
"Suka? maksud Ibu?" tanya Satria heran.
"Iya aku suka sama kamu! sejak pertama kamu menjadi karyawan di perusahaan ini," sahut Zelda lalu ia berjalan ke arah Satria. Ia berdiri di belakang Satria ya masih duduk di kursi.
Zelda membungkuk, lalu merangkul leher Satria seraya berbisik tepat di cuping telinga milik Satria. "bagaimana, kamu juga menyukaiku, kan?"
Sontak Satria melepas tangan Zelda dari lehernya. Lalu ia berdiri. Sedikit bergeser ke kiri agar tidak terlalu dekat dengan bosnya yang cantik itu.
"Maaf, Bu. Saya benar - benar tidak mengerti maksud Ibu,"
Dengan berani Zelda mendekat pada Satria, kini posisi mereka sejajar, hanya menyisakan beberapa senti saja.
"Ck!"
"Masa gitu aja nggak ngerti? Aku tertarik sama kamu, Layaknya seorang wanita dewasa kepada laki - laki. Aku suka sama Kamu karena kamu tampan dan pintar."
Zelda berkata seraya mengalungkan tangannya di leher Satria.
Sontak Satria menepis tangan itu dan sedikit mendorong Zelda.
Satria masih bersikap sewajarnya, ia tidak memperlakukan Zelda dengan kasar. Ia masih menghormati wanita yang menjadi bosnya itu.
"Maaf, Bu. Jangan menyukai saya. Saya sudah memiliki istri!" tegas Satria.
"Ish! Saya sudah tahu itu! Dan saya tidak peduli," sentak Zelda kesal.
"Kita bisa berhubungan di belakang istrimu!" sambungnya.
"Gila nih, wanita!" umpat Satria dalam hati.
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa! Ini tidak benar!" ucap Satria tegas.
__ADS_1
"Saya kira sampai di sini pembicaraan kita. Saya permisi, Bu," ujar Satria, lalu ia berlalu begitu saja dari ruangan bosnya itu tanpa menunggu jawaban dari bosnya itu.
"Si*al!" umpat Zelda seraya mendorong kursi dengan kasar.
"Kita lihat saja nanti! Aku tidak terbiasa menerima penolakan!" gumam wanita berusia tiga puluh tahunan itu seraya tersenyum jahat.
*****
Seminggu berlalu, semenjak kejadian itu tidak ada lagi yang terjadi. Baik Zelda maupun Satria, bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Mereka tetap profesional dalam bekerja. Satria pikir Zelda sudah berhenti mengganggunya.
Sebelum pulang, Zelda memanggil Satria keruangannya.
Nampak Satria duduk berhadapan dengan bos cantiknya itu. Mereka membahas sesuatu dengan serius.
"Pokoknya besok kita berangkat ke Semarang!" ucap Zelda serius.
"Tidak bisakah mengajak yang lain, Bu?" tanya Satria hati - hati.
Satria terdiam, baginya, pergi ke semarang satu minggu adalah waktu yang cukup lama, karena harus meninggalkan istri tercinta selama itu.
"Jangan khawatir, kamu akan mendapatkan bonus besar ini kali," sambung Zelda."
"Baik, Bu," Satria pasrah.
Sedikitpun ia tidak tertarik dengan bonus yang dijanjikan. Ia hanya berusaha profesional saja dalam pekerjaan.
Baiklah, silahkan kamu pulang! Istirahat saja, besok kita berangkat pagi - pagi naik pesawat, " ucap Zelda.
"Baik, Bu. Saya permisi, " pamit Satria seraya beranjak meninggalkan ruangan Zelda.
Sepeninggalan Satria, Zelda tersenyum penuh arti seraya memutar - mutar penanya.
__ADS_1
****
Sepulang dari kantor, Satria bergegas untuk menjemput istri tercinta.
Sesampai di kantor Maudy, ia melihat istrinya itu sedang berbincang dengan seorang pria di depan kantornya.
Ia pun bergegas turun dari mobil untuk menghampiri istrinya itu.
Satria bisa mendengar percakapan Maudy dengan pria itu.
"Kamu nunggu jemputan? Kalau tidak ada yang jemput, ayo bareng aku. Kita kan, satu arah," ajak pria itu.
"Tidak terima kasih, sebentar lagi suamiku datang," sahut Maudy seraya melihat jam yang melingkar di lengan kirinya.
"Oh, kamu sudah punya suami?" tanya orang itu dengan raut kecewa.
"He'em!" sahut Maudy seraya mengangguk.
Belum sempat pria itu menyahuti perkataan Maudy, Satria sudah mendekat dan memanggil Maudy.
"Sayaang, udah lama menunggu?" ucap Satria seolah - olah menekankan kata "sayang."
"Nah,ini suami saya!" seru Maudy seraya tersenyum sumringah.
"Oh, hai!" ucap pria itu kikuk.
"Hai!" balas Satria.
'Ini Rama, teman kerja aku!" Maudy memperkenalkan teman kerjanya itu.
"Salam kenal, saya Satria, suaminya Maudy," ucap Satria penuh penekanan.
__ADS_1
Satria tidak begitu suka dengan teman kerjanya Maudy itu. Karena Satria pernah beberapa kali melihat pria itu mencoba mendekati istrinya itu.