Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Jambret !!!


__ADS_3

51


Hari - hari berikutnya Rio selalu berada di sekitar perkantoran Maudy  pada jam kantor selesai. Maudy tidak begitu mempedulikannya. 


Selama ini Rio tidak pernah mengganggu Maudy. Pria berusia sekitar 20 tahun itu hanya tersenyum ramah dan hanya sekedar mengucapkan "Hai" kepada Maudy. 


Lama - lama Maudy terbiasa dengan kehadiran pria itu. Ia tidak lagi merasa terganggu . Maudy pikir yang terpenting adalah tidak saling mengusik. Toh, selama ini pria bernama Rio itu hanya duduk - duduk saja di halte.


Pernah Maudy kepo dengan pemuda itu, karena suka tertawa - tawa sendiri saat melihat sesuatu di ponselnya. Sekilas Maudy melirik ke ponsel pemuda itu, dan ternyata pemuda itu sedang menonton film anime. 


Maudy terkekeh dalam hati, Saat mengetahui tontonan pria muda yang duduk di halte bersama dirinya. 


"Dasar bocah!" cibir Maudy dalam hati. Ia pun teringat dirinya yang suka nonton film anime jepang pada waktu jaman sekolah dulu. 


Rio.


Rio adalah seorang mahasiswa di sebuah institut ternama di Kota Bandung semester tiga. 


Rio berasal dari keluarga berada. Namun broken home. Kedua orang tuanya bercerai saat dirinya masih SMP. 


Dia bergelimang harta. Namun, haus akan kasih sayang. Ia menjadi pribadi yang urakan, bebas dan berandalan. 


Setahun belakangan, Karina menjadi tutornya. Dan dari sanalah mereka saling mengenal. 


Rio terobsesi dengan Karina yang cantik, pintar dan dewasa. 


Rio sering mengutarakan perasaan cintanya kepada Karina. Namun, Karina selalu menolak karena memang pada waktu itu ia sedang menjalin hubungan dengan Satria. Selain itu Karina menganggap Rio sebagai adik karena umur mereka terpaut lima tahun. 


Sebenarnya Satria juga lebih muda satu tahun darinya. Tapi meskipun begitu Satria bisa bersikap lebih dewasa. Maka dari itu Karina menyukai Satria meskipun lebih muda. 


Setelah putus dari Satria, Karina memanfaatkan Rio. Karina menyuruh Rio untuk mendekati Maudy agar Maudy tertarik kepada Rio. Dan membuat hubungan suami istri itu retak. 


Jika berhasil, Karina akan memberinya uang banyak dan tentunya Karina juga menjanjikan akan menerima cinta Rio. 


Rio yang terobsesi dengan Karina, langsung menyetujuinya. 


Hampir tiga pekan ini Rio mendekati Maudy, namun selalu gagal, karena Maudy selalu tidak mengindahkannya. 


Selain itu wanita yang  dia goda adalah wanita bersuami. Tentunya akan lebih sulit. 


***


Kembali ke halte yang ada di sekitar perkantoran Maudy. 


Maudy sedang menunggu taksi. Hari ini Satria tidak menjemputnya karena lembur. Di sebelahnya ada Rio yang sedang asyik memandang benda pipih berwarna silver miliknya. 


Sesekali Rio mencuri pandang pada Maudy. 


"Cantik!" batin Rio.


"Tapi sayang istri orang," monolognya dalam hati seraya terkekeh. 

__ADS_1


"Kak, pulang sendirian lagi?" tanyanya sok akrab dengan pandangan tetap ke ponsel. 


"Hmm!" sahut Maudy. 


"Kalau Kakak mau, aku antar!" tawar Rio. 


"Tidak terima kasih! Aku naik taksi saja," sahut Maudy. 


"Ok!" balas Rio, sok tidak peduli. Padahal itu salah satu strategi mendekati Maudy secara pelan - pelan. 


Jambret!! 


Tiba - tiba Rio berteriak dan mengejar seorang pria yang menjambret  ponselnya. 


Bugh! 


Bugh! 


Rio berhasil menangkap Jambret itu dan langsung menghajarnya. 


Maudy cukup terkejut dengan kejadian baku hantam di hadapannya itu. 


Tapi ia tidak ingin terlibat. Maudy pikir, mungkin hanya cukup seorang Rio saja untuk melumpuhkan jambret tersebut. 


