Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Bab 30


__ADS_3

Bab 30


Semenjak kejadian pingsannya Mama Ratri di malam itu, kini kehidupan Keano kembali normal seperti semula. 


Keano lebih sering berada di rumah. Demikian dengan papa Keano, beliau tidak pernah lagi mengungkit - ungkit tentang perjodohan itu. 


Dengan berat hati dan tidak ikhlas akhirnya Papa Hadi membatalkan perjodohan itu. Beruntung Tuan Richard tidak mempermasalahkannya. 


Mau tidak mau, papa mulai menerima Maudy sebagai calon istri putranya itu, yang terpenting anak dan istrinya bahagia. 


Maudy telah resmi dilamar oleh keluarga Keano. Tanggal pernikahan pun sudah ditentukan. Semua dipersiapkan dengan baik oleh kedua belah pihak, tidak ada kurang suatu apapun. Semua serba sempurna. 


Hingga acara penting itu telah tiba. Di rumah Maudy Semua tampak sibuk, seluruh keluarga sudah berkumpul. Terlihat juga kedua sahabat Maudy, Satria dan Robby yang tidak akan melewatkan acara penting Maudy. 


Dari kemarin Satria dan Robby ikut sibuk mempersiapkan pernikahan sahabatnya itu. 


Rumah Maudy didekor sangat mewah dan elegant. Maudy juga telah selesai di rias. Maudy terlihat sangat cantik dan anggun. 


Tubuh rampingnya sangat cocok dibalut kebaya putih dengan bawahan kain batik cantik. 


Semua sudah pada tempatnya, tinggal menunggu calon mempelai prianya. 


Waktu Akad pun telah lewat satu jam, melebihi waktu yang telah dijadwalkan. Bahkan Kak Galih sudah berusaha menghubungi Keano. Namun, ponselnya Keano tidak aktif. Keluarga Robby pun sudah berusaha menelpon orang tuanya Keano untuk menanyakan posisi. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang bisa dihubungi, semuanya tidak aktif. 


Beruntung pak penghulunya masih kerabatnya Papa Maudy jadi, dengan sabar menunggunya. 


Dua jam berlalu. Namun, Keluarga mempelai laki - laki masih juga belum menampakkan batang hidungnya. Keluarga Maudy pun mulai panik. 


"Gimana nih, Pa? Keano dan keluarganya tidak bisa dihubungi," keluh Galih. 


"Iya kenapa ya? Padahal udah berangkat dari jam lima pagi tadi. Seharusnya jam tujuh udah nyampe," Papa Rudi juga bingung. 


"Mana nggak bisa di hubungi lagi," ucap Galih sambil terus berusaha menelpon Keano. Namun tetap tidak tersambung. 

__ADS_1


"Galih susul aja Pa, ke rumahnya, daripada kita menunggu tanpa kepastian," ucap Galih. 


"Nanti kalau ketelisipan jalan gimana?" tanya papa. 


"Ya, Papa tinggal telpon galih kalau emang mereka sudah datang, galih tinggal balik arah." 


"Nanti galih kabarin secepatnya, jika sudah sampai di rumah mereka," imbuh galih. 


"Ya, sudah kalau begitu pergilah, Kak!" titah papa. 


Galih pun, bergegas meninggalkan kediaman orang tuanya menuju ke Jakarta untuk memastikan semuanya. 


Di kediaman mempelai wanita, semua tampak bingung karena dua jam berlalu tapi akad belum dimulai juga. Semua mulai bisik - bisik. Keadaan semakin tidak nyaman. Raut wajah Mama Maudy pun tampak gelisah. 


Begitu juga dengan calon mempelai wanita yang sudah cantik dan siap ke pelaminan itu tampak gusar karena tidak mendapatkan kabar dari calon suaminya. 


"Kamu kemana, Kak?" gumam Maudy seraya mondar - mandir dengan pikiran yang sangat kacau di kamar pengantin yang sudah didekor indah, dengan nuansa putih dan  biru muda itu . 


****


"Ibu, Bapak, mohon maaf harus menunggu selama ini. Mohon tunggu sebentar lagi, ya. Anak saya sedang mencari kabar ke rumah calon pengantin Pria." ucap papa terbata. 


'Lho, ada apa ini, apa calon mempelai prianya melarikan diri?  Kasian sekali Maudy, " bisik salah satu tamu undangan. 


*****


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam akhirnya Galih telah sampai di kediaman orang tua Keano. 


Rumah mewah dengan pagar hitam menjulang tinggi itu nampak sepi.


Setelah menekan bel beberapa kali akhirnya ada seorang wanita paruh baya yang keluar dari rumah itu. 


Dengan Tergopoh wanita itu menghampiri Galih. Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya ia seorang ART. 

__ADS_1


"Iya, Den, cari siapa ya?" tanya ART itu dengan sopan. 


"Keanonya ada?" tanya Galih. 


"Lho, Den Keano, kan, hari ini menikah, jadi, ya sekarang pastinya di rumah calon istrinya," jawab ART tersebut dengan jujur dan memang itulah yang ia ketahui. 


"Jadi, sudah berangkat ya, Bi?" tanya Galih. 


"Ya, sudah Den. Sehabis subuh tadi, katanya biar nggak macet," 


"Oh, gitu ya Bi,? Tapi belum sampai, saya adalah kakak dari calon istrinya Keano," ucap Galih. 


"Oalah iya, Den, apa yang yang terjadi ya,?" Si Bibi bingung karena setahunya majikanya itu sudah berangkat sehabis subuh. 


'Ya, sudah Bi, saya balik  lagi, siapa tahu mereka sudah sampai, " ucap Galih. 


Setelah pamitan Galih pun, kembali ke dalam mobil, sebelum melajukan mobilnya, ia menelpon papa menanyakan kabar terbaru di sana dan jawaban pun tetap sama, Keano belum datang. Galih pun menceritakan kondisi di kediaman Keano kepada papa. 


Setelah mendapat kabar dari putranya, wajah papa semakin pucat. Apakah pernikahan putrinya akan batal? 


"Duh, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya papa dalam hati seraya terduduk lemas. 


"Pa, gimana?" tanya mama. 


Papa menggeleng lemah. "Kata pembantu di sana mereka sudah berangkat sehabis subuh. 


"Saya juga sudah berusaha menghubungi, Kakak saya, tapi tidak bisa," ucap Mama Robby yang ikutan bingung dan panik. 


"Sudah lewat lima jam tapi mempelai prianya belum datang juga, mohon maaf saya tidak bisa menunggu lagi, karena selepas ashar saya harus menikahkan calon pengantin lainnya," ucap penghulu. Sebenarnya ia merasa tidak enak. Namun, harus sampai kapan ia menunggu. 


"Masa pernikahan ini harus batal, kasihan Maudy, Pa," rengek mama dan tangisan pun pecah. 


"Terus kita harus bagaimana, Ma?" Papa juga bingung. 

__ADS_1


"Tidak perlu dibatalkan! Maudy harus tetap menikah!" celetuk seorang ibu. 


__ADS_2