
"Sayang!" panggil Firman.
Aku mengacuhkan panggilannya. Aku berjalan ke luar ruangan. Firman mengejarku.
"Lin, Sayang ... kamu marah, ya?"
Aku membuka pintu kamar tanpa bicara sepatah kata pun.
"Sayang ...."
"Tau ah, aku sebel sama kamu."
"Jadi aku nggak boleh pergi?" tanya Firman.
"Emang nggak ada orang lain yang bisa disuruh pergi?" aku langsung berbalik, membuat Firman menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"Ini urusan penting, Sayang. Rekanan kita mau mulai membuka tambang baru. Mereka butuh bantuan kita."
"Bukan kita, tapi kamu!" kutunjuk dadanya yang masih telanjang. "Udah ah, aku capek. Aku males berdebat."
Aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi, membiarkannya dia berdiri mematung.
Firman menunggui sampai aku selesai berendam, tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
"Sayang," dipeluknya aku dari belakang saat aku membuka lemari untuk memilih baju. "Kamu masih marah, ya?"
Aku masih diam. Kuambil sebuah dress dan kembali melangkah ke kamar mandi.
"Sayang ...," ditariknya lenganku, "jangan marah, please. Aku nggak bisa kalau kamu diemin gini."
Aku tiba-tiba merasa kasihan padanya.
"Iya, aku nggak marah."
"Senyum dong kalau nggak marah," disentuhnya daguku dengan dua jarinya.
"Udahlah, aku lagi nggak mood," ucapku sambil masuk lagi ke kamar mandi.
Aku keluar setelah berpakaian lengkap. Kututup rambutku yang basah dengan handuk. Firman tidak ada di kamar.
Aku duduk di depan meja rias. Kububuhkan beberapa titik pelembab di wajahku. Juga sedikit bedak dan lips spa. Tidak lupa hand body serum yang aku suka sekali wanginya.
Kudengar pintu kamar terbuka dan tertutup lagi. Aku menengok. Kulihat Firman datang dengan membawa nampan. Aku berdiri dan buru-buru mengambil alih nampan yang dibawanya.
"Ini buat kamu, Sayang. Secangkir coklat panas dan beberapa potong black forest kesukaanmu," katanya saat aku meletakkan nampan itu di atas meja.
"Aku bisa ambil sendiri kalau aku mau, Man," ujarku. "Kamu nggak usah repot-repot."
"Buat aku, nggak ada salahnya seorang suami melayani istrinya," katanya sambil tersenyum.
Selalu seperti itu. Dia tahu cara untuk membuat amarahku hilang tak berbekas.
"Kamu pasti kedinginan, minum dulu coklatnya," katanya sambil menyodorkan cangkir dengan gambar daun maple.
"Makasih," kuterima cangkir dari tangannya dan kucecap sedikit. "Kamu mau?"
"Nggak, buat kamu aja."
Dia berpindah duduk di lengan sofa yang kududuki. Diurainya handuk yang kupakai untuk menutupi rambutku yang basah.
"Nggak usah, Man," kataku ketika dia mulai mengeringkan rambutku yang panjang dengan handuk.
"Sssttt ... diamlah. Kamu juga tiap hari ngeringin rambutku."
Aku hanya diam sambil meminum kembali coklat panas yang Firman bawakan.
"Man," lirihku.
__ADS_1
"Ya, Sayang," katanya sambil terus mengusap rambutku dengan handuk.
"Maaf, ya. Tadi aku kebawa emosi," gumamku.
"Nggak apa-apa, Sayang."
"Aku ... aku nggak mau kamu pergi jauh dariku. Aku mau kamu tetap di sisiku," ujarku masih dengan suara lirih.
Tangan Firman berhenti mengeringkan rambutku. Dia lantas berjongkok di depanku. Diambilnya cangkir yang sedang kupegang, diletakkannya di atas meja. Dipegangnya kedua tanganku dan digenggamnya erat.
"Sayang, kamu tau, rasanya aku nggak percaya kamu mengatakan hal itu. Mendengarmu memintaku selalu berada di sisimu, rasanya seperti mimpi," dikecupnya kedua tanganku.
"Aku akan selalu ada di sini, Sayang. Aku nggak akan kemana-mana."
"Aku nggak bermaksud mengunci langkahmu, Man."
"Kamu nggak mengunci langkahku, kamu mengunci hatiku," katanya sambil tertawa kecil.
"Kalau memang kamu harus pergi, pergilah," kataku akhirnya.
"Kamu gimana?"
"Biar aku di rumah sama Arum dan Ibu."
Dia langsung memelukku.
"Man, kamu masih lengket. Mandi, gih," ujarku.
Firman melepas pelukannya dan mencium keningku sekilas.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang," dia segera berlalu ke kamar mandi.
...
Hari-hari berikutnya rasanya aku tidak bisa jauh dari Firman. Selama aku melihatnya ada di rumah, aku akan memintanya mengantarku berangkat kerja atau pun menjemputku pada sore harinya. Kalau pun dia berangkat ke kantor, maka dia wajib menelponku sesering mungkin.
"Man, aku nggak mau anter kamu ke bandara. Aku nggak mau liat kamu pergi," ucapku kala aku membantunya membereskan kopor.
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku juga nggak mau liat kamu sedih," katanya sambil memegang kedua pipiku. Diberinya aku sebuah kecupan hangat di bibir.