Dan memang kelihatannya Rio lah yang lebih unggul, ia bisa merebut kembali smartphone mahalnya itu dan membuat penjambret itu babak belur. 


Tapi tidak disangka, tiba - tiba datang seorang pria berbadan kekar menghajar Rio dari belakang.


Bugh!


Bugh!


Seketika Rio tersungkur di trotoar. Baku hantam dua lawan satu pun tidak bisa dihindari. Rio kewalahan melawan dua orang


Sontak Maudy berlari ke arah perkelahian itu dan berusaha membantu Rio. 


Bugh! 


Bugh!


Maudy memukul salah satu pria berbadan kekar itu dengan tasnya. Sudah dipastikan pria itu adalah temannya pejambret. 


Pria kekar  itu kewalahan mendapatkan serangan dari Maudy yang membabi - buta. Maudy mengeluarkan jurus silatnya. 


Sedangkan Rio, dia berhasil melumpuhkan kembali penjambret itu. Rio mengunci tubuh pria itu. 


Tidak membutuhkan waktu yang lama, seketika kejadian itu mengundang kerumunan dan menjadi tontonan banyak orang. 


Diantaranya ikut - ikutan menghajar para penjambret itu. Sedangkan Rio dan Maudy menjauh dari kerumunan dan kembali duduk di bangku halte untuk mengatur napas mereka yang berantakan. 


Beruntung ada polisi yang datang ke tempat kejadian. Sehingga kedua penjambret itu bisa diselamatkan dari kebrutalan massa. 

__ADS_1


Rio dan Maudy pun harus ikut ke kantor polisi untuk menjadi saksi. Maudy menumpang di mobilnya Rio. 


Setelah memberikan keterangan di kantor polisi, mereka berdua pun dipersilahkan pulang . 


"Kak! Aku antar pulang ya!" seru Rio seraya mengejar Maudy yang berjalan cepat. 


"Tidak usah, aku naik taksi saja!" sahut Maudy. 


"Please! Kak! Kamu sudah membantuku tadi, jadi mau ya, aku antar pulang? Sebagai rasa terima kasihku," mohon Rio. Ia menahan langkah Maudy. Kini ia berada di depan Maudy seraya mencekal kedua lengan Maudy. 


Maudy menepis tangan Rio. Ia menatap lekat wajah pria muda itu. Maudy melihat ketulusan dimatanya. 


"Baiklah!" ucap Maudy seraya melanjutkan langkahnya. Ia setuju karena waktu maghrib sudah lewat. Ia tidak ingin ketinggalan sholat Maghrib. 


"Yess!" ucap Rio pelan seraya mengepalkan tangan kirinya di udara. Ia senang akhirnya Maudy bersedia di antar pulang olehnya. 


Sekitar 15 menit, akhirnya mobil yang dikendarai Rio telah sampai  tepat di depan kediaman Maudy. 


Rio bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuk Maudy. 


"Terima kasih!" ucap Maudy seraya turun dari mobil. 


"Terima Kasih ya, udah nganterin pulang, aku masuk!" ucap Maudy seraya meninggalkan Rio. 


"Kak, nggak  disuruh mampir nih, kita?" seru Rio. 


"Enggak, kamu pulang saja!" sahut Maudy. 


"Kak!" panggil Rio lalu berjalan ke arah Maudy. 


"Boleh nggak, kali lain aku mampir?" tanya Rio. 


"Nggak perlu, kita tidak seakrab itu!" sahut Maudy. 


"Lha, biar akrab bagaimana kalau kita berteman saja?" ucap Rio. 


"Aku tidak berminat berteman dengan kamu?" sahut Maudy. 


"Boleh tahu apa alasannya?" selidik Rio. 


"Tidak ada alasan! maaf Rio, maghrib hampir lewat, kamu pulang sana!" usir Maudy. 


Rio menghela napas, sepertinya wanita di hadapannya itu kepala batu. Sulit didekati. 


Saat ini, Rio hanya ingin berteman dengan Maudy. Tujuan utama untuk mengganggu rumah tangga Maudy ia batalkan, Semenjak Maudy membantunya tadi. 


"Ya udah. Aku tidak akan memaksamu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membantuku tadi," tutur Rio tulus seraya meraih kedua tangan Maudy. 


Belum sempat Maudy menepis tangan Rio, tiba - tiba seseorang memanggilnya. 


"Maudy!" 

__ADS_1


 


__ADS_2