Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Bab 29


__ADS_3

Bab 29


"Pa!" sentak mama. 


"Sudahlah, Ma!" biarkan saja jika memang dia ingin pergi meninggalkan rumah ini, papa tidak akan melarangnya," ucap Papa Hadi penuh emosi. 


"Pa, ayolah, Pa!  Mengalah saja kepada anak kita satu - satunya," rengek mama seraya meraih tangan papa dan menggoyang - goyangnya. 


"Tidak akan pernah!" tegas papa. 


"Ma, sudahlah! Jangan Memohon apapun kepada suami Mama itu. Keano akan tetap pergi!" ucap Keano kesal.


"Ken, jangan pergi! Mama tidak mau kamu pergi, kamu anak Mama satu - satunya, jika kamu pergi, terus Mama dengan siapa?" rengek mama seraya menahan tangan Keano. 


Keano berusaha melepas tangan mama. "Maaf, Ma, sebenarnya Keano tidak ingin meninggalkan mama, tapi suami Mama itu suka memaksakan kehendak. Keano tidak bisa terus - terusan hidup penuh tekanan. Lebih baik Keano pergi dari rumah ini," ucap Keano. Setelah melepaskan tangan mama ia pun berjalan menuju kamarnya dengan maksud mengambil pakaian. Malam ini juga ia akan meninggalkan kediaman orang tuanya. 


"Ken!" mama mengejar Keano. Mama berusaha menghalanginya. 


Papa Hadi hanya diam di tempat dengan rahang mengeras. 


Namun, tekad Keano sudah bulat, ia tidak peduli lagi dengan Mama yang merengek - rengek meminta agar dirinya  tidak pergi. 


Brukk! 


Belum sempat Keano masuk ke kamar, terdengar sesuatu terjatuh di belakangnya, sontak ia menoleh. 


Mama! 


Mama! 


Keano dan Papa Hadi berteriak memanggil mama secara bersamaan. 

__ADS_1


Mereka berdua pun berlari ke arah mama yang tiba - tiba sudah tergeletak di lantai. 


Mereka berdua segera membopong mama dan membaringkan mama di sofa. 


"Mama, Mama, sadarlah!" panik Keano. 


"Mama, mama, ayo bangun!" papa juga panik. 


"Ken, ambil kayu putih!" titah papa. 


Keano pun bergegas mengambil kayu putih lalu menyerahkannya pada papa. 


Papa mengusap - ngusapkan kayu putih itu di sekitar hidung mama. Namun, mama tidak mau membuka matanya. 


"Ken, siapkan mobil, kita bawa mama ke rumah sakit!" perintah papa. 


"Baik, pah! ' sahut Keano seraya beranjak. 


Namun belum sempat pergi dari tempat itu, mama membuka matanya. 


"Ken, jangan pergi! " ucap mama terbata. Sedangkan tangannya menahan lengan Keano. 


"Iya, Ma," sahut Keano bimbang. Ia takut jika dia pergi nanti mamanya pingsan lagi. 


Tadi ia benar - benar panik dibuatnya. 


Mama berusaha untuk bangun, dengan sigap papa membantu mama untuk duduk. 


"Mama kenapa? Apa ada yang sakit, atau kepala mama pusing?" cecar papa penuh perhatian. 


Mama menggeleng lemah. "tadi, tiba - tiba kepala Mama pusing lalu semuanya menjadi gelap," cerita mama. 

__ADS_1


"Kita kerumah sakit ya?" tawar papa. 


"Tidak perlu, sekarang mama tidak apa - apa," tolak mama. 


"Panggil dokter Arman aja ya, Ma?" usul Keano. 


"Tidak perlu, Ken! Mama hanya ingin kamu tetap tinggal di rumah ini," mama menghiba. 


"Ken, dengarkan Mamamu! Kamu tetap di rumah ini!" timpal papa Hadi. 


"Tapi, Ma!" ucap Ken, menggantung. 


'Sudah! Sudah! Mama tidak mau tahu, pokoknya kamu tidak boleh pergi!" pekik mama dengan da*da naik turun. 


Keano bergeming, dia menjadi bimbang. 


" Pa, tolong, Pa! bujuk putra kita agar tidak jadi meninggalkan rumah!" mama merengek seraya menggoyang - goyangkan tangan papa layaknya anak kecil yang sedang meminta permen. . 


Papa menghela napas berat. "Baiklah! Ken, kamu tetap di rumah ini, papa janji tidak akan memaksa kamu lagi. Papa akan membatalkan perjodohan ini." Dengan berat hati akhirnya papa mengalah. Dia memilih untuk berdamai dengan putranya, karena papa sangat takut jika mama pingsan lagi. 


" Terima Kasih, Pa! " ucap mama senang. Dalam hati ia bersorak. 


"Denger, Ken, jangan pergi dari rumah, papa sudah membatalkan perjodohannya," ucap mama pada Keano. 


"Jadi, Papa merestui hubungan Ken, dengan Maudy," tanya Keano semangat. 


"Hmm..! Sudahlah! Kita bahas kali lain. Sudah larut, pergilah istirahat!" sahut Papa menyuruh Keano untuk beristirahat seraya memapah Mama Ratri ke kamarnya. 


"Yess! Akhirnya!" ucap Keano girang dalam hati. 


"Terima kasih Mama, Keano tidak bermaksud berbahagia di atas pingsannya Mama, Setidaknya dengan pingsannya Mama, telah membuat Papa luluh," ucapnya dalam hati seraya tersenyum sumringah lalu ia pun beranjak ke kamar. 

__ADS_1


__ADS_2