Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Bab 26


__ADS_3

Bab 26


"Ma, kemarilah!" pinta Papa Hadi. 


Mama pun mendekat kepada papa lalu duduk di kursi yang ada di bibir ranjang. 


"Kemana anak itu?" tanya papa. 


"Maksud Papa, Keano? Dia mengantar Maudy pulang," sahut mama. 


"Anak itu!" gumam papa kesal dengan helaan berat. 


"Ada apa si, Pa? Mama lihat, keluar dari sani Keano tampak kesal?" selidik mama. 


"Anak itu, menolak dijodohkan!" jawab papa kesal. 


"What? Dijodohkan? Dengan siapa, Pa?" Mama terkejut. 


"Kamu  ingat Pak Richard teman bisnis Papa?" 


"Oh, iya mama ingat, yang memiliki perusahan di bidang textil itu kan?" 


"Iya betul! Beliau memiliki seorang putri seumuran Keano, namanya Vannessa. Kami sudah sepakat akan menjodohkan mereka," tutur papa. 


"Tapi Pa, Keano sudah punya kekasih, tentu saja dia menolak," tutur mama. 


"Papa tahu itu, tapi perjodohan ini tidak bisa dibatalkan!" 


"Pa!" selak mama. 


"Ma, Papa harap Mama mendukung keputusan papa ini, pokoknya Keano harus mau dijodohkan!" tegas papa. 


"Mama menghela napas kasar. "Terus bagaimana dengan perasaan Keano dan Maudy? Mereka saling mencintai, Pa," terang mama. 


"Ya, Keano harus melupakan hubungannya dengan gadis itu!" keukeuh papa. 


"Keano Pasti tidak mau, Pa. Keano sangat mencintai gadis itu," ucap mama. 


"Keano harus mau, kalau dia menolak Papa akan mencoret dia dari kartu keluarga, " ucap papa ngotot. 


"Sudahlah Pa, saat ini kita tidak perlu membahasnya dulu, ingat kesehatan kamu," ucap mama tidak mau melanjutkan debat dengan papa. 


*****


Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang menyisir jalanan seolah sedang menikmati padatnya lalu lintas. 


"Keano fokus di balik kemudi, tatapannya lurus ke depan. Namun, terlihat raut wajahnya nampak gelisah. 


Dari tadi tidak ada yang membuka suara, keduanya membisu. Tenggelam dalam pikiran masing - masing. 


Keano masih memikirkan perjodohan itu, sedangkan Maudy, dia sedang menebak - nebak perubahan sikap Keano yang tiba - tiba murung. 


Tanpa Maudy sadari mobil yang dikendarai Maudy berbelok arah menuju puncak bukannya menuju kediaman orang tuanya. 


Beberapa saat barulah ia menyadarinya, Maudy asing dengan pemandangan sekitar. 


"Lho, Kak, kita mau kemana?" pekik Maudy terkejut. 


"Ke puncak!" sahut Keano datar. 

__ADS_1


"Lho, ngapain?" heran Maudy. 


"Aku ingin ngajak kamu ke Villa milik keluargaku," sahut Keano. 


"Tapi, Kak, kita sudah berjanji pada Mama dan Papa  , kalau kita akan cepat pulang!" 


"Sudahlah, tidak apa - apa!" hanya sebentar saja aku ingin mengajak kamu melihat pemandangan indah dari Villa, " sergah Keano. 


"Sebelum isya, aku pastikan kamu sudah berada di rumah," imbuh Keano menyakinkan gadisnya itu. 


Menit berikutnya, mobil Keano telah memasuki sebuah Villa mewah. 


Seorang pria paruh baya tergopoh menghampiri. 


"Eh, Aden Keano ternyata!" ucap pria itu seraya tersenyum lebar sumringah. 


"Eh, Sama Si Eneng?" tambahnya. 


"Pacar saya Mang!" ucap Keano. 


"Ini Mang Nurman, penjaga Villa ini," ucap Keano pada Maudy. 


Maudy hanya tersenyum dan mengangguk. 


"Tumben, Si Aden tidak ngabarin dulu mau ke sini," tanya Mang Nurman. 


"Hanya mampir sebentar saja, kok, Mang!" sahut Keano lalu ia meraih tangan Maudy mengajaknya Masuk ke Villa. 


"Kalau perlu apa - apa, panggil Mamang aja, ya, Den!" seru Mang Nurman. 


"Iya, Mang!" balas Keano. 


