan wanita yang disebut sebagai istriku ini. Namun, tak ada suara di antara kami. Kulayangkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan. Sebuah foto dengan ukuran besar memperlihatkan gambar sepasang pengantin, yang tersenyum bahagia dengan balutan tuxedo dan gaun pengantin yang sangat indah, terpasang tepat di atas tempat tidur berukuran besar.
"Saya tidak tahu harus memulai dari mana, tapi saya benar-benar minta maaf, saya tidak mengingat apa pun." Aku berusaha memulai pembicaraan.
Wanita itu menghela napas panjang. Ada kristal-kristal bening yang bergulir dari sudut matanya.
Rasanya sakit melihat wanita itu menangis. Namun, aku tidak bisa melakukan apa pun.
"Keluarlah ...," lirihnya.
"Apa?" aku memastikan apa yang wanita ini katakan.
"Keluarlah. Aku juga nggak bisa berpikir jernih. Aku butuh waktu untuk berpikir," ujarnya pelahan.
"Baiklah," ucapku. Aku pun berjalan ke arah pintu.
"Man ...." Dia memanggil seseorang.
Dengan ragu, aku berbalik.
"Kamu manggil saya?" tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.
"Ya, kamu, Rizky Firmansyah, suamiku."
"Oh ...." Aku berjalan kembali ke depan wanita itu.
Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Kedua tangannya terjulur menyentuh pipiku. Diusapnya pelahan. Aku merasa ada sesuatu yang mengalir dari tangannya ke dalam tubuhku.
__ADS_1
"Aku bahagia kamu pulang," isaknya lirih. "Jangan pernah tinggalkan kami lagi."