Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Bab 10


__ADS_3

Bab 10


Tidak sempat menemukan cara untuk menghindar dari Satria. Namun, Satria sudah melihatnya lebih dulu. 


"Dy, buruan, udah mendung nanti keburu hujan!" seru Satria seraya melambaikan tangan. 


Maudy hanya tersenyum bingung sembari mengusap tengkuknya. 


Lalu ia mendekat pada Satria, Satria menyerahkan helm padanya, setelah ia kenakan helm itu, ia pun menaiki motor Satria. 


" Udah? " tanya Satria. 


" Iya udah," sahut Maudy. 


Lalu Satria Pun melajukan motor maticnya sembari berteriak kepada teman - temanya yang sedang bergerombol di depan gerbang sekolah. 


"Woy, cabut!" seru Satria. 


"Yok!" sahut beberapa temannya serentak, mereka sudah terbiasa melihat Satria membonceng Maudy. Jadi, tidak ada yang merasa aneh lagi. 


Motor matic Satria melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan tempat di mana mereka menimba ilmu, menembus jalanan yang ramai, bergabung dan bersaing dengan pengendara lain. 


Di sisi lain Anastasia menatap kepergian mereka dengan tatapan sendu, dalam hati ia tidak terima Satria mengabaikannya. Biasanya, jika pulang dirinyalah yang dibonceng Satria. 

__ADS_1


"Aku belum menyerah Satria, aku pastikan kamu kembali padaku," gumamnya dalam hati.


*****


Di hari Minggu seperti biasa, Maudy, Satria berkumpul di rumah Robby. Mereka sangat suka menghabiskan liburan di rumah Robby, Karena Rumah Robby sangat besar dan nyaman, ada kolam renangnya juga. Sehingga mereka bebas melakukan apapun di rumah Robby. 


Terkadang mereka berenang sepuasnya, main game sampai bosan, menonton, main gitar dan terkadang hanya mengobrol - ngobrol. 


Mamanya Robby juga sangat baik selalu menyediakan makanan yang banyak untuk mereka.


Beliau sangat senang dengan kehadiran mereka, katanya , menambah kehangatan dalam rumah, maklum Robby hanya anak tunggal. 


Nampak  Keano sedang asyik bermain gitar, Satria dan Robby sedang serius bermain game di ponselnya. Sedangkan Maudy, dia tengah terpesona demi melihat permainan gitarnya Keano. Dari tadi matanya tidak berkedip, dia hanya memperhatikan cowok tampan berhidung mancung yang jago main gitar itu. 


"Robb!  Ken! Kemarilah!" teriak mama Robby. 


Mereka pun seketika menghentikan kegiatan masing - masing dan bergegas melihat ke dapur. 


"Ada apa, Ma?" tanya Robby agak panik. 


"I-ini tolong buangkan tikus yang jauh!" seru mama sambil menunjuk pada tiga tikus kecil - kecil yang terjebak dalam kardus yang ada lem tikusnya. 


"Kamu aja, Ken!" Robby memerintah Keano. Dia malah mundur menjauh. 

__ADS_1


"Kamu aja Rob, aku jijik!" Keano bergidik dan memilih menjauh juga. 


"Kok, gak ada yang mau bantu mama sih?" rengek mama kecewa. 


"Mama sih, lagian ngapain juga jebak tikus, yang ujung - ujungnya bingung menghadapinya," ucap Robby. 


"Ya, tapi gimana lagi tikusnya kalau dibiarin tambah banyak dan mengganggu," mama membela diri. 


"Satria, kamu aja yang buangin ya, please!" ucap mama kepada Satria penuh harap. 


"Maaf tante, saya geli," tolak Satria dan memilih menjauh. 


"Sini, saya aja tante!" Maudy menawarkan diri dan mengambil tikus tersebut. 


Tanpa ragu ia pun mengambil tikus tersebut. Namun, sebelum benar-benar dibuang ke tempat sampah yang ada di luar, ia menakut - nakuti para cowok dengan tikus itu terlebih dahulu. 


"Masa takut sama tikus?" ejek Maudy seraya menyodorkan tikus tersebut tepat di wajah para cowok. 


Sontak para cowok itu berlarian menghindar, bahkan Robby terlihat sangat pucat karena takut. Sedangkan Satria dan Keano mereka menahan mual karena jijik. 


Mama terpingkal - pingkal melihat kelakuan Maudy yang mengejar - ngejar para cowok dengan tikus di tangannya. 


"Hahahahaha, kenapa bukan Maudy aja yang menjadi anaknya mama, sih? kalian cowok - cowok payah, nggak bisa diandelin! " seru mama sembari tergelak

__ADS_1


__ADS_2