
Bab 23
Di kediaman orang tua Robby.
Nampak Keluarga Robby sedang berbincang - bincang santai di ruang televisi. Jam di dinding menunjukan pukul setengah sembilan. Rupanya Robby sudah berada di rumah, begitu juga dengan Keano sudah pulang dari rumah Maudy.
"Tumben kamu sudah datang, Ken?" tanya Mama Tari sembari menyeruput teh hangatnya.
"Iya Tan, besok pagi mau mengajak Maudy bertemu mama," sahut Keano tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
"Emang, mama kamu ingin ketemu sama Maudy?" tanya Mama Tari.
Keano mengangguk.
"Wah, sepertinya udah serius nih?" selidik Mama Tari.
"Iya, Tan, Ken, ingin menikah secepatnya dengan Maudy," tutur Keano serius.
Uhuk! Uhuk!
Mendengar perkataan Keano, Robby yang sedang mengunyah risoles mayo, langsung tersedak.
Dengan sigap mama memberikan minuman kepada anak gantengnya itu.
"Pelan - pelan aja makannya," ucap mama sambil mengusap - usap punggung anak laki - lakinya itu.
__ADS_1
"Kamu serius?" tanya Mama Tari kembali pada Keano. .
"Serius lah, Tan! masa main - main," sahut Keano sembari terkekeh.
"Syukurlah kalau begitu, tante doakan semoga apa yang kamu inginkan terlaksana," ucap Mama Tari tulus.
Walaupun sebenarnya dalam hati Mama Tari, ada sedikit rasa kecewa karena harapan menjadikan Maudy sebagai menantunya harus ia kubur dalam - dalam.
"Emang Maudy mau nikah sama kamu?" cibir Robby.
"Maulah! Tadi dia sudah bersedia menikah denganku," sahut Keano bangga.
Robby terdiam mendengar jawaban Keano. Ada perasaan tidak nyaman di hatinya.
"Om, belum pulang, Tan?" tanya Keano mengalihkan pembicaraan. Entah mengapa ia tidak enak hati membahas tentang dirinya dan Maudy di hadapan Robby.
Malam semakin larut seluruh penghuni rumah pun memutuskan untuk kembali ke kamar masing - masing. Begitu juga dengan suami Mama Tari yang baru pulang dari kantor.
Keano.
Dia tersenyum - senyum sendiri sambil rebahan di kasur empuk. Hatinya sangat bahagia karena gadis pujaannya telah bersedia menikah dengan dirinya.
"Flashback on"
"Gimana? Mau nggak nikah sama aku dalam waktu dekat ini?" tanya Keano pada Maudy.
__ADS_1
"Emang Kakak udah siap untuk nikah?" tanya Maudy.
"Siap! Aku siap!" tegas Keano.
"Tapi aku belum siap, aku baru lulus kuliah lho, aku masih harus nyari kerja dulu," tutur Maudy.
"Itu gampang bisa diatur, kamu bisa nyari kerja setelah kita menikah," ucap Keano menggebu.
Maudy diam, dia bingung harus bagaimana? Pikirnya, masa baru lulus kuliah, langsung nikah.
"Kamu tidak cinta sama aku ya? Kamu meragukanku ya?" rajuk Keano memasang tampang sesendu mungkin.
"Bukan begitu, Kak!" sergah Maudy. Maudy semakin bingung.
"Ya, udah kalau kamu nggak mau nikah sama aku, aku lebih baik melanjutkan sekolah keluar negeri saja, sekalian aja kita tidak bertemu!" ancam Keano. Padahal mana berani ia meninggalkan gadis itu. Ia sudah cinta mati sama gadis itu.
"Iya, iya.. Aku mau nikah sama Kakak!" seru Maudy cepat, ia tidak mau kehilangan pria yang sudah mengisi seluruh hatinya selama empat tahun itu.
"Nah, gitu dong cantik!" ucap Keano sembari mencubit hidung bangir Maudy.
"Flashback off"
"Ah, aku bener - bener ingin menikah secepatnya dengan Maudy, mudah - mudahan mama dan papa menyukai Maudy, aku yakin mereka pasti menyukai Maudy," gumamnya pelan. Ia memejamkan kedua netranya sembari membayangkan dirinya duduk di pelaminan bersama Maudy. Sebuah senyuman terukir merekah di bibirnya dan akhirnya ia pun terlelap.
Di kamar lain.
__ADS_1
Robby termenung sendirian, malam semakin larut dan sepi , tapi dia tidak bisa memejamkan kedua matanya. Hatinya gundah gulana memikirkan Maudy yang akan menikah dengan sepupunya.
"Harus ikhlas! harus ikhlas!" mulutnya komat - kamit mengucapkan kata - kata itu.