
37
Satria
Mendengar kabar, jika Maudy akan menyusul dirinya ke Bandung. Entah mengapa dia merasa senang dan bersemangat hari ini. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan cepat pulang untuk menemui Maudy.
Maudy sudah memberi kabar kepada Satria jika dirinya telah sampai di rumah kontrakan Satria.
Maudy Chat : " Sat, aku udah sampai kontrakan."
Satria Chat : " Alhamdullilah, kamu masuk aja, pagarnya tidak di kunci, untuk kunci rumah aku, taruh di bawah keset."
Maudy : "Ok, makasih ya."
Satria : "Kamu istirahat saja! Nanti aku pesankan makan siang, aku pulangnya sekitar jam lima sore."
Maudy :" Ok"
Maudy berdiri mengamati rumah kontrakan itu. Ia tersenyum. "lumayan, pintar juga Satria dan Kak Galih cari kontrakan," batin Maudy.
Ia pun masuk ke rumah kontrakan tersebut dengan menyeret dua koper. Setelah menemukan kunci di bawah keset, ia pun membuka pintu yang terkunci itu.
Maudy memindai seluruh sudut ruangan rumah itu. Ia berjalan menyusurinya .
" Nyaman juga," batin Maudy.
Lalu ia membuka sebuah kamar, nampaknya, itu adalah kamarnya Satria. Maudy kembali menutupnya.
__ADS_1
Ia kembali membuka kamar di sebelahnya, tampak rapi dan bersih. Hanya ada sebuah ranjang, sofa dan lemari.
Maudy pun masuk ke kamar itu. Ia meletakan barang - barangnya di sana.
"Aku tidur disini aja deh!" gumamnya pelan.
Maudy menjatuhkan badanya di kasur yang empuk dan bersih itu.
Karena lelah, Maudy pun memejamkan matanya lalu terlelap.
Pukul dua belas siang gadis itu terbangun, karena mendengar seseorang mengetuk pintu pagar.
Maudy pun bergegas keluar untuk melihatnya.
'Jo-food, Mbak! " seru abang ojol yang mengenakan jaket hijau itu.
" Oh, iya! " Maudy pun menerima makanan itu.
" Ya, makasih Pak! " balas Maudy.
Lalu ia membawa makanan itu ke dalam dan meletakan di meja.
Setelah mencuci tangan, ia pun mulai mengeksekusi makanan itu, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Satria karena telah mengirimnya makanan.
'Ternyata Satria masih ingat makanan kesukaanku, " batin Maudy seraya memasukan gurame bakar, nasi dicocol sambal terasi ke dalam mulutnya.
Selesai makan, Maudy mencuci piring kotor bekas dirinya makan siang.
__ADS_1
"Makan sudah! tidur sudah! Lalu aku ngapain lagi ya?" Maudy berbicara pada dirinya sendiri.
Akhirnya Maudy memutuskan untuk melihat - lihat keadaan rumah dan sekitarnya. Siapa tahu ada yang harus di bersihkan atau dibereskan.
Namun, Keadaan rumah dalam keadaan bersih dan rapi. Maudy kagum dengan Satria, karena sahabat yang sudah menjadi suaminya itu dari dulu sampai sekarang tidak berubah, selalu menjaga kerapian dan kebersihan di manapun.
Setelah puas melihat - lihat kondisi rumah, ia pun kembali ke kamar untuk merapikan pakaiannya sendiri dan memindahkanya ke dalam lemari.
Pukul lima sore.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Satria bergegas meninggalkan kantor menuju mobil pribadinya di tempat parkir. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya.
Namun, saat dia akan Masuk ke mobil, seorang wanita menyapanya.
"Sat!" panggil wanita itu.
Satria pun menoleh. "Karin?" sentak Satria cukup terkejut. Karena wanita yang memanggil dirinya ternyata Karina, kekasih yang selama seminggu ini dihindarinya.
"Terburu - buru?" selidik Karina.
"Eh, iya!" Satria tergagap.
"Kamu, seminggu ini, sepertinya menghindar dariku?" tuduh Karin.
"Ah, tidak! aku hanya sedang sibuk dengan pekerjaanku," sanggah Satria. Padahal pada kenyataannya, memang benar ia menghindar dari gadis itu.
"Baiklah! Mungkin aku yang salah mengira. Jalan yuk!" ajak Karina.
__ADS_1
"Duh, benar - benar dilema. Kalau ia pergi sama Karina, kasihan Maudy yang sudah menunggunya di rumah. Tapi, ia juga tidak tega kalau harus menolak Karina. Karena bagaimanapun juga Karina masih berstatus sebagai kekasihnya.
Akhirnya, Satria memutuskan untuk pergi dengan Karina. Satria pikir, siapa tahu nanti dia memiliki keberanian untuk mengatakan pernikahan dirinya dengan Maudy.