
Bab 24
Keesokan harinya.
Pukul delapan di pagi yang cerah pada hari Sabtu, Maudy telah berangkat ke Jakarta bersama Keano, setelah mengantongi izin dari orang tuanya dengan syarat tidak boleh pulang terlalu larut.
Sekitar pukul setengah sepuluh, mobil sedan warna kuning yang di kendarai oleh Kekasih Maudy itu telah terparkir cantik di sebuah garasi yang luas dengan beberapa koleksi mobil mewah dan sepeda motor.
Setelah keduanya turun dari mobil, Keano menggandeng Maudy menuju pintu utama. Maudy begitu takjub dengan rumah Keano yang begitu megah dari luar, bisa dipastikan dalamnya pun tak jauh berbeda.
Keano membuka daun pintu bercat putih dengan handle berwarna gold. Pintu sengaja tidak dikunci karena penghuni rumah sudah mengetahui kedatangan Keano.
Dari arah dalam mama muncul dan menyambut mereka dengan suka cita.
'Sudah datang ya, kalian? Ayo masuk sini!" ajak mama dengan ramah.
" Ini Maudy ya? " tanya mama sambil menyentuh lengan atas Maudy.
" Iya, Tante," sahut Maudy seraya meraih tangan Mama Keano dan menciumnya dengan takzim.
Setelah itu mama cipika - cipiki dengan Maudy, sepertinya mama menyukai Maudy.
"Wah, ternyata kamu memang sangat cantik, pantesan Keano ngotot ingin nikahin kamu," goda mama Keano seraya tertawa sumringah.
Maudy hanya tersipu mendengar perkataan mama Keano. "Terima kasih Tante!"
"Ayo! Ayo sudah, kita nggak disuruh duduk nih?" rengek Keano.
__ADS_1
"Oh, iya, iya!" ucap Mama sembari menggandeng Maudy mengajak duduk.
"Papa kemana, Ma?" tanya Keano.
"Papa masih ada urusan di kantor!" sahut mama.
"Sabtu - sabtu gini?" heran Keano.
"Yeah, begitulah papamu, cinta pekerjaan," sahut mama enteng.
Mereka bertiga pun duduk dengan manis di ruang tamu di sofa yang empuk dan nyaman banget.
Para asisten rumah tangga pun membawakan minuman dan makanan ringan untuk di suguhkan.
"Ayo, ayo, diminum dulu kalian pasti haus!" titah mama kepada Keano dan Maudy.
"Jadi kalian beneran mau nikah secepatnya?" tanya mama serius.
"Iya, Ma! " sahut Keano cepat.
"Maudy, kamu sudah setuju menikah dengan Keano?" tanya mama kepada Maudy seraya menatap secara intens.
"Iya,Ma!" ucap Maudy mantap.
'Jadi kapan rencananya kalian menikah? " tanya mama.
" Bulan depan! " ucap Keano mantap.
__ADS_1
" What?" Sontak mama terkejut, hampir saja mata mama mau keluar.
"Apa nggak kemepetan? Menikah itu bukan asal - asalan, banyak yang harus dipersiapkan," tutur mama.
"Keano tahu, tapi di jaman sekarang semua bisa diatur sedemikian rupa, tinggal mengerahkan orang - orang yang kompeten, pasti semuanya beres.
" Ya sudah lah, terserah kamu sajalah! " ucap mama pasrah.
Keasyikan ngobrol ngalor ngidul sampai tidak terasa jam di dinding sudah menunjuk pukul dua belas siang.
Obrolan mereka terputus, saat asisten rumah tangga memberitahukan jika makan siang sudah siap..
Mama pun mengajak Maudy dan Keano ke ruang makan.
Dengan sigap Keano menggeser kursi untuk kedua wanita itu.
Maudy sangat tersanjung diperlakukan bak tuan putri oleh Keano. Maudy sangat takjub dengan makanan yang terhidang di meja, begitu komplit dan mewah.
"Gila! Makanannya ala - ala restoran, apa setiap hari mereka makan seperti ini?" batin Maudy. Peralatan makan pun sangat mewah.
"Ayo jangan bengong aja, segera kita makan," ajak mama, beliau pun mengawali mengambil makanan.
"Mama sengaja menyuruh para asisten memasak hidangan spesial khusus hari ini, hanya untuk menyambut kedatangan kamu," ucap Keano kepada Maudy sedangkan tangannya meremas tangan Maudy di bawah sana.
"Terima kasih, Tante, jadi merepotkan," ucap Maudy sembari tersenyum tulus.
"Ah, tidak apa - apa!" balas mama.
__ADS_1
Saat mereka sedang asyik menikmati makan siang, tiba - tiba datang seorang pelayan, memberitahukan jika papa Keano masuk rumah sakit.