
Bab 17
Satu minggu berlalu.
Sesuai janji Maudy kepada Keano, ia akan memberikan jawaban setelah satu minggu. Sebenarnya ingin sekali Maudy langsung memberikan jawaban "iya" hari itu juga. Namun ia juga harus menjaga gengsinya.
Meskipun di dalam hati masih terukir nama Satria, tapi ia tidak mau terus menerus terjebak cinta sendirian. Lagi pula secara fisik Keano sebanding dengan Satria. Keduanya sama - sama tampan. Dan kalau dilihat dari segi materi Keano lebih unggul, tapi Maudy tidak melihat dari segi materi karena ia bukan cewek matrealistis.
Dalam satu minggu ini, Maudy merasakan kesungguhan Keano dalam merebut hatinya. Keano bersikap manis belakangan ini kepadanya. Sehingga hati yang dari awal mulai tertarik, kini semakin yakin untuk menerima cinta Keano.
Malam minggu
Tepat pukul tujuh, Keano sudah duduk manis di ruang tamu rumahnya Maudy ditemani papa Rudi.
Nampak Keano dan papa mengobrol sangat akrab. Memang, papa selalu ramah kepada siapapun.
Sedangkan Maudy masih sibuk memantaskan diri untuk kencan dengan Keano. Ia masih bingung dengan pakaian yang akan digunakanya.
Mama membuatkan minuman untuk Keano dan papa, lalu membawanya ke ruang tamu.
"Ayo diminum teh angetnya, Nak Ken!" ucap mama seraya meletakan dua cangkir berisi teh manis hangat itu di meja, lalu beliau pun duduk di samping papa.
"Terima kasih, Tante!" sahut Keano dengan sopan, lalu ia pun mengambil cangkir tersebut dan meminumnya setengah.
"Nanti pulangnya jangan malam - malam ya, Nak Ken!" ucap Mama.
"Baik, Tante!" sahut Keano.
Tak berapa lama Maudy menuruni tangga, ia telah selesai berdandan, meskipun sudah mencoba beberapa pakaian, Namun ujung - ujungnya ia memakai baju casual, celana jeans panjang dan kaos putih bergambar nezuko salah satu tokoh anime kesukaannya, kaos itu Sangat pas di badan Maudy, rambutnya diikat ekor kuda. Meskipun seperti itu Maudy terlihat pantas dan cantik.
Maudy melangkah dengan percaya diri, mendekat pada mereka yang ada di ruang tamu.
"Berangkat sekarang?" tanya Keano.
"Yuk!" sahut Maudy sembari mengangguk.
__ADS_1
Setelah pamitan kepada mama dan papa, mereka pun meninggalkan rumah menggunakan mobil Keano.
"Kemana? " tanya Keano kepada gadis di sampingnya yang terlihat sangat cantik malam ini.
"Terserah!" sahut Maudy cepat, ia agak grogi karena dari tadi Keano yang terlihat menawan itu terus meliriknya.
"Kamu cantik!" ungkap Keano.
"Terima Kasih!" Maudy tersipu dipuji Keano.
"Kita kok sehati ya," ucap Keano sembari kembali melirik Maudy.
"Maksudnya?" Maudy bingung.
"Warna celana jeans dan kaos kamu sama dengan yang aku pakai," sahut Keano.
"Oh, iya! " seru Maudy sambil tergelak merasa lucu karena tidak janjian, tapi bisa mengenakan pakaian yang sama.
"Sudah punya jawaban?" tanya Keano sambil tatapan tetap fokus ke depan.
"Sudah!" jawab Maudy.
"Nanti yah, jangan di sini," sahut Maudy seraya tersenyum tipis.
"Aku kok deg - degan gini ya, aku takut kamu menolak aku,"
Maudy hanya mengangkat bahu.
"Tak berapa lama Keano membelokan mobilnya ke sebuah Kafe yang cukup besar. Dari luar kafe tersebut terlihat sangat unik dan keren .
Setelah memarkir mobil, mereka pun masuk ke kafe. Maudy sangat kagum dengan kafe tersebut, karena selain unik dan kekinian, kafe itu sangat bersih dan nyaman.
Keano mengajak Maudy ke lantai dua, seperti biasa ia memilih tempat duduk yang terlihat romantis, paling pojok dan privasinya terjaga.
Setelah ritual makan romantis selesai, Keano memberanikan diri untuk kembali bertanya.
__ADS_1
"Sudah kenyang? Mau nambah lagi?" tanya Keano setengah menggoda.
"Enggak!" Maudy menggeleng.
"Jawab sekarang ya!" ucap Keano.
"Maunya kamu gimana? Ditolak atau diterima?" tanya Maudy setengah grogi karena ditatap mata elang milik Keano.
" Ya, diterimalah! " sahut Keano cepat.
" Ya udah, kalau kamu maunya begitu, aku terima! " ucap Maudy malu sekaligus lega.
"Jadi? Mulai hari ini kita jadian nih?" ujar Keano semangat.
Maudy mengangguk.
"Yess!" pekik Keano tertahan, seraya mengepalkan tangan di udara dan menariknya ke bawah.
Keano menggeser kursi agar lebih dekat dengan Maudy. Kini posisi mereka begitu dekat, tidak lagi berhadapan tapi berdampingan.
Keano menggenggam kedua tangan Maudy.
"Terima kasih! aku janji aku akan selalu membuat kamu bahagia," Keano berikrar.
Cup! Keano mencuri ciu*m pipi kiri Maudy.
Deg! Maudy terkejut juga senang, pipinya memerah seperti tomat.
Kedua bola mata mereka bertemu, saling tatap, saling genggam.
Perhatian Keano beralih pada bibir mungil Maudy yang berwarna pink .
Keano pun tergoda untuk menci*umnya. Ia mendekatkan wajahnya secara perlahan. Kini wajah mereka hanya berjarak kurang dari lima senti saja.
Deg!
__ADS_1
Deg!
Deg! Dada Maudy meletup - letup gugup.