
POV Firman
"Aku mencintaimu, Sayang," kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku.
Lintang mengangkat wajahnya, dengan mata membulat sempurna.
"Kamu ... kamu ingat sesuatu, Man?" tanyanya penuh harap.
"A-aku ...," Aku tidak bisa menjawabnya.
Lintang menghela napas panjang, raut wajahnya berubah sedih.
"Sudahlah. Sepertinya aku berharap terlalu banyak." Dengan segera Lintang memasangkan dasiku tanpa bicara. Kemudian, dirapikannya dandanannya yang sempat kusut.
"Yuk, kita udah terlambat." Ditariknya tanganku yang berada dalam genggamannya.
"Lin," kutahan tangannya.
"Ya?" Dia berbalik.
"Aku serius dengan ucapanku."
Lintang tersenyum. "Aku tau. Dari dulu kamu kan selalu mencintaiku."
"Nggak! Bukan begitu!" teriakku dalam hati.
Lintang terus menggandengku ke ruang kerja, sebuah ruangan yang cukup besar, dengan kursi-kursi berjajar mengelilingi sebuah meja panjang berbentuk oval. Semua kursi sudah terisi penuh, kecuali kursi di ujung meja.
Semua orang langsung berdiri begitu kami masuk.
"Pak Firman?" Hampir semua orang menyebut namaku dengan nada heran.
"Iya, Bapak dan Ibu, ini Pak Firman. Beliau belum bisa mengingat apa pun. Namun, hari ini Pak Firman akan ikut rapat, siapa tahu bisa membantunya untuk mengingat," jelas Lintang.
Semua yang hadir langsung menyalamiku dan memberikan semangat juga penghiburan.
Seseorang menambahkan sebuah kursi untukku. Tanpa basa-basi, rapat pun dimulai. Seorang wanita, yang entah siapa memulai acaranya. Kemudian mereka satu per satu memberikan laporan. Lintang menyimaknya dengan seksama. Sedangkan aku, bukan isi laporan itu yang membuatku tertarik, tetapi Lintang.
Ya, Lintang. Tidak ada yang lebih menarik hatiku dibandingkan dirinya. Sejak hari pertama aku menginjakkan kakiku di rumah ini, dia sudah membuatku penasaran. Kerapuhannya ketika melihat kondisiku, ternyata berbanding terbalik dengan sifat aslinya. Sikapnya yang tegas dalam mengambil keputusan membuatku tetap berada di rumah ini. Sikapnya yang manis dan terkadang manja, membuatku merasa dibutuhkan. Tanpa sadar, aku makin mengaguminya. Dan sekarang, rasa kagum itu makin bertambah ketika melihatnya memimpin rapat. Dia benar-benar bisa menguasai keadaan, meski ada beberapa laporan yang tidak menyenangkan. Kondisinya yang sedang hamil tua, tidak membuatnya terlihat lemah sama sekali.
Kepalaku terasa sedikit sakit, kutekan pelipisku untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Kamu baik-baik aja, Man?" tanya Lintang ketika rapat sudah usai.
"Aku baik, Lin."
"Ada yang kamu ingat?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Wajah mereka familiar, tapi aku tidak ingat mereka siapa."
"Nggak apa-apa, jangan terlalu memaksakan diri."
"Tapi sepertinya aku bisa membantumu kalau soal pekerjaan."
"Maksudmu?"
"Begini." Kuambil sebuah laporan dan membukanya. "Sebenarnya, untuk mengeboran lepas pantai, kita bukan yang terbaik. Namun ...," kujelaskan prosedur pengeboran lepas pantai juga kendalanya. Kuberikan solusi yang harus dilakukan. Lintang menatapku tak berkedip.
"Man, kamu hilang ingatan, tapi kamu nggak kehilangan kemampuanmu," gumamnya.
"Aku nggak tau, tapi sepertinya begitu."
"Ya ampun, Sayang. Kalau gitu, pasti kamu cepet sembuh," serunya girang.
"Kalau aku nggak ingat-ingat juga, gimana, Lin?" tanyaku takut-takut.
"Buat aku, nggak masalah kamu sembuh atau nggak. Toh kita bisa membuat kenangan-kenangan baru yang indah. Yang aku inginkan, kamu kembali mencintaiku, mencintai Elang, mencintai calon bayi kita ini. Udah, itu aja. Namun yang aku takutkan, kamu yang baru akan sulit melakukannya. Karena aku yakin, kamu yang sekarang nggak punya perasaan apa pun pada kami. Seandainya pun cinta itu tumbuh, nggak mungkin bisa seperti 'Firman yang dulu' mencintai kami."
