Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Aku Sudah Menikah!


__ADS_3

Sepasang suami istri itu, asyik dengan dunianya sendiri. Siaran televisi pun bukan lagi menjadi prioritas. 


Untuk yang ketiga kalinya, benda pipih warna hitam milik pemuda berkulit bersih itu berdering. 


Sejenak keduanya saling memandang. Seolah Satria sedang meminta pendapat gadis cantik yang kini rambutnya telah panjang itu. 


"Angkat saja!" titah Maudy dengan suara sangat pelan. 


Akhirnya Satria pun mengangkatnya. 


Karina 📞: " Kamu kemana aja sih? Dari tadi aku telepon, nggak diangkat - angkat." cecar Karina. 


Satria 📞 :" Eh iya, maaf, aku tadi masih tidur. Cape banget!" kilah Satria. 


Karina 📞: "Biasanya juga nggak pernah begitu?" Karina merajuk. 


Satria 📞: " Iya maaf, akhir - akhir ini pekerjaanku banyak. Maklum pegawai baru, jadi harus banyak belajar," Satria memberi alasan. 


Karina 📞: "Ya udah, aku ke tempatmu ya?" 


Satria 📞: " jangan sekarang! lain kali saja, masih berantakan." 


Karina 📞: " nggak apa - apa, aku bantu beres - beres!" 


Satria 📞: " Jangan! Kita ketemuan di luar saja." 


Karina 📞: " jemput aku di rumah!" 


Satria 📞 :" Ok, aku OTW. 


Pembicaraan pun berakhir Satria menutup ponselnya. 


"Dy, aku mau menemui Karina dulu. Mudah - mudahan ini kali, aku berani mengatakannya." 

__ADS_1


"Semangat!" seru Maudy seraya mengepalkan tangannya di udara. 


***


Tidak membutuhkan waktu lama, Satria telah sampai di kediaman orang tua Karina. 


Karina menawarkan  Satria, untuk mampir dulu, tapi Satria menolaknya. Dengan alasan ingin mengajak Karina ke suatu tempat. 


Beberapa saat kemudian, Satria membelokan mobil Xen**anya ke sebuah restoran khas sunda, dengan tema pedesaan dengan persawahan di sekelilingnya. 


Setelah memarkir kendaraan pribadinya itu, Satria mengajak Karina untuk masuk. 


Dengan manja Karina bergelayut di lengan Satria. 


Sedangkan Satria berjalan tanpa ekspresi. 


Satria memilih tempat yang paling ujung dan privasinya terjaga. 


Ia ingin lebih leluasa mengobrol dengan Karina. 


Lalu mereka memesan minuman dan hidangan untuk makan siang, kebetulan jam sudah menunjukan waktunya makan siang. 


"Aku merasa  akhir - akhir ini kamu berubah," keluh Karina. 


"Iya Maaf," sahut Satria. 


"Kenapa sih, dari tadi kamu diam saja! " rengek Karina. 


"Aku hanya bingung, harus memulainya dari mana?" ucap Satria sendu. 


"Ada apa sih?" Karina penasaran. 


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" 

__ADS_1


"Apa sih, Sat. Katakan saja!" sentak Karina. Ia kesal karena Satria terlalu bertele - tele. 


"Tapi, kamu jangan marah ya!" pinta Satria. 


"Iyaaa..! Seru Karina agak jengkel. 


" Aku,.. Aku.. Su.. " Satria tidak melanjutkan kata - katanya, karena datang dua orang pramusaji mengantarkan minuman dan camilan yang dipesan tadi. 


Pramusaji itu meletakan minuman dan camilan tersebut seraya berkata." "Silahkan! Menu makan siangnya masih dibuatkan. Mohon bersabar." 


Setelah pramusaji itu undur diri, Satria pun melanjutkan perkataannya. 


"Aku sudah menikah! Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi! Tolong maafkan aku!" ucap Satria dengan tegas seraya menatap lekat wajah cantik gadis yang sudah mengisi hatinya selama satu tahun ini. 


Jedd Duarrr!! 


Gadis  berambut pirang dengan keriting menggantung itu, terpelongo mendengar pengakuan dari pemuda di hadapannya itu. 


Ia pun tertawa.. "Hahaha.. bercandanya nggak lucu!" ucap si gadis. 


"Aku tidak sedang bercanda, Karin!" ucap Satria serius. 


Sudah… Sudah..! Cukup bercandanya! " sentak Karina tidak suka. Ia mengira kekasihnya itu sedang mengerjainya atau bahasa kekiniannya adalah sedang nge-prank.


Satria menyodorkan ponselnya."Lihatlah di galeri!" 


Karina meraih benda pipih milik Satria. Hatinya mulai tidak tenang. Ia pun  membuka galeri foto. Jemarinnya bergetar saat menggeser foto - foto tersebut.


Wajah putihnya berubah menjadi gelap. Seketika rautnya berubah murka. 


Prank!! 


Byurrr!! 

__ADS_1



__ADS_2