
POV Firman
Aku berbaring sambil memandangi langit-langit kamar yang luas ini, kamar tamu. Aku berusaha memejamkan mata, tapi kantuk tak juga datang. Di benakku terus saja berkelebatan adegan demi adegan yang terjadi hari ini. Kedatanganku, tangis wanita itu, seorang anak yang terus menempel padaku, semuanya. Namun, tak ada satu pun hal yang mengingatkanku pada siapa sebenarnya diriku. Meskipun secara garis besar, aku mulai mempercayai semua yang mereka ceritakan. Bukti-bukti dokumentasi di tiap sudut rumah ini cukup meyakinkanku akan jati diri yang mereka sematkan padaku.
Lintang Diandra Kirana, istriku, wanita yang sedang mengandung anakku, dia yang mendominasi pikiranku saat ini. Kata-katanya membuat pikiranku terkunci padanya.
"Aku bahagia kamu pulang. Jangan pernah tinggalkan kami lagi." Kalimat itu terus terngiang di telingaku.
Seperti apakah aku sebelumnya? Apakah aku ayah yang baik? Apakah aku suami yang dicintai? Bagaimana besok aku harus bersikap?
Kuraba pipiku yang tadi Lintang pegang, rasa hangat tangannya masih menempel di sana. Wangi tangannya pun masih kuingat jelas. Wangi yang menenangkan. Sampai tadi saatnya makan malam, Lintang tidak juga mau keluar dari kamarnya. Seorang ART yang mengantarkan makanan ke kamar. Sepertinya dia benar-benar terpukul. Meskipun sebenarnya, aku yang seharusnya lebih terpukul. Aku kehilangan ingatan, bahkan aku tidak tahu siapa diriku sendiri. Namun, mengapa Lintang yang terlihat begitu sedih?
Ah, sudahlah. Lebih baik aku tidur. Semoga ketika besok aku bangun, aku bisa mengingat semuanya.
...
Pagi ini aku bangun dengan rasa sakit di kepala. Namun, tak ada yang terjadi. Aku tetap tidak ingat apa pun.
Kami berkumpul di meja makan. Elang terus saja menempel padaku, tapi aku tidak keberatan sama sekali. Kehadirannya membuat hatiku menghangat.
Para orang tua sepertinya sudah membicarakan rencana hidupku ke depannya. Aku belum bisa berkomentar apa pun, hanya bisa mendengarkan.
Elang tiba-tiba beringsut dari kursinya di sampingku. Dia berlari ke arah seorang wanita yang baru saja berjalan menuju ruang makan.
"Mama!" Dipeluknya perempuan itu.
Aku terpana. Lintang terlihat begitu berbeda dengan dirinya kemarin. Kali ini dia terlihat begitu mempesona dengan make up tipis yang membuat wajahnya terlihat lebih segar. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja. Dan perutnya yang bulat makin membuatku menelan ludah. Dia terlihat begitu cantik dan ... menggoda.
"Kenapa Elang belum pake seragam?" tanyanya lembut pada anaknya itu.
__ADS_1
"Mama udah telepon ke Bunda Mimi, minta izin hari ini Elang nggak masuk sekolah," Mama yang menjawab.
Lintang hanya mengangguk. Dia melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
"Ma, Pa, Ibu, juga Bapak, Lintang mau minta maaf atas kelakuan Lintang kemarin. Seharusnya Lintang tidak bereaksi seperti itu. Lintang tidak bisa mengontrol emosi melihat keadaan Mas Firman seperti ini," dia berkata dalam sekali tarikan napas.
"Lintang benar-benar malu. Seharusnya Lintang bisa lebih sabar dan sadar dalam menghadapi keadaan. Namun Lintang akui, Lintang tidak siap menerima semua ini." Suaranya tercekat. Matanya sudah berkaca-kaca. Dielusnya perutnya pelahan.
Ibu langsung berdiri dan memeluk Lintang.
"Kami benar-benar mengerti situasi yang kamu hadapi, Nduk. Maaf bila kami menutupi kenyataannya sejak awal. Kami hanya ingin menjagamu dan bayi ini."
"Dan malah Lintang sendiri yang melukainya," ujarnya lirih.
"Itu bukan salah kamu, Lin." Mama ikut berdiri dan menuntun Lintang untuk duduk.
"Kami sudah berembug dan memutuskan semuanya. Dengan izin kamu, kami akan melaksanakannya hari ini juga," Papa memulai pembicaraan yang terdengar serius.
"Kami akan membawa Firman ke Semarang untuk mendapat pengobatan di sana. Kamu dan Elang bisa tinggal sama Oma dan Opa sampai kamu melahirkan," Bapak berkata dengan hati-hati.