"Kamu bener-bener bikin aku rapuh tanpamu," kataku sambil memeluknya.
Dibalasnya pelukanku.
"Aku janji, aku akan ngasih kabar sesering mungkin sama kamu. Aku juga usahain bisa nemenin kamu sampai kamu tidur," katanya. Dikecupnya puncak kepalaku.
Rasanya enggan untukku mengurai pelukanku. Namun dia harus pergi.
"Bu, nitip Lintang sama Arum, ya," katanya pada Bu Ratna, mertuaku.
"Wong dua-duanya anak ibu kok dititipin. Nggak perlu diminta juga pasti ibu jagain, Le," jawab Ibu sambil mengusap punggung putra sulungnya.
"Hati-hati ya, Man. Kabarin aku terus," kataku dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Sayang. Pasti." Dikecupnya keningku lama.
Firman masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan pada kami yang masih berdiri di depan pintu.
Ibu mengusap punggungku, berusaha memberikan ketenangan. Kupeluk Ibu mertuaku itu.
"Dua minggu nggak lama kok, Lin," hibur Ibu.
"Sejak nikah, Lintang belum pernah ditinggal lama sama Mas Firman, Bu," lirihku.
"Nggak kerasa. Besok juga pasti udah pulang lagi," lanjut Ibu.
"Iya Mbak, jangan sedih. Biasanya Mas Firman perginya tiga bulan, enam bulan malah," tutur Arum.
__ADS_1
Aku menarik napas panjang. Berusaha memikirkan hal lain agar sejenak bisa melupakan Firman.
Malam ini aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku terus membolak-balikkan tubuhku ke kanan dan ke kiri, tetapi tetap tidak mendapatkan posisi yang nyaman. Aku sudah terbiasa tidur di dada Firman. Diselimuti oleh hangat pelukannya.
Kututup wajahku dengan bantal, berusaha untuk tidur.
"Mbak kenapa?" tanya Arum di meja makan pagi ini.
"Mbak nggak bisa tidur semaleman, Rum," jawabku dengan lesu.
"Pasti mikirin Mas Firman, ya?"
"Iya, lah. Masa mikirin si Abim," selorohku.
Arum terkikik.
"Kamu keliatan pucet banget lho, Nduk. Nggak usah ngantor dulu aja," saran Ibu yang keluar dari dapur.
"Iya, Bu. Kayaknya Lintang mau istirahat aja dulu," ucapku.
"Kamu sayang banget sama anak Ibu, tho, Nduk?"
Mau tidak mau aku tersenyum mendengar pertanyaan Ibu.
"Ya, Sayang dong, Bu. Kalau nggak sayang, ngapain Lintang mau nikah sama Mas Firman," jawabku tersipu.
"Ibu seneng banget lho, dengernya. Soalnya ibu tau betul, betapa anak ibu itu cinta sama kamu, Lin. Dulu dia selalu menolak tiap ibu mau kenalin sama anak-anak temen ibu. Dia bersikukuh untuk mempertahankanmu, cinta pertamanya sejak SMP. Waktu kalian nikah, dia udah kayak dapet apa gitu, saking bahagianya. Apalagi waktu dia ngabari kalau kamu lagi hamil. Dia tuh sueneng banget."
Aku menghela napas.
"Iya, Bu, Lintang tau. Seandainya kehamilan itu berjalan lancar, pasti sekarang Lintang lagi hamil sembilan bulan atau mungkin baru melahirkan," ucapku sedih.
"Memang udah takdir dari Gusti Allah begitu, Nduk. Yang sabar," katanya sambil mengusap rambutku.
"Inggih¹, Bu."
"Udah, sarapan dulu," kata Ibu. " Ibu bikin nasi goreng, enak lho."
Diambilkannya dua centong nasi goreng ke atas piringku.
"Matur suwun², Bu," kataku sambil tersenyum.
Namun tiba-tiba aku merasa perutku tidak nyaman. Rasa mual menjalar dari perut ke dada. Secara reflek kututup mulutku dan segera berlari ke kamar.
Kutabrak pintu kamar mandi begitu saja. Kukeluarkan rasa mualku di wastafel. Aku muntah-muntah di sana.
"Kamu nggak apa-apa, Lin?" Ibu sudah berdiri di depan pintu.
"Nggak apa-apa, Bu. Maaf, Lintang tiba-tiba mual dan pengen muntah," kataku sambil membasuh mulut dengan air.
"Kamu udah dapet?"
"Udah, Bu. Dua atau tiga minggu yang lalu."
Rasa mual datang lagi. Aku kembali menunduk di wastafel. Ibu masuk dan membantuku dengan mengusap punggungku. Ditungguinya aku sampai rasa mual itu hilang.
"Panggil dokter, Dek!" perintah Ibu ketika beliau membimbingku ke tempat tidur.
"Nggak usah, Bu. Lintang cuma masuk angin, gara-gara tadi malem nggak tidur," tolakku.
"Nggak ada alasan. Firman nitipin kamu ke ibu, jadi kamu sekarang tanggung jawab ibu," katanya tegas.
Aku hanya bisa berbaring dengan lemas di tempat tidur.
Keterangan:
1) Inggih: iya
__ADS_1
2) Matur suwun : terima kasih