
Bulan madu kami benar-benar lancar tanpa hambatan. Meskipun waktu kami lebih banyak dihabiskan di hotel daripada untuk menikmati pemandangan tempat yang kami kunjungi.
Tidak hanya Yunani, Firman juga menemaniku ke Perancis dan Jepang. Tentu saja untuk merealisasikan janjinya sendiri untuk menemaniku ke tempat-tempat favoritku.
Kami benar-benar menghabiskan waktu berkualitas berdua. Sampai waktu dua minggu berlalu begitu saja.
Hari ini hari terakhir kami di Jepang. Kami sedang menunggu pesawat saat kulihat dia begitu serius melihat ke arah smartphonenya.
"Kenapa sih, Sayang? Kamu serius banget ngeliatin handphonenya," tanyaku.
"Nggak apa-apa, kok," jawabnya sambil tersenyum.
"Jangan boong. Sini handphonenya," pintaku sambil menengadahkan tangan meminta benda pipih yang dipegangnya.
Dengan berat hati, diserahkan gawainya itu.
Kuteliti apa yang sedang menyita perhatiannya.
"Apa ini?" aku terkejut melihat laporan yang dikirim via email pada suamiku.
"Aku belum tau," Firman hanya menggeleng.
Kulihat satu per satu laporan itu.
"Kok bisa gini? Bukannya biasanya stabil?"
Tiba-tiba sebuah nama terlintas di kepalaku. Setiadi. Dia CEO Semesta Perdana sebelumnya, tentu dia tahu segala seluk beluk perusahaan suamiku itu. Bukan sesuatu yang mustahil bila dia melakukan sesuatu pada perusahaan untuk kepentingan pribadi atau perusahaan barunya.
"Nggak usah dipikirin, Lin. Itu urusanku. Biar aku yang selesaikan," katanya berusaha menenangkanku.
"Kamu kok bisa nyantei gitu, sih?"
"Terus aku harus ngapain? Telpon sana-sini minta penjelasan? Marah-marah?"
Aku terdiam. Ya, diam dan berpikir adalah jalan terbaik.
"Perdana Corp itu satu kepala nggak, sih?"
"Tiap jenis usahanya dipegang sama satu CEO dan dewan direksi. Jadi kepalanya beda-beda," jelas Firman.
"Jadi yang kosong cuma Semesta Perdana, 'kan? Besok aku kesana buat gantiin Adi," kataku lantang.
"Hei, nggak usah ngomongin kerjaan. Jangan buat bulan madu kita sia-sia. Itu semua urusanku. Kamu nggak boleh stress, siapa tau udah ada calon bayi kita di sini," katanya sambil mengusap perutku.
"Gimana aku nggak kepikiran, Man. Kita bersenang-senang, tapi kamu menyimpan beban pikiran sendiri."
"Besok aku urusin. Nggak usah khawatir," dikecupnya pipiku.
Dia selalu begitu. Sejak kejadian aku menemui Adi dan berakhir dengan tabrakan yang membuatku keguguran, Firman tidak pernah lagi membicarakan atau mengeluhkan soal pekerjaan.
...
Setelah penerbangan langsung dari Tokyo ke Jakarta yang memakan waktu tujuh jam lebih, akhirnya kami tiba di apartemen dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.
Bi Sumi, ART lama Firman membukakan pintu apartemen untuk kami.
"Bi Sumi, apa kabar?" sapaku pada wanita paruh baya itu.
"Baik, Mbak Lintang. Mbak Lintang sendiri gimana kabarnya?" tanyanya sambil membawakan kami dua gelas teh hangat.
"Baik, Bi," aku tersenyum.
"Bibi dengar tentang musibah itu. Semoga cepat diberi gantinya ya, Mbak," katanya tulus.
"Makasih, Bi. Ini juga lagi usaha lagi," sela Firman.
Aku melotot ke arahnya.
Bi Sumi hanya tersenyum kecil.
"Kalau gitu, Mas sama Mbak istirahat dulu aja. Bibi udah masakin makanan buat makan malam," ujar Bi Sumi.
"Makasih ya, Bi," kataku.
Aku dan Firman masuk ke kamar 'tragedi' itu. Masih terbayang Firman yang terbaring dan aku yang masuk dengan histeris. Kenangan yang buruk.
Kami segera membersihan diri. Membuang rasa letih dan merefresh tubuh kami.
"Sayang," suara Firman mengejutkanku, "kok ngelamun?"
Aku tidak mendengar pintu kamar mandi dibuka. Firman yang baru saja keluar dari kamar mandi sudah berdiri di belakangku dengan air yang masih menetes dari rambutnya.
Aku hanya tersenyum kecil. Kuberikan padanya pakaian yang sudah kusiapkan di atas tempat tidur. Selesai berpakaian, kusisiri rambutnya yang basah.