Kenapa harus tidak mungkin, Lin? Aku mencintaimu. Aku yakin itu. Meski aku tidak bisa mengatakan ataupun memperlihatkannya secara jelas, aku yakin dengan perasaanku. Begitu pun dengan Elang. Aku mencintainya tanpa syarat. Seandainya aku bisa mengatakannya, apa itu bisa mengobati sedikit rasa kecewamu?
__ADS_1
Aku masih menunduk.
"Sebaiknya aku cek dulu, Elang udah pulang, belum," ujarnya sambil berdiri dari kursinya.
Aku pun ikut berdiri.
Tiba-tiba kudengar suara desisan keluar dari bibir Lintang.
"Kenapa, Lin?" tanyaku cemas.
"Sakit, Man. Nggak tau dia ngapain di dalem, tapi rasanya sakit," ujarnya meringis.
"Ini udah hampir sembilan bulan, ya?" tanyaku sambil menyeret sebuah kursi untuknya.
"Kayaknya hari ini udah sembilan bulan," jawabnya sambil mengelus perut di balik blazernya.
"Harusnya kamu nggak ngelakuin pekerjaan berat, Lin. Orang umum aja, tujuh bulan udah pada cuti," omelku seolah mengerti apa yang dia rasakan.
Dia hanya tertawa. "Aku seneng kamu perhatian."
"Sudah seharusnya," ucapku sambil terus melihat ke arahnya yang terlihat pucat.
"Ini bukan kontraksi, kan, Lin?"
"Aku nggak tau, Man. Aku belum pernah ngerasain yang namanya kontraksi," jawabnya sambil mengurut-urut pinggangnya.
"Waktu melahirkan Elang?" tanyaku aneh.
"Elang lahir dalam keadaan prematur, itu pun terpaksa karena aku sudah koma dan kehabisan darah."
"Apa?!"
Tiba-tiba kepalaku terasa pusing, seperti ada yang berputar di kepalaku. Seolah ada bayangan-bayangan samar yang datang bergantian. Kupukul kepalaku berkali-kali.
"Jangan, Man! Kamu kenapa?" Lintang menahan tanganku.
"Kepalaku sakit, Lin," keluhku.
Entah kenapa, aku jadi ingin tertawa mendengarnya. Rasa sakit itu pun pelahan menghilang. Berganti dengan wajah cemas Lintang, tepat di depanku.
"Mendingan?" tanyanya.
Aku mengangguk. Dia segera merengkuhku dalam dekapannya. Kupejamkan mataku meresapi hangat pelukannya. Wangi tubuhnya membuatku tidak ingin melepasnya.
"Jangan bikin aku cemas, Man," lirihnya di telingaku.
...
Sudah lewat tengah malam, tapi aku masih belum bisa terpejam. Terlalu banyak hal yang berjejalan dalam kepalaku.
Kuhirup udara sebanyak-banyaknya, seolah paru-paruku kosong. Kuingat kembali kejadian hari ini.
Foto-foto di kamar Lintang membuatku berpikir keras. Ada sesuatu di dalamnya. Seperti sebuah cinta yang terpahat begitu dalam. Kata-kata cinta yang meluncur begitu saja dari mulutku pun mengukuhkan bahwa memang aku mencintainya. Wajahnya selalu terbayang di pelupuk mataku. Bahkan saat aku menutup mata, wajahnya tetap terlihat nyata. Dan bibir itu .... Seperti anak SMA yang baru merasakan jatuh cinta, wajah dan telingaku memanas. Ciuman yang begitu manis dan menghanyutkan. Bila aku boleh meminta, aku akan memintanya lagi dan lagi. Walau bagaimanapun, aku tetap lelaki normal. Aku bahkan ingin melakukan lebih, seandainya Lintang mengizinkan.
Pikiranku sudah berkelana terlalu jauh. Lebih baik aku mencari air dingin untuk mendinginkan hati dan kepalaku. Aku pun melangkah ke luar kamar. Kuintip kamar Elang yang bersebelahan dengan kamarku. Kudekati tempat tidurnya. Anak itu tertidur dengan lelap. Wajahnya yang tenang tanpa dosa membuat hatiku menghangat. Kucium keningnya lama. Aku sangat menyayanginya, miniatur diriku.
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul satu lebih beberapa menit. Kuperbaiki letak selimutnya, dan kucium dia sekali lagi.
Aku pun keluar dari kamar, bermaksud ke coffee corner dekat ruang tamu. Di seberang ruangan, kulihat lampu di ruang kerja masih menyala. Mungkin Bi Sri lupa mematikannya. Kubuka pintu ruangan itu pelahan. Betapa terkejutnya aku melihat Lintang yang sudah mengenakan kimono tidur tertelungkup di atas meja. Langsung kudekati dia.
"Lin," kupegang bahunya pelahan.
