Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
32


__ADS_3

32


Akad nikah telah selesai digelar. Ucapan selamat pun mengalir dari para kerabat dan tamu untuk kedua mempelai. 


Tidak ada senyuman yang terbit diantara keduanya. Ekspresi wajah Maudy dan Satria sulit diartikan. Raut wajah mereka terlihat datar dan dingin. 


Hanya para orang tua yang masih bisa tersenyum, terutama Mama Satria beliau nampak bahagia. 


"Kalian beristirahatlah terlebih dahulu. Nanti malam persiapkan diri kalian untuk acara resepsi," ucap Mama Dina seraya mengelus bahu Maudy penuh perhatian. 


Setelah berpamitan kepada orang - orang, Maudy pun beranjak menuju kamarnya, begitu juga dengan Satria, ia mengekor pada Maudy karena ada banyak hal yang ingin dibicarakan dengan Maudy. 


Di kamar pengantin. 


Maudy duduk di tepi ranjang. Netranya menyapu seluruh ruangan, ruangan yang telah didekor dengan sangat indah. Maudy menghela napas panjang, matanya mulai memanas, cairan bening mengalir dari sudut matanya, terjun bebas di pipi mulusnya. 


"Dy?" panggil Satria. 


"Kamu menangis?" tanya Satria. 


Maudy tidak menjawab, ia semakin terisak. Satria kasihan melihat Maudy yang sedang tersedu. Ia pun duduk di samping Maudy. Merangkul pundak Maudy secara perlahan, membawa kepalanya ke dalam dadanya. 


Ya, saat ini memang Maudy sedang membutuhkan bahu seseorang untuk bersandar. 


Satria hanya diam seraya tangannya mengelus - elus punggung Maudy. 


Satu jam, Maudy terisak di dada Satria. Sehingga membuat kemeja putih yang di kenakan Satria menjadi basah. Setelah puas menguras air matanya, ia pun melepaskan diri dari pelukan Satria. 

__ADS_1


Maudy menyambar tisu yang ada di meja rias lalu menyusut mata dan hidungnya. 


"Terima kasih, dan maaf!" ucap Maudy pelan. 


"Untuk?" tanya Satria. 


"Terima kasih karena sudah menemani ku menangis, dan Maaf karena melibatkanmu dalam pernikahan ini," ucap Maudy seraya tersenyum getir. 


Satria menghela napas panjang. 


"Dy, mengapa kamu menerima pernikahan ini? Kamu kan, tahu kalau aku sudah punya kekasih, apa yang harus aku katakan kepada kekasihku? Dia pasti syok dan merasa dikhianati olehku," cecar Satria.


"Maafkan aku, Sat! Waktu itu aku benar - benar bingung, tidak tahu harus bagaimana? yang kupikirkan hanya orang tuaku saja. Aku tidak ingin membuat mereka malu. 


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kak Ken? Kemana dia? Kok, bisa menghilang di saat sepenting ini?" keluh Satria. 


Satria meraih ponsel itu dan membaca sebuah pesan yang tertera di layar. 


"Gila!" pekik Satria. 


"Ini beneran pesan dari Kak Keano?" tanya Satria tidak percaya dengan apa yang dibacanya. 


"Ya, itu pesan dari nomor ponselnya !" sahut Maudy dengan wajah mendung. 


"Benar - benar, laki - laki pengecut dan tidak bertanggung jawab!" geram Satria. 


"Lihat aja kalau aku bertemu dengannya akan kuhajar habis - habisan!" imbuh Satria penuh amarah. 

__ADS_1


Satria tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti ini. 


"Kamu tenang saja, Dy. Aku akan membuat perhitungan dengannya jika bertemu." ucap Satria seraya mengepalkan tanganya. 


Setelah mengatakan itu, Satria terdiam. Suasana di kamar itu terasa canggung dan kikuk. 


"Sat, jika kamu tidak menginginkan pernikahan ini, ayo kita batal kan saja!" ucap Maudy. 


"Tidak semudah itu, Dy! Semua sudah terlanjur tidak mungkin kita mundur. Kamu tidak lihat Mamaku? Dia begitu bahagia dengan pernikahan ini. Aku tidak mungkin menghancurkan kebahagiaan Mama. Dan pernikahan itu bukan untuk main - main. Kita sah di hadapan Alloh Dy, " tutur Satria. 


"Tapi pernikahan diantara kita tanpa kesengajaan. Kita tidak saling mencintai, " sahut Maudy pelan. 


Satria terdiam. Memang betul saat ini tidak ada cinta diantara mereka. 


"Dy, untuk sementara kita jalani saja pernikahan ini, jangan gegabah mengambil keputusan dulu. Tapi tolong bantu jelasin pada Karina, tentang situasi ini. 


Ya, Karina adalah kekasih yang baru setahun berhubungan dengan Satria. Tentunya setelah putus dari Anastasia. Rencananya tahun depan mereka akan menikah. Namun, Satria belum mengenalkannya secara resmi kepada mamanya. 


"Iya, jangan khawatir, nanti aku jelasin kepada Karina," janji Maudy. Ia juga cukup mengenal kekasih Satria itu. 


"Istirahatlah dulu, kamu pasti lelah!" saran Satria. 


Maudy mengangguk. "Aku ingin tidur sejenak," ucap Maudy seraya merebahkan tubuhnya di kasur pengantin yang empuk dengan banyak taburan kelopak bunga mawar putih dan merah. 


"Baiklah, aku keluar dulu, Ya, Dy! ' ucap Satria sembari menatap kasihan wajah cantik Maudy yang terlihat mendung itu. 


" Iya! " sahut Maudy seraya memejamkan mata. Sungguh hari ini adalah hari yang berat bagi Maudy. Ia ingin mengistirahatkan otaknya sejenak. 

__ADS_1


__ADS_2