"Silahkan masuk nona cantik!" godanya pada Maudy. 


Maudy pun hanya tersipu menanggapinya. 


"Kamu duduklah dulu!" titah Keano pada Maudy. 


"Kamu mau minum apa? Nanti aku buatin," tambahnya. 


"Eh, nggak usah, Kak! Biar aku bikin sendiri aja!" sergah Maudy. 


"Mmm, baiklah! Ayo kita buat bersama - sama, kita ke dapur bareng - bareng!" ucap Keano seraya menarik tangan Maudy dengan lembut. 


Di dapur


"Syrup ada, teh ada, kopi, ada, susu ada, coklat ada, minuman soda, minuman beralkohol semuanya ada!" ucap Keano seraya telunjuknya menunjuk - nunjuk lemari yang ada di dapur.


Mata Maudy memindai seluruh dapur, ia sangat takjub dengan peralatan dapur yang komplit nan mewah. Selain itu dapurnya sangat bersih dan rapi. 


"Dapurnya bersih banget, apa di sini ada Bibik tukang bersih - bersih," tanya Maudy seraya membuka kulkas yang berisi bermacam - macam minuman dingin. 


"Ya, cuma Mang Nurman itu, meskipun dia laki - laki, tapi kalau urusan bersih - bersih ia jagonya," jawab Keano. 


"Oh," Maudy ber - oh ria. 


"jadinya mau Minum apa?" tanya Keano. 


"Agak ngantuk, bikin kopi aja ya, ditambah susu!" sahut Maudy. 

__ADS_1


"Iya boleh juga!" seru Keano. 


"Wah, ternyata di sini ada juga peralatan untuk membuat coffee latte art," seru Maudy senang. 


"Emang kamu bisa bikinnya?" cibir Keano. 


"Bisalah! Barista mah lewat!" sombong Maudy. 


"Buktikan!" tantang Keano. 


"Siapa takut!" Balas Maudy. 


Lalu Maudy Mulai mencari bahan untuk membuat coffee latte art. 


Setelah semua bahan terkumpul, ia pun mulai memasak air sampai mendidih, menuangnya ke dalam kopi di cangkir lalu menyaringnya. Sementara itu Keano di perintah Maudy untuk mengocok Susu UHT panas secara manual menggunakan alat kocok khusus untuk mengocok susu. 


Setelah susu itu mengental, Maudy menuangnya ke dalam cangkir berisi kopi yang di disaring tadi, lalu ia membentuk sebuah hati dalam kopi itu. 


"Wah, kamu hebat! Pintar juga ya kamu bikin kaya ginian," puji Keano. 


"Cantik banget, jadi sayang untuk meminumnya!" seru Keano. 


"Ish, lha terus buat apa klo nggak diminum?" cibir Maudy. 


"Jadi pajangan!" sahut Keano seraya terkekeh. 


"Ayo cicipin, biar tahu rasanya!" titah Maudy. 


Dengan Berat hati Akhirnya Keano pun mencicipi coffee latte art buatan kekasihnya itu. 


"Wow, fantastic! Enak banget!" pujinya dengan mata berbinar. 


Maudy senang mendengar pujian dari pria tampan di hadapannya itu. 


"Kopi buatan kamu enak, aku yakin kamu bakalan jadi istri idaman!" ucap Keano tulus. 


"Bisa aja!" Maudy tersipu seraya memukul dada bidang Keano dengan lembut. 


Refleks Keano menangkap tangan mungil  nan lentik tapi jago dalam hal mukul memukul. 


Netra mereka bertabrakan, saling mengunci dalam cinta. 


Cup! Keano mencium pipi pemilik mata indah itu. 


Maudy merona, jantungnya berdesir. 


Keano gemas melihat ekspresi malu Maudy.


Cup!


Ia pun tidak bisa menahan diri untuk tidak menabrakan bi"*birnya ke benda tipis, kenyal, dingin dan ranum itu.


Deg!


Maudy cukup terkejut mendapat serangan mendadak itu, mereka jarang melakukan hal itu, hanya sesekali saja jika benar-benar terbawa suasana, selebihnya mereka menahan diri untuk melakukannya, karena takut kebablasan. 


Lama wajah mereka merapat, semakin merapat. Keduanya enggan melepaskan diri. Membiarkan diri tenggelam dalam hisapan yang memabukan, membuat seluruh organ meremang. 


Sumber gambar diambil dari mbah gugli

__ADS_1



__ADS_2