
Cinta pertama
Bab 1
"Aku sayang kamu!" ucap seorang gadis cantik berwajah oval dengan rambut di bob berponi.
"Aku juga sayang kamu," balas pemuda tampan berhidung mancung itu.
"Aku serius! Aku sayang dan cinta kamu!" ucap gadis berkulit putih itu dengan tegas.
Pemuda berkulit putih dengan perawakan tinggi itu mengernyitkan dahinya.
"Aku sayang kamu hanya sebagai sahabat tidak lebih, Maudy!" sahut pemuda itu dengan tegas.
"Tapi aku maunya kita pacaran, Satria!" ucap Maudy seraya memanjangkan perkataannya.
" Aku, gak bisa jadi pacar kamu, aku sudah menyayangi kamu sebagai sahabat tidak bisa lebih! " ucap Satria dengan tegas.
Gadis yang memiliki mata indah itu memberengut. Tidak bisa dipungkiri hatinya kecewa, ditolak oleh cowok idamannya yang dia sukai sejak kecil.
Ya, Satria Pramudya adalah cinta pertamanya Maudy Kezia Putri. Semenjak kecil mereka bersahabat. Satria memperlakukan Maudy seperti saudara perempuannya. Maklum dia hanya anak tunggal. Satria sangat menyayangi Maudy, Satria selalu menjaga Maudy dengan baik.
Orang tua mereka juga bersahabat, bahkan rumah mereka saja berdempetan.
__ADS_1
Semenjak kecil Maudy terpesona dengan ketampanan dan kebaikan Satria. Bagi Maudy Satria adalah pahlawannya karena Satria selalu membela dan menjaganya di kala dia diganggu oleh anak - anak kampung sebelah.
Bagi satria, Maudy adalah sahabat sekaligus saudara perempuan yang harus dijaga dan dilindungi. Tidak lebih!
Lagipula gadis berisik, cerewet dan manja itu bagi Satria tidak cocok dijadikan pacarnya. Dia lebih suka perempuan yang pendiam dan anggun seperti Anastasia yang baru beberapa bulan jadian tanpa sepengetahuan Maudy.
Meskipun Satria sudah menolaknya tetapi Maudy bersikap seolah-olah tidak terjadi apa - apa.
*****
Seperti biasa pagi itu mereka berangkat bareng ke sekolah menggunakan motor matic milik Satria.
Maudy sangat suka dibonceng sama Satria,karena dengan begitu dia bisa terus menempel kepada Satria untuk beberapa menit.
" Iya.. Iya…!" ucap Maudy seraya bergeser ke belakang.
Tak berapa lama pun akhirnya mereka telah sampai di parkiran sekolah.
"Makasih ya! " ucap Maudy seraya menyerahkan helm kepada Satria.
"Sama - sama, eh, Dy, sorry nanti pulang sekolah kamu pulang sendiri ya, aku ada keperluan," ucap Satria seraya memarkir dan mengunci motor maticnya.
"Baiklah,!" sahut Maudy dengan wajah datar tapi dalam hati sebenarnya ia kecewa karena akhir - akhir ini Satria jarang pulang bareng dengan dirinya.
__ADS_1
****
Selesai mengikuti pelajaran, Maudy dan Chaca sahabatnya, menunggu angkot berwarna biru di depan sekolah.
Tidak sengaja pandangannya tertuju kepada motor matic Satria yang melaju di depannya.
"Dy, bukankah itu Satria?" tanya Chaca heran.
Maudy mengagguk. "Iya Cha, tapi dia bonceng siapa ya?"
"Sepertinya anak kelas XII C, anak IPA," sahut Chaca.
"Pantesan, akhir - akhir ini nggak pernah pulang bareng ternyata… Ah..
Bodo amat suka - suka dialah!" gumam Maudy dalam hati.
Namun, melihat pemandangan tadi, dadanya terasa sesak, matanya memanas, rasanya ingin dia menangis meraung - raung meluapkan rasa kecewanya.
Sebisa mungkin dia menahannya agar cairan bening itu tidak turun.
"Dy, ayok!" Chaca mengajak Maudy untuk menaiki angkot yang baru saja berenti di depannya.
Maudy pun mengikuti Chaca menaiki angkot itu dengan perasaan yang campur aduk, sedih, kecewa, cemburu melihat cinta pertamanya berboncengan dengan cewek lain.
__ADS_1