Cinta Masa Lalu

Cinta Masa Lalu
Bangunlah!


__ADS_3

Aku menghela napas panjang.


Melihat dua orang paling berharga dalam hidupku dalam keadaan seperti ini membuatku merasakan sakit yang amat sangat. Rasa dendam merajai hatiku saat melihat istriku diperlakukan sedemikian rupa oleh Angela. Ingin rasanya aku membalas perlakuannya pada Lintang dengan tanganku sendiri.


Kulihat Adi berjalan ke arahku dengan tergesa.


"Gimana keadaan Lintang?" tanyanya begitu dia sampai di depanku.


"Lintang masih koma. Masih dalam perawatan intensif di ICU. Kalau udah stabil, baru bisa masuk kamar perawatan," jawabku. "Gimana dengan Angela?"


Adi terdiam.


"Dia kabur waktu penangkapan."


"Dia lepas begitu aja?" tanyaku dengan nada suara yang meninggi.


"Nggak, dia.. dia ketabrak mobil waktu dikejar polisi."


"Apa?!" aku tidak yakin dengan pendengaranku.


"Dia tewas di tempat."


"Innalillahi."


"Sebelumnya dia mengakui kalau dia yang menganiaya Lintang. Dan dia pikir, Lintang dan bayimu udah nggak ada."


Aku ingin marah mendengar pernyataan itu. Namun, apa yang kudapat kalau aku marah? Toh Angela sudah meninggal. Meskipun jujur, aku belum bisa menghilangkan rasa sakit hati yang sudah dia torehkan untukku dan keluargaku.


"Sepertinya dia bisa melakukan hal-hal di luar batas karena pengaruh obat. Di kantornya ditemukan beberapa paket obat-obatan terlarang," lanjut Adi.


Aku menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan mantan rekan kerjaku itu.


"Polisi masih mengurus semua. Mungkin nanti kamu juga akan dimintai keterangan."


"Aku nggak tau harus bilang makasih kayak gimana sama kamu, Di," ucapku tulus.


"Aku melakukan ini semua untuk menebus kesalahanku sebelumnya, Man. Setidaknya, setelah ini aku masih punya muka kalau ketemu sama kamu ataupun Lintang," katanya.


Aku berusaha tersenyum dan menepuk bahunya.


"Sekali lagi Lintang benar, walau bagaimanapun, kamu adalah sahabatku. Waktu yang sudah kita lalui bersama tidak serta merta hilang begitu saja karena seorang Lintang. Dia sangat menyesal karena membuat hubungan kita berantakan. Dia sangat ingin aku berteman denganmu lagi," beberku.

__ADS_1


"Kamu benar-benar beruntung mendapatkannya, Man."


"Ya, dan aku nggak mau kehilangan dia. Jadi jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku," ancamku setengah bercanda.


"Dia tidak akan pernah berpaling darimu. Aku hanya menghabiskan waktu merebut dia darimu."


"Makanya, cari istri yang baik. Cepetan move on dari istriku."


Kami tertawa bersama. Sejenak melupakan kepedihan akan keadaan Lintang dan anakku. Ya, sekali lagi Lintang menyatukan persahabatanku dan Setiadi.


Mama dan Papa, juga Ibu dan Bapak datang hari itu juga. Kesedihan terlihat begitu kentara dari kedua orang tua kami. Bergantian, mereka menemani Lintang dan bayi kecil kami, yang kuberi nama Elang Angkasa Firmansyah.


Saat-saat kritis Lintang sudah dilaluinya. Kondisinya sudah mulai stabil, tapi dia belum juga sadarkan diri. Sudah tiga hari ini Lintang dipindahkan ke ruang perawatan dengan peralatan monitoring lengkap.


"Sayang, cepetan bangun. Aku udah kangen peluk kamu," bisikku di telinganya.


"Tapi nggak cuma aku yang kangen kamu, teman-temanmu juga pada kangen. Tadi Sasa sama Ratry telpon, kangen diomelin sama kamu katanya. Satria juga datang ke rumah, kata Arum, bawain coklat dan banyak camilan buat kamu. Banyak yang sayang sama kamu, Lin," ucapku berusaha seriang mungkin.


"Kalau kamu bangun, aku janji nggak akan larang kamu makan cilok lagi." Selama hamil, aku melarang Lintang makan makanan yang terbuat dari tepung tapioka itu. Juga makanan yang sejenisnya, seperti cireng dan cilung, yang entah kenapa tiba-tiba Lintang sukai.