Tanpa disangka, Lintang langsung menggebrak meja dan berdiri. Semua orang terlihat kaget.
"Bagaimana bisa Bapak berpikir seperti itu? Bapak mau pisahin Lintang sama Mas Firman?" Aku benar-benar terkejut mendengar jawabannya.
"Bukan gitu, Lin. Maksud kami, biar kami yang urus Firman. Kamu konsentrasi aja sama kehamilan kamu." Ibu berusaha berkata sepelan mungkin.
"Bu, Lintang bisa gila kalau begitu caranya. Lintang bisa urus Mas Firman. Lintang bisa usahakan pengobatan terbaik. Tapi jangan gitu caranya. Apalagi dengan kondisi seperti ini, Lintang butuh Mas Firman, Bu."
"Tapi Firman nggak akan bisa membantu apa-apa, Lin," sela Bapak.
__ADS_1
"Lintang nggak peduli, Pak. Lintang cuma butuh Mas Firman ada di samping kami. Di samping saya dan Elang. Lintang udah pikirkan semalaman. Nggak masalah kalau Mas Firman lupa sama Lintang. Yang penting, Lintang masih inget sama Mas Firman. Lintang akan buktikan kalau Lintang tidak hanya ada dalam keadaan suka, Lintang juga akan selalu ada meski itu dalam keadaan tersulit sekali pun."
Rasanya hatiku disiram dengan seember besar air es. Mendengar Lintang berkata begitu, membuatku merasa sangat berarti. Entah seperti apa aku sebelumnya, tapi aku merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Lintang.
Orang tua kami tertunduk. Tak ada yang membantah kata-kata Lintang. Yang ada hanya Elang yang terus memegang tangan ibunya. Tidak mengerti apa yang terjadi.
"Maaf, kalau Lintang harus berkata seperti ini. Namun Lintang tidak akan membiarkan Mas Firman keluar dari rumah ini. Lintang permisi. Ayo, Mas!" Lintang langsung menarik tanganku dan menggandeng Elang. Dia membawa kami ke luar.
Aku yang masih terpana, hanya bisa mengekornya. Perempuan ini benar-benar memiliki aura yang luar biasa. Sepertinya dia sudah biasa menghadapi situasi sulit.
Lintang membawa kami ke taman bermain di halaman depan. Taman yang dipenuhi dengan aneka permainan anak, layaknya sebuah taman kanak-kanak. Kami duduk di bangku taman yang terbuat dari kayu.
"Maafin Mama, ya Sayang, kalau Mama berlaku seperti itu di depan Elang. Itu bukanlah perbuatan yang baik. Jangan pernah menirunya." Di usapnya kepala anak tampan itu, dan didaratkannya sebuah kecupan di sana. "Main, gih. Mama sama Papa tungguin di sini."
Elang langsung tersenyum dan berlari ke arah ayunan tanpa bertanya ataupun membantah. Entah bagaimana cara Lintang mengajari anak itu sehingga menjadi anak yang cerdas dan penurut.
"Maaf ya, Man, kalau aku terpaksa melakukan ini. Bukannya aku mau melawan orang tua kita, tapi aku yakin, aku bisa merawatmu. Kamu pasti akan segera sembuh. Aku akan melakukan semua yang terbaik untukmu." Dia menggenggam tanganku, membuat jantungku berdebar kencang. Apa ini?
"Tapi Bapak benar, Lin. Mungkin saya hanya akan merepotkanmu," ujarku ragu.
"Lihat aku!" perintahnya.
Kuangkat wajahku, kutatap manik hitam yang dihias bulu mata panjang nan lentik itu.
"Kamu selalu bilang, kalau kamu yang akan menyanggaku ketika aku rapuh. Dan sekarang aku akan mengatakan hal yang sama padamu, Suamiku. Aku yang akan menyanggamu saat kamu tidak bisa berdiri tegak."
Aku tak bisa berkata-kata. Mata itu begitu menghipnotisku, seolah tidak bisa terbantahkan. Kembali jantungku berdebar kencang, seolah ingin melompat dari tempatnya.
"Terima kasih," ucapku. "Semoga saya bisa segera ingat semuanya, sehingga tidak menyusahkanmu lagi."
__ADS_1
"Harus! Aku tidak mau mengurus segalanya sendiri. Kamu udah terlalu memanjakanku, dan sepertinya sekarang aku harus membayarnya," katanya dengan senyum kecil. "Jangan harap aku akan canggung padamu. Aku akan tetap memperlakukanmu seperti suamiku."
Seketika wajahku memanas. Dan seperti ada banyak kupu-kupu beterbangan di dalam perutku. Rasa apa ini? Jatuh cinta? Masa aku jatuh cinta lagi pada istriku sendiri?