
52
Maudy!
Suara yang begitu familiar tiba - tiba memanggil Maudy.
Sontak Maudy menoleh ke arah suara tersebut.
"Papaw!" lirihnya seraya menepis tangan Rio.
"Suami kamu?" tanya Rio.
"He'em," sahut Maudy.
"Ya udah aku pulang ya!" ucap Rio seraya menoleh ke arah Satria yang masih berada di dalam mobil dengan kepala masih setengah menjulur.
"Mari, Kak!" pamit Rio kepada Satria seraya menganggukan kepala dengan sopan. Lalu ia bergegas meninggalkan tempat itu.
Satria balas mengangguk tanpa ekspresi.
Maudy tersenyum melihat suaminya sudah pulang. Lalu ia membuka pintu pagar lebar - lebar untuk mempermudah Suaminya memasukan mobil miliknya.
****
Setelah memarkir mobil di garasi, Satria mengajak istrinya itu untuk masuk ke rumah.
Maudy mencium punggung tangan Satria penuh takzim.
"Katanya lembur?" tanya Maudy.
"Nggak jadi!" ucap Satria datar.
"Kenapa?" selidik Maudy.
"Pekerjaan bisa selesai tepat waktu, banyak yang bantu," sahut Satria dingin.
"Tadi siapa?" selidik Satria dengan wajah agak masam.
Maudy bingung mau menjawab apa? Mau jawab teman tapi bukan teman.
"Nanti ceritanya, kita sholat maghrib dulu!" ucap Maudy.
"Hmm baiklah!" sahut Satria.
__ADS_1
****
Selesai menunaikan sholat maghrib pasangan suami istri itu duduk di meja makan untuk menikmati makan malam yang tadi Satria beli di jalan.
"Tadi itu siapa?" Satria kembali bertanya di sela - sela makan malamnya.
"Tadi itu namanya Rio, aku sendiri tidak begitu mengenalnya. Hanya saja kami sering bertemu saat aku sedang menunggu taksi," tutur Maudy.
"Belum kenal, tapi nganterin pulang? Kok, kamu mau aja?" ketus Satria.
Maudy tersenyum tipis, ia menyadari jika suaminya itu dari tadi merajuk karena dirinya diantar pria lain.
Selesai makan ia menceritakan kejadian di halte tadi.
Satria manggut - manggut tanda mengerti.
"Kalau ada kejadian seperti itu, seharusnya kamu menghubungi aku, aku bisa saja langsung datang. Dan kamu tidak perlu pulang bersama orang yang tidak dikenal. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu?" cecar Satria penuh kekhawatiran.
"Aku takut mengganggu kamu yang sedang bekerja. Aku takut ketinggalan sholat maghrib kalau tidak segera pulang," tutur Maudy.
"Tapi setidak - tidaknya kamu harus mencoba menghubungi suamimu ini!" ucap Satria seraya menepuk pelan dadanya.
"Iya! Iya! Suamiku!" sahut Maudy seraya terkekeh.
"Cupp!"
Sekilas Maudy mencuri cium bibirnya Satria.
"Udah ah, jangan ngomel - ngomel melulu, kayak nenek - nenek tahu!" ucap Maudy seraya terkekeh. Lalu meninggalkan Satria yang masih terbengong dengan tindakan kecil istrinya itu. Tindakan yang membuat rasa kesalnya hilang.
Tadi saat melihat tangan istrinya di pegang oleh pria lain, ia merasa kesal, dan rasanya ingin menelan hidup - hidup pria yang kelihatan lebih muda darinya itu.
Tadi ia sempat berburuk sangka pada istrinya itu. Ia pikir istrinya selingkuh dengan berondong.
"Hei, mau kemana?" seru Satria seraya mengejar istrinya itu.
"Ke toilet! Mau ikut?" sahut Maudy.
Eh, Satria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia pun melengos ke ruang televisi.
Di kediamannya Karina.
Pluk!
__ADS_1
"Ini aku kembalikan!" sentak Rio seraya melempar sebuah amplop di atas meja.
"Apa ini?" heran Karina seraya membuka amplop warna coklat itu.
"Itu uangmu aku kembalikan!" jawab Rio.
"Lho, kenapa dikembalikan? Ini kan bayaran kamu," ucap Karina seraya menautkan kedua alisnya.
"Aku berhenti mengganggu Maudy, aku sudah tidak berminat lagi," jawab Rio santai.
"Kok bisa, sekarang kamu membatalkan perjanjian kita, bukankah kamu sudah setuju waktu itu?" sentak Karina kesal.
"Apa untungnya buatku mengganggu rumah tangganya orang lain?" ucap Rio tenang.
"Bukankah, kamu ingin menjadi kekasihku?" tanya Karina.
"Iya, aku ingin menjadi kekasihmu!" jawab Rio.
"Maka lakukanlah perintahku! Hancurkan rumah tangga mereka!" sentak Karina.
"Aku tidak bersedia! Aku ingin jadi kekasihmu, tapi tidak harus merusak rumah tangga orang," ucap Rio.
"Ya sudah kalau begitu! Selamanya kamu tidak akan pernah menjadi kekasihku!" ucap Karina meledak - ledak. Beruntung di rumah tidak ada siapa - siapa.
"Baiklah, terserah kamu saja, Aku sadar, rasanya percuma saja, jika aku jadi kekasihmu, jika kamu masih terobsesi dengan Satriamu itu," ucap Rio berapi - api.
"Jadi, kamu tidak mau membantuku lagi?" tanya Karina melemah.
"Maaf, aku tidak bisa! Maudy wanita yang baik, aku tidak punya urusan dengannya. Dia tidak punya salah padaku. Rasanya tidak pantas kalau aku merusak hidupnya."
"Tapi aku membencinya, dia sudah merebut kekasihku!"
"Karin, lupakan pria itu! Biarkan dia bahagia dengan keluarga barunya! Lebih baik kamu mencari kebahagiaanmu sendiri, " saran Rio.
"Kamu cantik, pintar, mapan, kamu tidak kekurangan apapun, di luar sana pasti banyak pria yang mengantri untuk mendapatkan hatimu. Jadi, jangan sia - siakan hidupmu hanya untuk seorang pria yang sudah beristri."
Karina menunduk. Yang dikatakan Rio benar - benar menampar hatinya. Air matanya luruh juga.
"Contohnya aku, aku bersedia menjadi kekasihmu, aku akan berusaha membahagiakanmu, tapi aku sadar, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Aku hanya ingin kamu membalas cintaku dengan tulus, tanpa ada persyaratan apapun," ucap Rio tulus.
Mendengar penuturan dari Rio, Karina semakin tersedu. Benar apa yang dikatakan pria muda itu. Begitu bodohnya dia selama ini. Membuang - buang waktu untuk hal - hal yang tidak penting.
Melihat wanita yang dikaguminya menangis sesegukan, Rio merasa kasihan. Ia pun memeluk wanita di hadapannya seraya mengelus - elus punggungnya.
__ADS_1