Ini sudah hari kedelapan sejak Lintang koma. Meskipun keadaannya berangsur membaik, tapi kesadarannya belum kembali sama sekali. Dokter menyarankan untuk sering-sering mengajaknya mengobrol, agar otaknya tetap bekerja dan kesadarannya kembali pulih.


Kucium keningnya lama. Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Kuelus pipinya yang mulus. Menikmati kecantikannya yang tak berubah, meskipun dia terlihat lebih kurus.


"Kayaknya bentar lagi dia bakal acak-acak koleksi Gundam Kit mu," aku terkekeh membayangkan Elang yang duduk dengan tenang dengan Mamanya yang berkacak pinggang melihat koleksinya yang berantakan.


Lintang masih terbaring dengan tenang, tidak terusik dengan semua yang aku katakan.


"Man, Elang nangis terus, nggak mau berenti," tiba-tiba Mama masuk ke ruangan.


"Kenapa, Ma?" tanyaku dengan jantung berdetak kencang.


"Nggak tau. Mama udah panggil dokter sama suster, tapi Elang nggak mau berenti nangis juga."


Aku benar-benar khawatir. Elang kenapa? Semoga ini bukan pertanda buruk. Aku bermaksud melepas genggaman tanganku pada tangan Lintang ketika aku merasa jarinya menahanku.


"Lin?"


Aku memastikan apa yang kurasakan. Meski sangat lembut aku merasakan jemarinya menggenggam tanganku.


"Ma! Lintang bereaksi!" teriakku.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Lintang tahan tangan saya, Ma," rasa bahagia langsung meluap. Harapan Lintang untuk segera bangun serasa sudah di depan mata.


"Sayang... Sayang, kamu dengar aku?" kugenggam tangannya yang berhias selang infus dengan kedua tanganku. "Elang nangis terus, Sayang. Dia membutuhkanmu. Bangunlah!"


Tidak ada pergerakan yang signifikan di monitor, tapi tangan Lintang mulai bergerak lagi.


"Ma, tolong panggil dokternya, Ma," kataku tak sabar.


Mama segera menekan tombol panggilan dokter. Selang beberapa detik seorang dokter dan dua orang suster sudah datang ke ruangan ini.


"Istri saya bereaksi dokter. Tangannya sudah bergerak," laporku.


"Sebentar ya, Pak. Biar saya periksa dulu," dokter itu segera memeriksa Lintang dengan seksama.


"Ma, maaf, bisa tolong liat Elang dulu? Saya nggak bisa tinggalin Lintang," ujarku.


"Iya, iya. Mama ke sana dulu. Kalau ada apa-apa, kasih tau Mama secepatnya, ya," ujar mertuaku itu.


"Kabar baik, Pak Firman. Sepertinya Bu Lintang sudah bisa merespon. Kondisi tubuhnya juga stabil. Terus diberi rangsangan ya, Pak. Semoga Bu Lintang cepat sadar," anjur dokter itu melambungkan harapanku.


"Iya Dokter, pasti," jawabku yakin. "Dokter, bisakah saya minta izin membawa inkubator Elang ke sini? Sebentar saja. Sepertinya Lintang bereaksi karena tadi mendengar tentang anak kami yang tidak berhenti menangis," izinku.


"Kalau hanya sebentar, sepertinya bisa. Tapi Elang masih harus melakukan perawatan di NICU."


"Hanya sebentar, Dokter. Saya janji," ujarku.


Dokter mengangguk. Tak berapa lama, seorang suster sudah memindahkan inkubator anakku ke samping ranjang Lintang. Mama dan Ibu yang menunggui Elang sejak tadi juga ikut pindah ke kamar perawatan.


Tangis Elang memecah keheningan ruangan ini. Suster masih berusaha menenangkannya.


"Sayang, kamu dengar? Itu suara Elang, anak kita. Bangunlah Sayang. Kasian dia," bisikku di telinganya.


Bayi kecil itu masih saja menangis dengan kencang.


Tangan Lintang yang kugenggam bergerak lagi.


"Iya, Sayang. Buka matamu. Elang ada di sini, di sampingmu."


Aku merasa kelopak matanya bergerak.

__ADS_1


"Bangun, Sayang! Bangun!"


__ADS_2