"Kamu kepikiran, ya?" tanya Firman sambil menarikku agar duduk di pangkuannya.
"Sedikit."
__ADS_1
"Udah aku bilang, itu urusanku."
"Kamu masih aja bilang gitu. Kita berbagi beban, Man."
"Ingat kalau kamu juga masih punya urusan sendiri?" ditunjuknya laptop dan dua buah telpon genggam milikku yang disimpan di atas meja kerjanya.
"Itu aja udah jadi beban untukmu. Apalagi kalau aku tambah sama urusanku."
"Tapi ada yang bantuin kamu, 'kan?" tanyaku serius.
"Ya ada lah. Mereka-mereka yang menjabat di posisi-posisi stategis juga kan nggak mau kehilangan pekerjaannya. Mereka pasti sekuat tenaga membantuku."
"Harusnya kita nggak pergi bulan madu lagi."
"Lin, ngomong apa sih kamu? Kalau kamu ngomong gitu berarti kamu nggak menghargai usahaku untuk membahagiakan kamu. Emang kemaren kamu nggak bahagia?"
"Aku bahagia, Man. Sangat bahagia," kulingkarkan kedua tanganku di lehernya. "Makasih, ya."
Kudaratkan sebuah ciuman lembut di bibirnya.
"Buat aku kebahagiaan kamu adalah prioritas, Lin. Nggak ada yang lebih penting dari itu. Udah aku katakan sebelumnya, aku bisa kehilangan apa pun, tapi aku nggak akan bisa kalau harus kehilangan kamu."
"Kamu tau, Sayang, karena bulan madu kemaren, aku makin sayang sama kamu," kataku sambil memamerkan gigiku.
"Oya?"
"Iya, yang tadinya segini," kuumpamakan dengan menaikkan jari kelingkingku, "sekarang jadi segini," kuganti dengan ibu jari.
"Emang segitu nambah? Sama-sama kecil juga."
"Nambah dong, Man. Yang kelingking kan kurus, jempolnya kan gendut."
"Dikit amat sayang kamu ke aku," protesnya.
"Iya, iya. Cintaku sebesar dunia, seluas jagat raya ini, kepadamu," kunyanyikan sebait lagu Agnez Mo, Cinta Mati.
"Aku nggak berharap sebanyak itu," katanya sambil tersenyum.
"Pintamu sederhana ya, Man," aku terkekeh.
Kudorong tubuhnya sampai dia berbaring terlentang di bawahku.
"I love you, Mas Firman," desahku di atas wajahnya.
"I love you, too, My ...," belum sampai bibir Firman menyentuh bibirku, aku langsung melompat turun dari tempat tidur.
"Weee ...." Kujulurkan lidahku padanya.
"Awas kamu, ya," Firman segera bangun dan mengejarku keluar kamar.
...
Seharusnya hari ini kami kembali ke Bandung, tapi Firman harus ke kantornya untuk memperbaiki keadaan.
Kami memasuki gedung sebelas lantai yang menjadi gedung pusat PT. Semesta Perdana. Para karyawan mengangguk hormat ketika kami lewat.
Kami menaiki lift untuk sampai ke lantai tertinggi, lantai di mana ruangan CEO berada.
"Selamat pagi, Pak Firman," seorang wanita dengan kacamata berdiri begitu kami sampai di depan sebuah pintu yang kutebak sebagai bekas ruangan milik Setiadi itu.
"Pagi," jawab Firman singkat.
Firman sudah memegang gagang pintu, ketika dia berbalik dan memanggil wanita itu lagi.
"Tolong panggil Bu Melisa dan Pak Jaya ke sini," ujarnya.
"Baik, Pak. Tapi di dalam ...," belum selesai wanita itu berkata, seorang pria keluar dari dalam ruangan.
"Adi? Ngapain kamu di sini?" Firman langsung bertanya dengan nada yang tidak enak didengar.
Adi juga terlihat terkejut. Bukannya menjawab, dia malah menatapku dengan intens.
"Ngapain kamu di sini? Bukannya kamu udah nggak ada urusan lagi di sini?" ulang Firman.
"Aku cuma ngambil beberapa barangku yang tertinggal," jawabnya.
"Setelah tiga bulan lebih?" tanya Firman penuh selidik.
"Aku baru sempet ke sini lagi," jawabnya enteng.
"Kamu udah sehat, Lin?" dia malah menyapaku.
"Seperti yang kamu liat, Di. Aku udah sehat," ujarku sambil tersenyum kecil.
"Senang melihatmu sehat lagi," dia melirik Firman dengan ujung matanya. "Sepertinya Firman merawatmu dengan sangat baik."
Firman langsung menarik tanganku dan menyembunyikanku di belakang punggungnya.
