
55
Di Tanah Air, pasangan yang lagi hangat - hangatnya dan bucin - bucinnya, tiada lain adalah Maudy dan Satria.
Mereka berdua sedang lengket - lengketnya, bagai surat dan perangko. Cinta mereka semakin kuat. Satria begitu menyayangi Maudy begitu pula sebaliknya.
Satria berharap pernikahan mereka segera lengkap dengan kehadiran seorang anak di antara mereka.
Padahal pernikahan mereka baru berusia enam bulan, tapi Satria ingin segera mendapat momongan.
Berbagai cara ia lakukan agar istrinya itu segera mengandung benihnya.
Satria selalu menjadwal dengan baik saat ia menanam benih di rahim istri tercinta.
Ia rajin membaca artikel seputar kehamilan di berbagai situs dan sosmed.
Seperti malam ini, satria sedang menanam benih di rahim istrinya dengan penuh kasih. Ia berharap kali ini usahanya berhasil.
"Paw, cepet turun, Berat nih!" rengek Maudy. Dari tadi Satria belum juga melepaskan diri dari atas tubuhhnya. Padahal ritual penyatuan sudah selesai.
"Ia sebentar lagi Mamaw sayang! Biar benihnya bener - bener masuk tembus sampai dalam," sahut Satria seraya mengecupp seluruh wajah Maudy dengan penuh sayang.
"Ish! Ada - ada aja kamu itu," ujar Maudy seraya terkekeh, merasa lucu dengan tingkah suaminya yang absurd itu. Sedangkan tangannya mengusap punggung poloss suaminya itu dengan lembut.
"Eh, beneran lho, aku baca di sebuah web. Katanya sih kalau ingin cepet punya anak, habis selesai begituan, jangan dulu dilepas," tutur Satria sambil mengecupp ceruk Maudy.
"Masa sih, jangan - jangan mitos?"
"Entahlah! Pokoknya usaha " sahut Satria.
__ADS_1
"Udah, ah! Berat!" Maudy kembali merengek.
"Iya! Iya!" ucap Satria seraya melepaskan diri lalu berguling ke samping.
"Apa kita bulan madu aja ya? Ke Bali atau ke Jogja gitu?" tambah Satria.
"Haduh! Kayaknya belum bisa deh! Kita masih karyawan baru, mana boleh cuti lama - lama," sergah Maudy.
"Ck! Kapan dong ya, kita bisa bulan madu?"
"Mungkin akhir tahun!" sahut Maudy.
"Dah lah! Gampang! Dipikir nanti saja, sekarang waktunya tidur!" ujar Satria seraya meraih tubuh istrinya itu ke dalam dekapanya.
"Hemm!" sahut Maudy seraya menutup matanya. Nyaman rasanya tidur sembari dipeluk suami tercintah.
*****
"Jadi, beneran nih, aku ditolak lagi? tanya seorang pemuda.
"Rio, aku kan, sudah bilang aku tidak bisa menerima cinta kamu. Kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri," jawab wanita itu mulai serius.
"Apa karena aku ini hanya seorang mahasiswa? Yang belum bisa memberikan kamu apa - apa. Sehingga kamu menolakku?"
"Bukan, begitu Rio! Pokoknya kamu itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri."
"Baiklah,kalau begitu. Aku tidak akan memaksa lagi. Tapi ingat Karin, jika suatu hari nanti kamu berubah pikiran, kamu bisa datang kepadaku, hatiku akan selalu terbuka untuk kamu," ucap Rio.
Karina hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Rio.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!" ajak Rio.
"Kamu pulang duluan saja! aku masih ingin di sini," sahut Karina tegas.
"Kamu tidak apa - apa aku tinggal? Besok pagi aku ada kuliah, juga belum ngerjain tugas, " ujar Rio.
"Tidak apa - apa Rio, kamu pulang saja!"
"Baiklah, aku tinggal ya!" ujar Rio.
Sebenarnya Rio berat hati meninggalkan wanita itu sendirian di sana,Tapi besok dia harus kuliah dan tugas masih menumpuk.
Sepeninggalan Rio, Karina memesan minuman haram. Pada waktu ada Rio ia tidak berani memesannya, karena Rio paling tidak suka melihat Karina minum. Rio akan marah dan membuang minuman itu.
Senakal - nakalnya Rio, tapi ia tidak suka melihat seorang wanita minum - minum. Apalagi wanita yang disayanginya.
Karina sudah menghabiskan tiga gelas minuman beralkohol itu. Kini ia agak pusing.
Tapi ia masih ingin memesannya lagi. Ia ingin minum sampai pingsan kalau bisa.
Hari ini Karina sedang suntuk, ia frustasi dengan dirinya sendiri.
Beberapa bulan ini ia berusaha melupakan Satria. Ia mencoba menghibur diri sendiri dengan mencari kesibukan. Ia hampir berhasil, perlahan otaknya tidak lagi di penuhi dengan bayang - bayang Satria.
Apalagi Rio selalu berada di sampingnya. Rio selalu menghibur dirinya di saat ia sedang sedih.
Tapi sepertinya usahanya itu sia - sia. Tadi siang ia bertemu dengan Satria di restoran.
Seketika perasaannya hancur di kala dirinya melihat kemesraan Satria dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Ah, benar - benar sia! ternyata aku masih belum bisa menerima keadaan ini, aku masih menyimpan rasa sakit ini, aku masih marah melihat mereka bersama," rutuknya dalam hati.
Ia pun menangis sambil menenggak minuman haram itu.