Terdengar suara dengkuran halus darinya. Lega rasanya, rupanya dia tertidur di sini. Kulihat proyektor yang masih menyala, begitu juga dengan layar laptop. File-file berserakan di atas meja. Sepertinya sebelum ketiduran, Lintang sedang melakukan sesuatu.
Segera kubereskan semua filenya. Kusave dokumen yang sedang dia kerjakan. Kumatikan pula proyektornya.
"Lin ...," kucoba mengguncangkan bahunya lagi.
"Hem." Dia mengangkat wajahnya dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
"Gimana kamu bisa tidur di sini?" tanyaku sambil menyingkirkan rambut yang sebagian menutupi wajahnya.
Dia membuka matanya pelahan.
"Sayang ...," panggilnya.
Hatiku berdebar kencang setiap dia memanggilku dengan panggilan itu.
"Aku anter ke kamar, yuk. Nanti pinggangmu sakit tidur di kursi kayak gitu," kubantu Lintang untuk berdiri.
Dia berdiri dengan sempoyongan. Matanya tidak benar-benar terbuka. Kupegang sebelah tangannya, dan kurangkul pinggangnya agar dia tidak terjatuh.
"Aku ngantuk, Man," ujarnya.
"Iya, makanya cepetan tidur. Ngapain juga kamu ngerjain itu malem-malem." Kubimbing dia sampai ke depan pintu. Kubuka pintu kamarnya pelahan.
"Tidurlah," kubantu Lintang naik ke atas tempat tidur.
"Makasih," ujarnya sambil menarik simpul kimono tidurnya. Dilepaskannya kimono itu, memperlihatkan gaun tidur tipis pendek dengan tali spagetti yang menutupi tubuhnya. Dilemparnya kimono itu sembarangan.
Aku menelan salivaku dengan susah payah. Mataku tidak bisa ditahan untuk tidak menjelajahi tubuh mulus itu. Tiap lekuk tubuhnya, dengan perut besar yang tercetak jelas, membuat pikiranku berkelana ke mana-mana.
Lintang berbaring pelahan. Mencari posisi yang nyaman untuknya tidur. Perut yang besar membuatnya serba salah dalam mencari posisi.
Kutarik bedcover untuk menutupi tubuhnya.
"Nggak usah, Man. Panas. Udah perut segini bawaannya gerah terus," ujarnya sambil menahan tanganku yang hendak menyelimutinya.
"Ya udah, tidur, ya," ujarku.
"Kamu nggak mau cium aku dulu?" tanyanya sebelum aku turun dari tempat tidur.
Aku tersenyum kecil.
"Boleh?" tanyaku.
Lintang mengangguk. Ditunjuknya keningnya. Kucium keningnya lama. Entah getaran apa yang kurasakan, rasanya ada banyak kerinduan di sana.
"Aku mencintaimu, Lin," lirihku.
"Ucapkan terus, Man. Aku ingin bermimpi indah tentangmu malam ini," ujarnya sambil memejamkan mata.
"Aku mengatakannya bukan sebagai diriku di masa lalu, tapi sebagai diriku saat ini."
Lintang langsung membuka matanya. Mata kami bersirobok. Manik hitamnya terlihat jernih, tanpa kantuk yang tadi bergelayut.
"Aku mencintaimu sebagai diriku saat ini, Lin," ulangku.
Matanya berkaca-kaca. Diangkatnya kedua tangannya, dan dibingkainya wajahku.
"Aku juga selalu mencintaimu, Suamiku. Sejak kita menikah, sampai detik ini, tak ada yang berubah."
Langsung kurengkuh tubuh itu. Kusembunyikan wajahku diceruk lehernya.
"Terima kasih, Sayang. Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk Elang dan suami yang sempurna untukmu. Dengan ataupun tanpa ingatan masa lalu kita."
Lintang mengangguk. "Itu yang ingin kudengar darimu."
❤❤❤
*Ketemu lagi sama Candy 🤗🤗🤗
Mohon maaf atas segala keterlambatan, cerita yang bertele-tele dan kadang irisan bawang yang menyertainya 😁. Semoga ke depannya bisa lebih baik dan lebih seru lagi. Do 'akan, ya!
Untuk CML ini sendiri, tinggal satu ekstra part lagi. Kenapa tinggal satu lagi? Biar genap aja jadi 100 episode 😁.
Terima kasih kepada semua Sahabat yang udah mau menyisihkan waktunya untuk membaca novel ini. Ini novel pertama yang Candy tamatin. Seneng banget bisa kenal Sahabat semua. Apalagi ada yang sampai bersilaturahmi di dunia nyata.
I love you, all 😘😘😘
__ADS_1
Jadi akankah Firman ingat semua masa lalunya? Atau mereka akan memulai kehidupan yang baru dengan Firman 'yang baru'? Atau malah Firman kepincut cinta yang lain, karena ingatannya hilang?
Tunggu Ekstra Part terakhirnya, ya*.