__ADS_1
"Kalau kamu udah selesai, silakan keluar," kata Firman.
Setiadi tersenyum, "Kalau begitu, aku pamit dulu."
Adi berlalu melewati kami. Aku merasa pegangan tangan Firman makin mengerat. Dibawanya aku masuk ke ruangan tempat Adi keluar tadi.
"Pak Firman," seorang pria muda berjas hitam langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Bu Lintang," dia mengangguk padaku.
Aku tersenyum dan juga mengangguk padanya. Reno, wakil Setiadi yang sekarang menduduki kursi CEO Semesta Perdana menggantikan Adi.
"Adi barusan ngapain ke sini?" tanya Firman.
"Pak Adi mengambil barang yang belum sempat diambilnya, Pak," jawab Reno.
"Oo ...," hanya itu yang keluar dari mulut Firman.
Terdengar suara pintu diketuk. Bu Melisa dan Pak Jaya masuk ke dalam ruangan.
"Anda semua pasti tau apa yang membuat saya ke sini," kata Firman tanpa basa basi.
Terlihat Bu Melisa, kepala keuangan, menunduk. Begitu pun dengan kedua pria lainnya.
Aku merasa tidak nyaman melihatnya. Firman terlihat begitu berbeda bila berurusan dengan pekerjaan. Aku yang tadinya begitu yakin mengajukan diri untuk menjabat CEO langsung menciut.
Firman yang melihatku gelisah segera mendekatiku.
"Sayang, kalau kamu nggak nyaman, kamu bisa tunggu di luar atau bisa minta ke Pak Anto buat anter kamu ke cafe atau mall," bisiknya.
Aku mengiyakan dan langsung berlalu dari ruangan itu.
"Mbak, kalau suami saya tanya, bilang saya keluar. Suruh telpon aja," pesanku pada wanita berkacamata yang sedang menulis sesuatu di mejanya.
"Iya, Bu," jawabnya cepat.
Aku menuju lift yang kebetulan terbuka. Kuhembuskan napasku kasar. Baru kali ini aku mendatangi kantor pusat Semesta Perdana, biasanya aku hanya menyambangi anak cabangnya di Bandung, dan disambut dengan situasi yang kurang menyenangkan.
Saat turun dua lantai di bawahnya, dua orang pegawai wanita masuk ke dalam lift.
"Tadi aku papasan sama Pak Adi, lho," kata salah satunya.
"Masa? Aku kangen sama Pak Adi. Sayang banget beliau keluar. Lagian Pak Adi aneh-aneh aja, ngapain coba suka sama istri bos. Emangnya kita di sini nggak ada yang cantik apa? Sampe harus rebut istri orang," temannya berbicara tanpa titik dan koma.
Rebut istri orang?
"Kayak apa sih, istri Pak Firman, sampai Pak Adi berani nikung atasannya sendiri?"
What?!
Untungnya mereka segera keluar beberapa lantai setelahnya.
"Ya ampun, aku dighibahin. Aku jadi penasaran, apa yang dikatakan orang di luar sana tentang kami?" monologku.
Begitu nomor lantai menunjukkan angka satu, aku segera keluar dari lift. Aku berjalan menuju pintu keluar.
Segera kudatangi sebuah mini market di samping gedung, mencari sesuatu yang bisa mendinginkan kepalaku. Kupilih sebotol yogurt rasa strawberry dan sebatang coklat.
Kubuka tasku untuk mengambil dompet, tapi ...
"Sekalian sama punya Ibu ini, Mbak," seorang pria menyodorkan selembar uang berwarna biru untuk membayar belanjaanku dan sebotol kopi dingin miliknya.
"Adi! Nggak usah, biar aku bayar sendiri," ujarku sambil mengeluarkan selembar uang merah.
"Nggak usah gitu, Lin. Cuma minuman doang. Belum tentu tiap hari aku jajanin kamu," katanya sambil tersenyum.
"Makasih, ya. Lain kali aku yang jajanin kamu."
"Iya, dan aku mau jajan yang banyak, biar uang kamu abis," selorohnya sambil tertawa.
Akhirnya kami memutuskan duduk di kursi yang disediakan pihak mini market sambil meminum minuman kami.
"Lin, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Adi.
"Ngomong aja," kutegak yogurt yang kental dan dingin itu.
"Ini tentang kecelakaan yang menimpa kamu waktu itu dan merosotnya statistik Semesta Perdana."
Aku tersedak dan langsung menyambar tissue dari dalam tasku.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Nggak apa-apa. Terusin, Di," pintaku.
"Lintang!" suara yang amat akrab di telingaku, terdengar memanggil namaku.
Aku menengok dan melihat Firman datang dengan tergesa dan wajah yang memerah.
__ADS_1